Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Rasa Bersalah



Berpura-pura, atau lebih tepatnya lanjut berpura-pura: sebagaimana layaknya korban pemerkosaan pada umumnya yang akan merasa malu ketika harus berhadapan dengan orang lain, jadi, ketika HansH dan pasukannya tiba di lokasi kejadian, aku pun mesti bersikap selayaknya gadis yang baru saja mengalami pemerkosaan. Kubuka pintu di sampingku tetapi aku tidak keluar, atau pura-puranya tidak jadi keluar dari mobil karena merasa malu kepada semua orang. Sementara, HansH, dengan terburu-buru ia keluar dari mobilnya dan berlari menghampiriku, membuka pintu dan menyaksikan diriku yang menangis sesenggukan.


"Alisah," ia berkata. Didekapnya aku begitu erat dan kurasakan bibirnya menempel lama di sisi keningku. "Maafkan aku," isaknya. "Maafkan aku, Alisah."


Ya Tuhan... maafkan aku membuatmu menangis, My HansH. Aku membuatmu merasa bersalah dan kembali merasa gagal. Maafkan aku karena aku terpaksa membohongimu.


Sejujurnya aku tidak punya niat buruk sedikit pun. Sama sekali tidak ada. Aku hanya tidak ingin jika keselamatanku dari penculikan dan pemerkosaan ini kelak akan membuat Nandini dan Sheveni merasa iri akan baik dan buruknya takdir terhadapku. Apalagi Sheveni, aku yakin dia tidak akan senang kalau dia tahu aku selamat, sementara dulu ia tidak selamat dan mengalami pemerkosaan itu, digilir oleh banyak lelaki meski sebenarnya dia memang sudah tidak perawan dan tidak ada yang mengetahui soal pemerkosaan yang ia alami itu -- aku tidak ingin ada kecemburuan di hati adik-adiknya HansH meski risikonya hati HansH-lah yang terpaksa kuhancurkan. Toh, hidup adalah pilihan. Tapi tidak apa-apa, pikirku. Ini hanya untuk sementara saja. Di malam pernikahan nanti, aku akan mengakui semuanya. Aku akan jujur bahwa aku hanya bersandiwara, dan aku akan menjelaskan kepada HansH apa alasan atas tindakanku ini.


"Jangan menangis, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Pasti."


"Tapi aku sudah membunuh orang. Aku pembunuh. Aku sudah--"


"Ssst...." HansH melepaskanku dari pelukannya, menangkup wajahku dengan kedua belah tangan seraya menatapku lekat-lekat. "Kau hanya membela diri. Oke? Kau tidak melakukan kejahatan ataupun berbuat kriminal. Tidak. Itu bukan kejahatan. Kau hanya membela diri. Kau bisa mengerti itu?"


Aku mengangguk.


"Bagus. Sekarang berhentilah menangis, kita mesti ke rumah sakit." Dengan sigap, HansH melepaskan jas dari tubuhnya, kemudian memakaikannya ke tubuhku. Dalam detik berikutnya, ia menggendongku dan membawaku ke mobilnya. "Tunggu sebentar," pintanya setelah memasangkan sabuk pengaman untukku. "Aku harus bicara sebentar dengan Vikram. Sebentar saja. Oke? Jangan ke mana-mana."


Aku mengangguk. HansH pun menutup pintu di sampingku dan langsung menghampiri Vikram. Sementara di sisi lain, sejumlah anak buah HansH yang lainnya tengah mengevakuasi jasad dua penjahat itu. Entah akan mereka apakan jasad itu, aku tidak tahu. Terserah, dan itu bukanlah urusanku.


Sejenak kemudian, HansH kembali ke mobil. Dengan gelisah, ia menderumkan mobil dan melajukannya ke jalan. "Kita pergi ke rumah sakit," katanya.


Tetapi aku menggeleng. Menolak. "Jangan bawa aku ke rumah sakit. Aku tidak mau."


"Tapi kau harus disteril."


"Aku tahu...."


"Makanya itu--"


"Bawa aku ke klinik saja. Tolong?"


"Baiklah. Kita ke klinik."


