Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Masa Lalu



"Kau butuh sesuatu? Mau makan? Minum?"


Kugelengkan kepala dan sengaja kutunjukkan kepadanya seolah keadaanku saat ini sangatlah lemah. Sebenarnya itu benar, aku memang dalam keadaan lemah karena tadi suang aku hanya makan sedikit. Tapi saat ini aku tidak punya nafsu makan. Sama sekali tidak berselera.


"Yang kubutuhkan saat ini hanyalah mengetahui peristiwa yang terjadi di masa lalu," kataku pelan. "Tentang cerita yang kau rahasiakan dariku. Aku ingin mendengar segalanya."


Sama, HansH balas menggeleng. "Kita sudah sepakat, Sayang. Kau tidak boleh menggali--"


"Aku ingin mendengarnya."


"Alisah...."


"Kejujuranmu akan membuatku tahu, apa aku layak ada di sisimu, atau tidak. Aku akan memutuskan untuk pergi atau tetap tinggal jika aku sudah mengetahui segala hal yang terjadi di masa lalu. Jadi tolong, beritahu aku. Aku mohon?"


HansH mengacak-acak rambutnya dan memalingkan wajah. Frustasi. "Kita sudah sepakat, Alisah. Kenapa kau malah...? Ya Tuhan... kenapa jadi seperti ini? Kupikir amnesiamu... kupikir segalanya akan baik-baik saja. Kenapa malah...? Berengsek!" Ia meninju telapak tangan saat mengumpat. "Sheveni, aku sudah memintanya untuk melupakan masa lalu. Dia bilang iya, tapi... nyatanya...."


"Aku membutuhkan jawaban. Kebenaran. Hanya itu. Aku ingin tahu, apa yang membuat Sheveni sangat membenciku?"


HansH menatapku lama tanpa mengatakan apa pun, matanya melebar dan berkaca-kaca. Kemudian dia membungkuk dan mencium keningku. "Akan kuceritakan segalanya. Tapi satu hal yang harus kau percaya, bahwa aku sangat percaya kepadamu. Apa pun yang sudah terjadi di masa lalu, aku tidak mempercayai satu pun, atau siapa pun, selain kau dan kebenaran yang dulu kau katakan kepadaku. Aku mempercayaimu sepenuhnya. Oke?"


Aku mengulurkan tangan dan memegang tangannya. "Aku juga mempercayaimu," kataku. "Dan entah kenapa, aku yakin semuanya akan baik-baik saja di antara kita. Jadi, tolong, ceritakan semuanya."


HansH tersenyum, tapi matanya menyorotkan kesedihan. Matanya memerah dan suaranya gemetar. "Seseorang menjebakmu di masa lalu."


"Menjebakku? Jebakan seperti apa? Siapa?"


"Entahlah."


"Lo? Kok? Kenapa bisa begitu?"


HansH mengedikkan bahu. "Entahlah," katanya. "Mungkin mantan pacarnya Sheveni, atau orang lain. Tidak jelas, tidak tahu siapa dalangnya. Waktu itu Sheveni berulang tahun, pestanya diselenggarakan dengan meriah di rumah ini. Semua teman-temannya dan semua kerabat kita diundang, termasuk mantan pacarnya yang berengsek itu. Saat itu mereka masih berpacaran."


Rasanya aku sudah tahu ke mana arah cerita ini, bagaimana ujungnya. Dan aku harus siap menerima kobaran api itu membakarku. Membakar Zia. Ini risiko bagiku karena aku menjadi Alisah yang dibenci oleh Sheveni.


"Lanjutkan, please...?"


"Ada yang memberimu obat...."


"Obat...?"


"Em, perangsang."


"Bagaimana itu bisa terjadi?"


Menggeleng. HansH memalingkan pandangan. "Tidak tahu," katanya. "Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Tidak tahu bagaimana persisnya. Yang kau tahu waktu itu, teman-teman Sheveni yang mencekokimu dengan minuman keras, dan kau mabuk. Pengaruh alkohol itu membuat perutmu mual dan kau pergi ke dapur, kau sendiri. Di saat itulah, pria berengsek itu membawamu ke gudang. Dia... dia berniat melecehkanmu."


Seperti yang kuduga! Apa hal itu sudah terjadi? Kalau iya, bagaimana? Aku kan masih perawan....


Kebingungan melandaku saat itu, seolah aku berpikir bahwa aku dan HansH akan segera menikah lalu kami berhubungan suami-istri, dan aku akan ketahuan kalau aku bukanlah Alisah karena kupikir Alisah pasti sudah dilecehkan dan dia sudah tidak perawan. Sementara aku, aku masih perawan dan dia pasti terkejut saat dia menyentuhku saat pertama kali. Pemikiran yang aneh, sekaligus wajar.


"Untungnya hal itu belum terjadi."


"Oh? Belum? Tidak terjadi?"


"Tidak."


