Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Tersiksa Kenikmatan



Saat aku kembali ke kamar kami, HansH sudah tertidur -- entah sungguhan atau pura-pura, aku tidak tahu. Pasalnya, ini baru malam ke-tiga kami bersama sebagai pasangan suami istri dan tanpa bercinta lebih dulu sebelum terlelap dalam tidur. Tapi sebenarnya aku tidak yakin kalau HansH sudah tertidur nyenyak, sebab dia tidur meringkuk miring plus memunggungiku. Aku tidak pernah melihatnya tidur dalam posisi seperti itu. Biasanya dia tidur terlentang dan seringkali mendengkur. Tapi aku tidak ingin membangunkannya, atau sekadar memastikannya. Lebih tepatnya, aku tidak ingin topik obrolan perihal momongan kembali mencuat dan membuat pikiran negatif kembali berputar-putar di dalam benakku, apalagi sampai membuat seakan-akan ada dinding penyekat di antara kami. Tidak boleh. Jadi, sebagai gantinya, aku menyelinap ke dalam selimut, menelentangkan tubuhnya, mencium pipi, lalu menyuruk ke dadanya.


Jujur, kuakui, sebelum aku terlelap, aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri: kenapa dalam masa baru menjadi pengantin baru, seakan-akan aku sudah merasakan-mencium bau-bau masalah yang akan aku hadapi dalam rumah tangga ini? Dan itu jelas terasa.


Memang, sejak awal hubungan antara aku dan HansH sudah banyak menghadapi masalah, tetapi toh selama ini masalah yang terjadi di antara kami selalu datang dari luar atau disebabkan oleh orang lain. Tapi sekarang sepertinya konflik yang akan kuhadapi benar-benar antara aku dan HansH. Dan aku tidak tahu apa alasan dasarnya. Kenapa aku merasa HansH memang tidak antusias membahas soal anak denganku? Bagaimana pun aku berusaha berpikir positif, tetap saja pertanyaan itu berputar-putar seperti lampu disko yang mengusik benakku. Mengganggu. Dan kau tahu, aku mencoba keras untuk tidak memikirkan soal itu, tapi pikiran itu tetap saja datang sendiri seperti hantu.


Argh!


Untung saja akhirnya aku bisa terlelap.


Beberapa jam kemudian, aku terbangun oleh suara sayup-sayup Nandini yang bicara di telepon pukul tiga pagi. Dari pembahasannya saat aku keluar dari kamar untuk mengintipnya -- lebih tepatnya untuk memastikan kalau adik iparku itu dalam keadaan baik-baik saja -- aku tahu kalau ia sedang bicara dengan Vikram.


"Aku ingin mengatakan sesuatu," katanya di telepon. "Setelah aku pulang ke Birmingham nanti... emm... aku... aku ingin kita menikah ulang... dengan kepercayaanmu. Aku sudah memutuskan, aku siap."


Oh, hatiku bergetar mendengarnya. Aku turut bahagia untukmu, Nandini. Akhirnya. Semoga keinginanmu segera terlaksana. Aamiin....


Tidak ingin mengganggu suasa haru-biru yang membahagiakan itu, aku pun kembali menutup pintu kamarku dan kembali ke ranjang. HansH tertidur lelap di sampingku. Sambil menunduk menatap pria yang sudah berstatus sebagai suamiku itu, kuangkat satu tangan dan menepis bulu mata yang jatuh di bawah kelopak matanya. Ya Tuhan... tampan sekali dia. Dan persis di saat itulah terbesit pikiran konyol di otakku untuk mencobai sesuatu yang gila. Dan kulakukan!


Dengan segera, aku membuka kotak kado yang HansH taruh di atas meja di samping tempat tidur kami, dan mengeluarkan kostum kucing dari dalam sana.


Kembali, pertanyaan yang waktu itu singgah di hatiku muncul di kepala. Dan jawabannya adalah yang pertama: HansH tertawa geli bercampur bahagia. Malam itu, sebelum subuh, aku segera berganti pakaian, melepaskan gaun tidurku dan memakai serba-serbi kostum kucing itu sementara HansH terbangun tepat pada waktunya, persis pada saat keadaan kamar sudah gelap-gulita dan lilin-lilin aroma terapi sudah kunyalakan. Dan begitu pintu kamar mandi terbuka...


HansH terkejut melihatku yang berdiri di hadapannya dengan kostum kucing dan heels tinggi, lalu ia menyengir lebar dan pada akhirnya tertawa cekikikan. Sungguh, dia tidak bermaksud meledek, tapi sangat jelas karena kesenangan.


"Bagaimana?" tanyaku. "Untuk menyempurnakan hadiah ulang tahunmu."


"Oke. Bagus sekali. Ini kejutan luar biasa. Apa aku juga harus memakai kostum itu?"


"Tidak perlu," kataku, kulangkahkan kaki mengahampirinya. "Begini saja sudah cukup." Kubuka kausnya hingga tubuh kekar itu terpampang di depan mata. "Dan ini." Kubuka tali celananya, menurunkannya melewati kaki dan menyisakan celan* *alam ketat warna hitam sebagai satu-satunya kostum untuknya. "Sekarang kita ambil foto untuk kutunjukkan kepada Neha dan Nandini."


