
Mendengar suara serak yang sangat lelah dan rendah ini mata Ying Ai perlahan membuka, betapa terkejutnya dia melihat Shin yang sangat berbeda dari biasanya ini, meski dia sudah diberitahu Shen apa yang telah dan akan Shin alami, dia masih saja merasa sedih dan terluka saat memikirkannya, dia hanya bisa menahannya dan tidak mengganggu Shin didalam sana.
Namun saat dia melihat Shin seperti ini dia akhirnya tahu dengan jelas apa yang telah Shin alami, dan dia tidak akan pernah berani membayangkannya sendiri karena dia juga terlalu takut untuk itu, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri bahwa ada manusia yang tahan disiksa sedemikian rupa hanya untuk kekuatan. Dan jawabannya berada tepat didepannya saat ini.
Kondisi Shin sangat parah, matanya sayu dan lemas, dia tampak tidak bertenaga dan pikirannya seperti akan lepas kapan saja, bagaimana kondisi ini tidak membuatnya khawatir. Dia pikir saat Shin kembali nanti dia akan melihatnya penuh suka cita karena berhasil dan langsung mengambil divine flame, dia sama sekali tak akan mengungkit masalah yang telah dialaminya ini. Namun, semua itu hanyalah harapan, dan kenyataan telah dengan kejam menunjukkan wajahnya sendiri, "ini terlalu kejam baginya," begitulah monolog Ying Ai dalam hatinya.
Ying Ai turun dari atas kasur dan meraih tangan Shin yang mencoba sekuat tenaga menggapainya, dia bisa merasakan emosi yang sangat mendalam dari tangan yang gemetar itu, dia bisa merasakan kesedihan yang sangat luas dalam mata lemasnya itu, dia bisa merasakan tekad yang sudah sangat terkuras dalam tubuh lemah ini. Semua telah membuat luka yang sangat dalam di hatinya sendiri, sebuah luka yang akan membuatnya menyesal seumur hidup, sebuah luka yang tak akan pernah bisa dia sembuhkan karena satu... dia sendiri adalah penyebab dari Shin bersikap seperti ini, rasa bersalah sebesar gunung, penyesalan seluas lautan dirasakan dalam setiap emosinya, bagaimana bisa dia tega mengirim orang tersayangnya kedalam tempat yang bahkan iblis juga tidak ingin masuk kedalamnya, bagaimana bisa dia tega mengirimnya berpisah puluhan tahun lamanya hanya untuk dirinya sendiri.
Rasa sakit, frustasi, kesedihan, kekesalan dan penghancuran harapan bercampur menjadi satu menjadi sebuah pedang yang diarahkan ke tubuh Shin yang lemah, dan dia sendiri adalah orang yang menempa pedang itu dan menebaskannya.
Dua minggu mungkin waktu yang singkat bagi siapa saja bermeditasi, namun dua minggu didalam tempat yang berisi api neraka lebih buruk dari jutaan tahun disini, sekeras apapun tekad besi seseorang pasti ada sebuah senjata yang bisa menghancurkannya, seluas apapun kesabaran seseorang pasti ada api yang bisa membakar habisnya, sekuat apapun kemauan seseorang pasti ada hal yang bisa mengalahkannya. Dan tempat Shin berada kemarin adalah semua hal itu.
Hati Ying Ai bergetar hebat, diatas lantai dia berkata dengan kesedihan.
"Maafkan aku.... kau jadi begini karena aku kan..." Ying Ai memeluk sosok yang seperti tak memiliki nyawa dan semangat ini, Shin tak menjawab dan hanya berdiam saja disana, dia tak tahu harus menjawab apa, "Aku telah kembali." Atau "Tidak apa-apa, aku baik saja." Atau beberapa puluh kalimat yang mungkin digunakan saat dalam kondisi seperti ini.
"Jangan masuk kesana lagi... aku tidak keberatan jika kau tidak memiliki kekuatan hebat... biarlah kau menjadi seperti apa adanya....Shin...?" Ying Ai tak kuasa menahan tangisnya sendiri, luka yang dia rasakan mengakibatkannya menjadi seperti ini, bocah kecilnya sudah menjadi orang yang sangat berbeda hanya dalam dua minggu singkat.
