
Setelah melewati keresahan memikirkan perjumpaanku dengan Kak Sanjeev besok pagi dan mendengarkan gurauan Neha yang tidak masuk akal itu, aku pun tertidur seiringnya detik berjalan dan malam yang mulai larut. Tetapi, sesuatu yang mengherankan, malam itu, orang asing dari Pasar Natal muncul ke dalam mimpiku.
Yeah, HansH Mahesvara. Sesuatu yang aku tidak tahu mengapa, aku memimpikannya.
Pertemuan pertama itu berputar jelas di dalam mimpiku. Hanya saja, keadaannya lebih baik walau tanpa perkenalan. Dan, yang lebih baik lagi, pria itu tersenyum bahagia di dalam mimpiku seoalah-olah dia bertemu dengan seseorang yang sudah ia kenal, sama sekali bukan seperti bertemu dengan orang asing. Aku menatap raut itu, yang bersinar di wajahnya, dan kali ini juga tanpa duka di matanya.
"Aku sudah lama menunggumu kembali. Penantian panjang yang aku tahu tidak akan pernah sia-sia. Aku merindukanmu, Alisah."
Alisah? Aku bukan Alisah. "Maaf--"
"Ssst... jangan berkata apa pun. Biarkan aku menatap wajahmu."
Persis di saat itu wajahku berubah, bukan lagi wajah Zia, tapi wajah Alisah.
Wajahku? Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin. Tidak. Ini bukan wajahku.
Dalam kebingunganku itu, HansH, matanya menatapku dengan sepenuh cinta, dan, dengan lembut dia mengelus pipiku dengan jari-jari selembut beledu sehingga aku terbuai. Dia tersenyum, dengan ketampanan wajah yang sempurna, wajahnya mendekat ke wajahku, napasnya dengan menggoda terasa hangat di pipiku, lalu, dia menciumku, tepat di bibirku. Yeah, di sanalah aku, aman dalam pelukannya, menghirup wangi kulitnya, dan kembali menatap raut itu yang bersinar di wajah tampannya.
"Hei, Zia...! Halo...!"
Terbangun tiba-tiba, aku duduk lalu menatap fajar merah jambu keemasan yang merekah di antara celah tirai. Burung-burung sudah mulai bernyanyi di luar dan dunia mulai terjaga. Detak jantungku bergemuruh di telinga saat kenangan akan ciuman itu kembali dengan hebatnya.
"Kau mimpi apa? Sepertinya seseorang menciummu di dalam mimpi. Siapa dia? HansH Mahesvara? Hmm?"
Memberengut. Dia membuatku jengkel. Memang HansH. Tapi kau tidak perlu mengatakannya....
"Aku harus pergi. Ada sedikit urusan yang harus kutangani. Tidak apa, kan?"
Yeah, tentu saja. Mimpiku pun juga sudah buyar. Mimpi yang aneh. Pasti gara-gara kata-kata Neha semalam. Operasi wajah? No! Tidak akan! Well, Zia, tidak ada gunanya memikirkan mimpi aneh itu, oke? Sekarang lebih baik kau bangun, mandi dan minum teh hangat. Jangan ikut-ikutan tidak waras seperti Neha.
Yap, aku pun melakukan rutinitasku dengan santai, hingga tibalah waktunya. Hari sudah pagi, aku mesti pergi untuk bertemu dengan Kak Sanjeev. Kubungkus diriku dengan sebanyak mungkin lapisan yang secara realistis masih enak dilihat lalu mulai menyusuri trotoar beku menuju stasiun kereta. Diam-diam aku berharap kondisi mendekati kutub utara ini akan menyebabkan keterlambatan kereta, sehingga menjauhkanku dari obrolan parah memalukan yang kutahu akan terjadi. Namun kereta itu membawaku ke Birmingham dengan ketepatan waktu sempurna dan sekalipun aku berjalan lebih lambat dibanding biasanya menuju perhentian bus, busku tiba tepat waktu. Jelas tidak ada yang akan menjauhkanku dari pertemuan ini. Pasrah, dengan enggan, kunaiki tumpanganku.