Yeah, aku tidak boleh dibawa ke rumah sakit. Sebagai gantinya aku meminta HansH untuk membawaku ke klinik Kak Sonia, adik dari kakak iparnya Neha. Dengan bantuan Neha, aku pasti bisa merekayasa pemeriksaan untuk diriku, dan HansH tidak perlu mengetahui hasil sebenarnya dari pemeriksaan yang akan kulakukan. Bagaimanapun juga, semua orang harus tetap mengira bahwa aku telah mengalami pemerkosaan, kecuali Neha dan Kak Sonia, karena mereka mesti membantuku dalam sandiwara ini.


Yap, semua sesuai dengan yang telah kurencanakan. Aku bisa menghubungi Neha melalui telepon Nandini dan memintanya menemuiku di klinik Kak Sonia. Seperti HansH, pada saat pertama kami bertemu di klinik, Neha menangis tersedu-sedu sambil memelukku. Beribu permohonan maaf ia ucapkan, dia merasa sangat bersalah karena menurutnya, kalau dia tidak nekat membuka jati diri Kak Sanjeev di hadapan keluarganya, aku dan dia tidak perlu keluar dari rumah Mahesvara lantaran diusir oleh Sheveni.


"Aku tidak menyalahkanmu. Aku bisa menghadapi semua ini. Aku kuat dan aku baik-baik saja," kataku meyakinkannya. Kami saling memeluk dengan erat sambil menangis, lalu aku berbisik, "Aku baik-baik saja, Neha. Sekarang temani aku melakukan pemeriksaan tanpa banyak bertanya. Kau mengerti apa maksudku, kan? Selebihnya akan kuceritakan setelah kita pulang ke apartemen. Please... bantu aku bicara dengan Kak Sonia."


Untuk sesaat, setelah melepaskan pelukan, Neha menatapku dengan tanda tanya yang terutarakan. Dan aku hanya mengangguk untuk menjawab segala pertanyaan yang berputar di benaknya.


Neha mengerti.


Tercengang. HansH menatapku tak percaya. "Apa maksud kata-katamu, Alisah? Aku akan menemanimu."


Mana bisa....


"Aku bisa bersama Neha. Kau pulanglah."


"Aku akan menunggumu."


"HansH... pergilah."


"Apa maksudmu? Kenapa kau memintaku pergi?"


"Aku tidak pantas untukmu. Apa kau mengerti itu? Perlu aku menjelaskan detailnya?"


Tidak. HansH sangat mengerti maksudku. Dia menggeleng-geleng emosi, tidak bisa menerima kenyataan. Kemudian, di saat aku berbalik hendak masuk ke ruang pemeriksaan, tiba-tiba HansH menyambarku, memelukku erat dari arah belakang. "Jangan begini, Alisah," isaknya. Air matanya tumpah di pundakku. "Jangan memintaku untuk pergi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu meski apa pun yang terjadi."


"Aku sudah tidak suci, HansH. Aku tidak pantas untukmu."


"Jangan berkata seperti itu. Kau tidak akan pernah cacat di mataku. Please, biarkan aku tetap bersamamu."


"Kau bisa menerimaku meski aku...?" Aku melepaskan pelukan HansH dari tubuhku, lalu berbalik menghadapnya.


"Aku tidak peduli, dan kau tidak perlu menanyakan hal ini lagi. Aku akan bersamamu. Tidak peduli dalam suka ataupun duka. Aku ingin selalu bersamamu."


Aku tahu, My HansH. Aku tahu....


Menangis, haru, segalanya kurasakan. Aku menghambur ke pelukannya. Menangis bahagia di dadanya. Meski yang kulakukan hanyalah sandiwara, tetapi perasaan di antara kami berdua jelas nyata. Cinta HansH terhadap Alisah tidak perlu diragukan walau secuil pun. Dia bisa menerima Alisah apa adanya.


Sungguh, aku terhanyut dalam pelukan itu. Hangat dan erat. Juga di saat dia mencium keningku, aku merasa beruntung karena bisa merasakan cinta tulus dari pria ini.


Seandainya aku benar-benar bisa menjadi Alisah seutuhnya, aku tidak akan menyesali apa pun.


"Sekarang masuklah. Aku akan menunggumu di sini."


Aku mengangguk. Dengan satu ciuman lagi, HansH melepaskan aku dari pelukannya. Sekarang ia tersenyum, meski matanya masih basah karena tangis kesedihan.


Dan aku merasa bersalah, hanya demi menghukum Kak Sanjeev dan tidak membuat calon adik-adik iparku merasakan ketidakadilan, aku malah tega menghancurkan hati kekasihku.


Maafkan aku, My HansH. Maafkanlah aku....