Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Terjadi



Dengarkan aku. Pikirkan apa yang akan kusampaikan ini baik-baik. Kau tidak bisa menggunakan identitas aslimu. Identitasmu harus tetap tersembunyi, begitu juga dengan identitasku. HansH, atau siapa pun dari keluarga Mahesvara, tidak ada seorang pun yang boleh tahu tentang Zia dan Sanjeev. Identitas kita adalah milik kita sendiri dan itu rahasia kita. Kalau kau menggunakan identitas aslimu, berarti mereka akan mengetahui segalanya tentangmu, siapa dirimu, siapa keluargamu, dan akhirnya mereka akan menemukanku. Aku tidak menginginkan hal itu. Kau mengerti? Tujuanku hanya untuk menghancurkan HansH dan keluarganya, juga untuk mengungkapkan kematian Alisah. Aku tidak menginginkan sedikit pun harta ayahku, ataupun nama dan kehormatan keluarga Mahesvara. Tapi mereka juga tidak berhak atas semua itu. Mereka harus kehilangan segalanya. Kalau kau mendapatkan semua harta itu, kau bisa menyumbangkannya, terserah ke mana. Intinya, mereka harus kehilangan segalanya, sampai nol. Tidak ada yang tersisa. Setelah itu, kau dan aku, kita berdua akan kembali ke India. Ke kehidupan lama kita. Dunia kecil kita. Zia dan Sanjeev, tanpa jejak, tanpa identitas Alisah. Hanya kau dan aku. Tidak akan ada yang tahu kalau kita yang berperan dalam menghancurkan keluarga Mahesvara. Kau paham? Wajahmu dan identitasmu akan kembali seperti semula. Aku janji. Dan yang terpenting dari segalanya, kehidupan kita akan kembali seperti sediakala. Zia dan Sanjeev, kita akan kembali bahagia seperti dulu, sebagai keluarga kecil yang bahagia. Kau mau, kan?


Hampir dua puluh tahun, selama itu. Kau gadis kecil berusia empat tahun yang kusayangi sampai sedewasa ini, apa aku pernah menolak keinginanmu? Apa aku pernah berkata tidak padamu walau sekali saja? Apa pernah? Jawab aku.


Ingat masa-masa yang sudah kita lewati dalam hubungan ini? Bagaimana aku berperan dengan baik sebagai kakakmu? Setiap kali kau terjebak dalam masalah, siapa yang selalu ada di belakangmu? Di saat kau melakukan kesalahan, siapa yang menanggung hukuman untukmu? Apa aku pernah membela diriku di hadapan ayah dan ibu demi menutupi kesalahanmu? Jawab aku, Zia.


Dan sekarang pikirkan ini, seumur hidupku, demi dirimu, demi menjadikan dirimu tetap menjadi prioritas utama dalam hidupku selain ayah dan ibu, aku rela tidak ada kekasih yang betah bertahan denganku, karena kau yang selalu menjadi prioritas utama dalam hidupku. Bukan orang lain. Dan, Zia, cinta dan kasih sayangku kepadamu selama ini, itu jauh lebih besar daripada cinta dan kasih sayang seorang kekasih. Kau bisa merasakan itu, kan?


Dengan segala yang kulakukan dan kuberikan untukmu, sebagai keluargamu satu-satunya, selain kue buatanmu dan meminta waktumu untuk menemaniku, apa aku pernah meminta sesuatu yang lain, sesuatu yang besar selain hal ini? Tidak pernah, Zia. Baru kali ini aku meminta hal sebesar ini padamu, hanya kali ini, dari sepanjang tahun-tahun yang sudah kita lewati bersama, hanya kali ini aku meminta pengorbananmu. Kali ini saja. Please, kali ini saja. Aku tidak akan pernah meminta apa pun lagi darimu. Tidak akan.


Baiklah. Akan kulakukan. Aku akan melakukan apa pun demi Kakak.


Aku akan melakukan apa pun demi Kakak.


