
Sungguh, aku turut menyesal asal tindakan kasar HansH pada Sheveni, aku juga sangat menyesali tindakanku yang telah mendramatisir keadaan. Aku tidak bermaksud membuat HansH sampai melayangkan tamparan ke wajah adiknya. Bukan itu tujuanku.
Tapi tetap saja, aku merasa aku sudah keterlaluan. Caraku mendramatisir keadaan tentu saja ikut andil dalam membuat perasaan HansH jadi lebih kacau. Kalau aku tidak berpura-pura ingin pergi dari rumah itu, mungkin HansH tidak akan seemosi itu hingga ia melayangkan tamparan ke wajah adiknya. Jujur aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku tidak menyangka kalau emosi HansH akan setinggi itu dan membuatnya menjadi pribadi yang kasar. Tapi aku mengerti, HansH juga tidak patut untuk disalahkan. Luka hatinya selama setahun lebih setelah kehilangan Alisah, tentu saja membuat HansH takut kalau itu akan terjadi lagi. Tapi tentang Sheveni, melihat kebenciannya kepada Alisah yang sebesar itu, mau tidak mau itu membuatku penasaran: apa kesalahan Alisah hingga Sheveni begitu membencinya?
Aku membeku menyaksikan Sheveni berlari ke arah basement sementara HansH mengejarnya, lalu, walau tanpa bisa melihatnya, aku tahu Sheveni pergi dengan mobilnya. Suara deruman mobil yang melaju kencang memperjelas dugaanku, dan aku tahu HansH berusaha mengejarnya.
Ini baru sedikit kesalahan, Zia, tapi efeknya sudah sebesar ini. Bagaimana kalau belati yang kau bawa menusuk semakin dalam, apa yang akan terjadi pada keluarga ini? Hancur. Mereka bisa terpecah belah karena perbuatanmu.
Tidak enak hati pada anggota keluarga yang lain karena melihat anggota keluarga pergi meninggalkan rumah, aku merasa tidak pantas masih berdiam diri di sana. Akhirnya aku pun memustuskan untuk pergi. Tapi Bibi Heera terlanjur melihatku sewaktu aku hendak menyelinap melewati basement.
"Kau mau ke mana?" tanyanya. "Kau membawa tas? Kau mau pergi, Alisah?"
Apa yang harus kukatakan? Masa aku harus berbohong pada orang tua?
"Alisah?"
"Aku mau pergi, Bibi."
"Jangan, Nak. Tolonglah... Bibi mohon, jangan pergi, ya? Kasihan HansH. Dia sangat membutuhkanmu."
Ya Tuhan... tidak tega rasanya aku melihat Bibi Heera sampai memohon padaku. Bahkan dia menggenggam tanganku dan menatapku sendu. Tapi mau bagaimana, penghuni rumah saja pergi dari rumah setelah pertengkaran tadi, masa aku tetap bertahan di sini?
"Alisah?"
Aku mengangguk, kubalas genggaman tangan Bibi Heera dengan lembut. "Aku tidak akan meninggalkan HansH, Bi. Tapi aku butuh waktu. Aku ingin menenangkan diri. Aku merasa bersalah kalau aku berdiam diri di sini sementara Sheveni pergi. Dia yang berhak tinggal, bukan aku."
Bingung, Bibi Heera tak mampu merespons kata-kataku. Aku tahu, dia pasti khawatir kalau dia membiarkanku pergi, dia takut kalau aku tidak akan kembali dan itu pasti akan membuat HansH sangat terluka. Tapi aku tahu kalau dia juga tidak ingin menghalangiku karena itu bukanlah haknya.
"Aku pergi dulu, Bi. Nanti aku pasti akan menghubungi HansH."
Menggeleng, Bibi Heera tidak setuju. "Kau boleh pergi, tapi jangan sendiri, ya. Biarkan Nandini menemanimu."
Eh?
"Tidak usah, Bi," tolakku.
Tetapi Bibi Heera memaksa, dia bersikeras tidak mengizinkanku pergi sendiri. Sama, Nandini yang sudah terlanjur datang dan diminta untuk menemaniku pun langsung menurut dan bersedia menemaniku.
"Aku tidak ingin kakakku sedih lagi. Jadi aku akan mengawasimu, menjagamu, dan memastikanmu untuk tetap bersama dengan kakakku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari kehidupan kami."
