
Entah pertanda baik seperti yang dikatakan oleh Neha atau bukan, mungkin kau bisa menilainya sendiri setelah membaca bagian ini hingga akhir. Karena di hari itu, tanpa kusangka-sangka, HansH menghampiriku.
"Hai," sapanya.
Suara HansH Mahesvara yang rasanya sudah tidak asing lagi bagi indra pendengaranku membuat mataku yang terpejam seketika membuka. Benar saja, HansH, pria tampan itu berdiri tepat di hadapanku dengan selembar sapu tangan.
"Kau membutuhkan ini untuk menghapus air matamu," ujarnya seraya menjulurkan sapu tangan putih miliknya.
Aku mengambilnya. "Terima kasih," kataku.
"Sama-sama."
Kuseka air mataku hingga tak bersisa.
"Apa kau gadis yang kemarin...?"
"Ya."
"Yang menabrakku di Pasar Natal?"
"Benar."
"Emm... Zi... Zi... Zia? Kalau tidak salah itu namamu, kan? Zia?"
Oh, ternyata dia ingat namaku. "Ya, aku Zia yang kemarin menabrakmu di Pasar Natal. Momen memalukan memang sulit untuk dilupakan."
Kali ini aku melihat sedikit senyuman di wajah tampan itu. "Jangan tersinggung, tapi kurasa itu benar."
"Yah. Aku tahu."
"Mau ngopi?"
"Eh?" Keningku mengerut.
"Emm... sarapan?"
"Oh, maaf, tapi... aku... aku sudah sarapan."
"Sayang sekali. Aku lapar."
"Lapar? Aku punya sandwich, kau mau?"
"Sandwich?"
"Yeah. Kalau kau mau, ini, untukmu."
"Serius? Untukku? Kau tidak keberatan?"
Aku tersenyum. "Makanlah. Tapi hanya ada air mineral, aku tidak punya kopi."
"Oke. Terima kasih."
HansH menyambutnya. Dan aku senang sebab itu berarti ia percaya kepadaku dan tidak mengira kalau aku ini adalah orang jahat yang ingin meracuninya dengan sandwich itu.
Apa, sih...? Kebanyakan nonton drama...? Haha!
Tetapi sayang, sewaktu HansH duduk di taman itu dan hendak memakan sandwich-nya, ada seseorang yang menghampiri kami. Seorang gadis muda dan cantik. Sepertinya seumuran denganku.
"Aku mencarimu dari tadi. Kenapa kau malah ada di sini? Kau tidak akan menghindari acara pertunangan kita lagi, kan?"
Ugh! Menyebalkan sekali.
Sebaiknya aku pergi daripada aku terjebak di antara drama percintaan HansH Mahesvara.
Tetapi, sewaktu aku berbalik untuk pergi, aku melihat Kak Sanjeev dari kejauhan. Dia menatap marah kepadaku lantas kembali pergi meninggalkanku yang kini merasa gelisah.
Dia pasti marah padaku karena aku tidak mendengarkan perkataannya untuk menjauhi HansH. Tapi sungguh, kalau kau tidak menjelaskan kepadaku apa alasanmu membenci HansH, bagaimana aku bisa menilai apakah HansH benar-benar jahat seperti yang kau katakan? HansH sepertinya pria yang baik. Hatiku percaya akan hal itu.
Kemudian aku tersadar, apa yang terjadi kepadaku? Bagaimana aku bisa mempercayai HansH yang baru kutemui dua kali -- dengan sebegitu besarnya, dan, malah meragukan Kak Sanjeev yang sudah kukenal hampir selama dua puluh tahun?
Tidak, Zia. Kau salah. Kau melakukan kesalahan dengan meragukannya. Dia keluargamu. Satu-satunya kakak dan keluarga yang kau miliki. Kau harus percaya dan menuruti perkataannya. Jauhi dan lupakan kalau kau pernah mengenal HansH. Demi Kak Sanjeev. Lakukan itu demi kakakmu. Oke, Zia? Please....
Tapi pada keesokan paginya, takdir malah kembali membawaku bertemu dengan HansH Mahesvara. Sesuatu yang tidak kuduga sama sekali karena kami bertemu di Harry's. Pagi itu aku sengaja ke sana sebelum menemui Neha dan membawakan sarapan untuk kami berdua. Hari itu aku masih menginap di apartemennya sementara ia sudah menghilang sejak pukul enam pagi untuk menguntit pacarnya yang semalam tidak pulang, dia mendengar informasi kalau pacarnya menginap di hotel bersama gadis lain. Dia pun langsung pergi diam-diam meninggalkanku yang masih meringkuk di tempat tidurnya, dan setelah dia mendapatkan kenyataan buruk dalam kisah cintanya itu, dia menangis tersedu-sedu dan malah minta dibawakan ekstra sandwich dan espresso, latte, dan cappucino sekaligus. Patah hati membuatnya kelaparan. Dan aku tahu aku harus memenuhi permintaannya.
