Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Duplikat Sempurna



Ternyata, secara mengejutkan Sheveni bersikap tenang di meja makan saat sarapan esok paginya. Dia mendongak saat aku masuk ke ruang makan yang terang itu bersama HansH, tapi kembali menunduk saat aku sampai ke meja, rambut panjangnya yang terurai nyaris menutupi wajah saat dia menggigit sosis. Dan di sebelahnya, sosok pria yang masih asing bagiku menyunggingkan senyuman. Itu untuk pertama kali aku bertatap muka dengan Vicky, suaminya Sheveni.


"Hai, Kakak Ipar. Selamat pagi," sapa Nandini riang saat aku menarik kursi dan duduk.


Aku tersenyum. "Pagi," kataku canggung.


"Dia belum menjadi kakak iparmu, Nandini. Dia belum menikah dengan Kak HansH. Ingat itu!" protes Sheveni yang membuat suasana di sekeliling meja seketika jadi hening.


Yap, menyebalkan sekali perempuan sombong satu ini. Kuhela napas dalam-dalam dan mencoba mengabaikan kelakuan Sheveni, seperti anggota keluarga lainnya yang mengabaikan ucapannya.


Lagipula aku tidak akan ikut duduk di sini jika HansH tidak memaksa plus memohon-mohon kepadaku. Jadi terserah apa pun katamu. Aku di sini karena HansH dan hanya demi HansH. Jadi aku tidak akan meladeni kerusuhanmu. Huh! Dasar tidak waras. Aku berdeham pelan. "Kau mau sarapan apa?" aku bertanya pada HansH yang duduk di sebelahku setelah aku menuangkan kopi, secangkir untuknya, secangkir untukku.


"Omelet plus sosis, tolong."


Aku mengangguk, kuambil piring dan beberapa potong omelet plus sosis, kemudian meletakkannya di hadapan HansH. Dia menambahkan mayones di atas piringnya lalu menawariku.


"Tidak," tolakku. "Aku tidak suka mayones."


Kening HansH seketika mengerut. Kebingungan. Bukan berita bagus, pikirku. Pasti bukan berita bagus. Lagi-lagi sepertinya aku melakukan kesalahan.


"Dia benar-benar aneh setelah lupa ingatan," komentar Sheveni. Dia tidak punya cukup sopan santun untuk merasa malu atau tampak bersalah, dia terus saja menyuapkan sarapan ke mulut dengan garpu.


Well, aku tidak peduli pada yang lain, hanya HansH, aku berpaling kepadanya. "Apa ada yang salah?" tanyaku.


"Tidak, kok," sahutnya. "Hanya saja dulu kau sangat menyukai mayones."


Aku mengangguk, di situ poinnya, pikirku. "Apa salah kalau sekarang aku tidak suka mayones? Apa ada yang aneh?"


Keadaan di sekeliling meja seketika kembali hening. HansH menggeleng. "Tidak ada yang salah, tidak aneh. Wajar, kok. Tidak usah dibahas, ya."


Dan Sheveni mendengus. "Kakakku yang naif," ujarnya. "Apa Kakak tidak curiga? Alisah sangat mahir berenang, dia juga sangat suka mayones, tapi yang ini? Sangat bertolak belakang, bukan? Aku jadi curiga, jangan-jangan... bisa saja dia itu orang lain yang mengaku-ngaku sebagai Alisah. Hmm?"


"Sheveni!"


Lagi. Adegan ini terulang lagi. Aku sangat tidak suka melihat HansH begitu kasar kepada Sheveni di depan semua orang, kecuali kemarin saat aku panik karena nyaris mati tercebur di kolam renang.


"HansH," tegur Bibi Heera. "Jaga emosimu, Nak."


Tidak enak hati. Air mata yang tak kuinginkan menggenang dengan sendirinya. "Aku permisi saja," kataku.


Aku baru hendak berdiri, tapi HansH dengan cepat mencegatku. Dia menahan tanganku dan memintaku untuk duduk. "Tidak ada yang memintamu pergi. Kau tetap di sini. Oke?"


Aku tidak bisa menyahut. Kuusap air mataku dan aku hanya bisa menunduk. Dongkol sekali rasanya. Ini bagian yang sulit menjadi Alisah. Zia bisa bersikap barbar atau bicara kasar untuk melawan Sheveni, tapi di sini, di depan HansH, aku tidak bisa bergerak, karena Alisah-nya HansH adalah pribadi yang lembut. Rasa dongkol membuat tenggorokanku terasa sakit dan air mataku terus saja menggenang.


"Yeah, Alisah, di sini saja. Kau tidak perlu merasa terusik kalau kata-kataku ini salah. Kecuali... jika apa yang kukatakan itu benar. Hmm?"


"Mana tahu itu hanya bukti palsu. Bisa saja, kan?"


