Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Yang Terbaik....



Tapi tidak apa, itu jenis gangguan yang termanis.


Pertama-tama, gangguan termanisku bernama HansH. Dia menyempatkan diri datang ke kamarku. Dengan setelan formal serba hitam yang membuat aura ketampanannya semakin terpancar, ia mengetuk pintu kamarku dan seketika aku tersenyum melihatnya. "Wow!" decakku. "Kekasihku yang tampan. You are so perfect, My HansH. Ketampananmu sungguh tiada duanya."


"Tidak lucu!" bantainya. "Semua ini percuma tanpa adanya kau di sisiku."


Hmm... aku merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi? Ini keputusan yang terbaik. Lagipula percuma saja kalau aku ada di tengah-tengah acara spesial keluarga Mahesvara, kehadiranku hanya akan memancing Sheveni membuat keributan. Kasihan mereka, terutama HansH, mereka akan selalu dipermalukan di hadapan banyak orang gara-gara keberadaanku yang tak pernah disukai oleh Sheveni. Jadi sedikit mengalah tidak apa. Aku benar-benar ikhlas.


Kuhela napas dalam-dalam dan coba menariknya ke dalam pelukanku. "Sini," kataku. Kudekatkan wajahku padanya sedekat mungkin, aku tidak berkata apa-apa, atau melakukan apa pun, aku hanya tersenyum dan menatap kedua matanya dengan sepenuh cinta. Tetapi...


"Eummmmm...."


HansH malah mencium bibirku. Uuuh... meleleh, bestie....


"I love you."


"I love you more...."


"Ehm," tegur Neha yang duduk santai di sofa ruang kamarku.


Dehaman itu membuat HansH bergeming dan hendak menoleh, tetapi aku mencegahnya. "Abaikan saja," kataku. "Pandang saja aku sampai semua perasaan tidak nyaman itu menghilang. Amarahmu, rasa kecewa, kesal, apa pun. Yang perlu kau tahu, aku sama sekali tidak mempermasalahkan semua yang terjadi. Karena yang aku tahu dan yang kuinginkan hanyalah malam ini kita bersama. Aku menunggumu untuk menghabiskan waktu bersamaku. Kau akan datang, kan?"


"Pasti. Aku bahkan sudah tidak sabar."


"Mmm-hmm, kita akan bersama."


"Yeah, tunggu aku. Aku pasti akan datang."


"Aku percaya," kataku. Kutangkup wajahnya dengan sebelah tangan dan aku terus tersenyum. "Boleh aku berpesan satu hal?"


"Tentu. Apa pun boleh." HansH balas menangkup wajahku dengan sebelah tangan. "Katakan, apa?"


"Ehm, begini, Mr. HansH, kekasihku, aku tidak bermaksud posesif padamu, mengatur-atur dirimu, ataupun melarangmu melakukan apa pun. Tapi... aku hanya ingin berpesan, walaupun aku tidak ada di sana bersamamu, itu bukan berarti kau bebas melakukan apa pun di belakangku, kau mengerti maksudku, kan? Intinya... aku ingin kau tahu kalau diriku itu aslinya cemburuan, dan kau... kau harus mengerti hal itu. Kau paham, kan, My HansH?"


Terkekeh. HansH menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha meredam tawanya. "Kau hanya harus percaya padaku."


"Tidak, My HansH. Jangan berpikir terlalu jauh. Dari hal-hal kecil saja dulu. Misalnya... pada saat kalian makan malam nanti ada seorang gadis yang mengajakmu berdansa, kau tahu, kan, kau harus menerima atau justru harus menolak? Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku tidak akan suka. Tapi toh aku tidak ada di sana. Aku tidak akan tahu dan tidak akan bisa melihat apakah kau berdansa dengannya atau tidak. Jadi... harus kuingatkan sejak awal, jaga kepercayaanku. Hmm?"


HansH mengangguk-angguk paham. "Pasti," ujarnya. "Lagipula ini kan acara keluarga, mana mungkin ada orang lain--"


"Siapa yang tahu? Mungkin saja, kan?"


"Mana mungkin, Sayangku...."


"Seandainya ada tamu lain?"


"Baiklah, oke."


"Jadi kau akan menjaga kepercayaanku?"


"Aku akan selalu menjaga kepercayaanmu. Kau tidak perlu khawatir. Karena aku...."


"Persis dugaanku, kau ada di sini," sela Sheveni yang mencari keberadaan kakaknya. Dia tiba-tiba muncul di saat yang tidak tepat.


HansH menoleh tak senang. "Pergilah. Aku akan menyusul," kata HansH, kembali merasa kesal.


Ya ampun, benar-benar sialan dia, aku berusaha menata suasana hati HansH supaya mood-nya kembali baik, tapi Sheveni malah datang mengacaukan segalanya.