"Ayo." Nandini menarik tanganku dan mengajakku ke halaman depan. Sewaktu kami bertemu Vikram, dia pun meminta izin untuk pergi.
Argh! Aku semakin kesal. Aku butuh pergi saat itu juga, kalau tidak, rasa bersalah dan tidak enak yang kurasakan akan semakin merongrong hatiku dan membuat kepalaku pecah. Tapi tidak pula harus seperti ini akhirnya. Aku tahu semua orang belum makan siang akibat kekacauan yang terjadi, dan sekarang aku malah harus membawa Nandini pergi bersamaku dan membuatnya terpaksa meninggalkan suaminya yang harusnya ia urus dan ia temani makan siang.
"Kita tidak usah pergi, ya," kataku akhirnya, padahal Vikram sudah memanggilkan para bodyguard untuk menjaga istrinya.
Praktis Nandini keheranan. "Kenapa?" tanyanya.
"Kalian belum makan siang. Kamu... temani dulu suamimu. Biar aku kembali ke paviliun."
Well, akhirnya aku tetap dalam keadaan down. Mood-ku benar-benar rusak. Aku baru satu jam lebih sedikit berada di rumah ini, tapi rasanya sudah seperti berada di neraka selama berjam-jam. Panaaaaaaasss sekali!
Sekembalinya aku ke pavilun, kurogoh tas tanganku dan mengeluarkan ponsel, lalu mengaktifkannya. Kuhempaskan diri ke tempat tidur dan aku pun menelepon Kak Sanjeev, menceritakan semua yang terjadi padaku sejak kemarin, sejak aku tertabrak motor sampai kejadian yang baru kualami ketika aku dihina-hina oleh Sheveni. Tentu saja, yang kulewatkan hanya bagian di mana HansH bersikap romantis kepadaku dan aku menikmatinya. Bagian itu tidak boleh sampai diketahui oleh Kak Sanjeev. Walau bagaimanapun juga aku mesti menjaga perasaan Kak Sanjeev, aku tahu dia tidak akan bisa menerima orang terdekatnya bercumbu mesra dengan orang yang ia anggap sebagai musuhnya.
"Semua itu tidak penting, Zia. Fokusmu jangan teralihkan. Bukan urusanmu apa yang terjadi pada adiknya HansH dan Alisah di masa lalu. Kau harus tetap fokus pada misimu."
Ya Tuhan... bisa-bisanya dia bicara seperti itu? Dia tidak waras. Dia sedikit pun tidak mengerti tentang semua keresahan yang kualami.
"Dan, ya, Zia, kau jangan percaya pada apa pun yang dikatakan oleh HansH tentang Alisah yang dulu. Dia hanya mengatakan apa yang ada dalam sudut pandangnya. Padahal kebenarannya justru kebalikan dari semua yang dia katakan. Oke? Sekarang fokus saja ke misimu. Aku akan mengirimkan paket berisi obat tidur ke sana."
Argh! Sialan!
"Sabar dulu, Kak. Keadaanku di sini tidak mudah. Di sini ada banyak cctv. Di dapur pun juga ada cctv. Bagaiamana aku bisa mencampurkan obat tidur ke dalam masakan?"
Kesal. Kak Sanjeev meraung di seberang sana. "Lalu bagaimana? Kenapa di dapur juga dipasang cctv?"
"Entahlah. Mungkin pernah ada kejadian buruk. Ada yang mencampur racun ke makanan mungkin. Bisa jadi, kan? Mungkin sebab itulah pengamanan di sini sangat ketat."
Hening sesaat, lalu Kak Sanjeev ingin bicara tapi aku mendahuluinya. Kuberitahukan kepadanya bahwa semua anggota keluarga Mahesvara tinggal di paviliun, termasuk aku.
"Ada cctv di semua teras paviliun, Kak. Bagaimana aku bisa masuk ke paviliun HansH untuk mencari tahu di mana HansH menyimpan dokumen-dokumen penting keluarganya? Aku dilarang masuk ke paviliun HansH. Bibi Heera akan selalu mengawasi kami. Bukan muhrim! Kakak mengerti apa maksudnya bukan muhrim? Kakak benar-benar keterlaluan, ya. Bisa-bisanya--"
Tut! Sambungan telepon diputus sepihak.
Sungguh keterlaluan! Kak Sanjeev benar-benar membuatku geram.