
Lantai tiga Paviliun Mental, Puncak Gunung...
Shin butuh waktu sekitar satu hari di puncak gunung ini untuk mengingat lanskap pegunungan, dia yakin bahwa akan ada gunung tinggi lainnya dan tinggal mengulangi hal seperti ini lagi.
Shin turun dan memulai perjalanan yang tertunda cukup lama ini. Perjalanan melalui gunung yang tak terhitung jumlahnya ini hanya membuat Shin kesulitan sedikit, setelah menghapal jalan yang benar perjalanannya cukup mulus tanpa hambatan, dia yakin juga akan tetap mengingatnya walau terlempar kembali.
Setelah perjalanan satu minggu melalui arah yang direncanakan, Shin sudah diluar jangkauan mata di atas pegunungan tadi. Ya, dia tersesat !
Dalam kondisi dengan sedikit harapan ini Shin sebisa mungkin mempertahankan ketenangannya, tengok kiri tengok kanan semuanya hanya ada gunung, sebuah gunung tinggi yang akan dijadikannya sebagai acuan dan petunjuk juga tidak muncul dalam penglihatannya, Shin bahkan merasa sedikit menyesal mendaki gunung tadi.
"Trobos aja lah !!"
Sebuah tekad yang mantap dikeluarkan Shin, dia hanya bisa coba-gagal-ulangi dalam kondisi seperti ini, se-sama apapun pegunungan disini pasti akan ada sedikit perbedaan didalamnya, jika Shin bisa menghapal pola pegunungan, walau lebih lama tapi perlahan tapi pasti dia pasti akan berhasil melaluinya.
Shin menatap pegunungan didepannya dengan fokus, dia kini berada di sebuah dataran tinggi dan mencoba menghapal jalan meski banyak terhalangi gunung kecil lainnya. Dia terus mengulangi cara ini beberapa kali, meski demikian dia masih tersesat beberapa kali juga. Arah yang salah dia blacklist dalam otaknya sendiri, dengan metode eliminasi ini sedikit demi sedikit jalan yang benar akan muncul dengan sendirinya.
Dua minggu.....
Dalam waktu dua minggu di dunia luar Shin hanya berhasil keluar dari tempat tadi dan belum keluar dari pegunungan sepenuhnya, kebanyakan waktunya dihabiskan dengan mencari jalan dan tersesat. Waktu untuk merencanakan perjalanan hanya berlangsung sebentar.
Sekarang Shin sudah mencapai bagian baru dari pegunungan neraka ini, pemandangan bagian ini sangat berbeda dari tempat sebelumnya, Shin bahkan mendecakkan lidahnya karena tempat ini.
Tidak ada gunung kecil seperti sebelumnya, hanya gunung menjulang tinggi dengan kemiringan 70 derajat lebih dan ukuran yang besar, gunung paling kecil disini saja seukuran dengan gunung yang pertama kali didaki oleh Shin, serta jumlahnya juga tak terbilang banyak, dengan begini akan terbentuk jalan kecil di kaki gunung yang bisa dilewati Shin, dan tentu saja akan ada ratusan cabang lain yang akan menunggunya setelah ini.
Letak gunung tidak sejajar atau memiliki pola, jadi tidak mungkin baginya untuk mencoba memahami jalan disini, jangan bilang untuk mendaki gunung, akan butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk mendaki satu dan jika dia berhasil juga hasilnya akan membuatnya menjadi sangat down, penglihatannya akan terhalang oleh gunung lain dan hanya jalan masuk saja yang akan terlihat, itu juga belum tentu jalan yang benar. Ini adalah labirin alami yang didesain sedemikian rupa untuk membuat orang tidak bisa keluar setelah memasukinya.
"Trobos aja lah !!"
Motivasi dan penyemangat Shin selalu sama, dengan modal nekat tingkat tinggi ditambah keberanian ekstrim dengan pikiran teguh dan pantang menyerah dia yakin halangan apapun pasti bisa dia lalui. Dalam pintu masuk kedalam pegunungan ada lima jalan masuk berupa lembah.
