
Kak Sanjeev duduk termenung dengan segelas anggur di tangannya ketika aku dan Neha kembali bergabung di tengah-tengah keluarga Mahesvara. Dan itu sangat mengusik hatiku. Tentu saja, sebagai seorang adik, aku tidak suka melihatnya hanyut dalam kesedihan. Aku merasa ada beban di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Kak, aku boleh duduk di sini?" tanyaku -- berbasa-basi ketika aku menghampirinya di bangku taman. Kusikut dia saat aku duduk. "Aku tahu kau pasti datang."
Dia tersenyum kosong. "Tidak mungkin tidak. Kau adik kesayanganku."
"Dan yang lain? Mereka juga, kan?"
Ini menghasilkan senyum yang lebih tulus di wajahnya. "Kau bisa melihatnya, kurasa."
"Em, aku melihatnya dengan jelas."
"Yah, begitulah."
"Jadi apa yang membuatmu termenung di sini? Aku tidak keberatan kalau kau mau menghabiskan waktu bersama mereka. Aku mengerti dan aku tidak akan cemburu. Mereka lebih berhak dariku."
Terkejut. Dia beringsut untuk memandangiku. "Hei, Adikku tersayang, apa yang kau katakan?"
"Tidak. Aku hanya menebak isi hatimu. Mungkin kau sangat ingin mencurahkan kasih sayangmu kepada mereka, atau mungkin kau menginginkan posisi seorang kakak yang benar-benar nyata, atas hubungan darah. Bukan sekadar kakak dengan status sebagai seorang pahlawan."
Galau. Kak Sanjeev menyandarkan kembali punggungnya pada bangku besi yang tak nyaman itu. "Mungkin kau ada benarnya," akunya. "Aku tidak terlalu bisa menjelaskan sebabnya, tapi... kau lihat mereka, keluargaku, mereka bahagia. Aku memperhatikan mereka bersama dan tiba-tiba aku tersadar betapa baiknya hidup adik-adikku. Bahagia, berkumpul, dan tidak sedikit pun merasa kesepian."
"Dan kau merasakannya? Kau merasa kesepian?"
Mengangguk. "Ya," katanya. "Aku tidak punya siapa-siapa, cuma kau, yang sekarang pun bersama mereka. Tidak bisa kupungkiri, Sayang, rasanya begitu menyesakkan. Rasanya aneh, aku punya rumah bagus, mobil paling canggih, aku menghasilkan uang, dan mengenakan pakaian-pakaian mahal, tapi pada akhirnya, apa artinya semua itu? Kau tahu, aku memandangi mereka semua hari ini dan untuk pertama kali, aku iri. Aku iri pada HansH yang memiliki mereka, dia juga memiliki bibiku. Sedangkan aku, sebatang kara. Aku sebatang...." Dia terdiam ketika Neha mengambil tempat duduk di sebelahku.
"Semuanya baik di sini?"
Kak Sanjeev mengamati gelas anggurnya lekat-lekat. Neha menaikkan alis kepadaku lalu, membaca isyarat, ia pun kembali berdiri dan berjalan ke arah Parvani dan Bibi Heera.
Aku tersenyum kepada Kak Sanjeev. "Lanjutkan."
"Tidak, Sayang. Sudah cukup. Kau membuatku terbawa arus."
"O ya? Seperti biasanya, bukan? Aku adikmu. Rasanya kita sudah lama kehilangan momen kebersamaan kita. Aku ingin mendengarkanmu seperti dulu."
"Tidak. Ini payah. Aku tidak pernah terpikir akan mengatakan ini, apalagi mengakuinya." Dia menertawakan diri sendiri. "Ini benar-benar payah."
"Menurutku tidak. Kupikir ini wajar. Kakakku baru saja menyadari bahwa dia menginginkan keluarga. Hubungan dengan ikatan darah. Bukan sekadar dunia kecil kita, ya kan? Kau menginginkan mereka."
Dia mengangguk. "Kau merasakan apa yang kurasakan? Kau ingin memiliki keluarga besar?"
Tentu saja. Bagaimana mungkin tidak. Aku balas mengangguk. "Sering, sangat sering. Tapi aku tidak seberuntung dirimu. Kakak masih memiliki mereka. Sedangkan aku? Aku tidak. Dan Kakak harus bersyukur untuk itu. Kau cukup beruntung. Aku benar, kan?" Aku bahkan ingin berusaha membujukmu untuk berterus terang kepada mereka. Tapi aku tahu melunakkan hati yang keras karena rasa sakit tidak bisa dengan cara instan. Semuanya harus berproses.
"Sudahlah, lupakan. Sekarang ikut aku."
Hah?
"Cepat," katanya sambil meraih tanganku dan menyeretku menyusuri sisi lain arah di mana tadi Neha menarikku. "Kita harus pergi ke tempat sepi."
