Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Gosip Murahan



Sampai juga akhirnya kami di rumah di mana para tamu sudah menikmati jamuan lebaran meski sebagaian besar dari mereka bukan dari kalangan muslim. Semua anggota keluarga tampak semringah melihat kehadiran para tamu, sanak famili, dan handai taulan, setidaknya begitulah suasananya sebelum mereka menyadari kedatangan kami bertiga: aku, HansH, dan Malika. Karena seperti dugaanku, semua pasang mata tertuju kepada kami begitu kami masuk ke dalam rumah. Beruntung HansH cepat-cepat menangani situasi. Ia segera menjabat tangan para tamu undangan dan berbasa-basi menanyakan kabar setelah ucapan-ucapan formalitas "selamat Idulfitri", kemudian ia memperkenalkan Malika sebagai anggota baru keluarga Mahesvara walaupun yang secara administrasi negara ia belum sah menjadi anak kami.


Meski gelisah, kucoba untuk bersikap setenang mungkin, kupaksakan senyum di bibir meski di hati terus digelayuti rasa khawatir. Untungnya, berkat HansH yang sudah lebih dulu meminta Vicky untuk mewatin-wanti istrinya supaya tidak memicu keributan, kali ini Sheveni menurut pada suaminya dan menahan mulutnya yang pedas itu hingga tidak mempermalukan anggota keluarga. Sebagaimana HansH yang selama ini kukenal bijak dalam memimpin keluarga, ia menyampaikan yang sebenarnya tentang bayi yang kini kami anggap sebagai anak kami sendiri, sehingga seperti yang ia katakan kepadaku, perasaanku lega karena tidak ada satu hal apa pun yang kami tutupi tentang Malika. Yah, meski pada kenyataannya gosip miring tidak bisa dicegah. Cuit-cuit burung tetap terbawa angin jua.


Yeah, begitulah kehidupan. Baru beberapa menit kehadiran Malika di kediaman Mahesvara, gosip tak sedap langsung berembus. Waktu itu, kurang dari satu jam kami berbaur di tengah keramaian tamu undangan, dua orang pelayan yang tadi ditugaskan HansH berbelanja sejak sebelum kami meninggalkan klinik, pulang dengan berjubel kantung-kantung belanjaan keperluan bayi yang langsung ditaruh di paviliun kami, jadi aku punya alasan yang benar-benar tepat untuk meninggalkan acara. Tetapi...


Persis di saat itulah, Sheveni menyusulku dan menemuiku di pavilun. Lantas saja hatiku jadi kembali tak karuan. Bagaimana tidak, aku tahu persis bagaimana watak Sheveni, kupikir ia akan langsung menggangguku dan melucutiku dengan kata-kata pedas yang menyesakkan hati.


Oh hati... kenapa mesti berburuk sangka? Kenapa tidak berpikir positif saja?


Di luar dugaanku, adik iparku satu itu justru dengan kegembiraan di wajahnya langsung menghampiri Malika yang pulas di atas tempat tidur. Tanpa ba bi bu atau setidaknya menoleh kepadaku, ia langsung menggendong Malika dan menimang-nimangnya sepenuh perasaan lalu menciumi pipi gembulnya dengan sayang, plus berkata," Keponakan Bibi cantik sekali. Kau lucu. Menggemaskan."


Kontan keningku mengerut. Ada apa ini?


Ini cukup ganjal. Kesediaan Sheveni menerima Malika yang secara tiba-tiba tak bisa kupercaya begitu saja, apalagi untuk bersyukur seperti yang dilakukan protagonis dalam sinetron. Kejanggalan itu jelas membuat hatiku bertanya-tanya.


"Ada apa?" tanya Sheveni ketus sambil menatapku kesal. "Memangnya ada yang salah sampai-sampai kau melihatku seperti itu?"


Aku menggeleng dan mencoba tersenyum. "Tidak, kok," kataku. "Hanya saja... emm... jujur aku merasa aneh melihatmu... yah, kau mengertilah."


"Apa maksudmu?"


"Tidak, kok. Aku tidak bermaksud--"


"Kau pikir aku akan menolak keponakanku sendiri?"


Aku mengedikkan bahu. "Sudahlah, lupakan kata-kataku tadi. Aku tidak bermaksud begitu."


"Aku memang membencimu. Tapi itu bukan berarti aku membenci semua orang. Apalagi anak kecil, keponakanku sendiri. Sekalipun kalau aku punya keponakan yang terlahir dari rahimmu, aku tidak akan membencinya."


Aku menghela napas dalam-dalam, pun Sheveni. "Mulai sekarang aku tidak akan bertengkar lagi denganmu. Tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu. Ini sekadar karena aku ingin kau fokus mengurusi keponakanku. Dan... ya, baiklah, terima kasih karena kau bersedia menjadi ibu pengganti untuk anak Kak HansH. Setidaknya kau lebih baik daripada pacar Kak HansH yang gila itu."


"Maksudmu?"


"Oh ayolah. Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya kalau bukan perempuan gila?"


"Aku tidak mengerti, Sheveni. Kau tadi bilang pacar...? Pacar apa?"


"Ya ampun kau ini, Alisah. Tidak usah sok polos. Kau jangan pura-pura tidak tahu."


Aku menggigit bibir. Getir. "Aku tidak mengerti maksudmu."


"Kau tahu, kan, sebelum kau kembali, bukan rahasia umum kalau Kak HansH membawa gadis ke hotel dan tidur bersama? Maksudku, bercinta. Dan ini hasilnya."


Getar yang berdegup di dadaku kian mengencang. "Tidak. Aku percaya HansH bukan pria seperti itu."


"Terserah padamu. Aku tidak menuntutmu untuk percaya. Tapi kau menghilang selama setahun. Tahu apa kau apa yang dilakukan oleh kakakku selama kau pergi?"


Air mataku menetes mendengar gumpalan batu yang dilontarkan Sheveni dari mulutnya. Bisakah ia dipercaya?


Sheveni mencium Malika, lalu menaruhnya kembali ke tempat tidur. "Lagipula apanya yang aneh? Ayah dan ibu kami saja mengawali hubungan dengan perselingkuhan. Dan Kak HansH hasilnya. Seban itulah mereka berdua menikah. Jadi itu artinya pernikahan mereka dilantari hubungan terlarang. So, wajar, kan, bila buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Wajar kalau Kak HansH punya anak dari teman-teman kencannya? Apanya yang aneh? Dibuat di hotel, dan ditinggalkan pula di hotel. Cocok, bukan? Dan, yeah, kita tinggal di Inggris, ini bukan Pakistan ataupun India. Semua bebas di negara ini. Kau bisa berhubungan dengan siapa pun tanpa harus menikah, bukan begitu?" Sheveni menyeringai licik kemudian meninggalkan ruangan. "Urus keponakanku dengan baik."


Ya Tuhan, perih hatiku. Untuk sesaat hatiku seperti tercabik-cabik mendengar kata-kata Sheveni. Bahkan air mata menetes cukup deras. Tetapi pada akhirnya aku tahu aku harus mampu mengendalikan diri. Aku bukan wanita lemah.


HansH bukan pria seperti itu. Dia pria cukup bermoral untuk tidak menggauli wanita yang bukan istrinya. Lagipula... dia memiliki kekurangan itu. Bagaimana mungkin ia memiliki anak dari wanita lain? Ayo, Zia. Jaga kewarasanmu. Jangan biarkan gosip murahan menggemparkan rumah tanggamu. Kau istri yang bijak. Kau bisa menghadapi kerikil semacam ini. Kau bisa....