Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Cinta Dan Kepercayaan



"Kau baik-baik saja?" tiba-tiba HansH muncul di hadapanku dan membuatku kaget lalu cepat-cepat menyeka air mata.


Aku menggeleng. "Aku tidak apa-apa," kataku.


"Sungguh?" HansH memegangi pundakku dan menatap lekat kedua mataku. "Lalu kenapa kau menangis? Karena Sheveni? Aku tadi melihatnya ke sini. Dia bicara apa?"


Aku menghela napas dalam-dalam dan kembali menggeleng. "Tidak usah dibahas, ya?" Kuraih tangan HansH dan menangkupkannya ke pipi. "Aku baik-baik saja, oke? Jangan khawatir."


HansH mengangguk.


"Jadi kenapa kau kemari? Masih banyak tamu, kan?"


"Aku ingin menemanimu. Aku khawatir kalau kau sendirian."


"Ya ampun." Aku tersenyum. Kuturunkan tangannya dari pipiku dan sebagai gantinya kugenggam kedua tangan itu erat-erat. "Sungguh, My HansH. Kau tidak perlu khawatir. Aku ini bukan istri yang lemah. Aku bisa mengatasi segala situasi."


Kembali HansH mengangguk. "Aku tahu. Tapi--"


Cup!


Dia memang butuh kecupan, lalu ciuman yang dalam. "Pergilah. Temui para tamu. Adanya Kak Sanjeev bukan berarti kau tersingkir dan harus menyingkir. Tidak. Kau tetap punya eksistensi dirimu sendiri, ya kan? Dan aku... aku akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Segalanya terkendali."


"Dan perasaanmu?"


"Aku bisa mengatasinya."


"Kau yakin?"


"Butuh kubuktikan dengan mengajakmu menggila sekarang?"


Ugh! HansH menyengir lebar. "Kalau memang harus...? Kenapa tidak? Ayo?"


"Dasar maniak!" ledekku. "Lagipula ada Malika di kasur. Boks tidurnya belum dirangkai. Jadi nanti malam saja, ya. Oke, Papa?"


"Oke. Oke. Baiklah."


"Jadi pergilah. Temui para tamu. Itu baik bagimu dan baik bagi bisnis--"


Tok! Tok!


Kak Sanjeev berdiri di depan pintu. "Boleh aku masuk? Aku ingin bicara denganmu? Empat mata?"


Yang dia maksud adalah aku. "Ya," kataku. "Tentu." Tapi aku tetap bertanya kepada HansH. "Boleh, kan?"


Tidak menjawab dengan kata-kata, HansH hanya mengangguk, lalu keluar dari paviliun yang kami tempati. Dan Kak Sanjeev melangkah masuk.


"Ada apa, Kak?"


"Kau baik-baik saja?"


"Eh? Kenapa Kakak bertanya begitu? Tentu saja aku baik."


"Kau serius? Aku mendengar desas-desus itu." Kak Sanjeev memalingkan pandangan matanya ke arah Malika. "Aku khawatir kau...?"


Oh Tuhan....


Kulayangkan senyum kepadanya. "Apa Kakak melihatku sedang tidak baik-baik saja? Apa ada duka di mataku? Tidak, kan? Aku bahagia, dan aku baik-baik saja. Sungguh."


"Lalu bayi ini...?"


"Bukan anak kandung HansH."


"Tapi--"


"Aku bersedia merawatnya, Kak."


"Tapi kau dengar gosip--"


"Jangan dengarkan gosip murahan itu, Kak. Tolong...."


"Aku percaya pada suamiku. Dan akulah yang tahu segalanya."


Tapi Kak Sanjeev masih menatapku dengan penuh curiga. "Kau tidak sedang menutup-nutupi keadaanmu yang sebenarnya dariku?"


"Kau mengenalku dengan baik. Apa aku terlihat menyimpan beban?"


Dia menggeleng. "Sepertinya memang tidak."


"Dan itu kenyataannya."


"Tapi gosip tentang HansH--"


"Aku percaya padanya."


"Tapi, Zia--"


"Kak...."


"Aku tidak mau gadis sebaik kau disakiti--"


"Aku bahagia."