HansH menggeleng.


"Hanya bagian atas, Sayangku. Aku tidak akan menunjukkan bagian keramatmu itu sekalipun kepada adikmu. Tidak akan. Tenang saja."


Oh, dia pun menurut. Dan, cekrek! Satu foto berhasil diambil. Kutaruh kembali ponselku ke atas meja dan aku melangkahkan kaki ke tempat tidur.


"Well, sekarang waktunya kita kembali tidur. Aku masih ngantuk."


"Sayang...," protes HansH sementara aku cekikikan.


"Ada apa? Masih malam, kan? Aku masih ngantuk."


"Kau tega membiarkan aku terjaga sendiri sampai pagi?"


HansH pasrah di sana, berdiri dengan cemberut sementara aku tersenyum senang. Baiklah, aku berbalik, memeluknya dan menciumnya, kubuka mulutku di mulutnya dan memberikan lidahku untuknya. Gairah HansH bangkit -- memang sedari tadi -- tapi sekarang kian meningkat. Aku tahu ia sudah bergairah.


"Aku ingin bercinta denganmu," HansH berbisik, menggeram. Matanya terpejam rapat, bulu matanya yang lebat menyapu pipiku ketika dia memperdalam ciuaman itu ke dalam intensitas yang membakar. Satu lengan melingkar di leherku dan mencengkeram helaian rambutku sementara tangan satunya menelusuri bahuku yang telanjan*, turun ke punggung dan menangkup *okongku. Tetapi, kemudian...


Bug!


Ugh! Dengan geraman rendah maskulin yang tidak sabar, dia mendorongku ke atas ranjang dengan cara kasar hingga aku jatuh telentang dengan maksimal di atas ranjang yang untung saja sangat empuk. Masih dengan gerakan kasarnya, ia melucuti kostum kucing itu dari tubuhku, melemparkannya ke sembarang arah. Aku mendapati HansH hanya sedikit kurang menakutkan dalam keadaannya yang begitu terangsan*. Begitu semua pakaianku terlepas, HansH langsung menindihku, mengurung tubuhku, dan berbisik, "Aku akan menyiksamu dalam kenikmatan selama berjam-jam. Berjam-jam...."


Gleg!


Aku meneguk ludah. "Kau...?"


Dia menyengir super lebar. "Hanya mengikuti jiwa muda yang penasaran. Dan aku ingin melampiaskannya kepadamu."


Oh Tuhan....


Tapi toh aku tidak mungkin bisa menolak. Jadi ya sudahlah. Pasrah saja.


"Ouch...!"


Buas. HansH menunduk untuk mencium dadaku, mencari-cari puncak saharaku dan menariknya ke dalam mulutnya.


"Eummmmmmm...!"


HansH menggigitku dengan lembut mengisapku hingga kehangatan gairah yang asing itu membuatku melengkungkan tubuh dan memekik di puncak kenikmatan.


Sungguh, siksaan ini begitu indah!


Masih menggantung di atasku, dengan satu lengan bawah bertumpu di atas bahuku dan wajah masih menyuruk di dada, tangan satunya menyelinap turun dan membelai lekukan perutku, lalu bertahta di atas lekukan selembut sutra hingga jelas kurasakan ibu jarinya menyentuh apa yang terasa bagaikan inti dari jiwaku. Rasanya tak tertahankan. Begitu menguasai. Aku terkesiap samar dan mencoba menyentakkan diri menjauh. Tetapi tidak bisa. Di dadaku, HansH menggeram, suara kenikmatan intens terdengar dari dalam kerongkongannya. Dengan satu tangan, dia menahanku, mencengkeram kuat bahuku bermaksud memintaku untuk diam dan membiarkannya menggilaiku. Yeah, ibu jarinya menyapu tempat menakjubkan itu kembali, membuatku ingin menggelinjan* dan terisak penuh kenikmatan.


"Oh... oh...." Aku bernapas dalam kegelapan. "Hentikan, My HansH... oh!" Tumitku menekan ranjang, melengkung kuat di tangan. Mencari-cari. Penuh hasrat.


Tiba-tiba, bukannya berhenti, ia justru meluncur turun di tubuhku dan menguburkan wajahnya dalam lekukan sutra itu, di antara tungkaiku. Kuat dan berat, tangannya menyelinap ke paha bagian dalam, merentangkan kakiku lebar-lebar. Kemudian, dengan liar, dia menghunjamkan lidahnya ke dalam kelembapan itu.


"Emmmmmmm...!


Aku memekik tertahan. Pinggulku melengkung di atas ranjang, tapi lengan kuat HansH memaksaku turun kembali. Benar, dengan sengaja dan manis, ia menyiksaku, mencumbuku dengan keliarannya.


Ouch!


Bagaimana bisa kutanggung kegilaannya ini? Sungguh, aku tersiksa dalam kenikmatan....