Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Terusik



"Selamat malam semua," sapa HansH malam itu saat kami berdua bergabung di meja makan, sebelum introgasi keluarga dimulai. Sebabnya, setelah tamu-tamu mulai membubarkan diri dari acara open house seluruh bagian bisnis keluarga Mahesvara, HansH cepat-cepat kembali ke paviliun kami, dan kami baru keluar dari paviliun tepat jam tujuh malam, jam makan malam di mana seluruh anggota keluarga yang berada di rumah bergabung untuk makan malam.


Kasak-kusuk mulai terjadi, seiring suara sendok dan garpu berdenting dengan piring porselen, lalu Bibi Heera berdeham. "Jadi, HansH, Alisah, bisa kalian jelaskan tentang bayi itu?"


"Apa yang mesti dijelaskan lagi, Bi?" tanya HansH. Senyum bahagianya masih terjaga sesuai yang kami sepakati: tidak boleh ada kemurungan. Kami berdua mesti menunjukkan kebahagiaan kami di depan semua anggota keluarga, sebagaimana mestinya.


Bibi Heera mengedikkan bahu. "Apa pun yang sekiranya perlu kalian jelaskan."


"Semuanya kan sudah kami jelaskan tadi siang. Itulah apa adanya. Bayi itu ditemukan oleh karyawan hotel, cleaning service yang hendak bersih-bersih, lalu dititipkan di klinik, dan kami memutuskan untuk merawatnya. Tidak ada yang salah, kan?" HansH menatap sekeliling. Menyapu pasangan mata satu per satu.


Beberapa orang mengangguk-anggukkan kepala, tanpa komplen, lalu Sheveni bersuara, "Lalu gosip kalau Kakak adalah ayah biologis anak itu, bagaimana soal itu?"


"Oh, ayolah, guys. Untuk apa kalian mengorek-ngorek gosip miring itu? Terserah orang mau beropini apa saja. Dan yang mau percaya ya silakan. Aku tidak memaksa kalian untuk percaya kepadaku."


Bibi Heera menggeleng-gelengkan kepala. "Jawabanmu membuat samar, HansH. Kenapa kau tidak berusaha meyakinkan kita semua, atau bahkan harusnya kau membuktikan kebenaran kepada publik, ya kan? Kau bisa melakukan tes DNA kalau kau bukan ayah biologis dari bayi itu."


"Bibi tidak percaya kepadaku?"


"Bukannya begitu."


"Jadi Bibi percaya kepadaku?"


"HansH...."


"Bibi mengenalku sejak aku bayi, apa Bibi percaya keponakan Bibi ini bisa sebejat itu?"


Bibi Heera menggeleng.


"Jadi Bibi percaya kepadaku?"


"Ya, Bibi percaya. Tapi--"


"Bagus. Bibi memang harus percaya kepada ponakan Bibi sendiri."


"Tapi publik? Butuh bukti otentik untuk--"


"Bi, aku tidak peduli publik percaya atau tidak--"


"Tapi aku peduli, Kak," Parvani menyela dengan suara lengkingnya. Kerisauan hatinya terpahat jelas di wajah cantiknya.


Semua orang terdiam.


"Kenapa?" tanya HansH memecahkan keheningan.


Memberengut. Sifat remaja labil Parvani otomatis keluar. "Teman-temanku di kampus jadi ikut bergosip. Aku risi."


HansH menggaruk kepala sambil menggeleng. "Ya ampun, Sayang. Kenapa kau harus peduli? Terserah mereka. Tidak perlu kau dengarkan."


HansH mendengus kesal. Hilang sudah sikap santainya. "Menurutmu begitu? Kenapa harus dibesar-besarkan?"


"HansH, ini bukan hanya soal nama baik perusahaan, tapi nama baik negara kita. Kita di sini membawa nama baik India dan Pakistan, bukan berarti kita tinggal di Inggris dan kita jadi orang Inggris. Buktikan kalau kau pemuda India-Pakistan yang bermoral."


Oke. Sudah cukup. Kurasa perkataan Bibi Heera ada benarnya meski HansH punya hak untuk mempertahankan pendapatnya. Aku berdeham lantang. "HansH akan melakukan test DNA," kataku.


"Sayang!" HansH mendelik.


Tapi aku mengacuhkannya. "Tapi aku minta pada kalian semua, setelah test DNA keluar, tolong terima kehadiran Malika di sini meski dia bukan darah daging HansH. Aku mohon dengan sangat, tolong?"


