
"Nandini, terima kasih karena kau sudah membela kami. Tapi maaf, kami harus pergi. Ayo, Neha."
"Tidak, tidak, tidak. Kumohon jangan. Jangan pergi, oke? Please, demi kakakku, abaikan saja apa yang dikatakan oleh Kak Sheveni. Tolong? Tolong, Alisah?"
"Tidak, Nandini, kami tetap harus pergi. Tapi kau jangan khawatir, aku akan segera menghubungi HansH dan aku akan menjelaskan semuanya. Tapi yang pasti, kami berdua, maksudku aku dan Neha, kami berdua butuh waktu, kami tidak bisa di sini sementara keadaan... kacau. Kuharap kau mengerti."
Tidak tahan, Nandini kembali menangis. "Tolong, apa pun itu, aku hanya tidak ingin kakakku terluka lagi. Tolong jangan pergi, Alisah. Aku mohon. Kasihan Kak HansH. Pikirkan dia--"
"Ssst... kau bicara apa, Nandini?" Kugenggam kedua tangannya dan *eremasnya dengan lembut. "Dengarkan aku, aku bukan pergi untuk meninggalkan HansH, oke? Aku harus pergi untuk menemui kakakmu yang satu lagi, Kak Sanjeev. Dia membutuhkan aku. Dan aku janji, aku akan menyatukan keluarga kalian. Ini sumpahku."
Nandini menggeleng. "Jangan pergi," pintanya seraya membalas genggaman tanganku, bersikeras menahanku di sana. "Tolong jangan pergi, aku mohon?"
"Nandini, please," kataku seraya melepaskan tangannya dariku. "Tolong mengertilah. Aku harus pergi. Tapi aku janji, begitu urusanku sudah selesai, aku akan segera kembali ke sini. Lagipula aku akan terus mengabari HansH. Kau tidak perlu khawatir, oke? Tenanglah." Aku memeluknya selama beberapa saat, lalu tersenyum. "Kami pergi dulu. Sampai jumpa."
Tak berdaya, Nandini hanya bisa berdiam diri menyaksikan aku dan Neha melangkah pergi, meninggalkan rumah itu.
Berat memang, dan posisiku juga serba salah. Tetapi aku tidak bisa untuk tidak peduli pada Kak Sanjeev. Aku tidak bisa untuk tidak ada di saat apa pun yang terjadi padanya. Aku harus pergi. Aku harus memastikan diriku selalu ada untuk kakakku. Mau dunia kami hancur sekalipun, dia tetaplah kakakku. Dia keluargaku satu-satunya saat ini.
Keluar dari rumah Mahesvara, aku dan Neha tidak membicarakan apa pun sampai kami berdiri di sisi kanan depan gerbang besar rumah itu untuk menunggu taksi.
"Maafkan aku," kata Neha. "Tadi aku tidak berpikir panjang. Kupikir...."
Aku mengangguk, kutatap ia dengan senyuman dan kusentuh lengannya seperti biasa. "Tidak apa-apa. Aku mengerti," ujarku. "Aku tahu maksudmu baik. Kau hanya ingin menyelamatkan posisiku. Jadi terima kasih. Aku menghargai niat baikmu, Neha. Kau sahabat terbaikku."
"Kau sungguh mengerti aku, Zia. Terima kasih."
Kami berpelukan, dan sesaat kemudian sebuah taksi berhenti di depan kami.
Bug!
Neha terjengkang.
"Siapa kalian? Kalian mau apa?"
Aneh! Bodoh! Sempat-sempatnya pertanyaan itu tercetus olehku pada saat kejadian buruk itu padahal kejadiannya begitu cepat -- secepat kilat: sebuah mobil dengan tulisan Taxy di atasnya, berhenti tepat di depan kami, kemudian seorang lelaki tiba-tiba keluar dari pintu belakang dan langsung mendorong Neha hingga ia terjengkang di bahu jalan. Lalu, sewaktu aku hendak menolong Neha -- dalam kelengahanku -- dengan cepat pria itu menarikku dan seketika mendorongku masuk ke dalam mobil. Ada dua orang lelaki yang menculikku, yang satu mengemudikan mobil dan yang satunya menahanku, menodongkan pistol ke kepalaku di bangku belakang. Dan aku tidak tahu ke mana mereka akan membawaku.
