Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Cinta Rasa Jahe



Sejauh beberapa menit durasi waktu berjalan, topik tentang si jabang bayi adalah topik utama yang terus diperbincangkan. Mau tidak mau aku dan HansH hanya menjadi pendengar tanpa bisa memberikan saran atau komentar apa pun. Dan itu risiko yang mesti kami berdua hadapi demi tidak meninggalkan acara keluarga. Namun sebisa mungkin kami tetap bertahan di sana tanpa mengabaikan satu sama lain.


Makanan penutup adalah creme brulee lezat rasa jahe -- puncak acara malam itu -- dan aku menimbang-nimbang untuk mengambil semangkuk dengan diam-diam dan membawanya ke paviliun kami. Sebabnya, dalam pengalihan perhatianku, aku membayangkan, pria-ku yang suka mengajakku menggila bersamanya itu akan menebarkan remah-remah kue itu di sekujur tubuhku, lalu menjilatinya sampai bersih. Kalau melihat cara HansH menikmati hidangan itu perlahan-lahan dari sendoknya sambil memandangiku dan tersenyum-senyum jahil, aku jadi tahu bahwa dia mempunyai pemikiran yang sama denganku. Pemikiran sepasang kekasih yang sama gilanya. Aku tahu itu.


Ketika kami sedang menikmati kopi dan sebagian yang lain menikmati brendi di ruang duduk, hal yang dibahas masih sama, perihal dua pengantin baru -- ralat, yang diperbaharui alias baru menikah ulang walau tanpa perceraian, yang di mana sebentar lagi mereka akan menjadi pasangan orang tua baru yang berbahagia, lalu pembahasan tentang anak di mana orang-orang mulai menebak jenis kelaminnya, lalu pada tahap berikutnya pembahasan tentang nama apa yang akan diberikan kepada si jabang bayi, dan sampai juga pada pembahasan di mana Bibi Heera menyarankan supaya Sheveni dan Vicky, sekalian juga aku dan HansH supaya ikut program hamil. Katanya dia punya teman seorang dokter kandungan yang jam terbangnya sudah tinggi alias sudah punya banyak pengalaman dalam membantu pasangan suami istri untuk mendapatkan momongan. Aku dan HansH langsung menolak -- meski tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara kami.


"Sheveni dan Vicky saja dulu, Bi," tolak HansH. "Kami berdua kan baru menikah, masa sudah ikut program hamil?"


Yeah, seperti yang HansH inginkan, kami berdua menutupi keadaan kami yang sebenarnya. Lagipula aku juga tidak ingin ketidaksempurnaan suamiku seolah dianggap sebagai aib yang kemudian akan selalu diperbincangkan dan membuatnya merasa malu di hadapan keluarga. Jadi orang lain tidak ada yang perlu tahu masalah internal di antara kami.


"Lo...? Tidak apa-apa, dong, meski kalian baru menikah. Bukankah lebih cepat hamil itu lebih baik? Kalau keduanya sehat kenapa tidak, kan?"


Aku dan HansH hanya tersenyum getir.


"Atau sebenarnya Kakak Ipar punya masalah kesuburan?" singgung Sheveni, mulutnya yang kurang ajar itu benar-benar tidak memperhitungkan perasaan orang lain.


Dan gara-gara itu, Bibi Heera yang memiliki riwayat tidak memiliki anak dalam pernikahannya terlihat tidak nyaman, kurasa ia sedikit tersinggung karena kata-kata Sheveni.


Seperti biasa, Sheveni yang sombong tak mengucapkan sepatah kata pun meskipun sekadar permintaan maaf.


"Permisi semuanya," kata HansH, lalu ia melirik jam dinding. "Berhubung hari mulai larut, kami permisi ke paviliun duluan, ya."


Mengulurkan tangan kepadaku, dan aku menyambutnya, HansH tidak lupa mengambil semangkuk penuh creme brulee rasa jahe yang lezat itu, lalu kami meninggalkan ruang keluarga dengan tersenyum-senyum, atau sebenarnya memaksakan senyum. Entahlah. Tapi yang pasti, kami berdua, satu sama lain sudah saling berjanji akan berusaha mengatasi situasi yang tidak mengenakkan sekalipun yang akan menggelayuti rumah tangga kami seperti awan gelap. Jadi, kami berusaha untuk setegar mungkin dan tidak akan membahas apa pun yang sekiranya membuat perasaan kami lebih tidak nyaman.


Akhirnya, sesampainya kami di dalam kamar, kami saling menatap untuk sekian detik dalam jarak dekat, sedekat jantung kami yang berdetak saling berbalas. Walau tak terucap, aku bisa mendengar dengan jelas ketika mata hitam yang berbinar itu menyampaikan permintaan maaf, lalu kami berciuman dalam cinta dan emosi, saling meluma* bibir satu sama lain dengan pergumulan yang tak akan bisa dimengerti oleh orang lain: kami tengah mengubur perih di hati, yang semestinya.


"Aku mencintaimu," HansH berbisik dalam jeda ciuman itu, lalu kembali menciumku, sekali dengan kelembutan, kemudian kembali dalam pergumulan, dan tangannya sudah menarik turun ritsleting gaunku dan menyelinap ke dalam dress-ku. Merabaiku dengan gila.


Yap, perih memang ketika kenyataan pahit itu mesti dibahas kembali, terlebih di depan orang-orang di mana kami tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi tidak apa, aku dan HansH memiliki cinta yang bagaikan sudah cukup untuk kami berdua. Cinta yang begitu besar. Jadi, biarlah orang berkata apa, yang penting kami bahagia. Dan malam ini, di ranjang kami yang hangat, creme brulee rasa jahe yang lezat itu ia oleskan di sekujur tubuhku.


“Hold me now, touch me now. I don’t want to live without you. Dan aku ingin bercinta denganmu seperti orang gila."