Shin yang seperti ini sepertinya mulai bisa merasakan emosi tulus dari gadis didepannya ini, dia mulai pulih dan masih tidak menangis juga, dia sudah cukup membuatnya bersedih.
Wajah, suara, tubuh, dan aroma yang sudah sangat familiar dengannya dan sudah terlalu lama dia tidak merasakannya lagi hingga dia sempat lupa tentangnya, Shin bahkan tidak memaafkan dirinya karena telah melupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya, kecewa melintas di wajah dan matanya, sekembalinya dia dari sana bukannya membawa sukacita dan kebahagiaan karena kemenangan tapi malah membawa dukacita dan kesedihan karena kekalahan.
Dan seperti kataku tadi, sekeras apapun tekad seseorang akan ada senjata yang menghancurkannya, tapi wajah tegar milik Shin sepertinya jauh lebih kuat daripada tekadnya sendiri, dia berusaha tidak menangis dan hanya berdiam diri disana, barulah setelah beberapa saat dia memutuskan untuk bicara pada gadis yang bersandar di dadanya ini.
"Aku yang disiksa kok kamu yang nangis ?"
Shin berusaha untuk mencairkan suasana agar tidak menjadi lebih suram dan menyedihkan, candaan kecilnya ini terbukti ampuh untuk menghentikan tangis Ying Ai. Suaranya ia buat senormal dan sealami mungkin agar kesedihannya sendiri tersembunyi dengan sangat baik.
Ying Ai kesal karena Shin telah menghancurkan suasana sedih dan mengharukan ini, dia dengan sedikit marah mengalirkan tenaga pada tangannya sendiri, dia mengarahkan kepalanya keatas dan melihat wajah Shin yang berseri, berbeda 180 derajat dari tadi.
"Dasar bodoh ! Semua air mata ini menjadi tidak berguna karenamu."
Meski dia berkata seperti ini tapi dia masih tidak melepaskan tangannya sendiri dan ingin lebih lama lagi seperti ini. Matanya berhenti mengeluarkan air mata namun bekasnya masih terlihat jelas, Shin sedikit sedih dengan ini dan mencoba menghiburnya sedikit.
"Bagaimana sesuatu yang berasal darimu tidak berguna ?"
Setelah mengucapkan kalimat ini, Shin yang selalu diam mulai memeluk Ying Ai didepannya, tangannya dengan lancar meraih punggung kecil yang sudah lama tidak dia rasakan, tubuhnya masih tetap sama seperti sebelum dia berangkat dan ini membuatnya semakin bahagia, perubahan dalam sesuatu yang disenanginya biasanya tidak membuatnya senang, dia ingin semuanya tetap sama, tapi semua ini tak akan bisa lepas dari yang namanya waktu, akan ada masa dimana semua ini tak ada lagi, dan mungkin saja itu sebentar lagi.
Shin meraih punggung ini dan memeluknya dengan erat, dia tak ingin melepaskan tangannya dalam waktu dekat.
Ying Ai sedikit memerah dan malu karena ucapan Shin tadi, setelah keluar dari sana sepertinya Shin menjadi lebih berani, tapi ini membuatnya senang karena Shin tidak dingin dan pendiam seperti dulu. Tanpa protes lagi dia membiarkan Shin seperti ini terus.
Lima belas menit.....
"Mau sampai kapan kau seperti ini ?"
Shin jelas hanya menggoda Ying Ai, gadis didepannya bahkan menutup matanya dan seperti sedang tertidur.
"Sampai kau melepaskanku."
Tanpa membuka matanya Ying Ai membalas dengan malas, dia juga sudah tahu niat Shin kedepannya.
"Lalu bagaimana dengan ini ?"
Shin melepaskan tangannya sendiri.
"Kalau kau tidak ingin bertemu denganku lagi ya silahkan ! Jangan salahkan aku kalau aku tidur diluar malam ini !" Ying Ai hanya kesal karena Shin mencoba bercanda disaat seperti ini, lebih dari itu dia ingin mempermainkan Shin.
