
Sehari setelah kepulangan kami dari London, boro-boro bisa meluangkan waktu untuk bertemu dan bicara empat mata dengan Kak Sanjeev, Bibi Heera malah sudah lebih dulu meminta waktuku. Dia bilang padaku bahwa dia ingin mengajakku ke suatu tempat yang istimewa. Dan, katanya, dulu dia sering sekali bepergian dengan Alisah untuk mengunjungi tempat-tempat bernuansa Islami. Disebabkan tidak memiliki keponakan perempuan dengan keyakinan yang sama, maka Alisah-lah satu-satunya yang bisa ia ajak pergi. Dan sekarang aku -- yang tidak enak hati untuk menolak, mau tidak mau aku pun bersedia ikut pergi bersamanya.
Dikawal oleh beberapa orang bodyguard, aku dan Bibi Heera segera meluncur ke tempat tujuan, dia mengajakku ke Masjid Central Birmingham. Kata Bibi Heera, selain sekadar jalan-jalan untuk menyejukkan hati, Bibi Heera ingin menemui seseorang di sana. Aku tidak tahu siapa, ada keperluan apa, atau bicara apa Bibi Heera dengan orang itu, tetapi akhirnya aku merasa bahwa itu bukanlah tujuan utama Bibi Heera datang ke sana, melainkan ada maksud lain.
Awalnya aku tidak tahu apa pun, Bibi Heera mengajakku untuk berkeliling masjid sambil membahas masa lalu tentang ia dan Alisah, bagaimana Alisah yang dulu sangat dekat dengannya dan sangat cocok dalam urusan apa pun, terutama dalam hal pendalaman ilmu agama.
"Bahkan kita sudah berencana untuk umrah bersama setelah pernikahanmu dan HansH."
What...? Ya ampun, kerongkonganku tiba-tiba terasa kering sekali. "Umrah, Bi?"
"Ya, Sayang. Sekalian, kalian bisa berbulan madu setelahnya."
Oh Tuhan, aku tidak akan sanggup menempuh perjalanan itu. Tidak dengan kebohongan yang masih kugenggam dalam tanganku. Bagaimana mungkin aku bisa?
"Tapi sayangnya Bibi sudah pergi umrah tahun lalu. Yeah, sangat disayangkan, kita tidak bisa pergi bersama karena... kau mengalami kecelakaan."
Oh... syukurlah. Jujur saja aku lega, setidaknya rencana itu tidak akan direalisasikan dalam waktu dekat, pikirku. Kalau hanya pergi dengan HansH, aku yakin aku bisa menunda rencana itu. "Tidak apa-apa, Bibi. Mungkin suatu saat nanti rencana kita akan terealisasi." Tapi nanti, jika hidupku sudah lepas dari semua kebohongan.
"Yeah, semoga, semoga sesegera mungkin, sesegera pernikahan kalian yang membuat Bibi tidak sabar. Dari dulu Bibi sangat bahagia atas hubunganmu dengan HansH," kata Bibi Heera. "HansH sangat mencintaimu, dan setelah kalian bertemu kembali, Bibi merasa HansH seolah menemukan kembali gairah hidupnya. Apalagi mengingat sebentar lagi kalian akan menikah, HansH sangat antusias."
Aku tersenyum mendengarnya, tetapi sesungguhnya hatiku mulai resah. Dengan membahas-bahas hal-hal yang ada sangkut-pautnya dengan keagamaan, aku mulai berpikir jangan-jangan Bibi Heera ingin menegurku karena kenakalanku dan HansH belakangan ini.
"O ya, Nak, bicara tentang pernikahan kalian, dulu kalian sepakat untuk menikah di masjid, di rumah Tuhan. Dan, kau serta HansH sudah menentukan masjid pilihan kalian. Tapi tidak tahu sekarang, apakah niat kalian masih sama? Apa kau dan HansH sudah membahasnya?"
Tidak. Aku tidak ingin menikah di masjid. Aku ingin pernikahan sederhana saja, dilangsungkan di rumah saja.
"Kenapa, Alisah?"
Aku menggeleng. "Tidak apa-apa, Bi. Cuma... emm... aku dan HansH sudah sepakat, kami akan menyelenggerakan pernikahan yang sederhana, di rumah saja sudah cukup."
