
Faktanya, dalam sekejap aku mendapatkan sekaligus kehilangan: dirinya dan cintanya yang kuharapkan selama ini, sebab sekarang perasaanku bagaikan hilang begitu saja. Hanya tersisa rasa sakit hati yang teramat. Pengungkapan Kak Sanjeev yang begitu mengguncang nyaris membuat tungkaiku lemas. Merasakan arus gelombang emosi yang kuat di dalam diriku, kutundukkan kepala lalu mulai beranjak. Berjalan dengan cepat, aku tidak melihat tonjolan akar pohon yang hampir tidak kelihatan di antara rerumputan dan kakiku tersangkut, membuatku tersandung dan terjerambab ke tanah, di atas rerumputan itu.
"Zia, maafkan aku." Kak Sanjeev mengulurkan tangan. "Ayo, bangun."
Berlari. Itu satu-satunya yang mesti kulakukan sekarang. Aku tidak akan sanggup berada di dekat keramaian dan membiarkan orang-orang melihat air mataku dan mempertanyakan keadaanku.
Pelarianku membawaku tiba di halaman yang gelap nan beku, kendati lampu-lampu dari pepohonan menyorotkan kilau pelangi melintasi lapangan rumput berlapis es di dekat bangku besi hijau yang diletakkan di antara dua pohon beech tua. Aku duduk di sana dan dapat kurasakan napasku terasa sesak. Namun sayang, Kak Sanjeev sudah kembali ada di hadapanku padahal aku butuh waktu beberapa saat untuk menormalkan kembali keadaanku. Aku butuh waktu untuk sendiri, dan harusnya dia mengerti itu.
"Maafkan aku, Zia," katanya, Kak Sanjeev duduk berlutut di hadapanku dan menaruh satu tangannya di atas tanganku. Dia mendongak dan menatap mataku lekat-lekat. "Aku tahu aku egois. Tapi dendam itu sudah terlanjur menguasaiku. Saat ini, menghancurkan HansH adalah gairah dalam hidupku. Demi kedamaian ibuku dan Alisah. Hanya dengan itu aku bisa melanjutkan kembali kehidupanku, tanpa merasakan beban apa pun lagi."
Aku mengusap air mata dengan tangan kiri. "Aku mengerti," kataku. "Tapi--"
"Kalau kau mengerti kau harus setuju dengan caraku," potongnya cepat tanpa memberiku cela untuk bicara. "Kau mengerti itu, kan? Dengarkan aku, seperti yang tadi kukatakan, gadis lain tidak akan bisa mendekati HansH. Hanya Alisah yang bisa, karena HansH menginginkan Alisah. Alisah adalah cintanya, hasrat dan gairahnya. Kau tahu, dia sangat terobsesi pada Alisah. Dan hanya kau, satu-satunya gadis yang memiliki apa yang dimiliki oleh Alisah, selain wajahnya. Kau lihat dirimu, dari postur tubuhmu ini, tinggimu dan bentuk tubuhmu, kau sama persis dengan Alisah. Warna dan gaya rambutmu, warna kulitmu, bahkan matamu yang indah, semuanya sama persis dengan yang Alisah miliki. Bahkan kau memiliki senyuman yang sama menawannya dengan Alisah. So, please, hanya butuh sedikit perubahan dan kau akan memiliki wajah Alisah di wajahmu. Sedikit saja."
Aku menggeleng. Aku tidak akan bisa menerima semua ini, Kak.
"Dengarkan aku, Zia. Sulit untuk menemukan gadis sesempurna dirimu untuk menjadi Alisah. Kita bukan berada dalam cerita sinetron di mana sutradaranya sangat bodoh menjadikan dua orang yang sangat berbeda menjadi satu karakter setelah adegan operasi. Itu bodoh. Dalam kenyataan itu tidak akan bisa diterima, tidak masuk akal. Tapi kau, hanya dengan mengoperasi wajahmu, kau akan menjelma seperti Alisah, duplikat yang sangat sempurna. Tentu saja, kecuali suaranya, tapi itu tidak penting. Katakan saja pita suaramu terganggu setelah kau mengalami kecelakaan. Maka tidak akan ada orang yang akan mencurigaimu, termasuk HansH. Aku yakin itu. Dan kau bisa mengatakan kalau kau mengalami amnesia supaya posisimu tidak sulit dalam menjalankan peran ini. Oke?"
