Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Ketulusan



Mengaku. Itulah yang kulakukan. Sebagaimana niatku, aku benar-benar tidak akan mundur lagi. Tidak akan.


"Alisah, jangan bercanda. Apa maksudmu? Bicaralah yang jelas pada Bibi. Bibi tidak mengerti. Bagaimana mungkin? Maksud Bibi, wajah ini...? Wajahmu...? Kau sama persis dengan Alisah. Apa kau kembarannya?"


Kuhela napas dalam-dalam dan aku menatap Bibi Heera lekat-lekat, meyakinkannya supaya ia percaya bahwa aku bicara serius. "Aku bukan kembaran Alisah. Aku orang lain. Aku...." Aku mulai tersedu-sedu. "Aku... aku adalah Zia, aku adik angkat Kak Sanjeev. Ibu Kak Sanjeev mengadopsiku sejak aku kecil, sejak aku berusia empat tahun. Aku serius, Bi. Aku bukan Alisah."


Tercengang. Bibi Heera menggeleng lagi kebingungan. "Kau bilang kau...? Kau adiknya Sanjeev? Kau anak angkat kakak iparku? Kau berpura-pura menjadi Alisah, begitu? Kenapa? Karena permintaan Sanjeev? Atas permintaan Sanjeev? Untuk membalaskan dendamnya pada HansH? Begitu, Alisah?"


Aku mengangguk. "Kak Sanjeev depresi, Bibi. Mentalnya terganggu," ujarku, sebelum Bibi Heera punya kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lebih lanjut, aku sudah menandaskannya. "Kak Sanjeev pernah melukai dirinya sendiri karena putus asa. Aku tidak sanggup melihatnya melukai dirinya sendiri. Dia... dia sering mabuk-mabukan, lalu... dia pernah menenggelamkan dirinya di kolam. Dia juga pernah menggores-gores tangannya dengan kaca. Aku tidak sanggup menyaksikannya, Bi. Aku tidak sanggup. Sebab itu aku terpaksa menuruti semua permintaannya. Aku berjanji akan membantunya membalas dendam. Bahkan... aku terpaksa setuju saat dia memintaku untuk mengoperasi wajahku dan mengubah identitasku. Wajah ini hanya hasil operasi yang terpaksa kulakukan."


"Kau...? Operasi wajah?"


"Terpaksa. Aku melakukannya demi Kak Sanjeev."


"Ya Tuhan... keponakanku, dan kau... kasihan sekali kalian, Nak. Dan kau terjebak--"


"Tapi aku terlanjur mencintai HansH, Bi. Aku tidak sanggup menyakiti HansH. Niatku sudah tidak sama. Aku tidak ingin lagi mengikuti keinginan Kak Sanjeev, membantu Kak Sanjeev membalas dendam, aku tidak mau. Aku mencintai HansH, tapi Kak Sanjeev malah memintaku untuk menikah dengannya. Aku tidak akan sanggup memenuhi keinginan Kak Sanjeev. Tidak untuk membalas dendam dan tidak untuk menikah dengannya. Sebab itu aku ingin pergi. Aku... aku ingin menjauh dari Kak Sanjeev dan HansH. Tidak untuk bersama keduanya. Aku ingin pergi, Bi. Tolong biarkan aku pergi. Aku mohon?"


Bibi Heera menggeleng. "Tapi HansH...."


"Maaf, Bibi. Aku tidak bisa bersama HansH demi tidak menyakiti hati Kak Sanjeev. Dan aku juga tidak akan bersama Kak Sanjeev demi tidak menyakiti HansH. Aku memilih pergi, walau aku harus menyakiti hati keduanya. Tolong izinkan aku pergi. Aku mohon?"


Tak kuasa. Bibi Heera mengangguk. "Pergilah," katanya. "Kau tenangkan dirimu. Tapi Bibi mohon, di mana pun keberadaanmu, kabari Bibi selalu, ya?"


Tapi aku menggeleng. Aku merasa aku tidak akan sanggup untuk itu.


"Hei, dengarkan bibimu ini, kau boleh menutup diri dari semua orang. Bibi mengerti atas keputusanmu. Dan kau berhak untuk pergi demi menenangkan diri. Tapi, Sayang, Bibi tidak akan tenang kalau kau menghilang tanpa jejak. Setidaknya, jangan lakukan itu pada bibimu ini, ya? Bibi tidak akan memberitahu siapa pun. Bibi berjanji. Bibi hanya ingin memastikan di mana pun kau berada, kau dalam keadaan baik-baik saja. Hanya itu. Jadi, please, Bibi mohon, kau mau berjanji untuk menghubungi Bibi, kan? Aku ini bibimu. Kau anak kakak iparku, artinya kau adalah keponakanku. Bahkan, please, anggaplah Bibi ini sebagai ibumu sendiri, hmm?"


