
Pesan whatsapp dari Kak Sanjeev menumpuk di layar ponselku ketika aku mengaktifkan ponsel dalam perjalanan pulang. Aku sengaja menonaktifkan ponselku sejak kemarin pagi supaya benda persegi itu tidak terus mengganggu momen kebersamaanku dengan HansH yang baru saja dimulai. Dan itu membuat Kak Sanjeev terpancing emosinya. Dia khawatir dengan kondisiku tapi dia juga kesal karena aku tidak tanggap dalam merespons pesan-pesan darinya. Aku sadar, aku telah melewati batasanku karena nyatanya sejak kemarin aku menikmati momen bersama HansH bukan demi misiku, tetapi karena aku larut dalam kehangatan cinta HansH yang membuatku mabuk dan terbuai.
《 Keadaanku baik-baik saja. Kakak tidak perlu mencemaskan aku. Dan apa pun yang kulakukan di sini, yang terpenting hasilnya sesuai dengan keinginanmu. HansH mencintai Alisah. Dia membawa Alisah pulang ke rumahnya dan ingin menikahinya. Selebihnya, please, Kakak tidak perlu protes apalagi cemburu. Tolong! Oke?
Tapi setelah itu tiba-tiba aku merasa tidak enak hati. Kupikir sepertinya aku telah bersikap terlalu kasar pada Kak Sanjeev, dan kurasa aku harus meminta maaf kepadanya.
《 Maafkan aku, Kak. Aku salah. Aku tidak bermaksud kasar padamu. Maafkan aku, ya? Please...?
"Ada apa?" tanya HansH yang tengah fokus menyetir di sampingku. "Apa ada masalah?"
Aku menggeleng. "Seorang teman mengkhawatirkan keadaanku. Tapi sudah kukatakan kalau aku baik-baik saja."
HansH mengangguk pelan, dia berusaha menunjukkan sikap santai, tapi aku bisa melihat ada perasaan tidak nyaman yang terlintas di matanya. Hatinya terusik.
"Teman lelaki?" tanyanya. "Siapa?"
Aku terkekeh. Pertanyaan singkat itu membuatku geli. "Sungguh, kau ingin tahu? Kurasa itu sama sekali tidak penting bagimu. Kecuali kalau kau cemburu. Hmm? Apa aku benar, Tuan HansH?"
"Wajar kalau aku cemburu. Dan wajar juga kalau aku ingin tahu, ya kan? Kau kan calon istriku. Aku berhak tahu segalanya tentangmu. Apa aku benar, Nyonya Mahesvara?"
Geli. Belum menikah saja sikap posesif HansH begitu jelas terlihat. Bagaimana kalau kami sudah menikah nanti? Tapi kurasa aku suka. Walaupun posesif, tetap saja terasa manis.
"Terserah padamu. Tidak ada yang bisa mencegahmu melakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Jadi, silakan, cari tahu sendiri. Tapi hati-hati, ada banyak pria yang mengejarku, pastikan hatimu kuat menahan cemburu. Oke?"
Tersenyum, HansH mengulurkan tangan menyentuh kepalaku. "Terserah seberapa banyak pemuda yang mengejarmu. Aku akan segera mengikatmu dalam ikatan suci pernikahan, dan cincin pernikahan akan segera melingkar di jarimu. Tunggu saja."
"Oh, menarik sekali. Jadi, hanya dengan cincin pernikahan? Kau tidak akan memakaikan mangalsutra di leherku, atau sindur di dahiku?"
Seketika raut ceria di wajah HansH surut, perlahan ia mengurangi kecepatan dan menghentikan laju mobilnya di bahu jalan.
"Ada apa?" tanyaku. "Kenapa kita berhenti di sini?"
HansH, dia menghela napas dalam-dalam lalu berpaling ke arahku. Digenggamnya kedua tanganku dan ia menatapku sendu.
"Alisah, ada yang perlu kujelaskan."
"Ya?"
"Sebelumnya aku minta maaf. Maafkan aku kalau aku memaksamu untuk menikah denganku tanpa pertimbangan lebih jauh. Aku... aku tidak berpikir bahwa kondisimu yang lupa ingatan membuat kehidupanmu berubah. Maksudku... ada banyak perubahan."
Mengernyit, aku belum mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
"Alisah, aku seorang muslim."
"Yeah, aku memang bukan pemuda religius, tapi aku muslim. Begitu juga dirimu. Kau yang dulu adalah seorang wanita muslimah."
Bodoh! Bagaimana bisa informasi sepenting ini tidak disampaikan Kak Sanjeev kepadaku? Astaga... kau juga bodoh, Zia. Kenapa kau hanya menelan mentah informasi dari Kak Sanjeev tanpa mencari tahu sendiri? Seorang keturunan India bukan berarti pasti Hindu dan menyembah Dewa. Tidak semua orang! Kau bodoh!
"Alisah, aku paham kau mengalami amnesia. Jadi tidak masalah. Kita bisa memulai semuanya dari awal, baik dalam kepercayaan, cinta, dan segalanya. Oke?"