"Baiklah, aku tak akan melepaskanmu lagi kalau begitu." Ternyata Ying Ai telah terkena jebakan Shin.
"Hmph! Sesukamu saja."
Dalam hatinya dia kesal bercampur dengan senang, dia pikir bahwa Shin tak akan pergi lagi dalam waktu dekat, dan untuk memastikan ini dia bertanya padanya.
"Apa kau akan pergi kesana lagi ?" Suaranya sedikit bercampur dengan kesedihan.
"Jangan bahas itu sekarang. Oh, apa kau ingin aku ke sana lagi ?"
Ying Ai tidak menjawab lagi karena dia telah bertanya pertanyaan yang salah. Baru saja dia bertemu sekarang sudah bahas kepergian.
Setengah jam berlalu dalam hening dan damai, keduanya tidak bicara lebih lanjut karena tidak punya topik yang pas untuk dibahas. Dan akhirnya ketenangan ini pecah oleh suara gemuruh kuat yang berasal dari lambung seseorang yang tidak makan selama dua minggu ini.
"Ying'er, apa ada makanan disini ?"
"Eenn... biar kuambilkan dulu."
Ying Ai mengucek matanya yang tertidur tadi, dia melepaskan tangannya dan bangkit, langkahnya tertahan oleh tangan Shin yang menggenggamnya.
"Biar aku saja..."
Suaranya sedikit bergetar pada bagian akhir.
"Ada apa Shin ?"
"Tidak apa-apa."
Shin berbalik dan menuju tempat dimana itu disimpan, dia yang menahan emosinya tadi sudah tidak bisa menahannya lagi.
Sebuah air mata mengalir kecil dan segera ia seka dengan tangannya sendiri.
Dan sebelum dia mengambil makanan dia harus mengetahui hal penting terlebih dahulu.
'Kapan dan apa saja yang kau beritahu padanya !?' Suara Shin menusuk Shen yang sedang bersembunyi didalam wujud bukunya. Dia tak bisa menolak pertanyaan ini dan menjawab.
'Kenapa kau lakukan itu, apa kau tidak khawatir teknik ini diketahui orang lain ?'
'Itu semua karena kau juga, coba kau bayangkan apa yang terjadi sekarang kalau dia tidak tahu. Dia akan jadi lebih khawatir lagi, setidaknya aku telah mempersiapkan perisai untuknya lebih dulu.' Shen menjelaskan agar tidak dimarahi Shin. Shin tidak menjawab namun mengangguk puas.
Shin tidak tahu kapan dia akan masuk kedalam sana lagi, waktu disini jelas jauh lebih cepat daripada didalam sana, satu hari disini bermalas-malasan akan membuang waktu dua puluh hari penaklukan lantai tiga, dia harus dan ingin pergi secepatnya namun dia juga ingin tetap disini.
Dia memutuskan untuk memikirkan ini nanti, waktu disini adalah langka jadi tidak boleh dikacaukan oleh hal lainnya.
Malam...
Cukup banyak hal yang mereka lakukan di tempat ini seharian, bukan karena corona tapi karena mereka telah menyinggung banyak orang diluar sana, ada bahaya yang cukup besar menanti diluar sana.
Hari sudah terlalu malam untuk melakukan hal lainnya dan tidur adalah satu-satunya agenda malam ini, Shin seperti biasa tidur dibawah dengan alas seadanya namun niatnya dihentikan oleh sebuah suara.
"Shin...tidurlah disini.." Ying Ai berkata dengan malu, mengajak seorang pria tidur di kasur yang sama dengannya meski itu Shin tetap saja memalukan, Shin tidak bertanya lebih lanjut karena tidak ingin mengubah pikirannya.
"J-jangan lewati batas ini ! Kalau tidak aku akan mengusirmu dari sini." Kasur ini disekat oleh sebuah guling menjadi dua bagian, dan ancamannya hanyalah kata-kata kosong.
"Oh, lalu kenapa kau ingin aku tidur denganmu ?" Shin sangat kebingungan di poin ini.
