Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Rumit



Tapi aku pantang mundur. Aku ingin tahu jawaban atas pertanyaanku itu.


"Aku mohon, ya? Please...? Kita kan akan jadi saudara, kurasa aku harus tahu tentang lukamu, barangkali... ikatanku denganmu akan semakin kuat kalau aku juga merasakan lukamu, ya kan?"


Nandini tersenyum getir, aku tahu dia memahami apa maksud kata-kataku. "Aku mengerti, terima kasih atas niatmu, selain rasa penasaranmu, aku tahu kalau niatmu baik. Jadi... akan kuceritakan."


"Well?"


Dia mengangguk, menghela napas dalam-dalam dan mulai bercerita. Air mata terus menggenang dan mengalir sepanjang ceritanya. Meskipun dengan perasaan sakit dan suara yang gemetar, Nandini bersedia membagi lukanya denganku.


"Itu... masa-masa yang sangat buruk yang pernah kualami. Kejadian itu terjadi sewaktu aku pulang dari kampus. Aku diculik dan ditahan selama beberapa hari, hampir dua minggu. Dan... aku diperkosa. Tidak hanya sekali, berkali-kali. Dan... tidak hanya satu orang, ada beberapa lelaki yang memperkosaku. Ya, Kak HansH melakukan berbagai cara untuk menemukanku, dengan bantuan polisi, detektif, bahkan semua pihak, akhirnya dia berhasil menemukanku. Aku diculik oleh pesaing bisnisnya yang tidak terima karena dia selalu dikalahkan dalam tender. Dia membenci Kak HansH karena Kak HansH selalu unggul darinya. Orang licik. Dia tahu kalau kelemahan sekaligus kekuatan Kak HansH adalah keluarganya. Jadi dia ingin menghancurkan Kak HansH dengan menjadikan aku sebagai sasarannya. Setelah penculikan itu, benih dari bajingan itu terlanjur tumbuh di rahimku. Sebenarnya aku dalam keadaan depresi, mana mungkin tidak. Tapi benih yang terlanjur tumbuh itu tidak bersalah, kan? Di saat itulah Vikram merangkulkan tangannya kepadaku. Demi menjaga kehormatan seorang gadis yang sudah dilecehkan, yang sudah dirampas kehormatannya secara paksa, Vikram mengembalikan kehormatanku dengan cara menikahiku. Selain demi rasa hormatnya kepada seorang perempuan, dia melakukan itu juga demi Kak HansH, dan demi keluarga kami. Dia pria yang baik. Aku sangat bersyukur karena dia bersedia menyelamatkan hidupku dari kehancuran."


Sungguh aku terharu. Walau air mataku turut menetes mendengar kisah pahit ini, tapi aku bahagia karena Nandini tidak terus terpuruk dalam hidupnya setelah kejadian buruk yang menimpanya. Dan HansH, dia juga tetap tegar menerima semua beban berat yang mesti ia tanggung.


Seharusnya kau turut menjaga adik-adikmu, Kak. Terlepas dari semua yang terjadi di masa lalu, sebagai seorang kakak, Kak Sanjeev harusnya memiliki tanggung jawab yang sama besarnya dengan HansH. Kau harus menjaga adik-adik perempuanmu, dan kehormatan mereka. Andai saja kau mau melunakkan hatimu.


"Oke, cukup untuk cerita sedih itu. Sebenarnya aku juga ingin mengakui hal yang sama. Maksudku, aku juga mengalami hal yang sama seperti yang kau rasakan."


Hmm... keningku mengerut. "O ya? Kenapa bisa begitu?" tanyaku heran. "Maksudku... kalian kan sudah menikah. Jadi apa lagi yang kau bingungkan? Kalian sudah menjalankan... rumah tangga, dan sepakat untuk saling menghormati. Lalu?"


Ah, aku terlalu menyerocos.


"Baiklah. Kurasa aku harus mendengarkan saja. Maafkan aku. Jadi, ceritakan padaku apa yang membuatmu bingung?"


