
Cup!
Kecupan manis itu membuatku terkejut dan, seketika membeku. Sementara pelakunya, HansH, yang mencium pipiku diam-diam saat adik keduanya tengah fokus menyeduh kopi di depan counter, dengan cengiran lebar tanpa rasa bersalah langsung meraih cangkir teh milikku dan menyeruputnya, ia duduk di sebelahku yang tengah berdiri mengoleskan selai cokelat ke selembar roti untuk kami sarapan.
"Terima kasih, Sayang. Aku suka cokelat, manis seperti dirimu."
Ugh! Manisnya. Sebenarnya roti dengan esktra cokelat itu untuk diriku sendiri, tapi karena dia sudah datang dan membawa kebahagiaan untukku, jadi untuknya saja.
"Jangan pikir Bibi tidak melihatnya." Bibi Heera muncul di ambang pintu dan bergabung bersama kami di meja makan. "Kau nakal sekali," ujarnya.
HansH terkekeh kesenangan -- tepatnya menertawaiku tanpa peduli pada pipiku yang kini sudah memerah seperti kepiting rebus. "Maafkan aku, Bibi. Kuakui aku salah. Keponakan kesayanganmu ini memang nakal. Maka hukumlah aku. Nikahkan kami secepatnya. Aku rela."
Eh? Aku molot karena kaget. Tapi aku tidak bisa berkata apa pun.
"Oh, kenapa? Dia menolakmu? Hmm?"
"Memangnya apa yang baru saja Kakak lakukan?" Nandini bertanya.
"Dia mengendap-endap masuk ke dapur dan mencium tunangannya."
"Oh, Kak... kalian kan belum menikah. Memangnya kau mau kalau adik perempuanmu diperlakukan...."
Hening. Suasana mendadak mencekam. Wajah semua orang tegang termasuk Vikram dan Parvani yang baru bergabung di ruang makan. Hanya aku yang mengernyit kebingungan.
"Jangan lakukan itu lagi, ya. Kalau tidak, Bibi akan menjewermu," kata Bibi Heera cepat, memecahkan keheningan dan kecanggungan.
HansH tersenyum -- memaksakan senyum. "Tentu saja, Bibi. Aku berjanji."
"Bagus. Ayo, semua. Kita duduk dan sarapan."
Semua orang menurut. Aku duduk di sebelah HansH dan meletakkan roti selai cokelat di piringnya. Vikram dan Nandini duduk bersebelahan, ia menuangkan kopi untuk Vikram. Sementara Parvani duduk di sebelah Bibi Heera, menuangkan teh untuk dirinya sendiri.
"Jadi, benar kata HansH, Alisah," kata Bibi Heera lagi. "Kalian harus cepat menikah supaya anak nakal ini tidak terus mengganggumu dengan kenakalannya."
Aku mengangguk, menyadari peranku yang harus mengubah kesedihan yang baru saja terjadi tadi meski aku tidak tahu apa alasan dasarnya. "Ya, Bi," kataku. "Tentukan saja tanggalnya."
Aku tak berpikir panjang! Hanya demi mengubah suasana yang diliputi kemurungan berganti kehangatan, aku berkata demikian.
Tentukan saja tanggalnya! Ugh!
"Kakak bisa menunggu sampai bulan depan?" Parvani menyela. "Seperti rencana tahun lalu saja. Tanggal dua puluh empat Maret, tepat di hari ulang tahun Kakak. Bagaimana?"
Setuju. HansH mengangguk, ia tersenyum bahagia dan semua orang berpaling kepadaku dan menatapku dengan tanda tanya. Yeah, lima pasang mata itu menyorotkan harapan besar kepadaku.
Tunggu apa lagi, Zia? Semua orang menunggu persetujuanmu. Kau sudah mengambil keputusan, bukan? Sekarang katakan. "Yeah. Aku setuju."
Binggo! Semua orang bahagia dan aku dihujani pelukan dan ciuman.
"Kami semua bahagia untukmu!" seru ketiga perempuan di hadapanku. Sangat kompak!
Dan HansH, oh Tuhan... kebahagiaan terpancar dari senyuman dan kedua matanya yang berkaca. Dia berusaha menyembunyikan rasa harunya dan mengusap air matanya ketika ia berpaling.
"Akan kupastikan pernikahan ini berlangsung dengan meriah," Nandini berkata. "Aku akan mengurusi segalanya. Oke?"
Senyum, hanya itu yang bisa kuberikan.
"Terima kasih." HansH menggenggam tanganku di bawah meja. "Aku lega kita sudah menentukan tanggalnya."
