Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Malika Mahesvara



Detik jam terus berlanjut maju. Dentuman jantung pun terus berdenyut kelu. Sementara aku, aku masih membisu di tengah keramaian jalan yang kami lalui. Tak mampu mengatakan apa pun di antara desiran angin yang menerpa rambutku sementara mataku hanya terpaku kepada apa yang ada di hadapanku. Aku kembali terperangkap dalam kegelisahanku sendiri -- kegelisahan yang entah kenapa pagi ini kembali menguasaiku.


"Sayang?" HansH mengelus kepalaku, dan aku agak kaget. "Jangan dijadikan beban, ya? Anggap saja kita ke klinik cuma untuk menjenguk si bayi. Selain itu kau tidak punya kewajiban apa pun. Oke, Sayang?"


Aku mengangguk. Tapi tetap saja beban itu tak runtuh dari pundakku. Kalau mengingat masa kecilku dulu, aku yang bersyukur karena telah diadopsi ibuku, rasanya aku ingin sekali mengadopsi bayi itu, tapi aku merasa tidak siap dengan segala konsekuensi atas penilaian orang-orang setelahnya. Apalagi Sheveni, sudah pasti dia akan mencemoohku habis-habisan. Mungkin aku bisa menahannya jika ia menghina tentang aku, diriku, tapi bagaimana kalau nanti ia malah mencela bayi itu? Bagaimana kalau ia atau orang lain, siapa saja -- menyebut bayi itu sebagai bayi haram atau pribahasa sebangsanya? Bagaimana? Sanggupkah aku mendengar cercaan demi cercaan yang akan ditujukan kepada bayi itu? Memikirkannya saja aku tidak sanggup. Bagaimana nanti aku bisa menghadapinya?


Ugh!


"Sayang?"


"Emm?"


"Bicara padaku. Apa saja, mungkin perasaanmu akan lebih baik."


"Aku punya satu pertanyaan, bagaimana kalau nanti orang-orang menghinanya? Mengatainya sebagai anak haram? Apa kita akan sanggup mendengar bayi yang sudah terlanjur kita sayangi menjadi bahan hinaan orang-orang?"


"Ala bisa karena biasa, Sayang. Di mata Tuhan tidak ada bayi haram. Mereka terlahir suci meski dari benih hubungan terlarang. Kurasa aku mampu menjadi ayah yang berlapang dada. Dan bukankah aku sendiri terlahir dari hubungan terlarang? Jika kita harus menanggapi omongan orang, itu tidak akan pernah ada habisnya, ya kan?"


HansH benar. Dia bisa menjadi seorang ayah yang bijak. Tapi tetap saja, aku hanya terdiam. Merasa masih tidak mampu untuk menghapuskan keresahan yang berkecamuk di dalam dada.


Dan, sekarang, dengan keheningan berulang di sepanjang sisa jalan, akhirnya kami pun sampai di klinik tempat bayi itu dititipkan. Dalam gandengan HansH, kami segera menuju ruangan bayi.


Wajah lucu itu tertidur pulas.


Benar kata HansH, dia bayi perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih, seputih kulitku, berambut hitam, pipi gembul dan sangat lucu. Dan... menggetarkan. Begitu pas ia di dalam gendonganku. Aku menyukainya, dan lantas menyibukkan diri dengan menimang-nimangnya. Menikmati momen manis perkenalan di antara kami.


Aku hanya tersenyum.


"Kau tahu, kalau kau setuju mengadopsinya, aku ingin kita menamainya Malika. Dia akan menjadi malaikat kecil untuk melengkapi kebahagiaan dalam rumah tangga kita. Malika Mahesvara. Nama yang cantik untuk bayi yang cantik. Bagaimana, Ma?"


Oh... hatiku terenyuh....


Kata-kata sudah tersendat dan tertahan untuk kukeluarkan. Tidak ada lagi rangkaian huruf yang terbayang di kepalaku dan tak ada lagi barisan abjad yang akan kueja. Karena kehadirannya sudah meluluhlantakkan alfabet dalam hidupku. Begitulah aku menerima Malika.


Untuk mengkhatamkan rasa yang bersarang di dada itu, segera aku mengangguk. Derai air mata bahagia berjatuhan dan kami berpelukan.


"Kau tahu, suatu hari nanti aku berniat mengadopsi satu bayi laki-laki dan akan aku namai ia Malik. Adik lelaki untuk Malika."


Malik? Apa maksudnya ini, Tuhan? Aku bahkan tidak pernah menyebut nama Pak Malik di hadapan HansH. Bagaimana ia bisa terinspirasi dengan nama itu? Apakah ini caramu menunjukkan kebesaran-Mu kepadaku? Masyallah. Mungkin ini benar jawaban untukku, memiliki anak bukan berarti mesti ia yang terlahir dari rahimku....


Aku terharu. Kedamaian fitri yang kujalani ini, seperti kedamaian ketika rekah surya membelah pekat malam. Semua terusir pergi dari segala gulita.


"Jadi, kau yakin, kau mau menerima Malika dengan sepenuh hati? Kau bersedia menjadi ibu bagi bayi ini dan membawanya pulang? Jika tidak, aku tidak akan memaksamu. Kita akan pulang dan meninggalkannya di sini."


Tidak. Aku menggeleng. Dia sudah nyaman dalam pelukanku. Dan aku tidak akan melepaskannya lagi....


Aku menerimanya....