Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Terima Kasih, Tuhan....



Menghindar. Itulah pilihan yang aku ambil. Pengecut. Memang. Tapi aku tidak tahu mesti bagaimana lagi menghadapi kekacauan dalam hidupku. Dan aku takut berhadapan dengan semua orang yang telah kusakiti, takut dalam artian: aku tidak sanggup menyaksikan begitu banyak hati yang terluka karena perbuatanku. Aku takut untuk hal ini, takut yang sepenuhnya berbeda. Ibaratnya begini, andaikan aku kembali bertemu dengan HansH untuk menghadapi kemarahannya hingga ia berniat untuk membunuhku dan membuatku mati seketika tanpa sepatah kata pun yang terucap -- tentang kekecewaannya kepadaku, kurasa aku lebih siap untuk itu daripada aku mesti berhadapan dengan HansH untuk mendengarnya mengumandangkan kata demi kata betapa perih hatinya karena perbuatanku, aku tidak akan sanggup mendengarnya, menghadapinya yang terluka karena perbuatanku. Jadi, yeah, lebih baik aku pergi, dan -- aku pergi.


Setelah Bibi Heera mengantarku ke bandara, dan kami bercakap-cakap sebentar sebelum Bibi Heera berpamitan pulang, aku termenung sendiri, menimbang ke mana aku akan pergi. Pertama kali yang terbesit di dalam benakku, aku ingin sekali pergi ke Mekkah, ke negara Arab di mana umat muslim berdatangan menginjakkan kaki di sana. Aku ingin mengenal Tuhan yang dipercayai oleh HansH. Tetapi aku tahu, betapa aku tidak pantas untuk menapakkan kakiku ke tanah suci. Kemudian, aku menimbang-nimbang ingin kembali ke Mumbai, India, tetapi tidak jadi. Banyak kenangan yang akan melukaiku di sana, terlebih karena di sana ada banyak orang yang kukenal dan mengenal Zia, aku tidak akan sanggup terus hidup sebagai orang asing di antara orang-orang yang kukenal. Sebab yang mereka kenali adalah Zia, bukanlah Alisah. Jadi, pikiran terakhirku adalah pergi ke Korea, ke negara di mana pertama kali Alisah kembali hidup dan menciptakan semua kekacauan ini. Kupikir, walaupun nanti Kak Sanjeev atau HansH mengetahui ke negara mana aku pergi, setidaknya aku bisa bersembunyi, di Korea tidak ada satu pun orang yang mengenalku, baik sebagai Zia ataupun sebagai Alisah, dan tidak ada pula orang yang kukenali sehingga aku tidak perlu hidup sebagai orang asing di antara orang-orang yang akan ada di sekelilingku di Korea nanti.


Well, keputusanku sudah bulat, untuk sementara waktu aku akan pergi ke Korea. Untunglah, tidak sulit bagiku untuk mendapatkan tiket penerbangam tercepat mengingat keberangkatanku bukanlah pada saat musim liburan, dan lebih beruntungnya lagi, dalam sesi menunggu jam keberangkatan pesawat yang akan kutumpangi, aku bertemu dengan Amanda, gadis yang pernah menjadi temanku selama setahun ini dalam kursus memasak. Namun aku sedikit teledor, aku lupa kalau Amanda tidak mengenalku sebagai Alisah, dia tidak mengenal wajah Alisah, sebaliknya, dia mengenalku sebagai Zia, dengan wajah Zia.


"Sori, kau mengenalku?" tanya Amanda sewaktu aku menyapanya yang duduk sendiri di ruang tunggu keberangkatan.


Praktis, aku jadi gelagapan. Aku benar-benar lupa kalau saat ini aku sebagai Alisah. "Emm... sori, ya, aku... maksudku aku mengenalmu dari kelas memasak. Oh, itu, dari Zia. Maksudku aku menganalmu dari Zia, teman kursusmu. Kau mengenal Zia, kan? Aku temannya Zia. Namaku Alisah." Kujulurkan jabat tangan kepada Amanda seraya tersenyum. "Zia sering sekali bercerita tentangmu, katanya kau hebat dalam memasak masakan barat."


Jabat tanganku berbalas. Amanda pun mengangguk. Dia mulai satu fkrekuensi denganku dalam obrolan ini. "Salam kenal, Alisah."


"Ya, senang bisa mengenalmu secara langsung." Jabat tangan kami terlepas, dan aku merasa sedikit lega.


Fiuuuuuh....


"Jadi, Alisah, kau juga temannya Zia?"


