
Kami menjauh dari danau sampai tiba di gazebo besi tempa bergaya victorian. Butiran-butiran salju mungil mulai berputar-putar di dekat telinga kami saat kami mendaki anak tangga lalu duduk di bangku kayu panjang untuk menikmati sarapan kami. Kak Sanjeev menggigit sandwich-nya dan sementara keheningan menyusup di antara kami kurasakan perutku mulai kembali tegang.
"Sandwich-nya enak?" kataku memulai, beralasan bahwa obrolan apa pun lebih baik dibanding tidak sama sekali.
Dia mengangguk lalu menatapku selekat-lekatnya. "Zia...."
Faktor penyiksaan langsung melonjak jutaan kali. "Kak, kumohon, bisakah kita lupakan saja kejadian hari sabtu itu? Please...?"
"Aku rasa kita perlu membicarakannya. Hari itu aku bereaksi dengan buruk, aku minta maaf."
Aku tersenyum -- memaksakan senyum. "Kakak hanya bersikap jujur."
"Seperti halnya dirimu."
"Ya."
"Seharusnya aku menanggapinya dengan lebih baik."
"Kakak tidak perlu berkata begitu. Aku tahu kalau kau tidak menduganya."
"Memang. Benar-benar mengejutkan. Maksudku, menit sebelumnya kita sedang membicarakan...."
"Aku tahu. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak bilang apa-apa. Entah apa yang kupikirkan."
Kak Sanjeev mendesa* lalu memandangku. "Menurutku kau hebat, Zia. Sejak dulu. Tapi kau adikku dan sangat penting bagiku. Maaf kalau aku memberimu kesan bahwa aku... bahwa kita... kau tahulah."
Aku mengangguk. "Sudahlah, Kak. Kita lupakan kejadian itu. Oke? Aku adikmu, dan kau kakakku. Kita keluarga, kita bersaudara."
"Ya, tentu saja. Tidak akan ada yang berubah. Jadi, ke mana kau pergi setelah meninggalkanku?" tanya Kak Sanjeev, menyeretku kembali ke pertemuanku dengan HansH Mahesvara.
Kupaksakan ekspresiku tetap tenang, kendati jantungku melakukan gerakan kayang. "Aku langsung ke apartemen Neha. Maksudku, kemarin itu hari yang sangat buruk. Setelah semua kekacauan yang terjadi, aku bahkan sempat menabrak seseorang, sosok pria tinggi dan aku terpental ke aspal. Sungguh memalukan. Untungnya pria itu mebantuku berdiri dan bukannya marah-marah. Padahal aku sangat takut kalau dia akan memarahiku. Syukurlah itu tidak terjadi. Dia pria yang baik, kurasa. Kami juga sempat berkenalan. Setelah itu aku langsung ke apartemen Neha. Takut kalau aku akan mengalami kesialan lagi."
Kak Sanjeev mengamati wajahku. "Jadi, apa yang terjadi sekarang? Kesialan?"
Kubuka bungkus sandwich-ku untuk menghindari tatapannya. "Kita nikmati sarapan ini sebelum jadi dingin."
"Zia...."
"Aku tidak tahu, oke?"
"Aku--"
"Kak, tolong, anggap saja kalau barusan aku salah bicara. Aku tidak tahu, maksudku... aku tidak pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya. Jadi, aku... maksudku wajar kalau aku seringkali salah bicara. Tolong mengerti?"
"HansH. HansH Mahesvara."
"HansH?"
"Ya. Kakak mengenalnya?"
"Lebih dari orang lain mengenalnya. Sebaiknya kau jauhi dia. Dengarkan aku, oke?"
Eh? Kenapa?
Tidak ada jawaban yang jelas. Kak Sanjeev hanya mengatakan bahwa HansH Mahesvara adalah sosok penjahat dan ia sangat membencinya. Dan sewaktu aku bertanya lebih lanjut apa alasan Kak Sanjeev berkata demikian, ia malah nampak kesal dan pergi begitu saja meninggalkanku sendiri bersama kebingungan. Tapi satu hal yang pasti, aku bisa melihat kebencian yang teramat besar di matanya, sesuatu yang tak pernah kulihat hampir selama dua puluh tahun -- selama aku tinggal bersamanya sebagai saudari satu-satunya.
Tetapi, toh pada akhirnya aku sedikit lega sebab akhirnya momen itu -- saat aku bersama Kak Sanjeev yang penuh dengan kecanggungan -- berakhir juga, setidaknya untuk saat itu.
