Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
So Sad....



Januari datang ke kota membawa angin kencang nan beku. Dimulai embun beku mempesona yang melapisi tiap cabang pohon dan bilah rumput dengan kristal es menyerupai laba-laba, lalu salju turun. Ruas-ruas jalan jadi tidak bisa dilewati.


Setelah menghabiskan dua jam di bus berkecepatan luar biasa pelan yang akhirnya berhenti sekitar 800 meter dari tempat tujuanku, aku memutuskan untuk berjalan kaki, melangkah melintasi embun putih itu sementara butir-butir salju setipis kapas turun deras dan cepat, lembut menyentuh hidung dan pipiku.


Kecepatan turunnya salju, dibarengi kedalaman salju yang sudah menumpuk di jalan utama, telah menjadikan kota ini tak bergerak. Berbaris-baris pengendara yang frustasi menunggu tak beranjak, menghasilkan kemacetan di bawah lapisan putih tebal.


Sementara terus berjalan kusadari perbedaan antara orang-orang yang sedang berjalan dan mereka yang terjebak di mobil. Para pengemudi berwajah kaku, memelototi tiap keping salju -- kini nyaris seperti badai -- saat memukul-mukul kaca depan mobil. Secara kontras, orang-orang yang berjalan bersamaku tersenyum, santai, dan tampak bangga dengan diri sendiri, mengobrol dan tertawa kepada orang-orang yang lalu lalang saat mereka berjalan melintas. Seakan-akan kami baru saja menemukan kembali sebongkah semangat di pagi yang beku ini.


Saat mencapai blok apartemen Neha, aku tersenyum lebar seperti anak kecil, walaupun mataku perih akibat segala sesuatu yang putih menyilaukan.


"Naik-naik!" nada kegirangan Neha pecah lewat interkom di pintu masuk bangunan ketika kupencet bel apartemennya. Dia jelas bersemangat sekali ketika aku melangkah masuk. "Aku sangat menantikan kehadiranmu!" lengkingnya sambil melesat melewatiku ke dalam dapur. "Aku sedang membuat mocha dengan krim kocok dan marshmallow! Kau mau?"


Aku melangkah ke dalam dapurnya yang didominasi granit hitam dan kayu walnut. "Kau yakin minuman bergula itu ide bagus untuk keadaanmu yang sudah hiperaktif begini?"


Dia mengikik. Untaian rambutnya yang sewarna dengan koin penny baru melayang-layang di sekitar wajahnya. "Aku tidak peduli. Ini tahun baru yang luar biasa, salju turun, dan semua di dunia ini begitu indah!"


Membiarkannya menyiapkan badai gula kamikaze, kulepaskan sepatu botku lalu mendudukkan diri ke sofa, menatap ke luar jendela ke arah lapisan salju yang melapisi gedung-gedung keren di luar di sekitar area apartemen itu.


Neha membawa dua mug besar berisi mocha dengan krim yang timbul tenggelam di atasnya lalu duduk di sampingku. "Aku ingin bertanya kepadamu, kau baik-baik saja setelah pesta tahun baru?"


"Yeah, tentu. Aku hanya lelah. Maaf aku meninggalkanmu dan pesta itu begitu saja. Kak Sanjeev tiba-tiba datang dan dia mengajakku pulang."


Neha menggeleng. Aku tahu, sikapku yang seperti tidak ada apa-apa itu tidak mempan untuknya. Dia mengenalku terlalu baik. "Lebih dari itu. Kau tidak hanya meninggalkan aku dan pesta. Kau meninggalkan HansH."


Apa? Dia tahu soal itu? Apa dia...? Tidak. Bersikaplah santai, Zia.


"Zia... halo... bumi memanggil!"


Kucoba tersenyum di hadapan Neha, lalu menciduk sesendok krim dan melahapnya. "Situasinya aneh di antara kami saat ini. Sama seperti situasi antara aku dan Kak Sanjeev. Membingungkan."


"Kau bingung karena perasaanmu seperti terombang-ambing, atau kau hanya trauma karena penolakan Kak Sanjeev, dan kau takut jika itu terjadi juga antara kau dan HansH? Apa benar begitu?"


Tidak sepenuhnya begitu, sebenarnya. Tapi untuk apa menjelaskan semua ini kepada Neha? Semuanya tetap harus kurahasiakan: misiku, juga perasaanku. Neha tidak boleh mengetahui yang sebenarnya.


