Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Happy Ending



Lima bulan kemudian....


Agustus berembus ke dalam kota dengan suatu kesegaran yang disambut semua orang. Langit biru tanpa awan di atas hari-hari yang hangat, dikecup sinar matahari yang menyilaukan dan diredakan oleh angin sejuk. Kuhabiskan sebanyak mungkin waktu di luar rumah, dalam kediaman Mahesvara, bermalasan di halaman belakang, di halaman berbunga dalam cuaca yang nikmat bersama Neha, Nandini dan Sheveni, menikmati camilan sambil memomong keempat bayi mungil dan Malika yang sekarang sudah berusia satu tahun tiga bulan. Kami menghabiskan sore sambil meneguk limun buatan sendiri di bawah terik matahari. Sedangkan malamnya, kami berbaring di beranda paviliun masing-masing, dengan pasangan masing-masing yang melepas penat dari rutinitas pekerjaan mereka masing-masing. Tidak terkecuali Neha dan Kak Sanjeev yang sekarang sudah menikah sejak bulan Mei yang lalu. Atas keisengan Neha yang pura-puranya melamar Kak Sanjeev dan berkata ia akan mencetakkan selusin bayi-bayi mungil untuknya, Neha malah tidak bisa mengelak ketika Kak Sanjeev menanggapinya -- entah waktu itu ia serius ataukah sekadar main-main: saat itu Kak Sanjeev berkata bahwa ia tidak akan mengulang sejarah dua kali, ia tak akan menolak untuk ke-dua kali gadis yang menyatakan cinta kepadanya, lalu ia menaburkan sindur milik ibu kami di dahi Neha. Neha terkejut bukan main. Nyaris pingsan di tempat.


"Makanya kau jangan bermain-main denganku. Sekarang kau kunikahi dan kau harus melahirkan selusin bayi untukku," kata Kak Sanjeev saat itu, dan entah bagaimana ceritanya, sehari berselang, ia benar-benar membawa Neha mengitari api suci, lalu membawanya ke kamar pengantin dan membuat gadis itu menjerit histeris di malam pertama.


Ugh! Kak Sanjeev berhasil membuat gadis itu tak berdaya di ranjangnya.


Jeritan Neha malam itu membuat ketiga saudari iparnya terkekeh-kekeh di balik pintu dan serta-merta merasa ngilu. Pertempuran yang dahsyat.


Puji Tuhan, dalam masa tiga bulan pernikahan, mereka hidup bahagia, amat sangat bahagia, dan sekarang Neha sudah mengandung bayi pertamanya. Dia benar-benar terberkati.


Dan aku benar-benar bahagia untuk semua orang. Terutama untuk hubunganku dan HansH. Malam ini kami berbaring di beranda, dengan kasur empuk, bantal dan guling serta selimut tebal yang menghangatkan, memandangi bintang-bintang di gugusan terang yang menakjubkan dalam kepekatan nila serta semilir angin malam yang menyapa. Dan kami mengobrol -- banyak -- tentang segala hal dan apa saja. Dari seluruh waktu yang kami habiskan bersama, aku menyerap aliran positif yang seperti memancar dari kehangatan cinta yang jelas terasa adanya.


"Sayang?"


"Emm? Ada apa?"


"Umur Malik dan Malaika sudah enam bulan."


Eh?


"Terus?"


"Bikin anak lagi, yuk?"


"My HansH...."


"Mumpung kita masih muda, Sayang. Mau, ya? Mumpung kita masih sama-sama bergairah." HansH menarik tanganku, dan...


Iyuuuuuh...! Dasar suami mesum. Ternyata di balik selimut, ia sudah menanggalkan celananya.


Aku terkikik-kikik geli begitu ia menaruh tanganku pada-nya yang sudah menegang sempurna, hidup dan mendamba di bawah sana.


"Katakan ya." Dia sudah berada di atasku. "Berhentilah mengkomsumsi pil-mu, oke? Aku ingin kau hamil lagi."


Baik. Aku mengangguk dan tersenyum. "Seberapa kali pun kau ingin aku hamil, akan kupenuhi."


Oh... HansH menghilang di balik selimut. Menyingkap gaunku, menanggalkan segala yang menghalangi dan, merasaiku, mencicipi kehangatanku....


Ya Tuhan... kupejamkan mataku. Kutahan suaraku. Kucengkeram kuat selimut di dada, dan biar aku saja yang tahu apa yang terjadi di baliknya... apa yang HansH lakukan kepadaku... bagaimana ia menyentuhku... membuat napasku tercekat di tenggorokan, dengan cumbuannya... cumbuan yang... yang... tak bisa kujelaskan, tak bisa kujelaskan betapa gilanya ia... betapa... oh... betapa ia...


Membuatku terbang ke angkasa di atas sana....


Ini nikmat yang luar biasa.


"Aku mencintaimu," HansH berbisik, ia kembali mensejajarkan diri denganku. Dan...


Mengarahkan diri. Kuat dan hangat....


Ssst... dia masuk perlahan... menyatu denganku dalam kedalaman dan kehangatan cinta....


Ssst... dia menarik diri kembali, lalu menekan lagi....


Ssst... dia membuatku ingin menjerit. Kehangatan ini... kehangatan ini... ya Tuhan... ya Tuhan... oh....


Tak mampu lagi kurangkai kata-kata. Malam ini... indah. Luar biasa indah....


Oh....


Ssst... ada yang kembali menyelam... menelusuri lorong lembap dengan kehangatan....


Ssst... kini ia sudah mencapai dasar... begitu dalam...


Ssst... oh, maafkan aku. Aku memilih menyudahi ceritaku padamu....


Malam panjang ini hanya untuk suamiku, HansH Mahesvara....


Terima kasih sudah bersamaku dan membaca kisahku. Sampai jumpa....


Ssst....