Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Drama Again!



Gemetar. Aku beringsut ke samping, melorot di kursi dan berusaha menenangkan diri.


Yeah, semua yang terjadi seolah dalam detik bersamaan. Bidikanku tidak meleset. Tentunya tidak akan pernah meleset. Hasil latihan menembak selama bertahun-tahun bersama Kak Sanjeev, selalu tepat sasaran meskipun selama ini aku tidak pernah -- secara langsung -- mengarahkan bidikanku kepada manusia. Ini untuk pertama kali manusia yang menjadi target bidikanku. Seperti boneka-boneka yang selama ini menjadi media latihanku, peluru yang kubidikkan pun bersarang di tubuh mereka. Mereka tewas, dan darah pun bermuncratan ke arahku.


Oh Tuhan... aku sudah membuat dua nyawa melayang dan rasanya tidak seperti awal aku berniat menembak mereka, kupikir perasaanku akan biasa-biasa saja seperti yang selalu kulakukan pada boneka-boneka sasaranku. Tetapi sekarang -- nyatanya, ini sangatlah menakutkan. Meresahkan. Aku merasa bersalah dan aku menyadari bahwa diriku ini telah melakukan tindakan kriminal. Aku telah menjadi seorang pembunuh.


Tidak, Zia. Jangan takut, oke? Mereka penjahat. Mereka pantas mati. Kau tidak bersalah. Oke? Tenangkan dirimu. Tenanglah, Zia.


Tapi bagaimana sekarang? Pikiranku kembali melanglang buana ketika suara kecil di kepalaku mempertanyakan tanggapan orang lain atas apa yang telah kuperbuat, terutama jika nanti HansH tiba di sini dan melihat semua ini, bagaimana?


Kalau HansH tahu aku membunuh orang, apa yang akan dia pikirkan tentang aku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Menyerahkan diri ke polisi? Tidak. Aku tidak ingin dipenjara. Mereka penjahat. Negara ini sama sekali tidak rugi kehilangan sampah-sampah seperti mereka. Oke, Zia, tenanglah. Tenang. Jalankan rencana sesuai dengan yang sudah kau pikirkan. Kau harus percaya, segalanya akan baik-baik saja.


Well, sekarang rencana selanjutnya. Aku harus membuat keadaan begitu meyakinkan. Kulepaskan semua sisa pakaian dari kedua jasad pria itu hingga mereka benar-benar telanjan*. Lalu, berikutnya aku mengoleskan darah ke *lat *elamin mereka, seolah-olah mereka sudah merenggut keperawananku. Dan, tak lupa juga pada celana *alamku.


Sempurna, dengan darah pada *lat *elamin serta jejak merah di leher dan dadaku, semua orang akan mengira kalau aku benar-benar telah mengalami pemerkosaan, berikutnya aku mesti pandai-pandai menghindari pemeriksaan dokter. Aku tidak boleh dibawa ke rumah sakit apalagi sampai divisum. Baik HansH ataupun Kak Sanjeev, tidak boleh ada yang mengetahui kebenaran ini.


Yeah, waktunya mendramatisir keadaan. Kulengkapi drama ini dengan menyobek bahu dress-ku dan kuacak-acak sedikit rambutku lalu aku beringsut ke lantai mobil tempat aku menjatuhkan ponselku, mengambilnya dari kolong kursi. Dari layar ponselku, sempat kuperhatikan ada banyak pesan dan panggilan telepon masuk, selain dari Kak Sanjeev, banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Neha dan keluarga Mahesvara. Tidak terkecuali dari HansH. Tetapi aku tahu, berkat GPS di ponselku yang selalu aktif, HansH pasti sudah dalam perjalanan menyusulku.


Nah, sekarang waktunya meminta bantuan. Ayo, kau bisa. Kau bisa, Zia. Hubungi HansH. Beritahu saja dia kalau kau sudah membunuh para berandalan ini, dan kau tidak perlu takut. Dia pasti akan membantumu.


Klik!


Sambungan telepon terhubung.


"Halo, Alisah? Apa ini kau?"


"My HansH," kataku dalam isakan tangis, yang tadinya ingin dibuat-buat, tapi ternyata aku terisak sungguhan.