Kau tahu, Kak, kau sangat menyakiti hatiku.
"Zia... aku mengerti ini akan sangat berat. Tapi coba lihat dari sisi baiknya. Kalau orang lain yang memiliki wajah Alisah, maka aku hanya akan mendapatkan wajahnya, tidak dengan hati yang mencintaiku. Tapi kalau kau yang memiliki wajah itu, tidak hanya wajah barumu, tapi juga hatimu, semua akan menjadi milikku. Apa aku benar?"
Salah. Kau salah besar. Kau bisa saja memiliki hatiku dan wajah mendiang kekasihmu, tapi yang kau lakukan jelas salah besar.
"Kau tidak ingin membantuku? Kau tidak ingin berjuang bersamaku? Bagaimana dengan sumpahmu? Kau ingin mengingkarinya?"
Aku terdiam.
"Jawab aku, Zia."
"Kakak...."
"Katakan."
"Aku tahu, kau adalah dirimu sendiri. Tapi aku juga tahu kalau HansH tidak akan berpaling kepada wajah ini. Tidak akan!"
Oh Tuhan... dia bersikeras.
"Siapa yang tahu? Aku sudah tiga kali bertemu dengannya, dan dia--"
"Dia tidak melihat wajahmu. Yang dia lihat hanyalah matamu."
"Setidaknya itu bagus, kan? Dia tertarik dengan mataku."
"Bukan. Kau salah, Zia. Kau salah! Dia hanya menatap mata yang sama dengan mata Alisah."
"Ya, siapa tahu... bisa saja diawali dengan mata yang sama. Mungkin setelah dia melihat wajahku, tidak harus dengan wajah Alisah, mungkin saja dia akan tertarik dengan wajahku."
"Baiklah." Kak Sanjeev berdiri. "Kalau begitu mari kita buktikan. Besok kau coba berada di sekitar HansH, tanpa masker, tanpa suara, dan tanpa memperkenalkan diri. Kita lihat, apa dia akan mengabaikanmu atau justru menyadari keberadaanmu. Hanya satu kesempatan. Jika ya, maka kau bisa mendekatinya dengan wajah ini. Tapi jika tidak, jangan membuang waktu lebih banyak, kau tahu solusiku adalah yang terbaik. Tapi jika kau tidak ingin membantuku, maka baiklah. Lupakan semuanya. Lupakan semua yang sudah kukatakan, dan juga sumpahmu. Lupakan saja sumpahmu itu."
Hancur, merasa gagal, dan gemetaran, aku mengawasinya menoleh untuk terakhir kali ke arahku sebelum menghilang ke dalam. Megap-megap meneguk udara dingin ke dalam paru-paru, aku melorot ke rerumputan di bawah kakiku, membenamkan kepala ke kedua tangan.
Pedih yang kurasakan, kusadari perlahan-lahan, memang menyakitkan, tapi aku perlu membuktikan kepada Kak Sanjeev bahwa HansH akan menerima wajahku. Mungkin tidak seinstan jika aku memiliki wajah Alisah, tapi walau perlahan, dimulai dengan pertemanan, aku akan berusaha membuat HansH menerimaku ke dalam kehidupannya hingga aku bisa memasuki rumah Mahesvara. Aku akan berusaha, Kak. Demi membalas cinta ibu yang telah merawatku, akan kulakukan apa pun untukmu, seperti janjiku kepadanya.
Merasa cukup dengan air mataku, aku memutuskan untuk kembali ke pesta. Mungkin ini Natal terburuk bagiku, tapi kemalanganku tidak mesti dirasakan oleh orang lain. Kecuali Neha.
Yeah, yang satu-satunya kuinginkan saat ini adalah bersama Neha. Melebur semua kesedihanku dalam pelukannya.
"Hei, ada apa denganmu? Bukankah kau dan Kak Sanjeev sudah berbaikan? Kalian sudah baik-baik saja, kan?"
Tapi aku tidak bisa berkata apa pun. Walau aku tetap ingin mencoba syarat dari Kak Sanjeev dalam satu kesempatan, tapi aku tetaplah takut kalau aku akan kalah dan harus merelakan hidupku untuk Alisah yang baru.
Aku takut kalau ini kebersamaan kita yang terakhir, Neha. Karena jika aku harus menjadi Alisah, itu berarti aku harus meninggalkan kehidupan lamaku. Termasuk dirimu, sahabatku.