Kalimat demi kalimat itu terus mendengung di telinga sepanjang perjalanan hingga Korean Air triple tujuh mendarat sempurna di bandara Incheon. Kulepas headphone yang sejak awal pesawat lepas landas sengaja tak kulepas demi menghindari obrolan dengan Kak Sanjeev mengenai apa pun yang pasti akan membuatku depresi. Tidak ada satu pun yang mampu kubahas saat ini, sekalipun itu berupa kenangan indah nan manis kami di masa lalu. Tidak ada. Karena nyatanya, saat ini, apa pun itu adalah hal yang sangat menyakitkan bagi diriku. Aku bahkan sanggup menahan buang air kecil selama berjam-jam perjalanan demi menghindari kontak mata dan komunikasi dengan Kak Sanjeev yang duduk diam di sebelahku.


Penerbangan malam tak membuat mataku terpejam walau satu menit pun. Aku sedih sesedih-sedihnya. Sama seperti para gadis lain pada umumnya, aku pun ingin menjelajahi tempat-tempat wisata di seluruh dunia, tak terkecuali negara ini, Korea yang diagungkan oleh banyak wisatawan. Tentunya bersama pasanganku untuk memadu kasih. Bukannya untuk menukar wajahku dan identitasku, apalagi jati diriku dengan orang lain. Ini mimpi buruk dalam hidupku.


Untungnya Kak Sanjeev memenuhi keinginanku untuk tidak mengajakku bicara. Aku tahu dia memahami kesedihanku, dia pun merasakannya, tapi dia mengeraskan hatinya untuk tidak mundur dalam kesalahan ini. Tidak, kesalahan ini hanya di mataku. Tidak bagi Kak Sanjeev.


Aku mati rasa.


Kutatap wajah asing di pantulan cermin di hadapanku dengan tetesan air mata. Selamat tinggal, Zia. Belum tentu wajahmu dan identitasmu akan kembali. Hanya waktu yang akan menjawab segalanya.


Yeah, cara Kak Sanjeev mengembalikan identitas Alisah tempo hari di depan HansH, itu seperti tombol kehidupan untuk Alisah, tombol aktif dan Alisah resmi dinyatakan kembali. Begitu juga sebaliknya, itu seperti tombol off bagi Zia, bagian kisah hidup Zia sudah dinonaktifkan. Zia sudah tiada bagi dunia, seperti Alisah yang asli, yang hilang tanpa jasad, dan, tanpa jejak, itu juga yang dialami Zia dalam misi ini. Hilang.


Seakan semua kesedihan itu belum cukup, hatiku lebih dihancurkan lagi ketika dokter mengizinkan Kak Sanjeev masuk ke ruang rawatku dan ia terpaku menatap wajah mendiang kekasihnya ada di depan mata. Dia berjalan pelan ke arahku dengan tatapan lekat ke wajahku. Dia tersenyum sambil menangis. Jelas air mata melintasi pipinya.


Dia memelukku. "Aku merindukanmu, Alisah. Aku sangat merindukanmu." Air matanya membasahi pundakku.


Aku terpancing, aku tak bisa lagi menahan emosi yang terpendam selama berhari-hari dan itu seketika muncul dalam penolakan. Dengan kasar, aku menyingkirkan Kak Sanjeev dari hadapanku. "Aku bukan Alisah!" ketusku. "Biar dunia salah mengenaliku, tapi tidak bagimu! Kau mengenalku dengan baik! Aku, bukan, Alisah! Bukan!"


Kak Sanjeev hanya mengangguk dalam kesedihan. "Maaf," sesalnya dengan perasaan bersalah. "Maafkan aku. Maafkan aku, Zia."


Dia berbalik, dan meninggalkan aku dalam tangisan.


Maafkan aku, Kak. Harusnya aku mengerti dengan perasaanmu. Kau melihat kembali wajah kekasihmu untuk pertama kali. Harusnya aku maklum. Tapi hatiku begitu terluka. Aku tidak tahu bagaimana mesti mengontrol diri. Maafkan aku. Di sini, tidak ada satu pun hal yang benar. Semuanya salah. Sangat salah. Dan sekarang kita lihat, semua pihak malah akan tersakiti. Tidak hanya HansH, tapi juga kau, dan, aku. Tapi semua ini sudah terlanjur. Tapi... yah... aku akan melakukan apa pun demi Kakak. Aku akan melakukan apa pun demi Kakak. Kalimat itu terus kurapalkan dalam hati. Demi Kakak. Hanya demi Kakak. Sampai jumpa, Zia -- kalau takdir menginginkanmu kembali. Hanya jika takdir menginginkanmu kembali....