Nandini mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "Baiklah, dengarkan celotehan panjangku. Begini, pernikahanku dengan Vikram memang benar sudah terjadi. Pernikahan yang dilakukan karena terpaksa demi menjaga kehormatan dan menutup aib keluarga, utamanya menutup aibku. Kami menikah dengan dua cara, menurut kepercayaan masing-masing. Pertama pernikahan secara agama sesuai dengan keyakinan Vikram. Dan pernikahan kedua dengan kepercayaanku. Kau tahu, kan, adat dan tradisi kita, mengalungkan bunga, mengelilingi api suci, memakaikan mangalsutra dan memakai sindur di dahi. Tapi dulu semua terjadi bukan dengan hati, semua terjadi begitu saja. Pernikahan kami sah secara negara, tapi di hati, kami meragu. Aku dan Vikram...."


Oh, kalimatnya terhenti. Apa yang hendak ia katakan?


Aku menatapnya dengan meyakinkan bahwa ia harus menceritakan semuanya kepadaku. "Ada apa?" tanyaku. "Kau... dan dia...?"


Lagi, kata-kata itu terhenti. "Tapi...? Jangan ragu, ceritakan kepadaku. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapa pun. Hmm?"


"Kami tidak bisa memutuskan untuk bercerai, sekalipun aku mengalami keguguran. Vikram tidak ingin menyakiti hatiku, dia juga tidak ingin menyakiti hati Kak HansH dan hati semua orang di keluarga ini. Kami tidak bercerai, tapi kami juga tidak menikah ulang."


Aku paham. Kupejamkan mataku sejenak lalu menatap lekat kedua matanya. "Dan semua ini terasa berat bagimu karena kau mencintainya? Kau juga tidak ingin bercerai karena kau ingin kalian selalu terikat pada satu sama lain? Hubungan ini sudah terlanjur memakai hati? Apa aku benar?"


Tersipu. Pendar merah yang menghiasi pipinya, juga diamnya dalam senyuman, memberitahuku apa jawaban dari dalam hatinya.


"Apa dia juga mencintaimu?"


Nandini mengangguk. "Dia pernah mengatakannya, dan dia juga mengakui, itu salah satu alasan... dia tidak ingin menceraikan aku."


"Ya Tuhan, masalah yang kita hadapi sama rumitnya."


Dan kepercayaan bukanlah sebuah permainan yang bisa kita ubah sesuka hati.


"Sebenarnya aku juga sedang mencari jawaban untuk diriku sendiri. Dan, yah, aku juga belum mendapatkan jawaban itu. Emm... Vikram pernah mengatakan kepadaku, kalau aku ingin bersama dengannya, maksudku bersama dalam pernikahan yang seutuhnya, dia ingin aku seiman dulu dengan dirinya. Bukan dia yang mengikuti kepercayaanku. Karena... Vikram, dia persis Kak HansH, meskipun mereka pemuda yang tidak benar-benar religius dan bisa dikatakan cukup nakal dan jahil, aku tahu mereka tidak akan meyakini kepercayaan lain. Sebab, mereka percaya bahwa Tuhan itu hanya satu. Tuhan tidak dilahirkan dan tidak melahirkan. Tuhan tidak memiliki bapak, ibu, anak, bahkan istri. Tuhan tidak boleh diwujudkan dalam bentuk patung yang bisa dibuat dan bisa pula dihancurkan. Apalagi bisa dihukum oleh manusia dan diikat di tiang gantung. Mereka percaya bahwa Tuhan itu hebat dan berkuasa. Jadi, mustahil bagi mereka untuk mengingkari ajaran Islam."


Aku membeku. Jawaban Nandini membuatku berpikir lebih jauh tentang kehidupan. Tentang Tuhan, Dia yang harus kuyakini.


"Lalu dirimu sendiri, Nandini? Kenapa kau tidak memeluk Islam sementara kakakmu, suamimu, bahkan bibi yang mengurusimu, mereka semua memeluk Islam? Dan bahkan Vikram sudah mengatakan syarat itu padamu. Jadi, kenapa?"


Ia balas tersenyum. "Kau sendiri, kenapa kau tidak mudah untuk berpindah keyakinan? Padahal sejak lahir kau seorang muslimah? Hmm?"


Sulit untuk kujelaskan, Nandini. Ini sulit. Rumit. Karena aku bukanlah Alisah.