"Tidak. Aku tidak akan pergi kecuali bersamamu. Kan aku harus memastikan kalau kakakku ini tidak akan mengingkari janjinya. Kakak tidak akan memberikan hadiah mahal untuk gadis ini, kan?"


Mata Hansh seketika terpejam. Dia kembali tersulut emosi dan melepaskan diri dariku. "Cukup! Oke?" bentaknya pada Sheveni.


"Sudahlah," kataku. "Tenangkan dirimu." Kutepuk-tepuk dada HansH dengan lembut. "Aku tidak apa-apa. Aku juga tidak akan mempermasalahkan soal hadiah."


"Ssst...."


"Dengarkan aku."


"Tidak perlu, My HansH."


"Kalau kau sudah menjadi istriku--"


"Ssst...."


"Semua milikku, juga menjadi milikmu."


"Tidak perlu membahas ini. Sekarang pergilah." Kupeluk tubuh kokoh di hadapanku dan aku berbisik, "Aku menunggumu untuk malam ini."


HansH mengangguk. Ditatapnya mataku sesaat kemudian ia mencium keningku. "Aku permisi dulu."


"Ya, pergilah."


"Bye, Sayang."


"Bye. Jangan lupa tersenyum. Kau sangat tampan," kataku saat ia menoleh ke belakang, kemudian aku langsung menutup pintu setelah HansH melambaikan tangan dengan senyuman.


Ugh! Akhirnya, sekarang tinggal aku dan Neha. Tetapi hanya sesaat. Aku dan Neha baru saja hendak mencicipi hidangan mewah kami yang gratis itu ketika pintu kamarku kembali ada yang mengetuk. Kali ini Kak Sanjeev.


Yap, Kak Sanjeev yang sudah kuberitahu lebih dulu jika aku dan Neha tidak akan ikut makan malam bersama keluarga Mahesvara -- diam-diam mendatangi kamarku. Dengan alasan baru selesai meeting dan masih dalam perjalanan menuju hotel, dia malah menyelinap ke kamarku dan bukannya langsung ke restoran. Dan itu praktis membuat tanda tanya di wajah Neha semakin menumpuk.


"Aku turut menyesal, Zia. Harusnya--"


"Sudahlah, Kak. Tidak apa-apa. Yang penting, aku ingin Kakak makan malam bersama mereka."


"Yeah, akan kulakukan. Tapi kau tetap yang terpenting, itu sebabnya aku ke sini dulu. Kau tetap prioritas utamaku." Kak Sanjeev melirik ke meja yang dipenuhi makanan. "Aku ikut kalian makan, ya? Nanti baru aku menyusul yang lain."


Yeah, tentu saja. Kenapa harus menolak?


"Terima kasih," ucapku. Kupeluk ia dengan sayang. "Kau Kakak yang terbaik."


Neha yang tak beranjak dari sofa menyaksikan tontonan yang ada di hadapan matanya dengan tercengang, tapi dia tetap menahan diri dengan tidak menanyakan apa pun.


"Kau tidak keberatan, kan, Neha?"


"Oh, tidak, Kak. Tidak, kok. Bukan masalah," Neha gelagapan sementara kepalanya menggeleng.


"Thank you. Kau juga adikku yang terbaik. Omong-omong, selamat hari Valentine. Aku punya hadiah untuk kalian berdua."


Senang, wajahku dan Neha serta-merta berseri-seri. Kegirangan. Karena seperti biasanya, sejak usiaku tujuh belas tahun, Kak Sanjeev selalu memberiku sebuah cincin berlian di momen hari kasih sayang. Selalu dengan hadiah yang sama. Cincin berlian yang menjadi tabungan masa depan untukku.


"Kakak serius? Kau juga memberikan ini untukku?" tanya Neha tak percaya. Matanya mengerjap-ngerjap memandangi cincin berlian di tangannya. Bukannya tidak pernah melihat berlian, hanya saja barangkali dia takjub karena seseorang memberinya hadiah mahal dengan tulus, tanpa embel-embel hubungan bisnis.


Kak Sanjeev mengangguk sambil nyengir. "Asal kau jangan menganggap ini sebagai kewajiban, ya," candanya. "Nanti malah kau tagih setiap tahun."


"Ah, Kakak...," rengek Neha dengan manjanya sambil menghambur ke pelukan Kak Sanjeev. "Jangan meledekku...."


Ah, andai saja keadaan kami terus seperti ini, betapa bahagianya hubungan kakak beradik yang tulus seperti ini.


"Well, hadiahku? Aku sangat menantikannya." Mata kelabu Kak Sanjeev berbinar.


Cup! Sebuah ciuman sayang di pipi untuk kakak kami tersayang, dariku dan Neha, satu ciuman di pipi kanan dariku, dan satu ciuman di pipi kiri dari Neha.


"Katakan, apa aku kakak yang terbaik?"


Tentu saja. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Di saat berperan sebagai seorang kakak, dia selalu menjadi yang terbaik. Selalu. Selamanya....