Aku menatapnya. "Maaf, kau bisa mengeceknya sendiri, palsu atau bukan." Kulepaskan kalung Alisah dari leherku, berikut cincin dari jari manisku, cincin yang memuat foto Alisah dan HansH di dalamnya. "Silakan diperiksa, Sheveni."


Menjulurkan tangan, Bibi Heera yang menjangkau kedua perhiasan mahal itu dan mengecek keasliannya. Aku sendiri tidak mengerti detailnya seperti apa untuk membedakan asli atau tidaknya. Tapi kuharap itu benar-benar perhiasan yang asli dan sama sekali tidak dimanipulasi oleh Kak Sanjeev. Jangan sampai. Kalau itu perhiasan hasil manipulasi, bisa mati kutu aku di sana.


Sementara Bibi Heera memeriksa keasliannya, aku menyesap kopi, menikmati cairan pahit yang hangat itu.


"Asli," kata Bibi Heera akhirnya. "Ini memang perhiasan milik Alisah. Tidak mungkin palsu. Bibi tahu persis perhiasan keluarga kita. Dan ini memang asli. Sama dengan yang kita semua miliki."


Sheveni sekonyong-konyong menjatuhkan pisau dan garpu ke piring, kemudian mendorong kursi ke belakang begitu mendadak sampai berdecit di atas ubin.


"Bagaimana kalau aku pergi saja?" katanya. "Apakah itu akan membuatmu senang? Begitukah, Alisah? Selamat, ya. Kakakku benar-benar lebih memilihmu daripada aku, adik kandungnya sendiri."


Aku menggeleng. "Aku--" aku memulai -- hendak menjelaskan, tapi dia sudah setengah jalan melintasi ruangan.


"Vicky," HansH berkata, "aku minta maaf atas ketidaknyamanan ini."


Pria itu mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Kak HansH. Aku akan mengatasinya."


"Yah, aku sudah gagal sebagai kakak. Aku harap dia mau mendengarkanmu sebagai suaminya."


Kuseka mulut dengan serbet, lalu air mata dengan tisu. "Semua ini gara-gara aku," kataku. "Apa kau juga mencurigaiku? Jika ya, kau bisa melakukan tes DNA, atau tes sidik jari, aku tidak keberatan. Kalau ternyata aku bukanlah Alisah, aku akan pergi dari hidupmu. Aku bisa kembali hidup sebagai Zia, dan kita tidak perlu--"


"Ssst...."


"Aku tidak ingin kau terus bertengkar--"


"Alisah...."


"Maaf, My HansH, tapi aku tidak ingin selalu menjadi penyebab pertengkaran kalian."


HansH menggeleng. Ditatapnya aku dengan perasaan terluka, dan aku merasa sangat bersalah untuk itu. "Kau Alisah-ku."


"Kau butuh bukti kuat untuk itu," kataku. "Memang tidak seharusnya kau percaya begitu saja ketika kau melihatku, orang yang lupa ingatan dan memakai perhiasan darimu, lalu kau mengira aku ini tunanganmu dan kau membawaku pulang. Bagaimana kalau kau salah orang? Aku tidak ingat padamu, aku tidak tahu siapa aku, aku tidak tahu bagaimana perhiasaan ini ada bersamaku setelah kecelakaan itu. Aku tidak tahu semuanya. Tapi aku tidak bermaksud menipumu seperti yang adikmu tuduhkan padaku. Tidak sama sekali."


HansH percaya. Dia mengusap air mataku sementara air matanya sendiri menetes ke pipi, membasahi kemejanya. "Aku percaya padamu, Alisah. Kau Alisah-ku. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Oke? Aku sama sekali tidak meragukanmu. Tidak sedikit pun."


Oh Tuhan... aku menambah daftar kebohonganku lagi.


Huh! Ini di luar dugaan, aku berani menyerocos seperti ini bukan tanpa sebab, tapi aku merasa bagaikan menemukan jalan untuk mengamankan posisiku sebagai seorang penipu. Kalau aku sampai ketahuan dan terbukti bukanlah Alisah, aku bisa mengamankan diriku sendiri: karena faktanya HansH-lah yang menemukanku dan dia yang membawaku masuk ke dalam hidupnya tanpa aku yang meminta.


Dan sekarang tentang Sheveni. Kau harus tenang, Zia. Sheveni tidak punya bukti apa pun. Dan percayalah, dia tidak sungguh-sungguh tahu kalau kau bukanlah Alisah. Oke? Dia hanya menciptakan drama supaya kau dan HansH terlibat dalam kesalahpahaman yang akan mempengaruhi hubungan kalian. Hanya itu. Jadi tenanglah. Tidak ada siapa pun yang tahu siapa dirimu dan semua rahasiamu kecuali kau dan Kak Sanjeev. Kau adalah duplikat yang sempurna, bahkan kau memiliki tipe golongan yang sama dengan Alisah. Well, Zia, keberuntungan masih memihakmu. Tenanglah.