
"Tadinya aku ingin memintamu untuk membawaku pergi. Tapi sekarang tidak lagi," kataku, kembali melanjutkan rencana bohongku pada Kak Sanjeev, sementara ia menatapku dengan marah. "Ketika aku melihat betapa kakakku menyayangi keluarganya, aku sudah berubah pikiran. Aku bersumpah, Kak. Aku bersumpah padamu aku akan menyatukanmu dengan keluargamu. Aku akan memberitahu mereka siapa dirimu sebenarnya."
Tergelak. Kak Sanjeev tertawa. "Kau lucu sekali, Sayang. Siapa yang akan percaya padamu? Hmm? Kau bicara tanpa bukti. Mereka akan menganggapmu tidak waras dan semua yang kau katakan itu hanyalah omong kosong."
Aku menggeleng. Jelas Kak Sanjeev tidak tahu apa-apa, pikirku. Dengan berani aku balas menatapnya. "Tidak, Kak," sanggahku. "Kau salah. HansH sangat percaya padaku. Dia akan percaya pada apa yang akan kukatakan kepadanya, aku yakin. Bahkan Bibi Heera juga akan percaya kepadaku."
"O ya?" Dia berkacak pinggang. "Baiklah, kalau begitu beritahukan saja semuanya. Beritahu kalau aku menyuruh adikku untuk operasi wajah dan menyamar sebagai tunangannya, untuk membalaskan dendamku. Beritahu saja. Silakan. Kita lihat bagaimana reaksi mereka."
Argh!
"Kenapa kau mempersulit semuanya?" raungku tanpa kendali, lalu aku tersadar di mana keberadaanku. Kupelankan kembali suaraku dan berkata, "Tolong, Kakak, berpikirlah dengan jernih. Kau ingin bersama mereka, kau ingin disayang dan menyayangi keluargamu, kenapa harus dipersulit? Akui itu dan lakukakan. Semuanya pasti akan baik-baik saja."
Kak Sanjeev mengerutkan hidung, kemudian mengangguk-angguk gelisah. "Baiklah," katanya. "Kita permudah. Aku akan memadamkan api dendamku kepada HansH, dan aku akan memberitahu mereka siapa diriku sebenarnya pada mereka, dengan satu syarat."
Harapan, pikirku. Aku tersenyum dan ingin memeluk Kak Sanjeev. Hatiku begitu senang mendengarnya sebelum aku tahu apa syaratnya. "Apa, Kak? Katakan, apa yang Kakak inginkan?"
"Kau. Kau harus menjadi Nyonya Sanjeev Mahesvara. Istriku."
Hatiku hancur hingga berkeping-keping begitu mendengarkan jawabannya. Untuk pertama kali, aku menggeleng dengan tatapan benci kepadanya. "Kau tidak waras. Kau sakit! Kau terang-terangan menolakku dan tidak bisa menganggapku lebih dari seorang adik, tapi sekarang kau ingin aku menjadi istrimu hanya untuk menyakiti HansH? Tidak! Aku tidak lagi mengenalmu. Obsesimu sudah membuatmu sakit jiwa. Aku benci padamu!"
Aku benar-benar tersulut api kemarahan. Rasa kecewa pada Kak Sanjeev membuatku -- tanpa sadar -- mendorong tubuh besarnya hingga ia terbentur ke dinding.
"Kau bukan lagi kakakku!"
Dengan darah mendidih kuhentakkan kakiku dan aku keluar dari bilik toilet.
Persis di saat itu aku membeku.
"Joshi?"
Pria tinggi yang baru saja masuk ke ruangan bau itu sama terperangahnya denganku, tapi itu hanya sesaat, dia menyengir lebar setelahnya. "Hai, Alisah. Lama tidak melihatmu, Sayang."
Ya Tuhan, aku melakukan kesalahan lagi. Aku mengenal Joshi sebagai mantan pacar Neha yang berselingkuh, dan dia mengenalku sebagai Zia. Tapi sekarang -- aku dengan wajah Alisah -- dan dia pun mengenal Alisah. Pertanyaannya: kenapa dia menyebut Alisah "Sayang" dan berbicara dengan nada menggoda dan terdengar kurang ajar?
Mau akting lupa padanya karena amnesia? Tapi aku sudah terlanjur menyebut namanya.
Oh, ini pelik. Siapa Joshi dalam kehidupan Alisah?
"Maaf, aku salah masuk toilet."
"O ya? Benar begitu, Sayang?"
"Em."
"Baiklah. Tapi kurasa kesalahan ini justru menjadi sebuah keberuntungan, bukan?"
"Maksudmu?" Keningku mengerut. "Maaf, tapi aku tidak mengerti dan aku tidak punya waktu untuk membahas ini. Permisi."
Tapi dia mencegat lenganku.
"Lepaskan aku! Jangan kurang ajar!"
"Ssst... jangan terlalu galak, Sayang."
"Lepaskan aku, Joshi!"
"Hei, hei, Sayangku, dengar. Di sini tidak ada siapa-siapa. Kita bisa melanjutkan kesenangan yang tertunda. Dan kau... kau harus menyelesaikan tugasmu yang dulu tidak selesai."
"Penjelasan apa?" tanyanya dengan kurang ajar mendekatkan wajahnya padaku. Matanya yang jelalatan itu dengan kurang ajarnya mengamati wajahku dalam jarak dekat dan menelusuri tengkuk leherku seakan-akan ingin melahapnya.
