Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Akhirnya....



Sah dan halal. Dua status yang kunanti-nantikan itu akhirnya menjadi kenyataan. HansH dan aku akhirnya terikat dalam hubungan suci pernikahan. Dan kendati kami berdua tersenyum bahagia, air mata tetap tak terhindarkan, membuat mata kami berkaca-kaca, dapat kurasakan betapa kebahagiaan membuncah di hatiku. Lalu, ketika perlahan-lahan, nyaris dengan hormat, HansH mengangkat kerudungku dan memelukku, ia menunduk dan menatapku lekat-lekat selama beberapa detik, seakan ia ingin mengenang saat ini selamanya, dengan mata kelamnya yang sarat dengan cinta dan janji abadi. Lalu, kemudian...


Uuuuh... malu...


Aku tahu pipiku seketika memerah. Sungguh, kebahagiaan itu tak terkira. Kelopak mataku bahkan bergetar terpejam dan semua hal terlupakan begitu HansH menciumku untuk pertama kali sebagai suami.


"Eummmmmmm...."


Aku nyaris kehabisan napas, kakiku pun agak gemetar karena ciuman itu. Kehangatan bibir HansH, ketepatan berdiri di dalam pelukanku di depan teman-teman dan keluarga, memenuhiku dengan perasaan damai yang tidak pernah kuketahui sebelumnya. Lengan HansH semakin erat memelukku. Dan rasanya, diriku ini -- tubuhku, terasa begitu pas di dalam pelukannya, seolah terpahat khusus untuknya, dan ia menciumku dengan sepenuh cinta di hatinya, sulit dipercaya bahwa aku sekarang telah menjadi miliknya, dan dia sudah menjadi milikku, seutuhnya. Di belakangku, kurasakan tangan HansH membelai mesra sepanjang punggungku, lalu merayap ke leher, dan ia menyelinapkan jemarinya ke helaian rambutku. Memperdalam ciuman, sehingga... yang terasa hanyalah sentuhan bibirnya di bibirku. Hangat, menyenangkan, dan mendebarkan.


Ya ampun, pipiku terasa kebas menyadari situasi di sekelilingku. Seluruh anggota keluarga dan teman-teman kami berdiri dan bertepuk tangan, lalu berkerumun ingin memberi pelukan, berfoto, berikut ucapan selamat kepada kami berdua. Sedikit air mata bahagia kembali menetes di sudut mataku.


"Ini baru babak awal, Sayang," HansH berbisik. "Aku akan membuatmu lebih bahagia lagi setelah ini."


Oh... dia paling bisa membuat semburat merah di pipiku menyala liar. Kata-katanya membuatku memikirkan momen malam pertama kami, di dalam kamar pengantin kami, tentang kebahagiaan itu. Tetapi...


Bagaimana caranya aku harus memulai, masih ada satu rahasia yang belum kujelaskan kepada HansH, perihal keperawananku yang sebenarnya belum terenggut. Bagaiamana aku memulainya nanti?


"Bahagia?" tanyanya. Senyumnya meluluhkan hatiku.


"Itu juga yang kurasakan." Tatapan HansH membelaiku. "Sekarang aku sedang memikirkan bagaimana caranya supaya aku bisa secepatnya membawamu pergi dari sini?"


Ckckck! Aku tergelak.


"Kau benar-benar tidak sabar? Hmm?"


"Tentu saja. Bagaimana bisa sabar? Kau sudah menjadi istriku yang sah. Justru... aku ingin segera menyingkir dari sini."


"Segara, My HansH," gumamku, sengaja aku merema* lengannya yang berada dalam genggamanku, dalam gandengan tanganku.


Sejujurnya aku pun ingin segera pergi. Namun sisa siang itu mesti tetap kami lewati. Ada resepsi, diikuti dengan acara makan-makan bersama keluarga dengan hidangan yang cukup mewah, lalu berdansa dan tak lupa ada sesi pemotongan kue dan sesi foto-foto keluarga. Di antara semua itu, aku mendapati diriku menghitung waktu sampai aku bisa sendirian bersama HansH.


Yeah, jangankan nanti, bahkan sekarang, di sepanjang acara, aku dan HansH sudah saling menyentuh setiap kali ada kesempatan, tidak bisa percaya bahwa kami berdua adalah sepasang suami istri, bahwa kami akan menghabiskan sisa hidup kami bersama. Dan aku akan menyerahkan kesucianku sebagai seorang wanita kepadanya, suamiku.


Dia pasti akan bahagia, kan, saat mendapati diriku belum pernah tersentuh? Semoga dia mau mengerti alasanku....