Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Demi Menyelamatkan Diri



"Oh ya, kau tanya apa tadi? Kenapa? Ya, kenapa, jelas saja untuk membalas kekasihmu. Dan, kalau kau bertanya untuk apa kau diculik? Maka, jawabannya...," --dia nyengir setan-- "kami ingin menunjukkan betapa Mr. HansH Mahesvara itu tidak mampu berkutik untuk menyelamatkan wanita-wanita kesayangannya. Dia pecundang, Sayang. Kekasihmu itu pecundang, ya kan?"


Ya Tuhan, mereka menculikku karena mereka dendam terhadap HansH. Lagi-lagi identitas Alisah membuatku terjebak dalam kesialan. Oh, betapa malangnya....


Mencoba tetap mengendalikan diri, aku bertanya kepada kedua pemuda yang menculikku itu: apakah mereka dan bos mereka ada kaitannya dengan kecelakaan yang dulu dialami oleh Alisah dan kedua orang tuanya?


"Tidak. Sama sekali tidak. Tapi kalau tentang adiknya HansH, yeah, dalangnya adalah orang-orang yang sama."


Orang-orang yang sama? Berarti dalangnya lebih dari satu orang? Ya Tuhan....


"Hei, kau tahu soal itu, kan?" Dia kembali terkekeh. "Tentu saja, kau pasti tahu. Dan tentu saja pria itu masih ingat kejadian yang luar biasa itu. Apalagi adik-adiknya, mereka pasti masih ingat betapa jantannya pria-pria yang menggagahi mereka. Yang pertama adik keduanya, uuuh... keperawanan yang manis. Lalu adik pertamanya, sayang kegadisannya sudah dijebol duluan jadi dia tidak masuk hitungan. Lagipula dia gadis yang biasa keluar malam. Sama sekali tidak menarik. Dan sayangnya adik ketiganya gagal diculik. Tapi tidak apa-apa, sekarang ada kau sebagai penggantinya. Yang lebih istimewa. Kami akan membuatmu menjerit nikmat, Nona. Menjerit. Bayangkan saja, kejantanan para penculik ini akan membahagiakanmu malam ini. Ugh! Kau sangat menantikannya, bukan? Aku bersamamu."


Dan aku tersenyum semringah mendengar penuturannya. "Well," kataku, aku menoleh ke samping, agak memiringkan kepala dan menatap pria di sampingku dengan intens. "Jadi, intinya, kalian mau memperkosaku, iya? Ugh... menarik!" Kutaruh tanganku di paha pria di sampingku itu dan kucondongkan tubuhku lebih dekat, menggodanya dengan nada sesensual mungkin. "Tapi kalian tidak akan membunuhku, kan? Hmm? Tidak? Bagus!" Kuelus pangkal pahanya dan ia mulai menunjukkan reaksi. "Omong-omong," kataku lagi, tanganku berpindah, menyelinap ke balik kaus pria yang kugoda itu. Kuraba-raba punggungnya hingga ia pun tidak tahan untuk tidak merespons sentuhanku. "Aku memang masih perawan." Tanganku kembali turun dan menyusup ke dalam celananya, di bagian belakang, lalu kembali ke area depan. "Kau bisa merasakan diriku, meresakan manisnya keperawananku, akan kuberikan dengan sukarela, bahkan kita bisa melanjutkan hubungan ini asal kau tidak membunuhku? Hmm? Bagaimana? Penawaran yang menarik, bukan?"


"Kau serius, atau ada niat lain? Hmm?"


"Kau tidak percaya padaku?"


"Tentu saja."


"Well, kalau begitu terserah padamu. Kau bisa membuktikannya sendiri. Hmm? Jadi... katakan, ke mana kalian akan membawaku? Di mana kalian akan melakukannya? Oh, maksudku... kita. Kita berdua. Kau dan aku. Di mana kita akan melakukannya? Pastikan tempatnya nyaman, saaaaangat nyaman. Kau mau membuatku menjerit nikmat, bukan? Jangan ke semak-semak. Aku tidak suka. Dan jangan di sarang tikus. No jorok, no debu. Aku tidak akan suka. Aku tidak akan menjerit nikmat di tempat yang tidak nyaman. Oke? Oke, kan, Tampan?" Lalu aku berbisik di telinganya. "Tapi aku tidak suka pada temanmu. Dia tidak setampan dirimu, dan lagipula giginya kuning. Itu menjijikkan."


Tegang. Celana pria di sampingku sesak begitu mudahnya.


