
Di sepanjang jalan aku masih memikirkan Neha. Dia pasti merasa sangat sakit hati kepadaku, Alisah, yang ia pikir telah bertindak tidak adil terhadap Zia -- karena menurutnya Alisah telah menyingkirkan posisi sahabatnya itu dengan cara yang licik.
Ah, andai saja aku bisa memberitahunya kalau aku sebenarnya adalah Zia, sahabat baiknya. Andai saja. Aku ingin sekali hubungan kami tetap baik-baik saja seperti sediakala, dan ia bisa menerimaku apa adanya diriku sekarang. Walaupun di luarnya orang lain, toh aku adalah Zia. Jiwa yang sama dan tidak akan pernah berubah. Zia yang sangat menyayangi Neha.
"Jangan banyak pikiran, Sayang." HansH menggenggam erat tanganku, sementara satu tangan lain fokus menyetir. "Walau kau berusaha menutupinya, aku tahu kalau kau menyimpan banyak beban pikiran."
Aku tersenyum tipis. "Jangan khawatir," kataku. "Aku hanya butuh istirahat, dan... obat tidur. Setelah itu, percayalah, semuanya akan membaik. Perempuan memang seperti itu, kan? Butuh pengendali pikiran supaya bisa berhenti memikirkan sesuatu yang berat."
"Memangnya apa yang kau pikirkan? Kenapa kau tidak membaginya denganku?"
Hmm... kuhela napas dalam-dalam dan aku kembali menyunggingkan senyum ke arahnya. "Akan ada waktunya aku berbagi segalanya denganmu. Segalanya, tanpa terkecuali."
"Well, segalanya. Itu saat-saat yang sangat kunantikan." Dia tersenyum nakal. "Omong-omong, sepertinya sekarang waktunya bagimu untuk mengubah fokus pikiranmu. Kau harus cepat-cepat berdiskusi dengan Nandini soal pernikahan kita. Dengan Neha juga kurasa. Kalian berteman baik, kan? Aku pernah melihat kau bersamanya di George. Apa aku benar?"
Aku mengangguk. Dalam hati aku kembali bersyukur bahwa Neha tidak mengatakan apa pun kepada HansH. Tapi setelah ini aku agak khawatir, Neha yang biasanya sangat menghargai pertemuan dengan klien besar-nya, walau itu di luar pekerjaan, tapi kali ini, hanya karena sakit hati padaku, dia bisa meninggalkan HansH begitu saja di Harry's tadi. Aku jadi khawatir dia akan bersikap bodoh dengan menolak kerja sama dengan HansH setelah ini. Semoga saja tidak. Semoga ini hanya kekhawatiranku saja. Jangan sampai karena kebencian Neha terhadap Alisah yang ia pikir telah merebut HansH dari Zia, dia sampai berpikir akan menolak kerja sama dengan HansH setelah ini.
Jangan lakukan itu, Neha. Kakak iparmu akan sangat kecewa jika kau bertindak bodoh. Dan kalian sendiri yang akan rugi. Jangan, ya, Sobat. Jangan. Aku sayang sekali kepadamu.
"Hei? Kau melamun?"
Aku menggeleng. "Akan aku pikirkan. Intinya kita akan tetap menikah. Tapi jangan terlalu banyak undangannya, ya? Riweh...."
"Apa pun yang kau inginkan, Nyonya...."
Kuacungkan jempol ke arahnya, kemudian tiba-tiba aku menguap.
"Kamu mengantuk?"
"Em."
"Tidurlah. Kalau kita sudah sampai, nanti akan aku bangunkan."
Aku menurut. Kupejamkan mataku dan aku pun terlelap, namun belum sampai di rumah, aku sudah terbangun. Dan saat kami memasuki gerbang kediaman Mahesvara, itu hampir berbarengan dengan Sheveni yang baru saja masuk gerbang dengan mobilnya.
Lega, aku senang akhirnya Sheveni pulang juga ke rumah. Tapi ya begitulah, saat dia melihatku, dia masih saja menatapku dengan kebencian lalu membuang muka dengan angkuhnya.
Tapi kupikir aku tidak boleh menyerah. Karena itulah, aku berusaha menghampiri Sheveni dan ingin mengajaknya bicara.
"Sheveni!" panggilku. "Bisa kita bicara?"
Lagi-lagi ia mengabaikanku. Dia melangkah masuk ke dalam rumah, sewaktu sampai ke dapur, ia membuka lemari pendingin dan mengambil puding dari dalam sana. Lalu, ia pergi keluar, bermaksud menuju ke paviliunnya.