"Pokoknya jangan kau lewati garis ini." Ying Ai menghindari pertanyaan Shin.
Tanpa bertanya lagi Shin mulai tidur di bagiannya sendiri, kasur disini cukup luas jadi jika ada tiga Shin juga masih ada ruang kosong. Dia tidur tanpa berbicara lagi, letak dari badannya kurang lebih sama dengan Ying Ai, didekat batas. Kepala mereka berbagi bantal yang sama dan sama sekali tidak dihalangi, saat dia menoleh ke kiri wajah Ying Ai yang juga menatapnya terlihat.
"Tak bisa tidur ?" Tanya Shin.
Ying Ai tidak menjawab tapi menyingkirkan batasan yang dibuatnya sendiri dan mulai mendekati Shin. Shin sedikit terkejut dengan inkonsistensi ini.
"Kau melanggar batasanmu sendiri."
"Siapa bilang, tidak ada lagi batasan disini." Ying Ai menggeser badannya sendiri menuju sebelah Shin, mungkin ini yang bernama malu tapi mau.
Shin tak bertanya karena tak peduli dengan apapun yang akan dilakukannya lagi, setidaknya dia bisa tenang melihat Ying Ai berada didekatnya.
'Apakah Shin kita berjalan melewati gerbang kedewasaan dan menjadi pria sejati ? Kita akan tahu hasilnya sembilan bulan kedepan !!' Shen seperti biasa hanya muncul saat ending hari.
'Oh ya Shen, kemana kau selama beberapa bulan aku didalam sana ?' Shin memang hanya melihat Zhu Long saat dalam fase pemulihan.
'Naga tua itu mengunci dirinya sendiri. Dunia itu jadi milik kalian berdua saja, pertapa tua ini tidak lagi memiliki hak untuk masuk kedalam tempat dengan cinta yang bersemi didalamnya.' Shen telah membangkitkan harimau yang tertidur.
'Siapa yang kau panggil naga tua Shen !!' Suara menggelegar memasuki kepala mereka berdua. Zhu Long bisa tahu karena mereka saling berbagi pemilik.
'Ratu mohon bertenang, hamba hanya sedikit bercanda pada bocah kesayangan ratu ini.' Shen berniat mengungkap hubungan mereka.
'Apa yang kau lakukan pada xiao Shin milikku itu !!" Zhu Long sama sekali tidak menutup-nutupi hubungannya dengan Shin. Jelas panggilan "xiao Shin" ini telah mengguncang jiwa Shen, sosok yang sangat sombong pada masanya telah direduksi hingga seperti ini, dia tidak tahu lagi apa yang telah terjadi didalam sana. Karena kekecewaan dan patah hati, dia memilih untuk diam dan berhenti bicara lagi.
'Shin, tak perlu buru-buru kembali kesana lagi tapi maksimal kau hanya bisa disini dua hari." Zhu Long memperingati Shin sebelum pergi. Shin juga harus tidur untuk memulai hari baru.
Besok....
Selama beberapa jam kedepan Shin ingin menemani Ying Ai ketempat yang dia inginkan, meski berbahaya tapi ini sepadan untuk itu, dia berencana untuk pergi lagi pada siang hari, setiap detik disini terlalu berharga untuk disia-siakan. Keduanya telah kembali dan sekarang waktunya pembicaraan penting.
"Ying'er, aku akan pergi sekarang juga." Shin terus terang tentang tujuannya.
"Aku tahu, tapi ingat untuk selalu tidak berlebihan dan jangan pernah lupakan aku didalam sana !!" Dia menjadi lebih ceria dan rela melepas kepergian Shin setelah satu hari bersamanya, dia akhirnya mengerti bahwa kesulitan ini bukan semata-mata untuk dirinya saja, tapi ada beberapa hal yang harus dilakukannya nanti. Dengan senyuman diwajah, Ying Ai melihat kepergian Shin.
