
Sejujurnya, pada saat kami menempuh perjalanan pulang, di sepanjang jalan, meski di satu sisi aku merasa begitu bahagia karena kehadiran bayi mungil dalam dekapan tanganku, aku tetap bisa merasakan keresahan mengaduk-ngaduk seisi perutku. Sebabnya, pertanyaan bagaimana pandangan orang-orang dan gosip-gosip yang akan bertebaran nanti sewaktu kami tiba di rumah, terus saja berputar-putar di dalam benakku. Terlebih sudah pasti, setibanya kami di rumah, pihak keluarga dan karyawan-karyawan kantor pasti sudah ramai berdatangan untuk acara open house keluarga Mahesvara. Yeah, harap maklum saja, ini pertama kali, aku belum pernah ada di posisi ini sebelumnya, dan ini pengalamanku, bukan pengalaman orang lain. Bagaimana aku bisa santai? Terlebih, sebelum pergi ke klinik, aku dan HansH sengaja tidak memberitahukan niat kami kepada anggota keluarga. Entah bagaimana reaksi mereka nanti.
Hmm, aku tidak bisa menghindar, dan aku tahu itu memang tidak perlu. Lebih dari itu, HansH memang tidak ingin kami menghindar ataupun menutup-nutupi perihal Malika yang kini dalam pengasuhan kami. Dengan kata lain, HansH sengaja ingin orang-orang tahu akan hal ini.
"Biar saja semua orang tahu. Tidak baik juga kalau ditutup-tutupi," kata HansH mencoba menenangkanku yang duduk di sebelahnya di bangku penumpang. "Kalau secara terang-terangan kan lebih enak. Kita tidak perlu repot-repot menjelaskan tentang Malika kepada publik, apalagi sampai berulang-ulang, ya kan? Yang enak gelap-gelapan itu cuma bersamamu. Berduaan di kamar. Di ranjang pengantin kita."
Iyuuuh... sontak aku tertawa cekikikan. Dasar suami mesum! Tetapi, toh, lelucon ranjangnya itu mampu membuatku tertawa. Lebih dari itu, aku tahu HansH sengaja bertujuan untuk mengalihkan perhatianku.
"Tahu tidak," kata HansH sambil cengar-cengir dan berhasil membuat rona merah di wajahku kembali berpendar, "aku sedang berpikir, bagaimana nanti ketika kita lagi asyik-asyiknya bercinta, lagi panas-panasnya beradu tempur, tiba-tiba Malika menangis karena lapar, pasti kamu langsung minta stop." HansH melirikku -- di mana otakku langsung membayangkan adegan itu di dalam imajinasiku, kami berdua yang tengah bermandikan keringat dengan kulit telanjan* nan panas, ia sedang berada di dalam diriku, mabuk dalam gairah dan hasratnya, plus, sedang hebat-hebatnya menyerangku, tiba-tiba Malika menangis karena lapar, pasti segala aktifitas terpaksa dihentikan. Tawaku seketika pecah, membayangkan HansH yang bakal meringis, sementara aku cepat-cepat mengenakan mantel mandi dan memberikan dot susu formula untuk Malika. Dan HansH akan meringis sendiri di atas ranjang, di balik selimut yang menutupi pusat gairahnya yang terpaksa ia sembunyikan.
Hahaha! Aku tertawa puas membayangkan adegan super lucu itu.
"Pasti geli melihat wajahmu yang tersiksa," ledekku.
"Bagaimana kalau kita pakai babysitter saja? Untuk membantumu, kan?"
"No! Aku tidak mau. Masa mengurus satu anak mesti pakai babysitter? Memangnya aku ini wanita karir?"
"Ya tidak apa-apa, dong. Memangnya kenapa kalau bukan wanita karir tetapi memakai jasa babysitter? Salahnya di mana?"
"Tidak salah, sih. Tapi tidak mau, ah. Biar Malika besar seratus persen dengan tanganku. Lagipula ngeri, tahu! Nanti yang ada babysitter-nya malah salah kelon."
"Maksudnya?"
"Pikir saja sendiri."
"Aku pria sejati, Sayang. Setiaku teruji sampai mati."
"Uh... waw...."
"Aku serius...."
"Ya, ya, ya. Itu artinya mulai sekarang kau harus lihat situasi dulu sebelum mengajakku bercinta. Jangan sampai kejadian seperti itu. Oke?"
HansH mengerjap nakal. "Oke. Apa pun untukmu, Mama Sayang. I love you."
Aaaaah... dia paling bisa membuat hatiku meleleh. Seakan ada gerombolan kupu-kupu beterbangan menggelitik perutku.
"I love you too, Papa Sayang."
Dan aku kembali cekikikan.