Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Pengakuan



Dear Neha


Mungkin aku tidak layak untuk mendapatkan maaf atas semua kesalahanku. Namun begitu, aku tetap berharap kau akan mengerti kenapa aku sampai terjerumus ke dalam kesalahan yang sefatal ini.


Sungguh, Neha, aku tidak tahu mesti bagaimana lagi saat aku melihat satu-satunya keluargaku, kakak yang sangat kusayangi, depresi dan mabuk-mabukan, dan di depan mata kepalaku, dia menenggelamkan dirinya di kolam renang dalam keadaan mabuk berat. Bahkan tidak hanya itu, dia juga pernah melukai dirinya sendiri karena merasa tidak berdaya. Dia putus asa. Dia depresi. Aku tidak sanggup melihat darah menetes-netes dari tangannya yang terluka oleh serpihan kaca. Hanya ketika aku mengatakan bahwa aku akan membantunya dalam menghadapi masalahnya, dia bisa terkendali dan berhenti melukai dirinya sendiri. Kondisiku terjepit, aku tidak tahu mesti bagaimana untuk menyelamatkan kakakku ketika ia menolak untuk berdamai dengan takdir selain mengiyakan ketika ia memintaku untuk membantunya membalas dendam, yang ternyata, dia memintaku untuk mengoperasi wajahku dan memintaku menyamar sebagai Alisah. Aku tidak punya pilihan lain saat itu selain memenuhi permintaannya. Maafkan aku, Neha. Aku bersalah. Tapi kuharap kau akan mengerti keadaanku. Dan aku berharap, suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali dalam keadaan baik, sebagai dua sahabat baik. Aku akan selalu merindukanmu, dan kau akan selalu ada di hatiku. Sampai jumpa....


Selesai. Kutaruh suratku di atas meja rias, lalu aku mengambil bantal guling dan menaruhnya di tempat biasanya aku tidur kemudian menyelubunginya dengan selimut. Aku mesti membuat Neha mengira kalau aku masih ada di apartemennya, sampai saat dia tersadar nanti, aku sudah pergi dari negara ini.


Yeah, untungnya aku tidak mengonsumsi obat tidur, jadi aku bisa melakukan beberapa hal yang memang harus kulakukan untuk pelarian ini. Pertama-tama, dengan menggunakan selendang sebagai hijab, kututup kepalaku lalu mengenakan masker. Aku tahu Neha sedang mengurung diri di kamar sebelah, jadi aku bisa menyelinap keluar apartemen tanpa sepengetahuan Neha, juga bisa melewati para bodyguard HansH yang berjaga di luar gedung apartemen. Mereka tidak akan mengenali penampilanku yang menggunakan hijab dan masker.


Sekarang tujuanku adalah ke Masjid Central Birmingham.


《 Bi, aku ingin bertemu dengan Bibi. Hanya kita berdua. Tolong temui aku di Masjid Central. Aku dalam perjalanan. Aku butuh bantuan Bibi.


Pesanku terkirim dan conteng dua pun menghijau. Bibi Heera sudah membaca pesanku.


》Oke.


Oh, syukurlah. Bibi Heera bersedia menemuiku.


Yeah, kupikir hanya pada Bibi Heera aku bisa memohon bantuan. Sikap bijak dan lembutnya Bibi Heera membuatku menaruh percaya kepadanya. Hanya padanya aku bisa mempercayakan suratku untuk HansH. Surat yang kuyakini akan sampai dengan baik. Minimal, aku percaya, sekalipun Bibi Heera menganggapku bersalah atas tindakan penipuan ini, Bibi Heera bukan tipe orang yang akan mengompori HansH dan menghasutnya supaya membenciku. Walau menurutku, tanpa perlu dihasut, sudah barang tentu HansH akan membenciku setelah dia mengetahui niat burukku terhadap dirinya. Bahkan aku berpikir lebih buruk daripada itu: dia akan mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaanku dan akan memerintahkan mereka untuk melenyapkan aku dari dunia ini. Tapi itu urusan nanti. Sebab, sekarang aku tidak akan mundur dari niatku. Sebelum pergi meninggalkan Inggris, aku akan menitipkan suratku kepada Bibi Heera. Sudah waktunya aku membongkar penyamaranku.


Kau tidak bisa mundur, Zia. Ini sudah waktunya.