Dia tidak bersedih terlalu lama dan mulai melanjutkan kultivasinya, untuk naik tingkat dibutuhkan waktu yang lama, dua tahun adalah waktu untuk seorang jenius dengan sumber daya tinggi, dan untuk orang biasa seperti Hong Zhao butuh tujuh hingga lima belas tahun hanya untuk menerobos, bukan karena sumber daya yang kurang tapi karena situasi bottleneck yang dihadapi setiap terobosan. Mereka kebanyakan akan tetap stagnan dan ngestuck di tahap kultivasinya selama beberapa dekade.
Dan itu hanya untuk menuju duniawi tengah, untuk terobosan lain akan butuh waktu yang jauh lebih lama. Soal menuju ahli surgawi jika sudah berkultivasi puluhan tahun juga tidak akan berhasil jika tidak ada bakat atau sumber daya yang bisa mengakomodasi kebutuhan untuk naik tingkat. Karena inilah hanya orang tua yang menjadi ahli surgawi, yang paling muda saja berumur 23 tahun dan itu sudah dipuja-puji seluruh bangsa sebagai jenius tanpa tanding. Jika Dou Qian berhasil mendapat volcano essence saat itu maka dia telah memecahkan rekor sebagai ahli surgawi termuda ! Kalau hanya kultivasi biasa akan butuh waktu sekitar enam hingga delapan tahun untuk itu.
Di depan Paviliun Mental...
Zhu Long telah menunggu kedatangan Shin di sini, dan hasilnya ternyata sangat memuaskan dirinya, Shin jadi lebih baik dan motivasi serta tekadnya terisi kembali, dia berada dalam kondisi prima yang sepertinya cukup untuk menyelesaikan lantai ketiga. "Hukuman" yang dia berikan juga sepertinya tidak diperlukan lagi.
"Kau sudah menyia-nyiakan waktu sebulan lebih disini, dengan kondisimu saat ini, ratu ini berharap kau bisa selesai tepat waktu, xiao Shin~ !" Zhu Long berkata penuh pengharapan, karena waktu telah terbuang banyak Shin harus bekerja lebih keras dari sebelumnya, tapi dia tahu bahwa keterlambatan ini sangat dibutuhkan olehnya.
Shin hanya mengangguk kecil sebagai jawaban dan kembali memasuki tempat yang sudah sangat akrab dengannya. Puluhan ribu kali Shin melewati gerbang ini dan membuatnya seperti rumah sendiri. Perasaan familiar ini bahkan membuatnya sedikit takut.
Lantai tiga Paviliun Mental, labirin pegunungan..
Shin sudah ada didepan musuh yang sudah mencederainya dengan berat, kini dia harus melawan musuh kuat ini lebih kuat dan lebih cepat dari sebelumnya.
Pertemuan tadi hanya memulihkan keinginan bertarungnya hingga titik maksimal, dengan demikian Shin akan menjadi lebih fokus dan tahan banting menghadapi labirin ini.
Satu bulan....
Dua bulan.....
Tiga bulan....
Memang butuh waktu yang lama meski sudah berada di titik puncak, namun pada akhirnya dia masih bisa berhasil plus menghapal jalan menuju kemenangan ! Waktunya memang lebih banyak dihabiskan untuk mengingat jalan dibanding mencari jalan, karena itu untuk rencana berkelanjutan. Dan untungnya harapan terbaiknya benar, semua garis start menuju garis finish dan labirin ini adalah hambatan kedua terakhir, wilayah api ungu sudah ada di dalam matanya.
Shin tidak ketakutan atau mendecakkan lidahnya karena pemandangan pembunuh harapan didepannya, sebaliknya dia malah senang dan bahagia karena sedikit demi sedikit tujuannya akan tercapai, wilayah api ungu hanya menunggu waktu untuk ditaklukkan, yang paling memompa jantungnya lebih cepat adalah penampilan dari hambatan ketiga yang sudah ditunggu-tunggu dengan tidak sabar olehnya, dia tidak takut mengenai purgatory asli lagi dan sikapnya sudah kembali seperti semula.
Dan seperti biasa, sebelum dia melangkah, slogan yang dia
ucapkan adalah,
"Trobos aja lah !!"