Aku balas menggenggam tangannya dan mengangguk. "Ya," kataku. "Tapi sekarang kau harus makan sampai kenyang karena kau punya jadwal meeting penting pagi ini. Oke?"
"Ehm, tanganmu, HansH," tegur Bibi Heera lagi.
Kali ini semua orang tertawa, seolah-olah kecanggungan yang sempat mengganggu tadi sama sekali tidak pernah terjadi.
Beberapa menit berikutnya, HansH menyelesaikan sarapannya, disusul oleh Vikram lalu Parvani. Vikram akan pergi ke kantor dan diantar Nandini ke pintu, dan Parvani menyusul di belakang mereka.
HansH menatapku lekat. "Kau juga akan mengantar suamimu ke depan, kan?"
O-ow... itu nasihat, teguran, atau sindiran? Kombinasi dari segalanya, mungkin?
Aku salah tingkah. Akhirnya aku hanya bisa mengangguk. "Ya, Bibi. Aku akan mengendalikannya."
HansH tertawa lagi dan menyentuh rambutnya. "Aku tidak akan nakal lagi. Sungguh, aku hanya akan melakukannya dengan cara yang lebih baik."
"HansH...."
"Tenang saja, Bibi. Aku sayang padamu."
"Kau ini, ya. Nakal sekali!" Kembali, Bibi Heera menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau ingin pergi sekarang?" tanyaku. "Ayo, kuantar kau ke depan."
HansH memberikan lengannya untuk kugandeng, dan itu membuatku jadi kikuk. "Jangan protes, ya, Bi. Kali ini saja, sebelum pernikahan. Oke? Aku sayang sekali padamu. Bibi yang terbaik."
Well, Bibi Heera mengedikkan bahu, tanda menyerah.
"Baiklah, Sayang, gandeng lenganku, please...?"
Terpaksa, aku menurutinya. "Kali ini saja."
Dalam gandengan tangannya, aku menyaksikan betapa HansH bahagia. Ini bukan lagi HansH yang kulihat di Pasar Natal, atau HansH yang kulihat menatap sedih kejauhan di tepi danau Cannon Hill Park pagi itu. Sekarang dia HansH yang bahagia. HansH yang kembali merasakan cinta dan sekarang berstatus sebagai calon pengantin yang akan menikah bulan depan.
Di halaman depan, kami berpapasan dengan Nandini yang baru saja melambaikan tangan kepada suaminya. Vikram sudah berangkat dan melajukan mobilnya keluar gerbang. Lalu, berikutnya Parvani, aku tidak tahu dia hendak pergi ke mana. Dia diantar supir dan diikuti tiga orang bodyguard bersamanya.
"Baguslah, Bibi tidak mengikuti kita." HansH kembali terkekeh, dia menyentuh kepalaku dan hendak mencium keningku.
Tetapi aku berhasil menghindar. "Aku tidak ingin mengecewakan Bibi, oke?"
"Oke. Kalau begitu baiklah, aku tidak akan menciummu sebelum pernikahan. Tapi ini tidak berlaku untukmu."
Eh?
"Kau tidak akan memintaku untuk menciummu, kan? Itu sama saja, My HansH...."
Tertawa. HansH menggelengkan kepala kemudian menjulurkan tangan, mengusap pipiku dengan sayang.
"Cium tanganku saja, sebagai tanda hormat dan sayangmu kepada suami."
Aku pasti terlihat bingung, karena ia langsung meraih tanganku dan mengangkat tangan kami ke depan wajahku. "Salim?" tanyaku.
Ia mengangguk. "Kau harus melakukannya seperti ibumu mencium tangan ayahmu. Istri mencium tangan suami."
"O-ke. Akan kuturuti."
Dan aku melakukannya.
"Aku akan mencium keningmu setiap kali kau mencium tanganku, setelah kau menjadi istriku, Nyonya Alisah HansH Mahesvara."
Aku terdiam. Bahagia, sekaligus sakit. Tapi aku tidak bisa mengatakan apa pun.
"Baiklah. Aku berangkat, ya."
"Ya, hati-hati, My HansH."
"Tentu." HansH tersenyum, lalu ia berbisik, "Assalamu'alaikum, Cinta."
Terpaku, bisa kurasakan darahku mendesir mendengar ia mengucapkan salam itu. Tidak tahu kenapa, tapi jelas kurasakan sesuatu yang aneh. Air mata menggenang seketika.
"Wa'alaikumussalam...."
Wa'alaikumussalam. Wa'alaikumussalam, Cinta....