Tidak ingin melanjutkan makan, akhirnya kusimpan kembali sandwich-ku, kukenakan kembali masker-ku dan aku beranjak dari sana. Dan, entah kenapa, langkah kakiku malah membawaku kembali ke area danau. HansH masih ada di sana. Masih menatap kejauhan seolah ada sesuatu yang begitu menarik di depan sana untuk terus ia lihat dengan tatapannya yang dipenuhi duka. Kurasa tempat ini pasti memiliki banyak kenangan bagi dirinya. Seperti yang kurasakan, tempat ini merupakan bagian tak terpisahkan dari hidupku, kenanganku bersama Kak Sanjeev.
Kau tahu, yang tidak akan pernah diketahui oleh Kak Sanjeev -- tapi kini menusuk hatiku seperti tetesan air beku yang tajam -- yaitu bahwa taman ini tempat pertama kali kusadari bahwa aku jatuh cinta kepadanya. Hari itu, empat tahun yang lalu, kami mengatur pertemuan makan siang di tepi danau pada sabtu pertama bulan September, seperti yang entah ke-sekian kali pernah kami lakukan sebelumnya. Perjanjiannya seperti biasa, dia akan membawa sandwich kesukaanku kalau aku menyediakan kue buatanku, jadi aku khusus membuatkan kue yang spektakuler itu untuknya. Senyum Kak Sanjeev benar-benar puas ketika melihat kue itu dan membuatku tertawa.
"Kakak mudah sekali dibuat senang," ledekku. "Cukup sepotong kue dan Kakak akan langsung mengabdi kepada orang itu. Konyol!"
"Ya karena ini bukan sembarang kue, Sayang. Ini cinta pada pandangan pertama. Dan ini dibuatkan khusus untukku."
"Buset. Jadi semua cewek yang berusaha mendekatimu untuk berkencan dengan mereka, jelas melewatkan satu trik. Yang dibutuhkan hanya kue, ya kan?"
Dia tersenyum lebar, mencubit sepotong kue lalu memasukkannya ke mulut. Sambil memejamkan mata dia memegangi jantungnya. "Carikan saja aku perempuan yang bisa membuatkan kue seperti ini untukku, dan aku akan menjadi miliknya, selamanya."
Matanya membuka dan kerlip di dalamnya tak pelak lagi khas Kak Sanjeev.
"Yah, semoga kau beruntung menemukannya kalau begitu," aku balas menyeringai.
Dia kembali tersenyum sementara mata kelabunya menatapku sedetik lebih lama dibanding biasanya. Dan saat itulah hal itu terjadi. Kurasakan detak jantungku melompat dan dunia mulai agak berputar -- dan aku tahu aku jatuh cinta. Pengungkapan itu benar-benar mengejutkanku dan, ketika Kak Sanjeev mengembalikan perhatiannya ke kue beberapa saat kemudian, aku merasa limbung oleh apa yang baru saja terjadi.
Pada hari-hari berikutnya aku berusaha menganggapnya kejadian aneh saja dan hampir berhasil meyakinkan diri hingga kali berikutnya kami bertemu pada jumat malam di apartemen Neha. Begitu Kak Sanjeev melangkah ke dalam ruangan, denyut nadiku mulai cepat dan sepanjang malam aku harus menahan dorongan untuk menatapnya. Tiba-tiba aku merasa seakan-akan baru saja melihatnya untuk pertama kali -- senyum santainya, binar matanya saat berkelakar dengan teman-teman yang lain, bagaimana ekspresi tangannya ketika berbicara. Aku sudah mengenalnya seumur hidupku tapi entah mengapa aku tidak pernah menyadari betapa luar biasa dirinya.
Mulai saat itu, cintaku semakin dalam kepadanya. Tiap menit yang kami habiskan bersama meyakinkan kembali perasaanku dan kemudian, tahun lalu, aku mulai menyadari perubahan sikapnya kepadaku. Dia minta kutemani lebih sering dan saat kami bersama reaksi kimiawi di antara kami begitu mencengangkan. Atau begitulah yang kukira....
Dengan semua kenangan itu, semua sikap manisnya selama ini kepadaku mengingat hubungan persaudaraan kami bukanlah hubungan yang terikat dengan darah, kurasa wajar kalau aku memiliki perasaan khusus terhadapnya. Tapi ternyata aku keliru. Menyedihkan. Ingin sekali rasanya aku berteriak kencang. Tetapi aku sudah cukup mempermalukan diriku sendiri dengan kejadian tempo hari. Sekarang semuanya hanya terwakilkan oleh air mata. Di sini, di tempat ini, aku menangis.
Seperti HansH, kurasa dia pun memiliki kenangannya sendiri di tempat ini.