Setelah sesi pengundian singkat dengan tangannya sendiri dia memilih pintu masuk paling kiri, yang tengah pasti tidak akan pilih, cabang yang akan dia temui pasti akan lebih banyak dan membingungkan.
Agar bisa menyelesaikan labirin dengan mudah hanya butuh satu syarat, mengetahui dimana letak jalan keluar. Karena dia harus menuju ujung dari purgatory jadi dia hanya harus menuju kedepan, dan karena disini semuanya sama jadi rawan sekali tersesat dan bingung, antisipasi Shin adalah dengan tidak menoleh kebelakang setelah melaju lagi, batang hidungnya harus selalu mengarah ke jalan keluar dari sini, itulah kompas milik Shin disini.
Shin tidak ingin berlama-lama didalam sana karena hanya akan membuat mentalnya jenuh dan tersiksa, dengan modal nekat dan mengandalkan keberuntungan saja Shin berlari sekencang mungkin di jalan yang akan dipilihnya, setelah dia masuk kedalam dia tidak akan berhenti sebelum menemukan jalan buntu. Dia mengandalkan tekad dan keberuntungan semata dalam percobaan pertamanya, dan jelas ini memiliki banyak sekali kerugian. Pertama, setelah tekadnya habis dia akan langsung gagal. Kedua, mungkin saja dia benar-benar sangat beruntung keluar dari labirin ini namun setelahnya ? Dia mungkin tidak akan seberuntung itu. Ketiga, dia tidak menggunakan otak atau rasionalitasnya sendiri disini jadi tidak mungkin baginya untuk menghapal jalan disini dalam sekali jalan.
Dan benar saja, hanya setelah satu minggu berlarian kesana kemari dan tersesat, dia sudah menyerah dan terlempar. Dia melakukan brainstorming dan mengembalikan rasionalitasnya yang sempat hilang pada fase pemulihan.
"Setelah yang paling kiri, ke tengah, kanan, kanan, kiri lagi, tengah.... bukan, paling kanan." Shin mencoba mengingat-ngingat jalan benar yang telah dilaluinya, karena caranya tadi seratus persen salah wajar saja dia tidak ingat. Shin kemudian merevisi rencananya, dia memilih untuk berjalan dengan konstan dan melakukan do and try berulang-ulang. Jelas tidak mungkin untuk memetakan seluruh labirin dengan menjalaninya satu persatu, apalagi di awal ada lima jalan dan tidak berarti semuanya mengarah ke jalan yang benar, hanya ada kemungkinan dua puluh persen atau mungkin lebih baginya untuk bisa beruntung memilih yang benar. Dia berpikir matang-matang untuk tetap yakin atau ganti garis start miliknya. Setelah berjalan berbulan-bulan perjalanan dan pencarian tanpa henti Shin pastinya tidak ingin hanya menerima jalan buntu sebagai hasil.
"Hal ini diluar kendaliku, kupasrahkan saja pada keberuntungan-ku yang cukup buruk ini." Meski dia sendiri bilang cukup buruk tapi nyatanya dia bisa menerima TIGA item yang mengguncang dunia, ditambah beberapa skill lainnya, kalau ini disebut buruk lalu yang bagus itu seperti apa !!?
Tapi kalau kita telusuri lebih lanjut, keberuntungannya baik setelah menerima nasib buruk, andai saja orang tuanya tidak menanamkan segel padanya, dia tidak akan memiliki nasib hebat seperti ini lagi, dia tidak akan bertemu Feng Li dan berbagai orang yang memiliki hubungan dengannya, dia hanya akan tetap jadi bocah lemah dari tempat kecil kumuh bernama Kota Mang, dan mungkin saja dia akan berakhir mati sia-sia karena ambisi Patriarik-nya sendiri. Bisa dibilang kematian pamannya, Hong Wei, adalah pengubah nasib 1080 derajat ! Tidak terduga dan sangat sangat berbeda jauh dari nasib aslinya.
Shin berpikir lama sekali walau dia mengandalkan keberuntungannya sendiri, hasil dari salah start akan jadi salah jalan, dia mungkin akan langsung menyerah memasuki purgatory dan frustasi terlalu banyak, waktu yang dia butuhkan akan jadi 2 atau 4 kali lipat jika dia salah terus, saat itu terjadi waktu akan habis dan satu hambatan tersisa hanyalah angan-angan.
