Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Pencarian Hati



Well, aku dan Nandini tidak memiliki jawaban untuk satu sama lain sehingga akhirnya obrolan kami di tepi kolam renang itu mesti selesai dan kami memutuskan untuk kembali ke dapur.


Di sana, di dapur yang luas itu, Nandini kembali bercerita kepadaku bahwa setelah ia menikah, ia memilih untuk menyibukkan diri di rumah. Memasak menjadi hobi barunya untuk menghilangkan kejenuhan. Dia juga mengatakan kepadaku bahwa kuliah S2-nya terpaksa terhenti karena ia merasa tidak sanggup untuk selalu melihat tempat di mana awal bencana dalam hidupnya terjadi. Dia mengakui bahwa dirinya tidak sekuat orang lain yang mengalami hal yang serupa. Dia tidak mampu berdamai dengan hal-hal yang terkait langsung dengan kejadian buruk itu. Tapi menurutku dia termasuk "korban" yang kuat, karena faktanya ada banyak korban pelecehan yang tidak kuat menghadapi kenyataan hidup yang akhirnya membuat nasib mereka harus berakhir di rumah sakit jiwa bahkan ada banyak yang memilih mengakhiri hidup mereka. Nandini termasuk pribadi yang kuat, dan aku sangat salut kepadanya.


"Sebenarnya tidak hanya aku," aku Nandini kemudian. "Parvani juga menjadi target penculikan, di hari yang sama dan di waktu yang sama. Tapi syukurlah dia beruntung karena dia selamat. Waktu itu ada pria baik hati yang menolongnya. Tidak tahu bagaimana, katanya sewaktu dia melihat Parvani tidak sadarkan diri di dalam mobil penjahat itu, dia yakin kalau ada yang tidak beres. Untungnya saat itu mobil penculik itu terjebak di lampu merah, jadi pria baik hati itu bisa kebetulan melihat Parvani di dalam mobil dalam keadaan pingsan, dengan instingnya dia menyelamatkan Parvani. Katanya Parvani itu adiknya, jadi dia berteriak dan minta tolong pada orang-orang sekitar, alhasil, para penculiknya takut dikeroyok massa dan akhirnya kabur, mereka lari meninggalkan Parvani dan mobil mereka di jalan. Puji syukur, adikku yang masih remaja itu akhirnya selamat."


Dengan takjub, aku menyaksikan ketulusan dari ekspresi Nandini, bahwa walaupun dia tidak selamat dari petaka terkutuk itu, dia sangat bersyukur adik perempuannya selamat. Begitulah sejatinya seorang kakak, meski dirinya sendiri hancur, tapi dia menginginkan keselamatan bagi sang adik. Air mataku bahkan kembali menetes menyaksikan hal ini.


"Aku tahu kau menyayangi kami semua," ujarnya kemudian. "Kalau tidak, kau tidak akan menangis mendengar cerita ini."


Aku mengangguk, kuusap air mataku dan kami berpelukan.


"Jadi siapa si pria baik hati itu?" tanyaku. "Barangkali aku punya kesempatan untuk bertemu dengannya."


Nandini bergumam, "Emm...," --dia nampak berpikir dan mengingat-ingat-- "kalau tidak salah... San... Sanjeev. Kak Sanjeev. Yeah, Kak Sanjeev. Parvani memanggilnya kakak untuk menghargai kebaikannya."


Kau tahu apa yang terjadi kepadaku? Membeku. Aku terdiam seribu bahasa.


Kak Sanjeev? Pasti Sanjeev yang sama. Dan di saat kejadian itu mungkin dia sudah tahu kalau Parvani memang adiknya. Barangkali dia memang sudah tahu. Karena itu hatinya tergerak untuk menyelamatkan Parvani.


Oh Tuhan... aku sangat bersyukur aku mengetahui tentang cerita ini. Kebaikan hati Kak Sanjeev membuktikan bahwa darah lebih kental daripada air. Dia peduli pada adik-adiknya saat keadaan membuatnya tidak bisa berpihak pada kebencian.


Kau orang yang baik. Kau hanya sedang salah mengambil sikap karena dibutakan oleh kebencian. Aku tahu, kau kakakku. Kakakku yang terbaik.


"Tapi sayang kami tidak pernah bertemu lagi dengannya. Dia tidak memberikan nomor telepon ataupun alamat. Sayang sekali. Apalagi aku, aku belum pernah bertemu dengannya karena aku mengalami penculikan yang sama. Seandainya saja, aku bisa mengucapkan terima kasih kepadanya secara langsung, aku ingin sekali. Dia yang menyelamatkan adikku."


Aku tahu di mana dia, Nandini. Akan kupertemukan kalian kembali. Aku berjanji.


Dan sejak detik itu niatku berubah sepenuhnya. Mengetahui kenyataan ini, aku bersumpah pada diriku sendiri, demi hubungan persaudaraan mereka, aku tidak akan menghancurkan HansH dan keluarganya. Aku tidak akan mendukung Kak Sanjeev untuk menghancurkan persaudaraan mereka yang seakan tidak pernah terjalin meski terikat oleh darah yang sama. Aku ingin mereka bersatu, walau apa pun yang terjadi. Tidak masalah kalau selama ini Kak Sanjeev membohongiku, mengarang cerita untuk membuatku mempercayainya, aku tidak peduli. Yang terpenting bagiku, mereka semua mesti bersatu sebagai keluarga yang harmonis. Aku bersumpah akan menyatukan keluarga mereka.