Sungguh, aku lega. Kuhela napas dalam-dalam dan aku tersenyum ceria. Tapi aneh, Hansh tidak memberikan respons yang sama.


"Ada apa?" tanyaku.


Dia menggeleng.


Sesuatu. Pasti ada sesuatu. "Apa yang terjadi selanjutnya? Kenapa kau masih murung? Bukankah hal buruk itu tidak terjadi? Iya, kan? Oh ya, lalu kenapa Sheveni tetap membenci Alisah? Emm... membenciku? Semua yang terjadi kan hanya fitnah, ya kan?"


"Karena si berengsek itu mengatakan kalau kau yang menggodanya."


Berengsek! Seketika mataku terpejam. Pantas saja Sheveni sangat membenci Alisah. Tentu saja dia akan menolak kebenaran saat tahu pacarnya berbuat begitu kepada gadis lain.


"Tapi aku percaya padamu, Alisah."


"Kenapa kau begitu percaya padaku? Sheveni, kau... kalian... kalian melihatku...?"


"Kau tidak sadar waktu itu. Kau dalam pengaruh alkohol. Pria itu mengambil kesempatan saat kau dalam keadaan mabuk. Aku sendiri yang membawamu pergi dari gudang. Bahkan setelah kau sadar, kita pergi ke rumah sakit untuk melakukan visum dan cek darah. Hasilnya, tidak hanya alkohol, tapi juga ditemukan obat perangsang di dalam darahmu, dan hasil visum menunjukkan kalau kau masih suci. Bagaimana seorang gadis sebaik dirimu mau merelakan kesucian untuk lelaki seberengsek itu, ya kan? Itu mustahil. Tidak masuk akal. Lagipula, aku mempercayai semua penjelasanmu. Kau berada di dapur dan seseorang menyerangmu dari belakang. Kau juga dalam keadaan mabuk berat. Kau tidak tahu apa pun yang terjadi di gudang. Kau dalam keadaan mabuk, dan... kau... kau juga dalam keadaan terangsang. Kau tidak sadar apa yang kau lakukan di sana. Sekalipun Sheveni mengira kau menggoda pacarnya dan melihat pacarnya menyentuhmu di depan mata kepalanya sendiri, aku tetap percaya kepadamu. Jadi, please, abaikan saja Sheveni dan segala kebenciannya padamu. Aku mohon?"


Hufth... aku mengembuskan napas lega. "Aku... mungkin aku bisa mengabaikan kebencian Sheveni. Aku mengerti. Itu wajar. Pantas saja dia sangat membenciku. Tapi...."


"Alisah, please... jangan biarkan hal ini menghancurkan cinta di antara kita. Aku mohon?"


Aku mengangguk. "Cintaku padamu sangat besar. Tidak akan hancur dengan mudah. Tapi kenyataannya adikmu sangat membenciku dan dia tidak bisa menerimaku. Bagaimana hubungan kita bisa--"


"Aku tahu. Tapi itu--"


"Ssst...."


"Please...?"


"My HansH, dengarkan aku. Aku tidak ingin hubungan kita menjadi peretak hubungan persaudaraan kalian."


Dia menggeleng. Kasihan sekali. Aku tidak tega melihatnya. Di depan orang lain dia bisa terlihat begitu kuat. Tapi aku tahu, dia rapuh di dalam. Hatinya dipenuhi oleh luka yang sulit untuk disembuhkan.


"Apa kau bisa membuatnya menerimaku? Apa kau mau berusaha untuk itu? Kau mau, kan? Tolong jangan jadikan diriku sebagai perusak hubungan persaudaraan kalian. Aku sangat tahu bagaimana berharganya hubungan persaudaraan. Sebab aku tidak punya saudara kandung. Aku tidak mau hubungan kalian hancur gara-gara aku. Tolong?"


Lagi, HansH tersenyum, tapi matanya tetap menyorotkan kesedihan -- seolah permintaanku adalah hal yang sangat mustahil untuk ia lakukan.


Sungguh, seandainya bisa, ingin kuhapus kesedihan yang ada di sana. Membuatnya menghilang dan tidak pernah kembali. Seandainya bisa....


"Akan kita usahakan. Akan kulakukan apa pun untuk menjaga keluargaku. Aku berjanji. Sekarang tidurlah. Aku akan tetap di sini saat kau bangun."


Pria yang manis....


Aku mengangguk dan memejamkan mata. Tubuhku merinding mendengar dia berbisik di telinga, "Aku mencintaimu, Alisah. Maafkan aku yang sering lalai menjagamu. Tapi aku berjanji, tidak akan kubiarkan lagi masalah datang kepadamu. Aku berjanji."


"Aku percaya padamu, My HansH," gumamku. "Aku juga mencintaimu."


Aku melebarkan tangan kiri di selimut, telapak tangan menghadap ke atas, hangat dalam genggaman yang bersambut.


Terima kasih untuk kesempatan ini, Tuhan. Andai aku bisa selalu membahagiakannya. Beri aku jalan....