Dan pikiran yang paling menakutinya adalah bahwa ini bukan akhir dari hambatan kedua, bisa saja masih ada pegunungan lain yang masih menunggu untuk menyiksanya lagi, dan dia baru saja teringat satu hal yang sangat penting, ini hanyalah versi sangat lemah dari purgatory !! Ada banyak kondisi mengerikan yang mungkin saja terjadi, contohnya adalah labirin yang terus berubah, lautan lava dengan ombak, gunung dengan puncak runcing dan sungai lava yang mengalir diantara lembah yang digunakan sebagai jalan untuk Shin, hanya dengan memikirkannya saja dia sudah sangat berkeringat, semua hambatan didalam sini tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan purgatory asli, kepercaya diriannya telah berkurang drastis, optimis kuat telah digantikan dengan pesimistis yang sangat hebat, slogan "Trobos aja lah !!" juga mulai tergantikan dengan "Nyerah aja lah." Motivasinya turun hingga titik terendah dan akan sangat sulit untuk tumbuh kembali, dia mulai melupakan tujuan awalnya, tidak ada Ying Ai, tidak ada ibu yang ingin ditemui, rasa takut sudah melahap semua kepribadian Shin, dan semua ini hanyalah sedikit rasa takut yang muncul dari dalam pikirannya sendiri, sekuat apapun kekuatan mental Shin, dia masihlah bocah sebelas tahun, tak mungkin bocah kecil biasa bisa melaluinya yang ahli terkuat saja menyerah karenanya. Bisa mencapai hambatan kedua dalam lantai tiga Paviliun Mental dalam kurun waktu 3 tahun kurang jika dihitung sudah merupakan hasil yang lumayan, juga tidak ada yang memaksanya melalui purgatory sekarang, tidak Shen, tidak Zhu Long, juga tidak orang tuanya sendiri, bahkan orang tuanya menyarankan agar Shin menunggu beberapa tahun lagi. Ini semua berasal dari hati dan jiwanya sendiri, jika itu sudah hancur dengan sendirinya, itu juga hanya bisa pulih oleh dirinya sendiri juga, Zhu Long mungkin bisa membantu tapi itu saja, kedepannya mungkin tidak baik bagi Shin.
Periode pemulihannya ini menjadi sangat lama karena terganggu dengan pikiran negatif itu, dalam waktu sepuluh jam juga masih belum ada tanda-tanda bahwa dia akan segera bangun dari "tidurnya" ini dan jelas Zhu Long yang selalu memperhatikannya menjadi sangat khawatir dengan ini.
"Dia sudah tidak sanggup lagi, aku juga tidak bisa menolongnya lebih jauh." Zhu Long menghela napas kecewa dengan tidak adanya ekspresi kecewa di wajahnya, dia sendiri paling tahu apa itu Purgatory atau Paviliun Mental, kesulitannya diluar nalar dan dia sangat bangga bahwa Shin bisa mencapai hasil seperti ini, Shen juga berkata dengan mudah dan tidak membicarakan kesulitan disana agar Shin tidak down lebih dulu, tidak ada simpul atau luka tersembunyi di hatinya, hanya saja motivasi dan tekadnya sudah ia habiskan dan mengisi ulang ini bukanlah hal yang mudah.
Dua puluh jam.....
Satu hari....
Shin membuka matanya dengan sayu dan tanpa emosi lebih lanjut, dia dengan malas melangkahkan kakinya kedalam Paviliun Mental seraya berkata.
"Ini..hanya hambatan lain."
Suaranya sangat malas dan lemah sehingga tidak terdengar oleh Zhu Long, namun dia masih bisa merasakan emosi yang dikeluarkannya.
"Cukup ! Berhenti disana ! Apa kau mau masuk kedalam sana dengan kondisi seperti ini !!? Sekuat apapun tekad dan mental pasti akan ada batasnya, kau hanya menyiksa dirimu sendiri dan bukannya menaklukkan purgatory kalau begini terus." Zhu Long marah dan meraih tangan Shin lalu menghentikan langkahnya, dalam kondisi ini sebuah air mata mengucur keluar dari mata indahnya, dia dengan sedih melihat Shin yang tampak layu tak bertenaga ini.