Kuberikan ia senyuman nakal dan kerlingan mata yang menggoda. "Sepertinya ukuranmu oke," kataku seraya mengelus tonjolan besar di tengah-tengah pahanya. "Benar katamu, kau pasti bisa membuatku menjerit nikmat. Ouch! Aku tidak tahan. Boleh aku melihat seberapa besar dan panjangnya milikmu? Boleh kukeluarkan dari sarangnya?"


"Wow, Man," kata si pengemudi. "Dia terlihat seperti gadis baik-baik. Tapi ternyata, si penggoda ulung. Aku sungguh takjub padamu, Nona."


Aku mendelik. Berpura-pura marah, atau sungguhan, entahlah. "Diamlah, Pecundang!" bentakku. "Aku tidak bicara denganmu! Kau pikir HansH pria sebaik itu sehingga ia tidak pernah mencumbuku? Dasar bodoh! Awas saja, aku tidak akan memberikan kesempatan padamu."


Merajuk. Aku kembali duduk bersandar ke sisi jendela dan membuang muka. Dengan sebal, kugelung rambutku dan menatanya di puncak kepala, sehingga leherku yang mulus terekspose sepenuhnya. Tentu saja: putih, bersih, dan menggairahkan.


"Apa?" bentakku kepada pria di sampingku yang gelisah. Aku tahu dia menginginkan diriku dan sudah tidak sabar untuk menyentuhku. "Kesepakatan batal dan kau boleh membunuhku sekarang!"


"O ya? Begitu?" kataku geram, sementara si pria itu sudah mendaratkan bibirnya di tengkuk leherku. Aku berpura-pura hendak mendorongnya dengan kekuatanku, memancingnya supaya ia lebih beringas dan semakin terangsan*, dan itu terjadi, ia melampiaskan hasratnya sebagai binatang buas dengan menggigit dan mengisa* leherku, begitu kuat dan sampai-sampai meninggalkan jejak merah -- tepat seperti yang kuinginkan dan yang kubutuhkan. "Kau gila!" hardikku. "Kau mau kita melakukannya di sini? Hmm? Di depan si pecundang itu? Sori. Aku tidak sudi dia melihat tubuhku." Kali ini kudorong ia sekuat tenaga dan kugeser posisiku menjauh dari pria di sampingku. Tetapi...


Menggelegar, si pengemudi menertawaiku. "Kau pikir aku tidak akan menyentuhmu hanya karena kata-katamu itu, Nona? Kau salah besar!"


"Jangan harap kau bisa menyentuhku!"


"Sayangnya akan kulakukan, Cantik."


"Berengsek kau!"


Secepat kilat, kusalungkan tali tas-ku ke lehernya hingga ia tercekik dan mobil yang membawa kami mulai melaju tak terkendali, keluar dari jalanan dan malah ke area yang ditumbuhi pepohonan.


"Bantu aku!" lengkingku pada lelaki di sampingku yang justru hendak mencelakaiku demi untuk menolong temannya. Kejadian itu begitu cepat, sehingga sebelum dia sempat melakukan sesuatu padaku untuk menolong temannya, aku sudah berakting duluan untuk meminta pertolongannya. "Kau menginginkan aku, kan? Kau harus membantuku dulu! Ayo!"


Tidak berpengaruh. Pria di sampingku tetap menodongkan pistolnya ke kepalaku. "Lepaskan dia! Lepaskan!"


"Dia harus mati!"


"Lepaskan kataku!"


"Kau bodoh!"


"Lepaskan atau kutembak kepalamu!"


"Dasar idiot!"


Argh! Kesal! Terpaksa kulepaskan pria si pengemudi dari cekikan tali tas-ku, dan aku mesti melanjutkan trik menggodaku dengan lebih baik. Sementara mobil yang membawa kami melambat dan berhenti di bawah pohon besar yang nyaris tertubruk, si pengemudi keluar dari mobil dan mesti menstabilkan pernapasannya yang terganggu sehingga ia terbatuk-batuk, secepat kilat aku duduk di pangkuan pria di sampingku, bagaikan melompat ke atas pahanya, menempelkan telapak tanganku ke dua sisi dada pria itu, menjebaknya di antara kedua lenganku hingga punggungnya bersandar pada sandaran kursi di belakangnya, lalu aku menyambar dan mencium bibirnya dengan kasar hingga kami berdua sama-sama merasa engap.


"Apa yang kau lakukan, Nona?"