Oke, tenang. Belum waktunya mengkarate si berengsek ini. "Begini, Joshi, tahun lalu aku mengalami kecelakaan dan aku amnesia. Jadi aku lupa padamu."
"Tidak. Kau bahkan ingat namaku."
"Bukan. Kau salah paham."
"Begitu?"
"Dengarkan aku dulu, aku mengenalmu dari teman baruku, Neha. Dia mantan pacarmu, ya kan? Jadi aku tidak tahu apa urusan kita di masa lalu."
Tawa yang dibuat-buat, aku tahu Joshi tidak percaya pada kata-kataku. Tapi kemudian dia mencoba memanfaatkan situasi. "Baiklah, Sayangku. Aku akan percaya kalau kau mengalami amnesia. Dan baiklah, akan kujelaskan apa hubungan kita di masa lalu. Kau dan aku adalah sepasang kekasih."
"Tidak mungkin! Jangan bohong!"
Lagi, dia menertawaiku. "Yeah... memang tidak sepenuhnya benar. Tepatnya kita berdua pasangan peselingkuh. Kita berselingkuh. Kau berselingkuh dari HansH, dan aku berselingkuh dari adiknya, Sheveni."
Oh, jadi, bukan hanya mantan pacar Neha, tapi dia juga mantan pacar Sheveni. Dia berselingkuh dari Neha, dan wajar kalau sebelumnya dia pun pernah berselingkuh dari Sheveni. Tapi apa mungkin Alisah berselingkuh dari HansH? Tidak. Itu tidak mungkin. Sudah cukup aku bingung dengan hubungan antara Alisah dan Kak Sanjeev. Tapi dengan pria seberengsek Joshi, itu sangat mustahil.
"Ada apa? Kau tidak percaya padaku?"
Aku menggeleng. "Aku tidak percaya. Alisah tidak mungkin seburuk itu."
"Oh, oh, oh... apa amnesia itu membuatmu menjadi pribadi yang sok suci? Beruntung sekali, kau jadi lupa segalanya. Kau bahkan lupa bagaimana *alangnya dirimu yang menggodaku dan mengajakku ke gudang di rumah kekasihmu? Kau lupa bagaimana kau melucuti pakaianku dan dengan buasnya kau... ugh! Kau ingat, kelihaianmu mengora* milikku sampai saat ini tidak bisa kulupakan. Kau hebat sekali."
Argh!
Menjijikkan! Persis di saat itu aku melayangkan pukulan ke wajahnya.
"Berengsek! Bajingan kau, Joshi!"
Tawa Joshi menggema memenuhi ruangan. "Kenapa? Kau mengingatnya, Sayang? Hmm? Ingin melakukannya lagi?" Dia mengusap-usap tonjolan keras di bagian depan celananya.
Menjijikkan! Untung saja saat itu aku sedang berpenampilan selayaknya seorang pesepeda, dengan celana panjang dan jaket, aku pantas-pantas saja dengan sikap kuda-kuda.
Tapi di luar sepengetahuanku, ternyata Joshi pun ahli beladiri. "Baiklah," katanya sambil memandangiku dari atas ke bawah, "kalau kau mau pemanasan lebih dulu, oke, akan aku ladeni." Dia memasang kuda-kuda yang sempurna. Dari situ aku tahu kalau beladirinya mungkin lebih hebat daripada aku.
"Mundur." Kak Sanjeev yang memperhatikan semua kejadian itu dari bilik toilet, akhirnya keluar dari persembunyian. Dia mengambil posisi di depanku, bersikap melindungi. "Jangan pernah berani menyentuh adikku."
Tanpa banyak basa-basi yang menjadi karakter khas Kak Sanjeev saat dia melindungiku, dia pun langsung melakukan penyerangan. Dan, mereka pun berkelahi dengan keahlian beladiri masing-masing. Pertaruangan berlangsung sengit, cukup lama dan sampai memicu keramaian.
Kak Sanjeev yang menjadi juaranya.
"Zia." Kak Sanjeev meraihku ke dalam pelukannya. Didekapnya aku erat-erat sementara aku menangis sesenggukan. "Kau baik-baik saja?" tanyanya, kedua tangannya menangkup wajahku, menatapku seksama, jelas dia mengkhawatirkanku seperti biasanya selama ini. "Tidak perlu takut. Kakakmu di sini. Aku akan selalu melindungimu."
Terharu. Aku balas memeluknya. Aku merasa aku menemukan kakakku kembali. "Terima kasih, Kakak. Maafkan aku tadi bersikap kasar padamu. Aku salah. Kau jelas masih kakakku. Akan selalu menjadi kakakku. Aku minta maaf."
"Lupakan, oke? Yang penting kau baik-baik saja." Kak Sanjeev memperhatikan sekeliling lalu langsung menarikku keluar meninggalkan keramaian persis sebelum HansH dan yang lainnya datang, dan kami berpapasan di luar.
Dengan rasa cemas membumbung tinggi, HansH langsung memelukku. "Ada apa? Apa yang terjadi, Alisah? Kau baik-baik saja?" berondongnya, jelas dia pun sangat mengkhawatirkan keadaanku.
Aku mengangguk. "Aku baik-baik saja," kataku. "Jangan khawatir." Aku akan selalu baik-baik saja selama kakakku selalu ada bersamaku. Karena aku tahu, dia seorang kakak yang sangat luar biasa. Dia akan selalu melindungiku. Selalu....