Mata Neha memicing. "Ambil keputusan, Sayang. Lelaki seperti HansH tidak mudah membuka hatinya untuk seorang gadis. Dan ketika dia sudah menempatkan gadis itu di hatinya, percayalah, dia tidak akan pernah mengkhianatinya. Kau gadis yang beruntung. Percaya padaku."


Aku tersenyum. Antusiasme Neha selalu menular sekalipun keadaanku sama sekali tidak bisa diubah. "Aye-aye, Kapten! Doakan saja."


"Oh ya, ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan. Tunggu sebentar."


Langsung melompat berdiri, Neha mulai melakukan pencarian dengan gaya yang lucu di sekeliling ruang duduk, mengangkat bantal-bantal dari sofa dan membalik tas besarnya di lantai kayu ek, menyebabkan koin-koin, kunci, dan kertas terpelanting ke segala arah.


Kugeleng-gelengkan kepala karena keheranan. "Kau sedang mencari apa?" tanyaku.


"Laptopku."


"Yeah. Sepertinya ada di kamar."


Dia menghilang, masuk ke kamarnya dan kembali keluar dengan laptop yang sudah menyala.


"Ada apa, sih?"


"Video-mu!"


"Video apa?"


"Ya ampun, video kau berdansa dengan HansH!"


"Apa?" Mataku terbelalak lebar. Tidak tahu harus sedih atau senang.


"Yeah. Aku merekamnya, dan sudah kupindahkan ke laptop. Lihatlah, romantis sekali. Itu sangat menakjubkan!"


Ya ampun, aku benar-benar tidak menyangka kalau momen manis yang tak terduga itu terabadikan dalam rekaman video. Saat kubuka video itu, menekan menu play, kurasakan jantungku berhenti berdetak.


Di sana, di tengah-tengah layar, video romantis itu bergulir. Neha dan aku memandangi layar. Setelah beberapa saat, Neha berkata, "Wow! So sweet...! Kau benar-benar gadis yang beruntung!"


Aku tersenyum, tapi air mata mengalir di pipiku. Kusadari, ini seperti mimpi bagi gadis sepertiku. Andai saja tidak ada dendam di antara Kak Sanjeev dan HansH, aku pasti menjadi gadis yang paling bahagia karena HansH menginginkan aku menjadi belahan jiwanya.


Neha melihat perubahan ekspresiku, lalu, karena khawatir, dia menggenggam tanganku. Aku dapat merasakan air mata terus kembali menggenang saat aku berusaha menenangkan diri. "Terima kasih," bisikku. "Itu sangat berarti bagiku."


"Aw, jangan menangis terus, Sayangku, nanti kau membuatku menangis juga! Jadi kau menyukainya, kan?"


Aku mengangguk. "Sangat. Kau sahabat terbaik."


"Bukan hanya video ini. Orangnya? Kau menyukainya, kan? Kau mencintainya?"


Sedih, aku tidak memiliki jawaban untuk itu. Tapi aku tertunduk.


"Aku tahu jawabannya ya," kata Neha. Dia tersenyum, lalu memelukku untuk sesaat. Kemudian, setelah melepaskan pelukannya, Neha berkata, "Aku akan mengirimkannya ke ponselmu."


Aku menggeleng. "Tidak usah," kataku. "Emm... maksudku... maksudku jangan dulu. Kalau tidak keberatan, tolong tetap simpan dulu video itu di laptopmu. Tapi... tolong jangan sampai ada yang melihatnya, apalagi HansH. Janji?"


Mata Neha menyiratkan ketidakmengertian. "Kau bahagia atas perasaanmu ini, maksudku perasaan baru ini. Aku tahu itu, itu terlihat jelas di matamu. Tapi kenapa?"


"Penerbanganku malam ini, Neha. Kak Sanjeev sudah mengatur semuanya. Dan aku sudah memutuskan, aku akan pergi. Dan... setelah jedah waktu antara aku dan Kak Sanjeev, dengan semua jarak, Kak Sanjeev akan memutuskan, mungkin kami akan bersama. Kami hanya butuh waktu."


Aku tahu, bahasa yang kugunakan tidaklah pas, tapi pada intinya memiliki kesimpulan yang sama. Tidak akan ada pengaruhnya dengan perasaanku yang sekarang, karena pada akhirnya, setelah semua misi ini selesai, kehidupan yang kumiliki hanyalah Kak Sanjeev. Berdua dalam dunia kecil kami. Walau hatiku saat ini menolak, tapi hutang budi-ku tak mampu menakdirkan kehidupanku sesuai dengan keinginanku.