Benakku teralih saat pinggiran kota yang tampak kabur melewatiku. Di sekelilingku, anak-anak yang riang gembira dan remaja berisik berceloteh, sukacita Natal tampak jelas dalam tawa mereka. Tinggal dua hari menuju Hari Besar itu, topik pembicaraan yang sama berdengung di antara teman seperjalananku: apakah tahun ini akan bersalju?
Huh! Kuhela napas dalam-dalam saat pemberhentianku muncul di depan.
Menatap melalui jendela yang berembun, aku dapat mengenali rambut berantakan Kak Sanjeev yang hitam dan bentuk membungkuk bahunya yang familier di meja kami yang biasa dekat konter. Baiklah, kataku pada diri sendiri, ayo, kita perbaiki dan kita selesaikan ini.
Embusan udara lembab beraroma sarapan yang digoreng menerpaku saat kudorong pintu terbuka dan pelayan menyapaku, dia tersenyum ramah dan mempersilakanku untuk duduk.
Dengan gelisah, aku mengangkat pandanganku dan melihat Kak Sanjeev mengangkat tangan saat menyadari kedatanganku dan aku merasa kepalaku terasa sedikit pusing saat menghampirinya.
"Pagi." Dia tersenyum, setengah berdiri menyambutku. Dia mengenakan sweter biru tua yang sangat kusukai, dengan kaus putih di dalamnya serta celana jins berwarna nila. Kombinasi ini sama sekali tidak membantu meredam kepakan sayap rombongan kupu-kupu di dalam perutku.
Aku balas tersenyum. "Hai." Tidak tahu persis bagaimana memulai pembicaraan, kuulur waktu berhargaku sedikit saat melepaskan mantel dan pelan-pelan membuka lilitan syal, menempatkannya ke atas bangku di sebelahku.
Kak Sanjeev kembali ke tempat duduknya lalu memainkan bungkus gula yang sudah kosong sambil menatap ke permukaan meja melamin. Ketika dia mengangkat tatapan agar bertemu dengan tatapanku, aku terkejut melihat kerapuhan balas menatapku.
"Senang melihatmu."
Kulipat lenganku dengan gaya melindungi. "Aku tidak bisa lama-lama."
"Oh, begitu."
"Aku punya sekitar empat puluh lima menit, sih. Jadi...."
"Bagus." Dia mengangkat tangan untuk menggosok tulang hidungnya -- sesuatu yang selalu dilakukannya saat sedang gelisah. "Tapi aku senang kau datang. Aku tidak yakin kau mau."
Dia memalingkan wajah. "Ya ampun, ini berat."
"Aku mengerti. Aku...."
Pelayan datang membawakan pesanan Kak Sanjeev. Dia juga sudah memesankan makanan untukku. Seperti biasanya, secangkir espresso dan sandwich daging dengan telur double.
"Kesukaan adikku. Aku tidak akan pernah lupa."
Ya Tuhan, sesak. Seharusnya sebelum pernyataan cinta itu aku harus benar-benar tahu di mana posisiku: sebagai adik, tidak akan pernah lebih.
"Terima kasih, Kak."
Dia mengangguk. "Begini, Zia, soal sabtu...."
Ketakutan yang menimbulkan rasa mual mengaliriku dengan deras. Jika lapisan linoleum berwarna hijau zaitun yang sudah usang di bawah kaki kami membelah untuk menelanku saat itu juga aku pasti akan menjadi wanita paling bahagia di dunia. Sejak kegagalan hari sabtu lalu kusadari diriku berharap sekuat tenaga bisa melakukan apa yang dilakukan Christopher Reeve dalam film Superman, waktu dia terbang ke angkasa lalu membalikkan rotasi bumi untuk memutar ulang waktu. Tapi kenyataannya tetap bahwa ini bukan sesuatu yang akan hilang. Mengumpulkan keberanian yang sanggup kulakukan, aku harus menghadapinya.