Well, patah hati yang dialami Neha malah membawaku berjumpa kembali dengan HansH. Aku tengah berdiri di depan konter untuk mengambil pesananku, dan, ternyata -- tanpa terduga HansH berdiri di belakangku.
"Hai," suara beratnya berkata di belakang telinga kananku, membuatku terlonjak dan hampir tidak sempat menyelamatkan sandwich-ku yang terlepas dari tangan. Untungnya makanan itu masih jodohnya Neha sehingga aku berhasil menyelamatkannya.
Dan, ketika aku kembali fokus pada situasi dan keadaan, aku berbalik, tatapanku langsung disambut syal garis-garis hijau, cokelat, dan krem lalu bergerak ke atas mencapai senyum malu-malu pria yang kemarin bertemu denganku. Napasku tersangkut di belakang tenggorokan dan aku hanya bisa mengangguk-angguk kepadanya.
"Maaf sudah... emm... membuatmu kaget."
"Aku tidak apa-apa. It's ok."
"Terima kasih."
"Kau sedang apa di sini? Mau sarapan?"
"Take a way. Kemarin aku belum sempat memakan sandwich darimu, aku membawanya pulang dan adikku malah memintanya. Dia sangat menyukai rasanya. Jadi, pagi ini dia memintanya lagi dan dia ingin aku sendiri yang membelinya."
Oh, manis sekali. Dia sosok kakak yang luar biasa.
Aku tersenyum. "Kau kakak yang baik. Luar biasa."
"Omong-omong, kita sudah tiga kali bertemu, aku masih belum tahu bagaimana wajah di balik masker itu."
Geli, aku menggeleng-geleng karena keterusterangannya. "Biar saja. Biar kau penasaran pada wajahku."
"Menarik. Gadis misterius." Dia menatapku dan kali ini ada sesuatu di matanya melebihi sekadar ketertarikan. Rasa penasaran yang akut.
Tercengang, kubuka mulutku untuk menyahut, tapi persis pada saat itu sebuah teriakan dari belakang kami menyebabkannya menoleh.
"Bos, kita harus pergi! Sekarang!"
Yang terjadi berikutnya begitu cepat sehingga sekarang pun dengan mengesalkan detailnya tetap samar di benakku. Tapi inilah yang kuketahui.
Ketika dia kembali berbalik menghadapku, cara dia memandangiku membuatku tidak mampu bernapas. Jenis tatapan yang kau lihat di film-film ketika mempelai pria menoleh untuk melihat pengantinnya berjalan menghampiri untuk pertama kali: campuran kuat dan tajam antara shock, terkejut, dan cinta meliputi segalanya dan menghentikan detak jantung. Itulah tatapan yang seharusnya diberikan Kak Sanjeev ketika kuungkapkan kepadanya bahwa aku mencintainya. Tapi dia bukan Kak Sanjeev, dan itu bagian dari masalah. Karena, selain bukan pria yang kunyatakan cinta, orang ini sangat sempurna: dari matanya yang hitam pekat dan tatapannya yang tulus serta senyum malu-malunya hingga aroma kayu wewangian tubuhnya yang kini mengelilingiku, tapi yang terutama karena apa yang terjadi berikutnya...
Dia mundur selangkah dan aku dapat melihat perdebatan terjadi di matanya sementara suara di belakangnya kembali memanggil, lebih mendesak kali ini. "Kita harus pergi! Ayo!"
"Sebentar...!" dia balas berseru, persis ketika seorang pengunjung yang sedang bergegas menubruk bahunya, sesaat membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam pelukanku.
Oh....
Dalam keterkejutan, aku berpegangan padanya dan lengannya yang kokoh terulur untuk menahan punggungku. Rasa kaget itu langsung membuyarkan seluruh pemikiran di benakku. Dengan jantung berdebar, aku mendongak menatap matanya.
"Ini sangat disayangkan, tapi aku harus pergi," dia berbisik, bibirnya hanya beberapa senti dari wajahku dengan hangat napas membelai kulitku. "Sampai jumpa lagi."
Ah, momen itu manis sekali. Hampir sempurna. Hampir. Tapi belum. Karena, hari itu, hari terakhir aku bertemu dengannya -- sebagai Zia.