"Zia, kau tidak mengerti. Orang tua kami--"


"Kakak jangan seperti Sheveni. Janganlah bangga dan mengumbar-umbar aib keluarga. Tolong? Percaya padaku, aku baik-baik saja dan aku bahagia. Oke?"


Well, akhirnya dia mengangguk. "Tapi kalau kau kenapa-kenapa, ingatlah, kau punya aku, kakak yang akan selalu ada untukmu. Beritahu aku apa pun masalahmu, ya?"


Oh, aku bahagia mendengarnya. Tak bisa kutahan, dan bukan dibuat-buat, mataku berkaca-kaca dengan sendirinya. "Aku tahu," kataku. "Pasti." Kuulurkan tangan untuk memeluknya, dan Kak Sanjeev membalas pelukanku. "Terima kasih. Aku tahu aku tidak akan pernah kehilangan kakakku."


Kurasakan kedua lengan kokoh itu memeluk erat tubuhku dan mengelus rambut panjangku, seperti kakakku yang sediakala. "Aku menyayangimu, Zia. Aku selalu sayang padamu."


Aaah... haru rasanya. Kebahagiaan membuncah di dalam dada. "Aku juga selalu sayang padamu. Kau kakak yang terbaik."


Dan pelukan it berakhir dengan senyuman. Diusapnya air mataku kemudian ia mengelus kepalaku. "Aku pergi dulu. Beritahu aku kalau ada apa-apa."


Masih dengan senyuman bahagia, aku menganggukkan kepala. "Pasti. Aku janji."


Kak Sanjeev berlalu, bergantian dengan HansH yang ternyata masih menungu di luar paviliun, mencuri dengar pembicaraan kami.


"Kau masih di sini?"


HansH mengangguk. Dia masuk dan menghampiriku.


"Kau menguping?"


"Em, kurasa aku punya hak untuk itu."


"Ya, tapi kuharap kau tidak mempermasalahkan...?"


HansH menggeleng dan tersenyum. Sekarang ia kembali berdiri di hadapanku dan melakukan hal yang sama: mengelus kepalaku dengan sayang. "Aku mengerti kasih sayang di antara kalian," katanya. "Dan aku sama sekali tidak cemburu. Tidak lagi. Aku percaya kepadamu sepenuhnya. Seperti kau yang mempercayaiku tanpa keraguan sedikit pun. Aku percaya."


Oh, bahagianya kalau sudah seperti ini. Bahagia yang berlipat-lipat. Aku mendapatkan Malika, kepercayaan sepenuhnya dari suamiku, dan mendapatkan kembali sosok saudarku, lengkap dengan cinta dan kasih sayangnya yang sama sekali tidak berkurang. Rasa sayang dan cintanya masih utuh untukku.


"Tapi ini bukan berarti selesai. Setidaknya butuh waktu mungkin beberapa hari untuk mereka benar-benar menerima kehadiran Malika, dan tidak lagi membahas... gosip-gosip miring itu, tentang... dugaan kalau dia anakku dari perempuan lain. Apa kau sanggup?"


Aku kembali mengangguk dengan senyuman. "Aku sanggup. Inshaallah. Karena aku percaya sepenuhnya kepadamu. Aku yakin kau tidak membohongiku tentang apa pun. Termasuk soal... maaf, ketidaksempurnaan itu. Sekali lagi, maaf, aku bukan bermaksud menyinggung soal itu."


"Ya, aku percaya kepadamu."


Dan HansH benar, pembahasan itu kembali berulang di meja makan. Introgasi-introgasi kembali dilontarkan kepada HansH.


Tapi aku sudah tak terpengaruh dengan semua yang terjadi. Tidak sedikit pun. Gosip-gosip miring itu, segala macam introgasi, tatapan curiga, dan segalanya. Aku tidak peduli. Karena aku begitu percaya kepada HansH. Meski tanpa bukti medis tentang riwayat kesehatan HansH, dan meski tanpa laporan medis -- pemeriksaan laboratorium atas tes DNA antara HansH dan Malika. Aku tidak memerlukan semua itu.


Aku percaya kata hatiku, HansH sosok kekasih yang terbaik....