"Maaf aku membuatmu malu."
"Tidak, kok."
"Ya. Aku juga mempermalukan diriku sendiri."
"Zia...."
"Tidak, tolong biarkan aku mengatakan ini, oke? Karena kalau tidak sekarang, aku tidak akan pernah mengatakannya. Jadi, tolong dengarkan aku."
Dia mengangguk lalu bersedekap.
"Jadi begini, masalahnya, saat itu aku sedang konslet. Jelas aku mengira kita menuju ke arah tertentu padahal, ternyata, tidak. Itu kesalahanku. Pokoknya aku tidak ingin kehilanganmu sebagai kakakku karena ini. Kau satu-satunya keluarga yang kumiliki."
Dia tersenyum. "Tidak akan."
"Ya, bagus. Itu bagus."
Kak Sanjeev hendak mengatakan sesuatu yang lain ketika pintu kafe terbuka dan sekelompok besar tukang bangunan menyeruak masuk. Tawa berisik dan suara lantang mereka mengisyaratkan pembicaraan lebih lanjut mustahil dilakukan sementara mereka seenaknya menyebar di sekeliling kafe. Aku ingin tahu apakah ini akan mengakhiri obrolan kami lebih cepat tapi Kak Sanjeev memberi isyarat kepadaku agar tetap duduk lalu meninggalkan meja menuju konter. Beberapa menit kemudian, dia kembali membawa dua cangkir untuk dibawa dan kantong kertas cokelat.
"Ayo," katanya, "aku tahu tempat yang lebih enak untuk menyantap ini."
Aku mengikutinya keluar dari keributan kafe menuju High Street. Lima menit kemudian, kami sudah menyusuri bukit curam menuju Cannon Hill Park.
Sementara aku tidak sepenuhnya yakin menginginkan pembicaraan ini diperpanjang, harus kuakui Kak Sanjeev mengenalku dengan baik. Ke mana pun aku menoleh, kenangan mengelilingiku di taman ini: akhir pekan musim panas yang dihabiskan sebagai anak kecil memberi makan bebek, piknik pada hari libur yang seru bersama Kak Sanjeev dan Neha, pertemuan saat jam makan siang pada hari-hari musim semi yang cerah -- semua itu terjadi di sini. Seperti Harry's, taman ini merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup kami.
Awalnya, kami ingin duduk-duduk di tepi danau. Tapi entah karena apa, Kak Sanjeev memutuskan bahwa kami sebaiknya pindah tempat.
"Memangnya kenapa kalau di sini?" tanyaku.
Kak Sanjeev menggeleng, tapi tatapannya tertuju kepada seseorang yang tengah berdiri, terpaku memandangi danau. HansH, dia yang ada di sana. Dan dengan hanya melihatnya ada di depan mataku, sekonyong-konyong tubuhku langsung gemetar teringat akan indahnya ciumannya di dalam mimpiku. Ya ampun, karena melihat pria itu juga aku langsung setuju untuk kami segera pindah ke tempat yang lain.
"Aku tidak ingin ada satu orang pun yang mendengarkan pembicaraan kita. Itu saja," ujar Kak Sanjeev.
Tiba-tiba aku menjadi tidak peduli apa pun alasannya, yang kuinginkan saat ini hanyalah menghindari HansH -- dan, melupakan ciuman yang ia berikan dalam mimpiku semalam. Ciuman itu...
Ugh! Itu hanya bunga tidur, Zia. Hanya sebatas mimpi aneh. Mimpi gila. Oke? Jangan diingat terus. Please... please, jangan.
Ya Tuhan... Neha dan bayangan pria itu sungguh membuatku tidak waras.