Kata amnesia sialan itu menjadi alasan untuk menutupi segalanya? Sialan!
"Alisah...?"
"Aku...." Aku menelan ludah dengan susah payah. "Aku bingung. Aku tidak tahu... bagaimana aku mesti... bagaimana aku mesti menanggapi semua ini. Aku...."
"Emm... begini," HansH bergumam seraya berpikir, ia menguatkan genggaman tangannya dan terlihat sama bingungnya denganku. "Kita saling mencintai, itu dasar hubungan kita dan itu yang terpenting bagi kita berdua. Sekarang, apa pun yang terjadi dalam hidupmu setelah kau koma dan mengalami amnesia, kita lupakan bagian itu, maksudku... bukan melupakan sepenuhnya, tapi kita harus kembali ke jati diri kita yang dulu. Tidak hanya kau, tapi juga aku. Aku pemuda India sekaligus Pakistan, dan kau, kau juga gadis India-Pakistan. Aku muslim karena aku melewati masa remajaku di Pakistan dalam ajaran Islam. Dan kau, kau lahir dan besar di Inggris, ayahmu orang India, dan ibumu orang Pakistan. Mereka seorang muslim yang taat dan kau mengikuti keyakinan mereka. Jadi, itulah jati dirimu. Kau seorang muslimah. Oke?"
Bagaimana bisa oke? Aku Zia, aku tidak tahu asal-usul asliku dan kedua orang tua kandungku. Yang aku tahu aku tumbuh besar di India dan aku bukan seorang muslim. Ayah dan ibu angkatku bukan seorang muslim. Aku tidak mengerti Islam sedikit pun. Haruskah aku mempertaruhkan keyakinan-ku untuk membantu balas dendam Kak Sanjeev? Haruskah aku mempermainkan keyakinan HansH dan keyakinan-ku? Keyakinan kami memang tidak sama, tapi aku tahu, dalam ajaran agama mana pun, sikap toleransi dan saling menghargai tetap diharuskan. Bagaimana aku bisa menjadi seorang muslim hanya demi peranku sebagai Alisah? Kenapa harus melibatkan agama? Aku harus bagaimana? Apa aku harus bersikeras menolaknya menikahiku? Tapi apa aku sanggup menolak? Kisah ini semakin membingungkan.
"Alisah...?"
Aku menggeleng. "Aku perlu waktu untuk memikirkan segalanya. Aku... aku tidak mengerti Islam. Tidak sama sekali. Aku...."
"Kau hanya lupa. Tapi kau tidak perlu khawatir, kau mengalami amnesia dan itu hal yang wajar jika kau lupa. Kita bisa belajar dari awal, belajar bersama. Seperti yang kukatakan tadi, aku juga bukan pemuda yang religius. Aku... maksudku... dalam setahun ini aku lalai. Aku jauh dari Tuhan. Tapi aku ingat, ayahmu menginginkan pemuda yang seiman dengan keyakinannya untuk menjadi menantunya. Itulah kenapa dia menyukaiku dan kami berhubungan baik."
Tidak. Aku masih belum bisa mencerna segalanya. Sekarang aku malah semakin bingung. Bahkan Tuhan pun terlibat langsung dalam kisah ini? Apa aku akan bersama Tuhan atau justru melawan Tuhan? Tapi aku tahu, balas dendam -- dari sudut pandang mana pun, dalam ajaran agama apa pun, balas dendam tetaplah salah. Dan itu yang mengusik benakku.
Kuhela napas dalam-dalam. Kucoba menenangkan diri dan aku tahu keadaanku akan semakin rumit. Sekarang saja seakan Penguasa Kehidupan ini sedang memberiku peringatan untuk mundur dari tindakan yang salah ini. "My HansH, emm... jujur aku terkejut, maksudku... maksudku aku mengira kalau kau orang India sepenuhnya. Dan aku... aku tidak menyangka kalau kau seorang muslim. Hari itu kau ada di Pasar Natal, dan... kukira... kukira kalau kita... maaf, kukira kita memiliki kepercayaan yang sama. Aku...."
"Kau seorang muslim, Alisah. Itu yang ayah dan ibumu ajarkan kepadamu. Dan aku ingin kau kembali pada jati dirimu yang asli. Oke?"
Jati diriku adalah Zia. Aku ini Zia.
"Sekarang kita pulang dulu. Ya? Besok akan kuajak kau ke pemakaman ayah dan ibumu. Apa kau pernah ke sana?"
Aku menggeleng. Mereka bukan ayah dan ibuku.
"Nah, aku akan mengajakmu ke sana besok. Mungkin dari situ kau akan teringat kembali pada jati dirimu bahwa kau seorang muslimah sebagaimana kedua orang tuamu. Setidaknya mungkin kau akan merasakan sesuatu. Kau mau, kan?"
Terpaksa, kuanggukkan kepala dan menyetujui. Menjadi Alisah, tidak hanya wajah dan identitasku yang dituntut untuk berubah. Tapi juga keyakinanku. Dan tidak hanya manusia yang akan kupermainkan, tapi juga Tuhan. Apa aku sanggup?
Sungguh, aku dilema.