"Apa kau ingin menyakiti kakakmu ini !? Berhenti masuk kedalam sana lagi, hasil seperti ini sudah sangat menakjubkan bagi anak sepertimu, jangan membuatku lebih khawatir lagi Shin... kau tidak boleh.... masuk kedalam sana.... lagi..."
suaranya bergetar dan tampak sangat menyedihkan, momen yang tidak terjadi selama jutaan tahun, Zhu Long menangis. Suaranya memicu kesedihan dunia ini, semuanya tampak diam dan tenang tak bersuara, namun Shin sudah menjadi orang yang berbeda, dia tampak menjadi sangat terobsesi dengan menyelesaikan purgatory hingga tak peduli dirinya sendiri
"Tidak, aku harus tetap masuk kedalam sana."
Tekadnya ini bahkan menyebabkan Zhu Long merasa ketakutan, jika dia masuk lebih dalam jiwanya mungkin saja akan terluka. Jika begini maka semua kerja kerasnya akan jadi tidak berguna.
Zhu Long memikirkan cara untuk memulihkan Shin, Devouring Palace dia pikirkan, namun sepertinya tidak akan bekerja lebih lanjut, dengan begini dia hanya bisa terpikirkan satu-satunya cara lagi, jika ini gagal maka gagasan menyelesaikan purgatory dalam umur sebelas tahun hanya akan jadi mimpi indah semata.
"Shin, temuilah seseorang diluar sana !" Zhu Long berniat mengeluarkan Shin dari sini.
Shin tidak menunjukkan ketertarikan apapun dan hanya menatapnya saja, dengan lambaian lengan baju Zhu Long, tubuh mental Shin segera terlempar keluar dan masuk kedalam tubuh fisiknya sendiri, hanya ada sekitar dua minggu lebih disini, dia tidak mengerti dan hanya membuka matanya, dia mencoba masuk lagi kedalam namun itu dikunci hingga dia tidak bisa masuk lagi.
Saat dia merapihkan bajunya yang berdebu karena ditinggalkan lama sekali, dia melihat seseorang yang sudah sangat sangat lama tidak dilihatnya, duapuluh....tidak, tiga puluh tahun lebih dia berada didalam purgatory yang kejam dan membosankan, hanya ada api dimana-mana dan hanya rasa sakit serta gemericik api yang menemaninya, bantuan Zhu Long hanya bersifat sementara, itu tidak bisa bekerja selamanya, akan ada fase jenuh bagi Shin untuk disiksa lagi dan ini sangat wajar, yang mengkhawatirkan adalah Shin tetap memaksa masuk kedalam terus menerus.
Shin melihat sosok merah seperti dewi api diatas tempat tidur, dia menutup matanya dan tampak sangat fokus dengan kultivasinya, sosok kecil mungil yang telah menemaninya selama beberapa bulan singkat ini telah berada jauh dengannya, bahkan dia sempat melupakannya. Shin kecewa dengan dirinya sendiri, dia ingin mendekati dan memeluk sosok yang dekat ini namun terasa sangat sangat jauh, dia mengulurkan tangannya sendiri namun segera ia tarik kembali, jika dia melakukan ini maka sosok didepannya akan curiga dan bertanya apa yang telah dan akan dilaluinya, yang paling penting baginya adalah untuk tidak membuat sosok didepannya khwatir.
Sangat dekat, namun ternyata sejauh dua dunia.
Shin diam dan akhirnya memutuskan tidak melakukan apa-apa, Shen yang tidak melihat Shin selama beberapa waktu telah menebak dengan benar kondisi Shin saat ini, dia mengirim telepati dan berkata sebuah kata yang harus didengar oleh Shin.
"Jangan khawatir dengan hal lain, temui saja dia !"
Shin bergetar hebat, dia kembali meraih tangan kearahnya dan berkata dengan kepayahan.
"Ying...Ai..."