Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Keputusan



Bagaikan bom waktu dalam detik yang terus berjalan, kebohongan yang kusimpan membuatku gelisah sepanjang waktu mengingat hubunganku dengan semua orang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kak Sanjeev, walau aku tahu rasa sayangnya kepadaku mungkin tidak akan pernah hilang sekalipun ia kecewa dan membenciku karena aku mencintai HansH, tapi aku yakin, dari sisi hatinya sebagai saudaraku, rasa sayangnya itu pasti akan selalu ada di hatinya. Begitu juga dengan rasa sayang Neha terhadapku sebagai seorang sahabat yang bahkan sudah seperti saudarinya sendiri, sekalipun saat ini rasa kecewanya terhadapku segunung tingginya, aku yakin dia akan tetap selalu sayang kepadaku. Tapi beban di hatiku sudah terlanjur menumpuk, menggelisahkan, aku tidak akan bisa tenang kalau beban-beban ini tidak segera kulepaskan. Dan aku tahu sebaiknya aku menyingkir dulu saat ini, memberikan ruang untuk diriku sendiri juga untuk semua orang di sekitarku, untuk kami satu sama lain.


Yeah, walau aku tahu, jika terpisah jarak dan aku tidak ada di hadapan mereka, orang-orang kesayanganku, itu kemungkinan -- bahkan pasti -- akan membuat mereka mengkhawatirkan keadaanku, tetapi berada dalam jarak dekat dengan mereka, sungguh aku merasa tertekan. Seperti ada jurang pemisah di antara kami, dan sikap yang berjarak itu terasa sedingin musim salju yang membekukan. Dan ini jelas menyiksa batin. Dan aku yakin, solusi masalahku hanya satu: mengurai masalah ini dengan kejujuran meski besar kemungkinan kejujuranku itu akan menimbulkan masalah yang baru. Tetapi aku yakin, seburuk apa pun masalah yang kelak akan kuhadapi sebagai konsekuensi dari kejujuranku, itu akan lebih baik daripada konsekuensi yang timbul ketika bom waktu itu meledak dengan sendirinya.


Yeah, ledakan yang besar. Dan bom waktu itu tidak akan mungkin bisa terus kukendalikan karena remote control-nya tidak kumiliki. Kau bahkan tahu, ketika bom waktu detiknya terus berjalan sementara remote control-nya tidak ada dan kau bukanlah ahli penjinak bom, bom itu pasti akan meledak, tidak akan terelak -- dan ibaratkan pribahasa: pengertian pribahasa bom waktu yang meledak itu bermakna jauh lebih berbahaya daripada makna dari pribahasa bangkai yang tercium walau serapat apa pun disembunyikan.


Jadi keputusanku sudah bulat, daripada aku terus berbohong dan selalu gelisah, dan pada akhirnya nanti tetap akan terbongkar juga, lebih baik aku jujur saat ini juga. Kepalang keadaan sudah dalam keadaan kacau balau, dan, kepalang perasaan HansH sedang hancur, sekalian saja lebih hancur sekarang: dalam satu momen yang bersamaan.


Yeah, aku akan jujur kepada HansH bahwa aku bukanlah Alisah. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya secara langsung padamu. Aku tidak berani menghadapi kekecewaanmu. Aku takut, My HansH....


Sebab itu kuputuskan untuk menuliskan surat.


Aku tidak tahu bagaimana harus memulai -- untuk memberitahumu tentang kebohonganku bahwa aku bukanlah Alisah. Aku bukanlah kekasihmu.


Aku adalah Zia, si gadis bermasker yang tidak sengaja menabrakmu di Pasar Natal Birmingham. Gadis yang menangis di tepi danau Cannon Hill Park, yang kau beri sapu tangan lalu memberimu Sandwich daging dengan telur double. Gadis yang kemudian beberapa kali bertemu denganmu dan jatuh cinta kepadamu. Bahkan di malam tahun baru itu, aku, si gadis bertopeng yang kau ajak berdansa, gadis yang kau cium di depan keramaian dan jatuh cinta kepadamu. Kau membuatku jatuh cinta HansH. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Tapi aku tahu, cintaku tidak akan berarti apa-apa karena kebohonganku yang tak termaafkan. Aku menipumu.


Yeah, HansH, aku seorang penipu, aku berniat menipumu. Aku Zia, dan aku bukanlah Alisah, aku adalah orang lain yang menyamar menjadi kekasihmu, gadis asing yang mengubah wajahnya dan identitasnya menjadi Alisah untuk sengaja menipumu. Aku berniat membantu Kak Sanjeev untuk membalas dendam padamu. Dan sekarang dengan pengecutnya aku memberitahukan ini melalui surat. Aku tidak berani menghadapimu, dan justru pergi untuk menghindar. Aku takut melihatmu kecewa, kecewa yang disebabkan olehku. Dan tolong jangan mencariku untuk sengaja menghukumku. Aku tahu aku bersalah. Aku tahu sakit yang kusebabkan pasti tak termaafkan. Tapi, tolong, jika mungkin, maafkan aku HansH. Aku berharap kau bisa memaafkan aku.


Selamat tinggal....