Bersikeras, aku ngotot mengejarnya, memintanya untuk memberiku kesempatan untuk bicara, berharap dia akan menerimaku sebagaimana anggota keluarga lainnya menerimaku. Tapi kesalahan terjadi, usahaku untuk berbaikan dengannya justru sia-sia dan malah nyaris merenggut nyawaku.
"Ya, terlepas dari apa pun kebenaran di masa lalu, siapa pun yang coba mencelakaiku dengan mencekokiku alkohol dan memberiku obat perangsang, aku tetap akan meminta maaf padamu. Tolong maafkan aku, Sheveni? Aku mohon?"
Sheveni mengangguk. "Baiklah. Sekarang bawakan ini ke paviliunku," pintanya. "Tunjukkan itikad baikmu. Kau bersedia?"
Aku mengangguk setuju. Kupikir tidak apa, sekalipun Sheveni berniat menjadikanku sebagai kacungnya dan ia menyuruhku membawakan piring pudingnya ke paviliun, aku akan terima. Maka kusambut piring itu darinya. Tapi ternyata itu hanya pengalihan pikiran, dia hanya membuatku lengah: ketika piring pudingnya berpindah ke tanganku, dia malah mendorongku ke samping hingga aku tercebur ke dalam kolam.
Byur...!
Aku tidak bisa berenang!
Megap-megap, aku nyaris kehabisan napas di dalam air dengan kedalaman lebih dari satu setengah meter. Beruntung HansH sempat menyelamatkan aku. Samar kudengar, ia berteriak menyerukan namaku dari kejauhan, lalu segera berlari dan melompat ke kolam. Dia mendapatkan aku dan berhasil membawaku ke tepi.
"Syukurlah aku sempat menyelamatkanmu," ujarnya dengan emosional, dia mendekapku begitu erat. Jelas ketakutan. "Kau tidak apa-apa, kan?"
Kugelengkan kepala dan aku menggigil, menangis dalam ketakutan membayangkan diriku yang nyaris saja mati. Sebegitunya Sheveni membenciku hingga ia tidak peduli dengan nyawaku.
"Apa yang terjadi, Alisah?"
Jujur, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku menatap tajam kepada Sheveni. "Dia sengaja mendorongku ke kolam."
Marah. HansH melotot kepada adiknya yang menyebalkan itu.
"Dia ingin aku mati! Dia sengaja ingin membunuhku! Aku tidak bisa berenang, HansH! Aku sangat takut! Bagaimana kalau kau tidak melihatku tadi? Kalau kau tidak sempat menyelamatkan aku, aku pasti sudah mati!"
HansH kembali mendekapku erat-erat. "Ssst...," desisnya. "Tenang, ya. Tenangkan dirimu, oke? Maafkan aku atas kesalahan Sheveni. Aku akan menegurnya."
What? Menegur? Aku menggeleng-gelengkan kepala tak jelas. "Hanya menegurnya? Apa dia akan mendengarkanmu? Aku nyaris saja mati! Kau tahu, aku nyaris mati!"
"Tenang, oke? Tenang. Aku janji ini tidak akan terjadi lagi."
"Bagaimana bisa tenang? Hah? Aku nyaris saja mati! Kau dengar? Aku nyaris mati!" Watak asli Zia yang asli keluar dari dalam diriku.
"Wah, wah, wah...." Sheveni bertepuk tangan. Tawa jahat keluar dari bibirnya yang seksi. "Kau hebat sekali, Alisah. Lagi-lagi kau ingin memecah belah aku dan kakakku? Bagaimana bisa amnesia itu membuatmu lupa cara berenang? Kau pandai sekali berakting. Hebat!"
Mati kutu, aku tidak bisa memberikan jawaban apa pun. Memang mustahil kemampuan berenang seseorang bisa hilang ketika ia lupa ingatan. Berenang bukanlah keahlian yang bisa pupus ketika ingatan kita terlupa karena amnesia. Itu mustahil.
Sementara aku membeku dan Sheveni meninggalkan area kolam begitu saja, HansH memilih untuk menggendongku dan membawaku ke paviliun -- tanpa bicara apa pun.
Apa kata-kata Sheveni mempengaruhi pikirannya? Entahlah. Yang jelas kebisuannya membuatku merasa sangat khawatir. Apa yang akan terjadi setelah ini?