Ya Tuhan... aku tak percaya akan mendengar Bibi Heera mengatakan semua hal itu kepadaku. Bukannya akan menghakimi aku, dia justru bersikap baik kepadaku. Menganggapnya sebagai ibuku sendiri?


Terharu. Aku menghambur ke pelukannya. Menangis, tapi bahagia. "Terima kasih, Bi. Terima kasih."


Dia mengangguk. Membalas pelukanku begitu erat. Setelah itu, dia bahkan mencium keningku, menyeka air mataku meski matanya sendiri basah oleh bulir bening itu. "Bibi sayang padamu. Dan... Bibi ingin mengucapkan terima kasih karena selama ini kau sudah mengurusi keponakan Bibi. Itu benar, kan? Kau tidak akan melakukan pengorbanan besar untuk Sanjeev kalau kau tidak menyayanginya. Meskipun... itu adalah hal yang salah, tapi Bibi berusaha melihat dari sudut pandangmu, terima kasih, Nak. Terima kasih."


Aku hanya bisa mengangguk tanpa bisa mengatakan apa pun. Malah, air mataku berjatuhan semakin deras.


Kuanggukkan kepala kepadanya. "Apa?"


"Kau ingin pergi ke mana?" Dia menggenggam tanganku erat, dengan rasa sayang.


Lagi, aku menggeleng. "Aku belum tahu," kataku. "Mungkin dalam perjalanan nanti aku akan memikirkannya. Tapi yang pasti aku akan meninggalkan negara ini, Bi. Entah aku akan pulang ke India, atau mau pergi ke negara mana, aku masih belum tahu. Yang pasti aku ingin meninggalkan Inggris."


"Baiklah kalau begitu. Ayo, Bibi antar ke bandara."


Eh?


Jelas aku terkejut, ingin menolak meski tak terutarakan.


"Jangan takut. Bibi akan mengantarmu ke bandara, bukan membawamu pulang. Bibi hanya ingin memastikan kau aman. Oke?"


Oh Tuhan... mulia sekali hati wanita di hadapanku ini. Andai dia benar-benar ibuku, betapa beruntungnya aku. Bibi Heera benar-benar tulus ingin mengantarku ke bandara.


Hari itu, waktu aku mengucapkan selamat tinggal kepada Bibi Heera, aku tahu dia tetap berusaha meyakinkan aku untuk tetap menjaga kontak dengannya. Tapi aku juga tahu kalau ia ragu kalau aku akan memenuhi permintaannya. Meski aku berkata pada Bibi Heera bahwa aku akan tetap menjaga kontak, tetapi aku tahu ada kemungkinan itu tidak akan kulakukan -- aku tak sanggup. Sebenarnya, jika hubungan antara aku dan kedua keponakan Bibi Heera tidak serumit ini, aku berniat meneleponnya secara rutin, untuk mengetahui keadaannya, sekaligus untuk meneruskan semacam hubungan kekeluargaan. Aku membutuhkannya, sosok yang bijak seperti dirinya. Tetapi aku sangsi, aku tidak cukup percaya bahwa Bibi Heera bisa menahan diri untuk tidak memberitahu HansH ataupun Kak Sanjeev bahwa kami berdua masih terus berkomunikasi. Dia seorang Bibi yang sangat menyayangi keponakan-keponakannya, jadi kemungkinan ia tidak akan sanggup menyimpan rahasia tentangku dari keponakan-keponakannya itu.


Lagipula semua orang pasti akan tetap tahu ke negara mana aku pergi. Ah, andai saja aku bisa pergi ke negara lain dengan transportasi pribadi, aku bisa benar-benar menghilangkan jejakku dari semua orang yang akan menjadi bagian dari masa lakuku.


"Alisah?"


"Zia, Bi."


"Oh, iya. Maaf, Bibi belum terbiasa."


Aku mengangguk.


"Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa kabari Bibi, kalau tidak bisa langsung, minimal setelah kau bisa menenangkan dirimu di negara asing, segera berikan kabar. Oke? Bibi sayang padamu."


Oh... Bibi Heera memelukku erat untuk terakhir kali.


Terima kasih, Bi. Terima kasih....