Aku akan melindungi mereka seperti yang kau lakukan, Kak. Aku yakin kau hanya dibutakan oleh kebencian sesaat. Mungkin benar kau membenci HansH, tapi tidak dengan adik-adik perempuanmu. Aku yakin, pada akhirnya kau akan sangat menyayangi mereka. Persaudaraan ini hanya perlu jembatan untuk menjadi penghubung. Karena kebencianmu dan semua yang terjadi di masa lalu menjadi pemisah di antara hubungan kalian yang sebenarnya terikat oleh darah.


"Hei, apa yang kau pikirkan?" tegur Nandini. "Sayuran itu tidak akan membuat kakakku jadi sekuat Popeye! Paling mampu dua ronde!"


Eh?


"Nandini...!" pekikku, lalu tawaku pecah. "Pikiranmu terlalu jauh, tahu! Ih kau ini, ya!"


Perang bayam pun terjadi.


Dia terbahak-bahak, pun aku, aku tertawa sampai ngakak karena geli mendengar leluconnya yang terlalu vulgar untuk gadis perawan yang sebentar lagi akan menikah.


"Jujur aku menantikan momen itu," aku Nandini akhirnya. "Entah kapan. Tapi aku tahu, antara aku dan Vikram tidak semestinya terus seperti ini."


Mustahil untuk tidak tersenyum lebar mendengar pengakuannya. Tetapi aku juga bingung mesti menanggapinya bagaimana. Akhirnya aku hanya bisa berkata, "Kenapa kita mesti mempersulit diri, ya? Di luar sana ada banyak pasangan yang berbeda keyakinan, tapi mereka tidak memusingkannya seperti kita."


"Mungkin karena pasangan mereka tidak seperti pasangan kita," ujar Nandini. "Mungkin bagi mereka asal pernikahan sudah dilangsungkan oleh kedua belah pihak, tidak peduli dengan kepercayaan yang mana, yang penting mereka sudah menikah dan sah-sah saja untuk menunaikan kewajiban masing-masing. Tidak seperti kita. Menurutku. Tapi... ya, entahlah. Hanya mereka yang tahu isi hati mereka, ya kan? Tapi Kak HansH jelas menginginkanmu kembali menjadi Alisah yang dulu, dengan identitasmu yang asli."


Asli. Kata itu menohokku dengan telak.


"Sekarang, pertanyaannya adalah, apa kau akan menerima, atau justru menolak itu? Pernikahan kalian akan terjadi kalau kalian seiman. Aku sangat mengenal kakakku dalam mengambil keputusan."


Mengedikkan bahu, hanya itu yang bisa kulakukan. "Menurutmu, bagaimana cara supaya aku bisa menjadi Alisah yang dia inginkan? Bagaimana aku bisa mendapatkan jati diri Alisah seutuhnya?"


Pertanyaan macam apa itu, Zia? Kau sudah tidak waras! Kau ingin melupakan identitas aslimu? Iya? Kau ingin melupakan Zia dan menjadi Alisah seutuhnya?


Pertanyaan keras itu berputar-putar di benakku. Dan, sepotong pemikiran kecil mencoba membenarkan apa yang baru saja dicetuskan oleh lidah yang tak terkontrol ini hanya karena kepalaku dipenuhi bayang-bayang tentang HansH, juga, pemikiran tentang Kak Sanjeev -- mereka yang harus kupersatukan.


Zia juga bukan identitas aslimu, bukan? Siapa yang tahu siapa dirimu sebenarnya? Kau bukan Alisah, kau juga bukan Zia. Kau hanya anak yang diperkirakan berusia empat tahun yang menangis di pinggir jalan, di tepi hutan. Kau sebatang kara, tidak tahu siapa ayahmu, siapa ibumu, juga siapa Tuhan-mu, dan, dalam agama apa kau dilahirkan. Kau tidak tahu segalanya.


Argh! Memusingkan.


"Sungguh, kau bertanya kepadaku, Kakak Ipar? Bagaimana aku tahu jawabannya. Kau malah bertanya kepadaku. Dasar aneh!" ledeknya. Tapi kemudian ia bergumam. "Emm... tapi begini saja, aku punya saran yang bagus untukmu. Dengarkan, berhubung kau punya waktu kurang dari lima puluh hari untuk menuju pernikahan. Jadi, carilah Tuhan-mu dalam waktu empat puluh hari. Dan sisanya, gunakan sisa hari itu untuk memantapkan keputusan. Apa saja yang harus kau lakukan selama empat puluh hari, aku tidak tahu. Kau bisa memikirkannya sendiri. Dan... yeah, nanti tolong beritahu aku, hal luar biasa apa yang terjadi sampai kau akhirnya memantapkan hatimu. Oke? Barangkali hal itu juga akan menjadi pertimbanganku."


Hah?


"Kenapa begitu? Jangan memberatkan aku, Sayang. Aku tidak ingin mengajak orang lain ke neraka bersamaku seandainya ternyata keputusanku salah. No...! Tidak akan. Aku tidak mau."


Dia tersenyum ceria. "Baiklah, kalau begitu anggap aku tidak pernah mengatakan hal itu. Oke? Aku hanya sedang stres."


"Why? Kenapa? Masih ada yang kau rahasiakan dariku?"


Dia mengedikkan bahu. "Satu alasan kuat yang tak berhenti mengusikku, Vikram dan Tuhannya datang merangkulku di saat kehidupanku hancur. Bukan orang lain, bukan Tuhan dari agama lain."


Air mataku kembali menggenang -- persis di saat hatiku bergetar mendengar pengakuannya.


Tuhan umat muslim, jika Kau memang ada, rangkullah aku. Aku mohon, tolong... rangkul aku.