Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Kasih Sayang



Kak Sanjeev sangat menyayangiku. Terbukti, demi aku Kak Sanjeev bersedia mendonorkan darahnya untuk HansH meski ia tetap tidak bisa menerima perlakuan HansH terhadapku. Dan berkat pertolongannya, HansH bisa melewati masa kritisnya. Ia selamat dari kecelakaan maut itu meski butuh waktu lama untuk penyembuhan kakinya, dan kata dokter ia mesti melewati serangkaian terapi sekitar satu tahun untuk bisa kembali berjalan normal tanpa bantuan tongkat.


"Terima kasih," ucapku sambil memeluk Kak Sanjeev sewaktu ia setuju untuk mendonorkan darahnya. Aku menangis sesenggukan namun begitu aku sangat bahagia. "Kau Kakak yang terbaik," pujiku. "Kakakku yang terbaik. Terima kasih, Kakak."


Tapi ia justru merasa kesal. Dipeluknya aku kuat-kuat seakan-akan ia ingin mematahkan tulang-tulangku. Dan dia menangis. "Tapi kau bukan adik yang terbaik," ujarnya. "Kau tidak membagi penderitaanmu denganku. Bagaimana kau bisa membiarkan aku menjadi seorang kakak yang tidak berguna? Bukan karena aku pernah melakukan kebodohan, aku jadi tidak akan peduli lagi padamu. Tidak begitu, Zia. Aku tetap kakakmu. Apa kau ingin ibu dan ayah kecewa karena aku tidak bisa memastikan adikku hidup bahagia? Hmm? Kau jahat kepadaku."


"Teruslah bicara lebih panjang lagi. Aku suka mendengarnya. Aku suka kalau kau memarahiku karena sayang."


Tangis Kak Sanjeev menjadi tawa. "Aku sedang mengeluhkanmu. Kau malah minta dimarahi."


"Aku minta maaf," kataku. "Aku akan berusaha menjadi adik yang terbaik. Maafkan aku."


Kak Sanjeev tersenyum, melepaskanku dari pelukannya kemudian ia mencium keningku. "Jangan menangis lagi," pintanya seraya mengusap air mataku. "Adikku tidak boleh menangis. Kau tidak boleh lagi membuat kakakmu ini seperti orang yang tidak berguna. Pokoknya, aku orang pertama yang harus kau beritahu dan kau mintai bantuan dalam setiap masalahmu jika suamimu itu tidak bisa kau harapkan. Kau ingat janjiku pada Zia kecilku, aku akan selalu ada di belakangmu untuk selalu mendukungmu. Aku akan selalu ada di sampingmu untuk selalu menyayangimu. Dan aku akan selalu ada di depanmu untuk melindungimu. Apa pun yang terjadi, kakakmu akan selalu ada untukmu. Oke? Jangan merahasiakan apa pun lagi dariku. Bukan berarti kau sudah menjadi seorang istri lalu aku kehilangan tanggung jawab atas adikku. Itu tidak berlaku dalam persaudaraan kita. Kau mengerti itu, Zia?"


Aku mengangguk.


Hmm... tidak sekarang. "Suatu hari. Tidak sekarang dan tidak dalam kondisi sekarang. Tapi biar kukatakan sekarang kepada kakakku yang masih lajang ini, tidak semua masalahku akan kuberitahukan kepadamu, karena ini masalah suami-istri. Adikmu sudah menjadi seorang istri. Aku harus menutupi aib dalam rumah tanggaku. Tapi yang pasti, aku akan mengandalkanmu di saat aku tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Seperti sekarang, aku mengandalkanmu. Jadi, kau jangan khawatir, aku akan datang kepadamu, kakakku. Aku akan datang kepadamu saat jalanku sudah buntu dan hanya kakakku yang bisa membantuku. Aku akan datang kepadamu."


"Jadi kau tidak ingin memberitahuku?"


"Kakak...."


"Zia...."


"Sudah, ya? Sekarang waktunya menolong ayah dari keponakanmu. Kami membutuhkan pertolonganmu saat ini, tolong?"


"Kau ini, ya." Dia mencubit kedua pipiku dengan gemas. "Sampai kapan kau akan seperti ini, hmm? Kau keras kepala sekali. Dasar!"


Ya Tuhan, sudah berapa lama aku tidak mendengar dia meledekku, tertawa, lalu memelukku seerat ini. Aku beruntung memilikinya....