
Aku dan HansH hidup bahagia -- setidaknya itu yang kurasakan dalam rumah tangga kami meski tak bisa kupungkiri terkadang terselip rasa tidak sempurna. Tapi, aku dan HansH berusaha untuk saling melengkapi satu sama lain. Tidak menunjukkan bahwa ada yang kurang, dan tidak pernah mengatakannya. Selain mungkin suatu hari kami akan mengadopsi anak, satu atau dua bayi-bayi mungil yang cantik, tampan dan lucu, kami tidak pernah membahas lagi soal ketidaksempurnaan itu.
Yah, benar. Kami berencana akan mengadopsi anak suatu saat nanti. Entah kapan, tapi rencana itu ada dan kami pernah membahasnya pada suatu malam sebelum tidur. Bukan pembahasan yang panjang. Hanya saja saat itu HansH bertanya kepadaku apa aku bersedia jika suatu hari nanti kami mengadopsi anak untuk kami asuh dan membagi kasih sayang kami sebagai orang tua. Dan kukatakan kalau aku bersedia. Kenapa tidak? Tapi itu rencana di masa depan, suatu hari nanti. Entah kapan. HansH bilang, tunggu saja takdir yang menunjukkan kapan tiba saatnya yang tepat. Jadi, saat ini, kami menjalani kehidupan dengan bahagia. HansH membahagiakan aku, dan aku membahagiakannya. Itu sudah cukup. Meski masih ada secuil perih, ataupun seperti bongkahan besar, toh aku dan HansH berhasil melalui hari-hari kami dengan canda dan tawa yang melambangkan kebahagiaan. Tentu saja, kami rutin bercinta.
Sampai akhirnya hari raya Idulfitri itu tiba dan sesuai kesepakatan bersama, kami kembali ke Birmingham. Situasi di mana aku mesti bertemu kembali dengan Sheveni, dan Kak Sanjeev -- sebagai seorang ipar.
Tidak perlu kujelaskan bagaimana pertemuan pertamaku dengan Sheveni saat kami tiba. Seperti sebelumnya, Sheveni masih membenciku. Dia memeluk kakaknya erat-erat, menuntaskan kerinduan, tetapi denganku, sama sekali tidak. Beda halnya dengan Kak Sanjeev, ia sedang tidak berada di rumah saat kami tiba. Jadi, aku baru bertemu dengan Kak Sanjeev tepat pada malam harinya, saat dia sengaja datang untuk menemuiku yang tengah sendiri. Tanpa suara, salam, atau sapaan apa pun, ia mengetuk pintu paviliun HansH yang sekarang juga paviliunku.
Jujur saja, aku memikirkan momen pertemuan kembali ini berulang-berulang sejak pertama kali aku mengemas pakaian kami ke dalam koper, atau bahkan sejak HansH memesan tiket pesawat untuk kami berdua. Aku membayangkan -- berulang kali -- bagaimana Kak Sanjeev akan bersikap di hadapanku pada saat kami kembali bertemu, bahwa aku: yang selama ini sebagai saudarinya sekaligus gadis yang sudah begitu blakblakan menyatakan cinta kepadanya malah menikah dengan saudaranya, sekaligus orang yang pernah sangat ia benci.
"Zia."
Aku terlonjak lalu mendongak dan mendapati Kak Sanjeev yang jangkung berdiri di hadapanku. "Hai, Kak."
"Bagaimana kabarmu? Kau bahagia, kan?"
Aku mengangguk. "Ya. Aku... aku baik-baik saja, Kak. Dan, aku bahagia. HansH suami yang baik."
Aku mengangguk. "Maaf aku tidak bicara padamu sebelum... aku menikah."
Dia mengedikkan bahu. "Tidak perlu. Aku mengerti situasimu. Dan... kau memang punya hak untuk melakukan apa pun yang kau mau. Aku hanya berharap kau selalu bahagia. Sebagaimana harapan seorang kakak untuk adiknya."
"Aamiin. Terima kasih."
Itukah yang terbaik yang dapat kulakukan? Ketegangan di antara kami begitu menyiksa dan asing, dan perasaan terpisah yang kurasakan terhadapnya menyerupai tembok setinggi 2,5 meter.
"Sama-sama." Dia memandangiku beberapa saat, lalu, tak disangka-sangka, ia mencondongkan tubuh untuk sesuatu yang, mungkin saja, merupakan pelukan paling canggung di dunia. "Selamat malam."
Menghela napas dalam-dalam untuk melawan gemetar kakiku, aku menutup pintu dan menghempaskan diri ke tempat tidur. Menyelinap ke balik kehangatan selimut.
Oh, Tuhan... andaikan saja ia adalah kakak kandungku, pasti tidak akan secanggung ini rasanya.
Sekarang pertanyaannya, bisakah aku mengatasi situasi yang canggung ini?