"Em, begitulah," sahutku, berdusta. "Hanya dalam seni memasak."


"Oh, berarti sama denganku. Kami juga teman dalam bidang yang sama."


"Ya, aku tahu. Zia banyak bercerita tentang teman-temannya yang jago memasak. Termasuk dirimu."


"Ah, bisa saja dia. Padahal dia yang sangat jago memasak. Apalagi memasak menu India. Omong-omong, apa kabar Zia? Aku sudah lama tidak melihatnya."


Aku ada di hadapanmu, andai kau tahu....


"Alisah? Ada apa?"


Aku menggeleng. "Tidak ada apa-apa," kataku. "Aku juga tidak tahu di mana keberadaan Zia."


"Ya Tuhan, ke mana gadis itu? Sayang sekali dia menghilang, padahal aku ingin sekali belajar memasak menu masakan India darinya."


Eh?


"Benar-benar sangat disayangkan, aku kehilangan kontak dengan Zia."


Aku turut menyesal, Amanda....


"Alisah, kalau kau bertemu Zia, maukah kau mengatakan kepadanya untuk menghubungiku? Please... aku mohon, ya? Tolong?"


Aku mengangguk, tidak mungkin menolak. Meskipun hal itu tidak bisa kulakukan. "Baiklah," kataku. "Akan kusampaikan kalau aku bertemu dengannya."


"Terima kasih, Alisah."


"Sama-sama."


"Katakan pada Zia kalau ini sangat penting. Aku ingin belajar memasak darinya."


Semringah. Wajah Amanda begitu ceria. "Ya, Alisah. Keluargaku baru membuka cabang restoran di Korea. Jadi, aku akan ikut bekerja di sana. Dan ini impianku."


"Oh, akhirnya. Aku turut senang."


Tak kusangka, gadis cantik itu belajar memasak selama setahun penuh untuk bekerja di restoran keluarganya yang ada di Korea. Tentu saja untuk menu ala barat dan menu Asia, bukan menu ala Korea. Dan dengan tak tahu malunya, aku meminta pekerjaan kepada Amanda.


"Dan kau sendiri?"


"Aku?"


"Liburan, atau ada pekerjaan di Korea?"


"Aku... emm... belum tahu. Hanya ingin mencari peruntungan. Mencari pekerjaan mungkin. Emm... apa di restoranmu butuh karyawan? Apa saja. Pelayan, bagian cuci piring, apa saja tidak masalah. Aku juga bisa memasak."


Ah... aku menyerocos dengan penuh harap akan mendapatkan pekerjaan dari Amanda.


"Kau serius?"


"Ya, tentu saja aku serius."


"Tapi kami restoran baru, tentu saja masih butuh usaha ekstra untuk berkembang. Kau yakin ingin berkecimpung di dalamnya?"


Aku mengangguk, kembali menatapnya penuh harap. "Please... aku mohon? Aku bisa memasak menu barat, menu India juga bisa. Kemampuanku sama seperti Zia. Justru itu uniknya, bukan? Kita bisa menyajikan menu masakan India."


"Serius? Kau bisa...?"


"Yes, swear. Kemampuanku tidak kalah dari Zia."


"Bagus. Itulah kenapa aku ingin belajar dari Zia, aku tahu kemampuannya. Baiklah kalau begitu. Eh, tapi ini belum final, ya. Aku harus tanyakan dulu pada keluargaku."


Uuuh... paling tidak aku punya harapan. Kalau keluarga Amanda bisa menerimaku dan menu masakan India-ku, setidaknya aku punya kesibukan selama di Korea.


"Terima kasih, Amanda. Aku sangat berharap."


Tersenyum. Amanda mengangguk. "Tapi jangan berharap seratus persen, ya. Aku tidak mau kau kecewa dan menganggapku memberikan harapan besar. Tapi secara pribadi, aku tertarik untuk menyajikan menu masakan India di restoran keluargaku. Tapi tentu saja, kau harus ditest."


Balas mengangguk, aku tersenyum lega karena harapan itu. "Aku mengerti," kataku.


"Well, kau akan tinggal di mana? Bagaimana kalau di apartemenku? Maksudku, kita sewa bersama." Dia nyengir lebar.


Oh Tuhan... dia sangat baik sekali. "Kau serius?"


"Aku serius. Apartemennya kecil sih, tapi cukup untuk menampungmu. Bagaimana?"


Ah senangnya. Terima kasih atas pertolonganmu, Tuhan. Kau mengirimkan bantuan untukku melalui Amanda. Terima kasih....