"Zia...!" raung Neha terdengar samar di belakang sana sementara mobil melaju kencang. Dia mencoba mengejar taksi yang membawaku pergi tapi itu percuma. Dalam kepanikanku, kusaksikan ia terengah-engah kehabisan napas kemudian berlari kembali ke kediaman Mahesvara.
Pun aku, kepanikan menyerbu benakku, dan selama beberapa saat aku jadi tak terkendali, membiarkan rasa takut menguasaiku. Aku berteriak dari dalam mobil sehingga memancing emosi pria di sebelahku dan membuatnya geram dan malah menamparku keras-keras.
Pria di sebelahku terkekek. "Oh, kau ingin berkenalan? Oke. Kalau begitu perkenalkan, namaku Sam."
Menyebalkan sekali. Andai pria itu tidak memegang senjata api, sudah kuajak ia duel begitu ia menamparku.
"Berengsek! Aku tidak peduli siapa namamu!"
"Lalu kau peduli pada apa? Kejantananku? Hmm?"
"Berengsek! Bajingan kau! Jaga bicaramu itu!"
"Begitulah sejatinya para penculik, Nona. Kami tidak mungkin bersikap sopan."
Argh!
Bajingan!
"Kenapa kalian menculikku? Siapa yang menyuruh kalian?"
Seperti di dalam cerita sinetron, mana mungkin mereka akan memberitahuku.
"Siapa? Kau tidak perlu tahu. Yang pasti kami hanya orang yang diberi imbalan besar untuk sebuah kenikmatan. Sori, biar kuralat, maksudku, untuk memberimu kenikmatan."
Sialan!
Aku menyeringai. "Kenikmatan? Apa maksudmu?" tanyaku, seolah-olah aku tidak mengerti, padahal sebaliknya, aku sangat mengerti. "Hei, dengar, jangan macam-macam padaku. Sebaiknya kalian lepaskan aku dan aku akan memberikan uang yang lebih banyak untuk kalian."
Kedua pria itu terkekeh. Suara tawa mereka membuatku muak dan marah. Tapi, akhirnya, aku bisa mengingatkan diri untuk tetap tenang. Dalam keadaan mobil ini bergerak ataupun tidak, aku tetap tidak bisa melarikan diri begitu saja dari mereka karena senjata api yang mereka miliki. Aku tidak ingin mati konyol.
Pemikiran itu membuatku sedikit tenang. Sementara pria di sampingku menggeledah tas tanganku dan menemukan ponselku yang rusak lalu membuangnya ke jalan, tanganku perlahan-lahan meraba ke bawah *antatku untuk menjatuhkan ponselku yang tak sengaja kududuki saat aku terjerembab karena didorong pria jahat itu. Dan aku berhasil menjatuhkan ponselku ke lantai mobil, di balik dress-ku yang menjuntai, tentunya dengan menggunakan kakiku aku segera menggesernya ke kolong kursi. Untung saja tadi kedua pria itu tidak sempat melihat ponsel yang ada di tanganku itu, yang akhirnya terjatuh ke jok mobil saat aku didorong masuk dan akhirnya tak sengaja tertindih olehku saat aku duduk. GPS di ponselku aktif, sementara nada dering ponselku kebetulan sedang off. Setidaknya HansH akan bisa melacak di mana keberadaanku sementara aku juga berusaha menyelamatkan diriku sendiri.
Di sisi lain, sementara aku bersiasat dalam keheninganku, aku berpura-pura mengerahkan segenap konsentrasiku untuk menyimak si penjahat itu bicara denganku.
Yap, dia menanggapi ucapanku. "Menarik," katanya. "Tawaran Nona boleh juga. Tapi sayangnya, kami bekerja dengan komitmen yang tinggi. Jadi, maaf saja, Nona. Penawaranmu ditolak."
Ya Tuhan... bagaimana ini? Aku nyaris prustasi, dan rasanya seolah-olah mobil itu telah melaju selama berjam-jam dan aku merasa sangat tersiksa bersama kedua penjahat itu. Dan sialnya lagi, aku benar-benar tidak tahu ke mana kami menuju. Yang bisa kulakukan adalah tetap tenang dan mengumpulkan kekuatan plus keberanian.
Aku pasti bisa menyelamatkan diri. Apa pun dan bagaimana pun caranya.