
Dua hari telah berlalu dan Shin sudah menunjukkan peningkatan signifikan, sudah banyak kayu besi yang rusak oleh kepalannya, Shin juga sudah mulai bisa mengarahkan kekuatan pukulannya dalam satu titik, tidak akan butuh waktu lama lagi bagi Shin untuk bisa melubangi kayu dalam satu pukulan.
Disisi lain Ying Ai semakin stress karena belum menemukan jawaban akan masalahnya, meski sekarang dia sudah bisa mengendalikan enam nyala tapi dia tidak bisa menambah lebih jauh lagi. Masalah kapasitas aura ini harus dia selesaikan sesegera mungkin.
"Untuk masalah ini aku hanya bisa menambah kapasitas auraku. Tapi itu membutuhkan terlalu banyak waktu, apa yang harus kulakukaan!? Aku tidak boleh kalah oleh bocah Shin itu!!" Ying Ai menjadikan Shin yang berbakat sebagai tolak ukur untuknya, dia tidak akan membiarkan wajahnya sebagai senior tercoreng!
"Aku tidak punya cukup aura, untuk menyelesaikan masalah ini aku bisa menambah jumlah kapasitas aura ku sendiri atau.... mengurangi jumlah konsumsi! Aku selalu mengatur agar nyala api berukuran kepalan tangan dan selalu terbelenggu karenanya. Kenapa aku baru memikirkannya sekarang!?" Nada kecewa dan bahagia tercampur dalam kalimatnya ini, jawaban yang dia tunggu-tunggu ternyata sangat sederhana sekali, tapi dia tidak pernah memikirkan jawaban sederhana seperti ini sebelumnya, dia selalu fokus memecahkan masalah dengan cara rumit dan sulit.
"Ternyata jawabannya ada didepan kepalaku sejak dulu, kenapa aku selalu beranggapan bahwa yang rumit itu selalu benar. Untunglah aku sudah keluar dari penjara pikiran ini!" Selama ini Ying Ai selalu mengatur apinya dalam suatu ukuran tetap dan tak pernah berniat merubahnya, dalam kondisi seperti ini ketetapan mutlak seperti itu sangat merugikan, beruntung Ying Ai punya guru seperti Feng Li yang terus memantau perkembangan anak didiknya, bahkan sampai hal kecil seperti ini tidak luput dari pandangannya. Selain untuk meningkatkan kontrol Ying Ai latihan ini juga dimaksudkan untuk menghancurkan penjara pikiran itu! Jika tidak, perkembangan masa depan Ying Ai akan sangat terhambat.
Enam api seukuran kepalan tangan dia kurangi nyalanya setengah, "Masih belum, ini masih belum cukup kecil!" Ying Ai yang ambisius terus mengecilkan apinya hingga sepersepuluh dari ukuran tadi, karena Ying Ai belum terbiasa menjaga keseimbangan dari nyala dengan intensitas ini, enam api kecil mulai padam satu persatu. Tapi Ying Ai tidak menunjukkan kekecewaan sedikitpun, dia tahu bahwa dia harus mulai dari satu api lagi dan ini jauh lebih mudah daripada sebelumnya. Hanya butuh waktu satu hari latihan bagi Ying Ai untuk dapat mengatur enam api kecil kembali. Dia yakin bahwa dia tidak akan kalah dari bocah Shin ini.
Dua hari kemudian...
Shin tidak lagi memakai perban karena kayu ini tidak akan lagi melukainya dan Ying Ai juga sudah membentuk nyala kesembilan.
Ada sebuah kompetisi kecil diantara mereka sekarang, siapa yang bisa menyelesaikan tugasnya lebih cepat akan bisa memberi yang kalah satu perintah. Kompetisi ini diprakarsai oleh Ying Ai meski ada hasutan Feng Li didalamnya, dia ingin agar kedua muridnya lebih terpacu oleh sebuah taruhan ini. Ying Ai tidak memiliki alasan untuk kalah karena harus menjaga harga dirinya sebagai senior sedangkan Shin tidak ingin kalah karena tidak mau diperintah oleh Ying Ai. Sebuah pertandingan dengan rasa adu domba didalamnya dimulai!
"Jangan sampai menangis karena kalah ya Shiin!" Ying Ai memanas-manasi Shin yang hendak lari bersamanya.
"Kau harus menuruti perintahku nanti!" Jawab Shin tidak mau kalah.
"Hmph! Jangan harap! Kau terlalu banyak menghayak bisa mengalahkanku!"
Feng Li hanya tertawa kecil melihat kedua muridnya ini, "Haah... Aku tidak tahu kapan saat itu akan tiba." Feng Li menghela napas dan berbicara ngelantur. Tidak ada yang tahu apa maksud dari kalimatnya ini, tapi yang jelas Feng Li tahu apa itu.
Setidaknya untuk kedua muridnya saja.
"Bersiaplah untuk menerima kekalahanmu Shin!" Ying Ai masih terus memprovokasi Shin yang kelelahan.
"Kau bahkan tidak memberiku waktu istirahat, kau mirip dengan iblis sekarang!"
"Apa kau bilang!!" Ying Ai marah dan mulai membakar Shin.
"Hahaha, seperti biasa apimu tidaklah panas sama sekali." Shin tertawa karena sudah terbiasa dibakar olehnya.
"Hmph! Setelah ini apiku akan membuatmu jadi abu!" Ying Ai marah dan kesal terhadap dirinya sendiri.
"Maka itu tidak akan pernah terjadi kan?" Shin sudah sangat ahli dalam hal membuat marah Ying Ai.
Ying Ai tidak menjawab lagi dan memulai latihannya. Sembilan api kecil melayang-layang didekat tubuhnya dan mulai membuat api kesepuluh. Ying Ai tidak menggunakan kayu bakar karena tidak lagi berguna. Shin juga tidak ingin kalah dan berjalan ke depan kayu yang sudah rusak. Setiap pukulan dari Shin menimbulkan kerusakan yang masif pada kayu hingga harus diganti berkali-kali.
Brak!
Kayu besi hancur berkeping-keping dan mengeluarkan suara keras. "Meledak lagi!" Shin kesal karena beberapa hari ini nasib targetnya selalu sama.Tapi disisi lain Ying Ai menunjukkan wajah kemenangan.
Matahari sudah berada di puncak langit menyinari seluruh dunia dengan sinar menyengatnya. Dibawah siraman sinar ini dua anak kecil tidak terpengaruh sedikitpun. Posisi mereka saat ini terlalu kritis untuk mempedulikan hal sepele seperti ini. Saat ini Ying Ai berada diatas angin meninggalkan Shin dibawahnya. Puluhan kayu sudah berganti dan setiap kayu memiliki kerusakan yang lebih kecil daripada sebelumnya, sedikit demi sedikit Shin menyingkat jarak mereka berdua. Ying Ai yang berada didepan tersentak dan mempercepat lajunya sekali lagi. Tapi setiap ledakan terdengar, jarak antara mereka menjadi semakin dekat! Ying Ai menjadi lebih fokus dan lebih memacu dirinya.
Garis finish sudah ada didepan mata, manakah yang lebih dulu, ledakan disertai lonjakan kecepatan atau ketenangan dengan kecepatan konstan?