Untuk apa? Pertanyaan itu berputar-putar di benakku tapi aku tidak mengatakannya.
Dengan sadar, kuikuti dirinya, kami berlari, bergandengan tangan, menyusuri lantai-lantai kotor dan hanya berhenti ketika sudah sampai di toilet pria. Kak Sanjeev mendorong pintunya beberapa senti, kemudian celingak-celinguk ke dalam.
Kau tahu, sejujurnya aku sudah sangat siap dengan segala risiko yang akan terjadi. Sekalipun ada yang melihatku bersama Kak Sanjeev dalam situasi seperti ini, maka aku akan mengakui segalanya. Sayangnya tidak. Tidak ada seorang pun.
"Aku tidak bisa masuk ke situ," pekikku saat dia menarikku masuk.
Lagi, dia menarikku dan membawaku masuk ke dalam salah satu bilik.
Aku berdiri di tengah-tengah ruangan kecil itu sambil berusaha tidak menyentuh apa pun. Namanya juga toilet -- toilet pria pula, bau dari tempat kencingnya begitu menjijikkan sampai tak bisa kujelaskan. Kujepit hidungku, lalu aku meringis ke arah Kak Sanjeev. Di bawah penerangan lampu neon yang benderang, dia menatapku begitu lekat.
"Ada apa, Kakak? Kenapa kau mengajakku ke sini?" sengalku dalam pernapasan yang terjepit.
Kak Sanjeev tak bereaksi, masih saja menatapku begitu lekat.
"Kakak?"
"Peluk aku," pintanya sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Aku merindukanmu."
"Ya ampun, tentu saja." Aku langsung mendekapnya. Kulingkarkan lenganku erat-erat mengelilingi tubuhnya, sosok pria yang kokoh dan hangat. "Aku sangat merindukanmu."
Persis di saat itu kusadari Kak Sanjeev mengelus kepalaku, dia mencium keningku, lalu kembali memelukku erat-erat.
"Kenapa kau jadi pria melankolis begini, sih?" tanyaku menyadari matanya yang memerah, dia menggeleng sementara aku mengerjap manahan air mata.
Tak ada kata-kata ataupun jawaban lain untuk pertanyaan itu. Kak Sanjeev menatapku selama beberapa detik lagi kemudian bertanya, "Apa aku sudah kehilanganmu, Zia?"
"Eh?" Kutatap ia dengan heran. "Apa maksudmu? Itu tidak mungkin. Kau sama sekali tidak pernah kehilangan aku. Sampai kapan pun kau akan menjadi saudaraku."
Dia menggeleng. "Bukan itu maksudku."
"Kak...?"
Kedua tangan yang kusadari sudah berpindah ke bahuku, mencengkeramku lebih kuat. "Kau memintaku datang ke sini untuk membawamu pergi, ya kan? Tapi yang kulihat justru berbeda. Kau menikmati momenmu bersama HansH. Dan aku tidak suka itu. Katakan kalau aku salah. Katakan kalau aku tidak kehilanganmu. Kau Zia-ku. Kau masih Zia-ku. Iya kan, Zia? Iya kan, Sayang?"
Aku tertunduk, menimbang-nimbang jawaban apa yang mesti kuberikan. Kalau aku jujur, berarti aku akan menyakiti hati Kak Sanjeev. Kalau berbohong, aku tidak ingin memberinya harapan. Perasaanku pada Kak Sanjeev sudah pupus semenjak HansH mengisi hatiku, menggantikan tempat yang selama ini ditempati oleh Kak Sanjeev. Tapi sebagai saudara, posisi Kak Sanjeev di hatiku tidak akan pernah bisa terganti. Tidak akan pernah.
"Jawab aku, Zia. Tatap mataku. Hmm? Apa rasa itu masih untukku?"
Aku menggeleng. "Maaf, Kakak. Maafkan aku."
"Zia?"
"Aku mencintai HansH."
"Tidak. Itu tidak mungkin. Kau bercanda, kan? Katakan kalau kau hanya bercanda."
Aku menggeleng.
"Kurang ajar! Berengsek!" Kak Sanjeev melepaskan tangannya dariku lalu meninju pintu toilet.
Aku ketakutan, sekaligus khawatir. Aku tidak ingin emosi Kak Sanjeev membuatnya kembali lepas kendali.
"Kakak, Kakak jangan--"
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Aku...."
"Tidak, Zia. Tidak akan kuizinkan HansH merebutmu dariku. Tidak akan. Kau milikku. Kau, selamanya hanya milikku. Dan kau tahu, jika aku kehilanganmu karena si berengsek itu, itu membuatku semakin ingin cepat-cepat menghancurkan hidupnya."
Mataku terpejam. Aku tahu kau tidak mencintaiku, Kak. Kau hanya terobsesi untuk mengalahkan HansH. Dan aku justru terjebak di antara kalian, semakin dalam.