"Oh, begitu, baiklah. Bagaimana mau kalian saja." Bibi Heera melihat ke dalam masjid, lalu tersenyum dan mengajakku untuk masuk, kami duduk di pojokan dekat pintu masuk dan Bibi Heera mengeluarkan sebuah Al-Qur'an kecil dari tas tangannya. "Kau masih ingat ini apa? Amnesiamu tidak membuatmu lupa pada benda ini, kan?"
Aku mengangguk, dan sekarang aku bertambah gelisah dengan kegelisahan yang sepenuhnya berbeda. Bibi Heera menyinggung soal ingatanku, aku mulai berpikir apa dia tahu sesuatu tentangku? Apa dia tahu kalau aku hanya pura-pura lupa ingatan?
"Kau mencintai HansH?"
"Emm?" Keningku mengerut. "Kenapa tiba-tiba Bibi menanyakan... soal ini?"
"Jawab saja, Alisah, ya atau tidak. Berikan jawaban yang jujur pada bibimu ini."
Aku menelan ludah. Perasaanku jadi semakin tidak tenang. "Ya, Bi," kataku seraya mengangguk. "Aku sangat mencintai HansH."
"Maka bersumpahlah di bawah Al-Qur'an kalau kau akan menjawab semua pertanyaan Bibi dengan jujur."
Deg!
Apa ini? Apa ini jebakan?
"Alisah?"
"Bersumpahlah, supaya Bibi tidak meragukan dirimu. Bibi ingin menanyakan beberapa hal lagi padamu."
Apa yang akan kau lakukan jika kau berada di posisiku? Apa kau ingin kabur begitu saja, atau justru kau akan bersumpah dengan segala konsekuensi mesti menjawab segala pertanyaan yang tak terduga?
Aku memilih bersumpah, aku mengambil risiko, apa pun pertanyaan yang akan Bibi Heera ajukan kepadaku, maka aku akan menjawabnya. Kutaruh Al-Qur'an di atas kepalaku dan aku melafazkan sumpah dengan takzim. "Aku bersumpah, aku akan menjawab semua pertanyaan Bibi dengan jujur."
Yap, entah saat itu aku sudah sepenuhnya percaya pada Tuhan yang sama ataukah tidak, tetapi aku sama sekali tidak bermaksud beramain-main dengan sumpahku apalagi dengan kitab suci suatu agama. Aku tidak akan berani.
"Jadi apa yang ingin Bibi tanyakan padaku?"
Bibi Heera tersenyum. "Kau percaya pada HansH, kan? Kau akan selalu percaya padanya meski dunia berkata buruk tentang dirinya?"
Aku mengangguk. "Ya, tentu, Bibi," kataku. "Aku akan selalu percaya pada HansH seperti HansH percaya padaku. Aku juga tidak akan pernah meragukan HansH."
"Kau akan menjadi istri yang baik untuk HansH, kan? Kau akan selalu jujur, mencintai dan menyayangi dirinya beserta semua anggota keluarganya, ya kan, Alisah?"
Lagi, aku mengangguk. "Ya, Bi. Aku bersumpah, aku akan selalu mencintai dan menyayangi HansH beserta semua anggota keluarganya. Dan... soal menjadi istri yang baik untuk HansH, aku akan belajar, Bi. Akan kuusahakan. Aku akan selalu berusaha menjadi istri yang terbaik untuk HansH. Aku berjanji pada Bibi."
"Bagaimana dengan kejujuran? Kau akan selalu jujur, kan, Alisah?"
Sekarang apa? Aku jelas berbohong. Apa aku harus mengungkapkan semua kebenaran itu sekarang? Tentang siapa aku sebenarnya?
"Alisah?"
"Emm... ya, Bi. Mulai sekarang dan seterusnya, terlepas dari semua yang terjadi di masa lalu, aku hanya akan berkata dan bertindak jujur. Aku tidak akan berbohong apa pun." Tapi di saat aku tidak bisa jujur, maka aku hanya akan diam.
"Baiklah. Kalau begitu kita uji kejujuranmu sekarang, jawab ya atau tidak, hanya ya atau tidak. Diam bukanlah jawaban. Kau paham? Jangan hanya diam karena Bibi tidak akan menerima kebungkamanmu. Oke?"
Untuk ke-sekian kali aku mengangguk. Aku semakin gelisah menghadapi Bibi Heera.
"Alisah, tolong katakan...?"
"Katakan apa, Bi?"
"Siapa sebenarnya Sanjeev?"
Deg!
Ya Tuhan...?
"Apa dia keponakanku, anak dari kakakku?"