Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Positif!



Hasil test positif itu membuatku jadi susah tidur. Aku resah. Aku gelisah. Ya Tuhan, aku akan bertambah sakit kalau begini keadaannya. Aku tidak bisa meminum pil tidur dengan adanya Malaika yang mesti kuurusi. Aku khawatir HansH tidak akan terbangun nantinya ketika Malika menangis karena lapar. Tapi... keadaanku yang tidak bisa tidur ini justru membuat pikiranku semakin melanglang buana, mengembara jauh.


Bagaimana kalau benar positif?


Bagaimana kalau aku benaran hamil?


Bagaimana kalau...?


Bagaimana?


Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggangguku. Keadaan ini sulit, menjepitku dalam persoalan baru: bagaimana reaksi HansH jika nanti ia tahu kalau aku hamil? Apa dia akan percaya kepadaku? Apa dia akan percaya kalau mukjizat itu benar-benar ada? Atau justru... dia akan mengira bahwa aku telah berselingkuh dengan pria lain hingga akhirnya aku hamil anak dari pria lain?


Oh, tidak. Tolong jangan sekejam itu kepadaku, Tuhan....


Kenapa mesti begini? Kenapa? Aku tahu ini anugerah yang luar biasa -- amat sangat luar biasa. Tapi sungguh, ini berat untuk kupikul. Keadaan ini justru akan sangat berbeda jika dirikulah yang divonis tidak subur, tetapi tahu-tahu aku hamil. Nah, itu benar-benar mukjizat yang bisa mematahkan medis, bukan?


Tapi ini nyatanya suamiku yang divonis tidak subur, lantas aku hamil? Tidak bisa kuprediksi bagaimana respons HansH nanti. Aku sangat takut, Tuhan. Aku benar-benar sangat takut. Akankah HansH percaya kepadaku atau justru meragu?


Kenapa sulit bagiku untuk memprediksi reaksi HansH nanti? Bisakah ia menerima, atau minimal bersabar sampai akhirnya bayi kami lahir dan dia bisa melakukan test DNA?


Tolonglah, Tuhan, jangan buat ia langsung emosi dan akhirnya khilaf lalu membunuhku. Oh... kejam....


Tunggu dulu, pemikiran lain menyusup ke dalam benakku. Bagaimana kalau ternyata HansH yang berbohong kepadaku? Kalau ternyata ia tidak memiliki masalah dengan kesuburan, tentu dia bisa membuahi rahimku, ya kan? Tapi kalau begitu adanya, kenapa ia mesti berbohong? Apa karena ia tidak ingin memiliki anak dariku? Tapi kenapa? Apa karena dia tidak mau menjadi seorang ayah? Atau karena ia merasa ia seorang manusia dengan darah keturunan yang kotor? Dia merasa dirinya hina karena terlahir dari pasangan peselingkuh? Dari seorang ibu yang merebut suami wanita lain? Begitukah? Atau... jangan-jangan dia tidak tahu yang sebenarnya? Mungkin dia pernah melakukan test dan hasil test-nya salah? Tertukar? Atau apa pun? Mungkin pemeriksaannya yang salah sehingga dokter menjatuhkan vonis yang salah? Bisa jadi, kan?


Segala macam pemikiran berkecamuk di dalam dada.


Ya Tuhan, aku tidak bermaksud tidak senang ataupun tidak bersyukur seandainya benar Kau menganugerahkan seorang anak ke dalam rahimku. Tapi aku harus bagaimana menyampaikannya kepada HansH? Menyampaikannya secara langsung? Kalau dia langsung bertanya siapa ayah dari anakku, dan dia tidak percaya, pasti ujung-ujungnya akan timbul pertengkaran. Lalu aku mesti bagaimana?


Aku menghela napas dalam-dalam. Aku mesti tenang, pikirku.


Mungkin aku mesti mencari tahu dulu tentang kebenarannya. Kalau benar aku hamil, aku berharap semoga vonis kesuburan HansH yang salah dan ia mesti test ulang. Semoga benar dia tidak memiliki masalah kesuburan. Semoga besok...


"Kau kenapa?" suara HansH membuatku tersentak kaget. "Kenapa belum tidur? Apa yang kau pikirkan?" tanyanya malam itu, menjelang larut malam saat mataku masih enggan terpejam. Suaranya yang tiba-tiba memecah keheningan malam membuat jantungku berdebar tak karuan.


Aku menggeleng. "Tidak. Tidak apa-apa," kataku gelagapan. "Aku cuma... aku cuma merasa masih kurang sehat saja. Jadi aku tidak bisa tidur. Hanya itu."


"Kau butuh istirahat. Minum obat saja, ya?"


Lagi. Aku menggeleng. "Aku khawatir kau tidak bisa mengurus Malika kalau aku terlelap karena obat."


"Tapi kau butuh istirahat, biar kondisimu membaik."


"Lalu Malika?"


"Aku yang akan mengurusnya."


"Tentu." Ia tersenyum, kemudian bangun dan turun dari ranjang untuk mengambilkan obat tidurku dari dalam laci, plus segelas air. "Jangan khawatir. Biar aku yang mengurus Malika. Sekarang kau minum obat supaya kau bisa istirahat."


Aku mengangguk. Kusambut sebutir pil tidur dari tangannya dan menenggaknya dengan segelas air. HansH tersenyum samar, dia memintaku untuk tidur di tempat ia biasa tidur, sedangkan ia akan tidur di tempatku, sisi yang lebih dekat dengan boks tidur Malika.


"Sekarang tidurlah," pintanya setelah menaruh gelas di atas nakas. "Mimpi indah, ya, Sayang. Semoga lekas sehat."


Aku tertidur....


Dan terbangun setelah azan subuh berkumandang.


"Subuh, Sayang," kata HansH yang berhasil membuat mataku terbuka. "Bagaimana kondisimu? Bisa bangun?"


Aku mengangguk.


"Kita salat berjamaah, ya?"


Berjamaah? Duh... aku mesti menolaknya. "Maaf, aku sakit perut. Kau duluan saja, ya? Nanti aku lama--"


"Ssst... aku akan menunggu. Seperti biasanya."


Hm, begitulah HansH sejak hari kedua pernikahan.


"Baiklah. Aku ke kamar mandi dulu. Agak lama tidak apa, ya?"


Karena aku mesti menguji urine-ku lagi.


Sekarang, untuk ke-dua kalinya aku menampung air seni-ku. Kali ini air seni pertama-ku setelah aku bangun tidur. Kemudian, dengan tangan gemetaran dan hati yang gelisah, kubuka pembungkus testpack-ku dan... mencelupkan ujungnya...


Deg!


Deg!


Deg!


Jantungku berdebar....


Dan...


Positif!


Positif? Ya Tuhan, aku benar-benar hamil...?