Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Super Konyol



Keesokan paginya, aku membuka mata, melirik jam, dan mengeran* perlahan. Jam tujuh. Lagi-lagi aku bangun kesiangan. Lalu, teringat bahwa aku tidak sendirian di kamar itu, plus menyadari aku terbaring tanpa sehelai pakaian pun membungkus tubuh, aku menarik selimut sampai ke dagu dan melirik tempat tidur di sampingku.


Tempat tidur itu kosong.


Apakah HansH sedang keluar, atau di kamar mandi?


Sambil mendesa* lega, aku berusaha untuk duduk tegak, mencengkeram selimut itu di dada. Masih terasa agak ngilu di bagian organ kewanitaanku, dan paha terasa sedikit kaku, aku pun menurunkan kaki ke lantai.


"My HansH?" Aku memiringkan kepala ke satu sisi, mendengarkan. "My HansH, apa kau ada di dalam?"


Ketika tidak ada jawaban, aku turun dari tempat tidur, meraih pakaian *alam baru dan gaunku, lalu, tidak ingin tertangkap basah dalam keadaan polos kalau-kalau HansH kembali, aku pun bergegas ke kamar mandi dan mengunci pintu.


Ya ampun, kuamati pantulan diriku di cermin. Begitu banyak jejak merah yang menghiasi tengkuk leherku. Sebanyak ini? Kapan dia melakukannya? Sewaktu aku sudah terlelap?


Hmm... kugeleng-gelengkan kepala karena keheranan. Aku tak pernah menyangka kalau sosok HansH yang sangat kucintai itu begitu buas pada saat bercinta.


Well, ketika aku keluar tiga puluh menit kemudian, aku masih belum melihat HansH. Sambil bertanya-tanya ke mana suamiku itu pergi, aku melirik ke meja. Sudah tersaji rapi sarapan untuk kami: jus jeruk, kopi, susu pisang, sandwich, dan pai stroberi, berikut selembar surat.


Ada kejutan manis untukmu di bawah selimut. I love you, Sayang.


Ugh... apa itu? Dengan tak sabarnya aku berjalan ke tempat tidur dan membuka selimut....


"Iiiiih... jahil...!" pekikku.


Noda merah di atas seprai putih itu, darah perawanku, dihias dengan kelopak mawar dalam bentuk simbol love di sekelilingnya. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan HansH sendiri? Jahil sekali dia.


"Di mana kau?" teriakku sambil berjalan ke pintu, lalu mendapati HansH cekikikan di luar sana. "Menyebalkan sekali, sih...!"


Aku memberengut, rasa malu karena noda darah di seprai itu tak singgah di hatiku sebab kalakuan HansH yang super konyol. Sambil meredam tawanya, dia melangkah masuk, melepaskan kausnya kemudian memelukku. "Well, maafkan aku. Aku tidak bisa tidak iseng begitu melihatnya tadi. Aku tahu suaramu pasti melengking begitu melihat aku menghiasnya."


"Tidak lucu!"


Nyengir, HansH menggesekkan hidungnya di hidungku. "Tidak masalah. Kalau tidak ingin yang lucu, bagaimana kalau... sesuatu yang menyenangkan, mungkin? Hmm?"


Ah, nada suara HansH ringan dan menggoda, tetapi matanya menggelap ketika tatapannya terarah kepadaku. Aku membasahi bibir yang tiba-tiba terasa kering ketika HansH membelai kulitku.


"Please," kata HansH. Ia menyapukan bibirnya di bibirku. "Aku menginginkanmu." Ia mencium ujung hidungku. "Mengulang kemesraan." Bibirnya mengecup lekuk leherku. "Katakan ya." Tangannya memegang bahuku, menarikku ke arahnya.


Gelisah. Aku kembali ngeri memikirkan rasa sakit yang kurasakan malam tadi, dan rasa ngilu plus kaku yang baru saja pergi saat aku bangun tadi. Tapi tak banyak waktu untuk itu, nyatanya HansH sudah melucuti semua pakaian yang membungkus diriku. Aku kembali polos di hadapannya.


Ya ampun, aku menelan ludah dengan susah payah, tidak sanggup berbicara, tidak sanggup berpikir lagi ketika HansH mendekapku begitu erat, ketika HansH menatapku seperti itu, matanya dipenuhi api dan gairah. Lalu ia menurunkan kepala, menciumku.


