Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Tiga Minggu Berlalu....



Tiga minggu sudah berlalu, perasaanku belum kunjung membaik, kurasa butuh waktu lebih lama lagi untuk itu. Dan seperti nasihat bijak yang dituturkan oleh Amanda, aku mencoba kejam pada diriku sendiri. Aku mengganti simcard baru untuk ponselku, dan sejauh ini hanya Amanda dan beberapa orang di restoran tempat kami bekerja yang menyimpan nomor kontakku.


Aku dan Amanda tinggal di sebuah apartemen kecil yang kami sewa berdua. Ada dua kamar di dalamnya, dikarenakan itu apartemen yang dicarikan oleh keluarga Amanda untuk Amanda, jadi dengan sadar dirinya aku memberikan kamar yang ukurannya lebih besar untuk Amanda, dan aku menempati kamar di seberangnya yang ukurannya lebih kecil. Yeah, walaupun kecil, tapi tempat itu cukup memadai untuk kami berdua. Ada ruang tamu, dapur, dan kamar mandi di masing-masing kamar.


Di hari kedua kami tinggal di Korea, aku dan Amanda sudah berkecimpung di restoran keluarga Amanda, puji syukur aku lulus test dengan masakan India-ku sehingga aku diterima bekerja sebagai salah satu juru masak di sana. Dan, aku cukup beruntung karena dalam minggu pertama tinggal bersama Amanda, siklus bulanan-ku seolah datang tepat pada waktunya. Aku menstruasi, sehingga aku tidak perlu pura-pura bisa salat dan bisa menghindari apa yang diinginkan oleh Amanda dariku, sosok teman wanita muslimah yang belum bisa kutunjukkan kepadanya, tentu saja yang juga tidak bisa kuhindari. Jadi, selepas menstruasi-ku selesai, aku memilih jujur kepada Amanda, bahwa aku hanyalah sosok yang baru belajar mengenal Tuhan. Aku belum bisa salat.


Hufth....


Yeah, tiga minggu terasa aman. Aku tidak menemukan tanda-tanda orang-orang mencari keberadaanku di sini, walaupun rasanya mustahil kalau mereka tidak mengetahui ke mana aku pergi. Mustahil bagi HansH ataupun Kak Sanjeev tidak mendapatkan informasi dari pihak penerbangan tentang keberangkatanku. Tapi semoga itu berarti mereka tidak mencariku. Semoga semua orang mengerti, mau melupakan, mau memaafkan, dan bersedia menjalani kehidupan masing-masing tanpa saling menghubungi lagi, apalagi untuk membalas perbuatanku kepada mereka.


Tolong jangan. Aku masih ingin hidup untuk menebus semua dosa-dosaku. Aku ingin mati sebagai insan yang baik. Tolong Tuhan....