"Ya," HansH menimpali. "Kalau itu mau kalian, aku akan melakukan test DNA untuk membuktikan kebenarannya. Tapi hanya sebatas ini, hanya sebatas test DNA. Aku tidak akan menuruti permintaan kalian jika kalian meminta kami melepaskan Malika dari pengasuan kami. Well, kami harap kalian mengerti. Terima Malika sebagai anak asuh kami."


Dan aku jadi mengerti, HansH memang tidak ingin orang luar menilai Malika sebagai anak biologisnya, tetapi dia ingin jika keluarganya menganggap demikian. Barangkali itu murni demi supaya anggota keluarga bisa menerima kehadiran Malika sepenuhnya sebagai anggota keluarga, atau untuk menutupi ketidaksempurnaan dirinya? Orang-orang akan menganggap kalau ia adalah sosok lelaki yang sempurna, yang bisa memiliki keturunan? Aku tidak tahu. Tapi itu hanya dugaan sementaraku. Faktanya tetap saja aku tidak tahu apa sebenarnya motif dari penolakan HansH. Tapi yang terpenting akhirnya dia setuju dan setidaknya itu bisa meredam perdebatan di dalam keluarga ini.


"Kenapa kalian mesti mengadopsi anak?"


"Sheveni!" tegur Kak Sanjeev.


"Aku hanya bertanya. Kenapa? Tidak salah, kan?"


"Ehm," Nandini menimbrung. "Mungkin naluri keibuan Kak Ipar terpanggil waktu melihat bayi itu. Itu malah bagus, kan? Kalau aku ada di posisi Kakak Ipar, barangkali aku juga akan berniat sama."


"Baiklah semuanya," Bibi Heera memotong. "Mari lanjut makan. Kita bisa mengobrol santai sambil makan. Bukan begitu? Sesantai mungkin. Jangan ada perdebatan atau suara keras di sini. Hormati yang lain."


Tet! Suasana malah jadi hening. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.


Tapi tidak. Untungnya suara tangis Malika segera memecah keheningan. Dengan kata maaf dan permisi, aku cepat-cepat meninggalkan meja makan dan menghampiri Malika yang terbaring dalam boks tidur di ruang keluarga. Sementara aku mendekap dan membawa Malika duduk di sofa sembari memberinya susu, samar-samar kudengar HansH mengatakan sesuatu di meja makan, "Aku minta kalian jangan mempermasalahkan kehadiran Malika dan jangan menyalahkan Alisah, karena ini bukan keputusannya. Aku sendiri yang meminta Alisah untuk menjadi ibu bagi bayi malang itu, dan Alisah bahagia, dia tidak keberatan sama sekali. Jadi aku mohon, tolong jangan diusik."


Oh, sungguh aku tidak peduli apa pun komentar orang-orang tentang Malika atau tentang kecurigaan mereka terhadap HansH. Tetapi...


"Tapi kenapa, Kak?" tanya Sheveni. "Kalian bisa melahirkan bayi sendiri. Kenapa harus mengangkat anak? Kau sendiri jelas-jelas sehat, bukan? Atau jangan-jangan Alisah...?"


Apa? Tidak. Tidak mungkin....


Dapat kudengar HansH, Bibi Heera, Kak Sanjeev, Vicky dan Nandini menyergah dalam suara tertahan.


"Baiklah. Terserah kalian," kata-kata Sheveni menjadi penutup obrolan itu.


Dan kini aku yang merasa terusik: kenapa aku jadi khawatir? Apa jangan-jangan...?


Tidak. Tidak mungkin. Aku memang belum pernah test kesehatan. Tapi bukan berarti...? Tidak. Jangan berpikir macam-macam, Zia. HansH mengakui dirinya yang tidak sempurna. Dan itu kenyataannya, aku bisa menerima itu. Dan itu bukan berarti HansH sedang menutupi kenyataan bahwa akulah yang tidak sempurna supaya keluarganya tidak kecewa terhadapku. Bukan begitu. Kau terlalu banyak berpikir.


Tapi tetap saja, pemikiran itu membuatku jadi khawatir. Aku bisa menerima jika HansH yang memiliki kekurangan itu, jika HansH yang tidak sempurna. Tapi jika ketidaksempurnaan itu bersumber dariku? Oh Tuhan... sulit bagiku untuk menerima jika akulah yang menjadi sumber ketidaksempurnaan bagi kehidupan suamiku. Jika aku yang....


Sungguh ini sulit, Tuhan....