Bibi Heera tersenyum dengan cerianya saat dia melihatku menggunakan hijab. "Bibi senang melihat penampilanmu. Kau cantik," pujinya.


Aku mengulum senyum seraya berterimakasih. "Maaf aku membuat Bibi mesti repot-repot ke sini untuk menemuiku."


"Tidak apa-apa, Sayang. Bibi memang ingin sekali bertemu denganmu. Bibi sengat khawatir. Bagaimana keadaanmu?"


Mendengar pertanyaan itu membuat mataku seketika terpejam. "Aku baik-baik saja."


"Kau serius?"


"Yeah, aku serius. Aku baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu. Jadi katakan, apa yang bisa Bibi lakukan untukmu? Bibi akan melakukan apa pun yang sekiranya bisa Bibi lakukan, demi mambantumu."


Aku menelan ludah dengan getir. Terdiam sesaat.


"Jadi, apa yang bisa Bibi lakukan untukmu, Alisah?"


Ayo, Zia. Lakukan! Berikan suratnya.


"Alisah?"


Kukeluarkan suratku dan memberikannya kepada Bibi Heera. Didalam amplop surat itu sudah kusertakan cincin dan kalung milik Alisah. "Tolong berikan surat ini kepada HansH, Bi. Tolong pastikan HansH membacanya."


"Kenapa?" Kening Bibi Heera mengerut. "Untuk apa kau menulis surat? Bukankah sebaiknya kau langsung bicara pada HansH apa pun masalah di antara kalian?"


"Ada apa, Alisah? Apa isi surat ini?"


"Bibi bisa menanyakannya pada HansH nanti."


"Tapi--"


"Aku permisi, Bi." Kupeluk Bibi Heera dengan erat.


Tapi tidak semudah itu untuk menghindari Bibi Heera. Sewaktu aku melepaskan pelukan, dia justru memegangi tanganku, bermaksud menahanku supaya aku tetap di sana. Ditatapnya kedua mataku seolah mencari jawaban yang berputar di dalam benaknya.


"Kau menitipkan surat ini karena kau ingin pergi? Iya? Kau ingin menghilang lagi? Meninggalkan HansH lagi?"


Oh... wanita di depanku ini bukanlah ibu-ibu biasa layaknya yang ada di dalam kisah sinetron. Instingnya begitu tajam, dan dia tipikal pribadi yang bisa blak-blakan bertanya atau mengutarakan instingnya.


"Jawab, Alisah."


"Maafkan aku, Bi."


"Jawab, bukan meminta maaf."


Aku mengangguk, lalu menoleh ke sekeliling, bermaksud ingin melarikan diri. Tapi aku sadar itu mustahil untuk kulakukan. Bodyguard-bodyguard yang menjaga Bibi Heera bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka tipe orang terlatih, sigap dan tanggap terhadap situasi di sekitar mereka. Aku yakin, begitu aku mencoba melarikan diri, hanya dengan satu perintah dari Bibi Heera, mereka akan mengejarku dan aku akan langsung tertangkap.


"Kenapa?"


"Maaf, Bi. Aku...."


"Apa?"


"Aku... emm... aku tidak bisa menjawabnya kenapa."


"Apa alasanmu hingga kau ingin pergi? Katakan pada Bibi."


Bungkam. Aku hanya bisa menggeleng dengan air mata yang mulai menggenang, kemudian menetes dan mengalir deras. Harusnya aku sudah bisa memprediksi hal ini. Tidak akan mudah kabur dari Bibi Heera dan para bodyguard-nya.


"Apa karena kau mengalami kejadian buruk tadi siang? Kau merasa kotor dan tidak pantas untuk HansH? Kalau itu alasanmu, kau tahu alasan itu tidak akan bisa diterima. HansH tidak akan menerima alasanmu. Bibi tahu dia bersedia menikahimu apa pun yang terjadi kepadamu. Jadi jangan pergi. Kau tidak bisa pergi."


Aku menggeleng. "Baiklah kalau begitu akan kujelaskan alasanku yang sebenarnya." Kupejamkan mataku sejenak, kemudian kuhela napas dalam-dalam. "Aku... aku bukanlah Alisah."


"Apa? Apa maksudmu?"


"Aku...."


"Jelaskan."


"Ya, Bi. Aku... aku bukan Alisah tunangan HansH. Namaku Zia. Aku orang lain, dan aku tidak amnesia."


Oh, akhirnya aku mengatakannya....