Ouch! Aku bersandar padanya. Jelas aku menyukai ini. Tidak mungkin tidak. Puncak dadaku rasanya tergelitik ketika menempel pada dadanya yang keras dan berotot, jantungku berdebar liar. Dan... eummm... lidahnya memasuki mulutku dan aku merasa lututku melemah, tahu bahwa aku akan jatuh ke kakinya kalau ia tidak memegangi bahuku.


Dia tersenyum. "Sudah tidak sakit, kan?"


Aaah... pertanyaan itu. Aku menggeleng, tidak tahu kenapa. Dan aku tersipu-sipu. Kemudian langkah kaki HansH sudah membimbingku, membawaku kembali ke ranjang pengantin kami, dan membuatku terbaring di bawah kungkungan tubuhnya yang besar. Dan sesaat kemudian... celananya sudah melayang ke lantai.


"Sayang?"


"Tidak," katanya, dia menggeleng sambil cengar-cengir, lalu meraih tanganku, menelusurkannya ke bawah.


Argh!


Tanganku gemetar saat jemariku merasakan dirinya yang menegang keras dalam genggamanku, dan HansH semakin cengar-cengir menyadari reaksiku.


"Jangan begitu, My HansH," rengekku. Aku melepaskan tanganku darinya dan spontan menutup wajah dengan telapak tangan. "Jangan menertawaiku. Aku malu...."


Karena reaksiku itu, HansH bangkit, duduk tegak lalu menarikku untuk duduk di hadapannya. Dan aku hanya mampu menunduk.


"Hei, Sayang?" HansH mengangkat daguku.


Kuberanikan diri membalas tatapannya kendati kutahu pipiku pasti merona saking malunya. Bahkan bibirku tak mampu kutahan, senyum tak henti mengembang dengan sempurna. Ini menggelikan, suami istri yang notabenenya adalah sepasang pengantin baru duduk berhadap-hadapan dalam keadaan sama-sama polos. Dan yang lebih lucu lagi menurutku, aku tahu diriku malu, tapi aku tetap saja tak bisa mencegah pandangan mataku melirik-lirik ke arah sana, kepada dirinya yang tadi sempat kurasakan dengan sentuhan jemariku.


Lagi-lagi HansH menertawaiku. "Lihat dan sentuh saja kalau penasaran," katanya, lalu dia menarik tanganku, memposisikan tanganku di area itu.


Hihi! Aku jadi tak bisa menahan tawaku, kendati tanganku kembali merasakan ketegangannya, tapi aku menggeleng. "Ayolah, jangan membuatku semakin malu."


"Begitu? Bagaimana kalau sekarang?" HansH menyentuh lalu membelai dadaku.


Aku mendelik, dan sekarang tak hanya merah, kurasakan panas di wajahku karena kelakuan konyol HansH yang membuatku semakin tersipu malu. "Ini tidak lucu...," lengkingku.


Dalam kelebat detik yang cepat, HansH menutup jarak di antara kami dan ia menundukkan kepala, membenamkan wajahnya di dadaku dan kurasakan diriku tersesat dalam kehangatan *sapannya.


"Ya Tuhan, My HansH... ouch!"


Aku terbaring. Persis di saat itu HansH semakin menggila. Dia menyerangku tepat di inti diriku. Aku menggelia*, tak henti memekik karena kebuasan suamiku yang super konyol itu hingga terbahak-bahak setelahnya.


Ya ampun, aku terengah-engah, kehabisan napas. "Dasar gila!" sungutku.


"O ya? Akan kutunjukkan apa yang lebih gila."


Euwwwww...! Melihat cengiran di wajah HansH membuatku antisipasi dari serangan lanjutan-nya, jadi, refleks aku menelungkup, bermaksud melindungi diriku dari kejahilannya. Tetapi...


"Oh...!"


My HansH... dasar! Seperti kucing jantan, pria itu menggigit punggungku sementara kedua tangannya menyelinap ke bawah, menangkup dada, bergerilya dengan kekuatannya. Aku mengeran*, sungguh tak mampu lagi kutahan. Dan... kemudian...


Ugh! Jelas kurasakan, perlahan ia masuk dan menyatu denganku. Memenuhi ruang-ku. Hangat, dan sungguh terasa nikmat.


Ya ampun... aku bergidik gemetar.


"Sekarang katakan, apa kau menyesal menikah denganku?"


Tentu saja tidak, aku tidak pernah menyesal menjadi istrinya, sekalipun dia pria terkonyol sedunia....