Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Demi....



Kalau saja aku berada di posisi bukan pihak yang bersalah, ingin sekali rasanya aku mencerca HansH, marah kepadanya atas sikapnya yang menyebalkan.


Argh!


Di depan semua anggota keluarga dia berpura-pura kalau keluarga kecil kami amat sangat harmonis. Di meja makan itu, setelah ia duduk di kursinya, ia menyorongkan piring kosong kepadaku dan berkata, "Tolong, Sayang, aku mau nasi goreng."


Sayang... oh Sayang... sayangnya hanya pura-pura. Sandiwara belaka.


Tanpa kata, kusambut piring dari tangan HansH dan mengisi piring itu dengan nasi goreng.


"Terima kasih," ucapnya. "Kau juga mesti makan yang banyak supaya si kembar yang kunantikan tumbuh dengan sehat. Anak-anakku."


Ugh! Kepingin sekali kutempeleng kepalanya dengan nampan besi di hadapanku.


Sabar, Zia. Sabar....


Sungguh pria itu menyakitiku dengan sikap dinginnya dan ketajaman lidahnya. Tetapi ketika ia berpura-pura manis aku merasa jengkel luar biasa.


Yah, siapa yang mengira akan begini hubungan kami? Sikap manis HansH yang dulu, yang selalu membuatku bahagia dan melambungkan aku, kini hanya tinggal kenangan. Yang lebih menyebalkan lagi, ketika ia selesai makan, ia berpamitan untuk pergi ke kantor. Dia menjulurkan tangan kepadaku, menyuruhku mencium punggung tangannya seperti sediakala -- menggambarkan sosok istri yang baik, salehah, hormat, dan patuh pada suami. Dia tersenyum kemudian mencium keningku.


"I love you," ucapnya seraya mengelus-elus perutku, lalu ia beranjak dan meninggalkan ruang makan.


Sungguh sandiwara yang sempurna. Semua orang, kecuali Bibi Heera yang selalu mampu membaca kesedihan di wajahku, mereka mengira hubunganku dan HansH baik-baik saja dan tidak pernah ada masalah.


Tetapi, sekesal apa pun, sejengkel apa pun, dan sesakit apa pun hatiku atas sikap HansH kepadaku, jauh di dalam hatiku HansH tetaplah suamiku. Jadi, ketika takdir membuatnya membutuhkan pertolongan, aku harus selalu ada di sisinya. Seperti pada hari itu, dalam perjalanan menuju kantor, ia terlibat kecelakaan parah. Sebuah mobil membanting stir demi menghindari pesepeda motor yang mengendarai motornya secara ugal-ugalan sehingga menyebabkan mobilnya bertabrakan dengan mobil HansH. Pengendara mobil itu meninggal di tempat sementara HansH dilarikan ke rumah sakit. Dia terluka parah di bagian kaki dan kepala.


Bibi Heera bergeming memandang kami setelah menerima telepon dari pihak rumah sakit. "HansH masuk rumah sakit," katanya berusaha tegar di hadapan kami, lalu ia menaruh gagang telepon, mengambil dompet dan ponselnya dan mengajak kami semua ke rumah sakit. Kak Sanjeev, Vikram dan Vicky sudah lebih dulu pergi ke rumah sakit setelah Bibi Heera memberikan kabar lewat grup whatsapp.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, meski Bibi Heera tidak menjelaskan bagaimana kondisi HansH, tetap saja di dalam hati ini jadi ketar-ketir. Seperti perasaan semua orang, aku sangat khawatir. Takut kehilangan suamiku.


Aku tahu kalau aku masih sangat mencintainya meski aku hanyalah sosok istri yang sudah tidak dianggap.


Benar saja, setibanya kami di rumah sakit, HansH dalam keadaan kritis di ruang ICU. Selain cedera kaki yang menyebabkan patah tulang, ia kehilangan banyak darah dan membutuhkan tiga kantung transfusi darah dengan golongan O positif. Golongan darahku jelas berbeda dengan HansH, lagipula aku sedang hamil, begitu juga dengan Sheveni dan Nandini, kami tidak bisa mendonorkan darah untuk HansH. Pun Bibi Heera dan Vicky juga memiliki golongan darah yang berbeda dengan HansH. Yang memiliki golongan darah yang sama hanya Parvani dan Vikram, yang jelas bersedia mendonorkan darah mereka untuk HansH. Dan satunya lagi...


Kak Sanjeev. Tapi ia enggan. Dia pergi dari sana. Jelas aku satu-satunya orang yang tahu tentang ini. Dan aku memohon kepadanya, demi HansH.


"Tidak, Zia. Biar saja dia mati."


Aku sesenggukan. "Dia saudaramu, Kak," kataku ketika berhasil menyusulnya ke halaman parkir. "Tolong...."


"Hanya saudara sedarah. Bukan serahim."


"Saudara tetap saudara, Kak!"


"Tapi aku tidak menganggap demikian!"


"Setidaknya lakukan ini demi keluargamu, adik-adikmu tidak ingin kehilangan HansH, Bibi Heera juga tidak ingin kehilangan HansH. Kau sayang pada mereka semua, kan?"


Ia tak bergeming....


"Kalau demi aku, demi keponakan-keponakanmu? Apa kau tetap tidak bersedia?"


Geram. Kak Sanjeev menatapku tajam. "Kau jangan bodoh! Dia itu menyakitimu! Jangan kau pikir aku tidak tahu apa-apa! Aku tahu dia hanya berpura-pura manis di hadapan semua orang! Aku tahu kau menderita! Aku tidak terima, Zia! Aku tidak terima!"


Speechless...


Aku terdiam sesaat.


"Oke. Oke," kataku akhirnya bagaikan kehilangan separuh nyawa. "Jadi... kau marah kepadanya, kau membencinya dan tidak ingin menolongnya karena dia sudah menyakiti aku? Hmm? Kakak... please... setidaknya pikirkan calon anak-anakku. Mereka akan jadi yatim kalau ayahnya tidak tertolong. Aku mohon, Kak... tolong HansH. Tolong...."


Dia menggeleng. "Ini Inggris. Hampir setengah penduduk negara ini bergolongan darah O."


Aku mengangguk-angguk. Rasa kecewa menggelegak di dalam darahku. "Jadi kau tetap tidak akan menolong HansH? Walau demi aku dan anak-anakku?"


"Tidak akan. Sori."


"Tapi kau kakakku. Kenapa kau...?"


"Zia... jangan memaksaku."


"Demi aku? Tolong, demi aku? Lakukan ini kalau kau sayang padaku."


Aku berlutut di kakinya. Apakah hatinya tetap tidak akan tersentuh?