"Hei, kau baik-baik saja? Kenapa kau menangis?" tanyanya khawatir, ia melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak diperlukan. "Alisah, tenang. Tenangkan dirimu. Sekarang katakan padaku, bagaimana keadaanmu? Apa kau masih bersama para penjahat itu? Bagaimana kau bisa menelepon? Kau berhasil kabur dari mereka?"


Aku tidak menjawabnya.


"Hei, Alisah? Jangan menangis. Dengarkan aku, aku berhasil melacak lokasimu dan sekarang aku dalam perjalanan menuju ke sana. Kau tenanglah. Aku akan menyelamatkanmu. Jangan menangis. Aku sebentar lagi sampai. Oke? Tenanglah."


Tapi isakanku semakin jadi. "Aku... aku diperkosa."


Hening sejenak. Aku tahu HansH terkejut di seberang sana, dia shock, sampai akhirnya pengakuanku itu membuatnya murka.


"Bajingan! Akan kubunuh mereka!"


"Mereka sudah mati."


"Apa?"


"Aku membunuhnya. Mereka sudah mati. Aku takut, My HansH. Mereka mati. Bagaimana ini?"


"Tenang. Tenanglah, Alisah. Tenang. Kau harus tenang, oke? Kau akan baik-baik saja. Aku janji. Kau akan baik-baik saja. Kau tenangkan dirimu. Aku akan segera sampai. Aku akan tangani masalah ini. Oke? Tunggu di sana."


Well, sekarang aku mesti menutup telepon.


Lakukan rencana selanjutnya, Zia. Telepon Kak Sanjeev.


Yap. Kali ini aku tidak bisa bergantung kepadanya. Sebab, jika kali ini dia juga yang menolongku, kemungkinan, bukannya dia akan merasa bersalah dan menyesali semua tindakan dan kesalahannya, mungkin dia justru akan merasa bahwa dia bisa mengatasi segalanya, segala kendala yang terjadi dalam misi balas dendamnya. Tidak boleh. Aku harus menghancurkan kepercayaan dirinya dan keras kepalanya itu.


Yeah, aku memutuskan untuk menelepon Kak Sanjeev untuk menyalahkan dirinya, plus, menghukum dirinya karena sudah mengubah identitasku sebagai Alisah.


Tapi tidak. Tidak perlu bersusah payah menelepon Kak Sanjeev, dia sudah menelepon ponselku lebih dulu.


"Halo, Zia. Kau di mana? Bagaimana keadaanmu?" tanyanya gelisah di ujung telepon.


Kuubah panggilan telepon itu menjadi panggilan video, dan aku terisak.


"Zia...?"


"Aku diperkosa."


"Apa?"


"Apa aku harus mengulanginya lebih jelas? Aku diperkosa, Kak! Aku diperkosa! Kau dengar itu? Aku diperkosa!"


Dia terdiam. Membeku di tempatnya yang jauh di sana.


"Aku juga membunuh orang. Kau lihat ini. Kau lihat mereka. Aku membunuh orang. Aku tidak sengaja. Aku bingung. Aku... aku...."


Praktis aku menyaksikan Kak Sanjeev terbelalak ketika aku mengarahkan kamera ponselku ke arah dua jasad lelaki telanjan* yang masih berada bersamaku di dalam mobil itu.


"Sekarang aku tinggal menunggu polisi menangkapku dan aku akan dipenjara. Hidupku sudah tamat."


Menyeringai, Kak Sanjeev menggeleng-geleng dan semakin gelisah. "Tidak. Tidak, Zia. Tidak akan kubiarkan itu terjadi.


"Kau... kau jagalah dirimu sendiri, Kak."


"Hei, tenangkan dirimu. Aku akan membantumu. Kirim lokasimu, ya. Sekarang. Aku akan ke sana."


"Tidak perlu. Aku sudah berbuat kriminal. Aku harus bertanggung jawab."


Tut!


Kuputuskan panggilan video secara sepihak, dan aku tahu Kak Sanjeev akan kelabakan memikirkan diriku dan akan terus mencoba menghubungiku. Kuharap dia akan menyesali kesalahannya: gara-gara dia mengubah identitasku menjadi Alisah sehingga menyebabkan aku mengalami penculikan ini. Gara-gara dia musibah ini terjadi kepadaku.


Maafkan aku, Kak. Aku hanya ingin kau menyadari kesalahanmu, dan kembali menjadi kakakku -- kakak yang terbaik seperti dulu.