Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Bismillah....



Setelah kebekuan Desember dan Januari yang membuat kebas, Februari yang di luar dugaan hangat merupakan kejutan yang disambut gembira. Cuaca yang mendekati musim semi menyelimuti semuanya, menyembuhkan stres musim dingin. Pagi hari lebih terang, burung-burung seperti bernyanyi lebih lantang, dan orang-orang lebih sering tersenyum ketika berpapasan di jalan, bahkan tak terkecuali di area pemakaman.


Dengan pakaian muslim yang sengaja disiapkan oleh HansH, dia mengajakku menunaikan kewajiban seorang anak untuk berziarah ke makam orang tua. Meski dari lubuk hati yang paling dalam aku menyadari bahwa yang kulakukan ini adalah kebohongan belaka, namun aku tidak lagi berusaha menghindar. Aku mengikuti keinginan HansH yang ingin sekali membawaku ke pemakaman ayah dan ibunya Alisah.


"Apa kau sudah siap?" HansH berdiri di hadapanku dengan selembar kerudung putih di tangan.


Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Emm... apa aku harus... memakai kerudung itu juga?"


"Tentu." HansH tersenyum lebar, lalu, tanpa terduga, ia merentangkan kerudung putih itu dan memakaikannya kepadaku, ke kepalaku.


Adegan ini terbilang pasaran sebenarnya, tetapi entah kenapa, bagiku -- bukan dari sisi romantisnya, tapi lebih ke betapa HansH ingin menggenggam tanganku dan menarikku ke dunianya, dan, ke surga cintanya, aku merasa sangat tersentuh. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar rasa haru, tapi aku tidak mengerti apa dan kenapa.


"Cantik," HansH memujiku, mata hitamnya berbinar, menatapku dengan sepenuh cinta. "Nyonya Alisah HansH Mahesvara, Bidadari Surgaku."


Deg!


Aku berdiri kaku di sana, di depan HansH dalam jarak yang begitu dekat. Napasku tercekat, namun kali ini dalam artian yang berbeda. Sekali lagi, bukan hanya karena sikap romantisnya. Tapi ada sesuatu yang lebih, yang menyentuh hatiku.


"Alisah?"


"Emm?"


"Kembaliah ke jati dirimu yang sebenarnya, Alisah. Kedua orang tuamu merindukan doa dari anak mereka yang salehah. Dan untukku...," --dia merapikan kerudungku lalu memegangi kedua bahuku-- "jadi istri salehah untukku, ya? Aku berjanji, aku juga akan memperbaiki diriku untukmu."


"Terima kasih." HansH menghirup napas dalam-dalam, tersenyum seperti lampu sorot 500kw. "Kau memberiku kebahagiaan yang tak terkira. I love you so much, Alisah."


Alisah. Sejak pagi ini, sekalipun ia beribu-ribu kali menyebutku dengan nama itu, tak sedikit pun lagi aku merasa terganggu ataupun terbebani. Aku sudah bisa menerima bahwa HansH mencintaiku walau dia melihatku dalam diri Alisah.


Terharu, kuhela napas dalam-dalam dan aku berkata, "Boleh peluk aku? Sebentar saja, tolong?"


"Tentu." HansH memelukku. Mendekapku begitu erat, begitu hangat, tanpa diiringi nafsu walau sedikit pun. Tidak sama sekali.


Dan kebahagiaanku kini terasa sempurna.


Oh Tuhan, salahkah aku jika aku ingin menjadi Alisah seutuhnya? Salahkah jika aku tidak bisa jujur pada HansH tentang siapa aku di saat hubungan ini akan dimulai ke jenjang yang lebih jauh? Aku tahu kebohonganku ini jelas salah, tapi aku tidak mungkin bisa jujur kepada HansH, apalagi kepada semua orang. Kejujuranku justru pasti akan menghancurkan segalanya, menghancurkan kehidupan baru yang kuinginkan ini....


"Jadi, bisa kita pergi sekarang?"


Aku mengangguk. Dengan detak jantung berpacu, dalam hati aku memantapkan langkahku. Aku mencoba mengenalmu, Tuhan. Izinkan aku untuk mengenalmu....


"Bismillah, Sayang."


Bismillahirrahmaanirrahim. Pegang erat tanganku, My HansH. Rangkul aku ke jalan-Nya.