Lone Hero

Lone Hero
Pertarungan Keras



Shin menarik tongkatnya kembali dari sana dan terus mengendalikannya dari jauh. Menyerang Beast di depannya ini dengan sengit. Floating Staff Control memang sangat berguna dan fleksibel, tanpa perlu bersusah payah dan hanya diam mematung saja Shin sudah bisa bertarung, meskipun dengan kekuatan mentalnya yang sekarang masih sulit untuk bisa mengalahkannya.


Dentang! Dentang!


Tiap kali dua benda yang amat keras ini beradu, suara besi terdengar dengan sangat nyaring, kemampuan pertahanan kulit kerasnya itu sungguh mengerikan, bahkan Paramita Divine Wood yang berada dalam kendali Shin tidak bisa berbuat banyak. Saat ini, Shin memfokuskan untuk menyerang kepala atau punggung dari Beast ini, jika seperti ini terus memang butuh waktu semalaman untuk menembusnya. Kelemahannya, bagian bawah tubuhnya, sengaja tidak dia serang dalam saat-saat pertama, bagaimanapun dia hanya perlu untuk memancing amarahnya saja, jika Beast ini terlalu banyak terluka maka tidak akan berguna banyak dalam rencana ke depannya.


Melihat situasi yang semakin lama semakin tidak menguntungkannya, Shin akhirnya menggunakan Battle Nirvana. Segera, pikirannya menjadi sangat jernih, kontrolnya meningkat tajam dan dengan ini Shin punya beberapa keyakian tambahan.


Shin dengan pikirannya menarik kembali Arhat Staff ke arahnya; bersiap untuk sebuah serangan kuat. Dia kemudian mulai menyalurkan semua Aura miliknya ke dalam tongkat kayu tersebut. Shin kembali mencoba menembus pertahanan dari Beast level 8 ini, serangan tusukan dari jauh memang yang paling pas untuk tugas ini. Setelah dirasa cukup, Shin mengarahkannya tajam ke depan dengan kecepatan tinggi, seharusnya Aura Armor ahli Surgawi pun akan memiliki retak karenanya.


Shin memang menyerang dari depan namun itu hanyalah untuk mengalihkan perhatiannya saja, saat ekor berapinya dilengkungkan ke depan untuk menutupi kepalanya sendiri, Shin melengkungkan bibirnya dalam bentuk senyum kepuasan dan secara tak terduga mengarahkan senjatanya ke samping untuk menyerang bagian sisi tubuhnya, paling tidak itu lebih rapuh dari punggungnya.


Namun Blazing Tail Salamander juga tidak bodoh dipukuli seperti ini terus oleh Shin, dia maju dengan empat kaki besarnya dan mengayunkan ekornya bak sebuah cambuk dengan kecepatan tinggi, untungnya Shin yang dalam kondisi Battle Nirvana tidak akan bisa ceroboh, dia masih sempat menghindari serangan ini dengan mundur ke belakang, jika dia terkena serangan ini dia jelas akan mengalami luka fatal. Kecepatan ekor itu mengerikan, dalam sekejap mata itu sudah menghantam tanah dan segera suara retak renah ditransmisikan cukup keras. Selain dari kekuatan gempurannya yang tinggi sehingga tanah tidak kuasa menahannya, jangan lupakan Beast jenis apa dia ini, ekornya lebih panas daripada lahar dan segera tanah di sekitar situ meleleh.


Tetapi, Arhat Staff di samping tubuhnya masih melakukan tugasnya dan itu pun masih menckba menusuk tubuh Blazing Tail Salamander. Tanpa ada hambatan apa pun, itu menusuk dengan kejam.


Jleb!


Suara teredam muncul saat tongkat menusuk bagian samping tubuhnya, itu terbenam sepuluh cm lebih dan jelas itu cukup dalam, meski tidak menembus kulitnya secara langsung tapi salamander ini sangat kesakitan, kekuatan penetrasi yang dikandungnya bukan kaleng-kaleng. Akibat hantaman dari samping ini, tubuh salamander yang sangat besar terdorong kesamping beberapa langkah dan dia segera meraung kesakitan.


Manakala teriakan yang memekakkan telinga ini meluas ke seisi daratan, sungai lahar di tengah kembali terangkat, adegan ini Shin cukup familiar dengannya, dan tebakannya memang benar. Segera, sesosok salamander dengan tubuh dan penampilan yang lebih ganas daripada betina ini muncul dengan cepat dan mendekatinya dengan langkah kaki yang membawa tremor kecil. Tak lain dia adalah suami dari Beast level 8 ini!


"Akhirnya kau datang juga, apa kau tidak lihat istrimu sendiri dianiaya olehku sejak tadi?" ucap Shin hanya sebatas monolog saja, Jangankan membalas, Beast level 8 ini bahkan tidak mengerti ucapannya. Dalam kondisi 2 vs 1 ini Shin tidak terlihat khawatir, dia masih punya beberapa kartu as yang kuat seperti Arhat yang bersemayam di dalam Arhat Staff, meski dia tidak akan menggunakannya untuk bertarung, dia bisa tenang soal nyawa.


Shin kembali menarik tongkat dan dengan pikirannya dia memerintah Arhat Staff melawan yang betina dan dia sendiri melawan si jantan, Shin akan jadi geprek jika berani melawan si istri begitu saja. Dia adalah Beast level 8 sejati, kekuatannya adalah tahap Surgawi, bagaimanapun hebatnya dia level seperti itu masih jauh baginya. Shin punya pemikiran bahwa dengan menggunakan Arhat Staff secara langsung, posisinya akan dirugikan. Jika seperti itu situasinya adalah 1 vs 2, dan dia tidak punya harapan untuk menang jika itu terjadi.


Arhat Staff melayang menuju si istri dan asyik memukulinya dalam kendali Shin, jika dia sudah mengumpulkan dua Great Sage Staff lainnya maka itu akan punya kecerdasan, sama seperti Shen dan Zhu Long lalu bisa bertarung sendiri.


Meninggalkan Arhat Staff dan Beast betina, Shin berlari ke samping guna memisahkan mereka berdua dan semuanya sesuai dengan ekspektasinya, dia diikuti langsung oleh si jantan sementara si istri masih tetap fokus melihat Arhat Staff yang menggantung di depannya. Meski ini adalah 2 vs 2 namun nyatanya ini masih 1 vs 2, Shin harus membagi fokus antara dirinya dan senjatanya, setelah memasuki lantai kedua Paviliun Mental ini masih juga tugas yang sulit.


Saat Shin berlarian menjauh dia diam-diam menyerap Aura Bumi di sini yang ternyata memiliki atribut api yang kuat dan murni. Aura Bumi adalah jenis Aura yang cukup unik, itu khusus bagi para martial artist dan sangat dipengaruhi oleh tempatnya berpijak, jika dia ada di tempat yang dingin Aura Bumi akan membawa atribut es ke dalamnya. Karena Shin sudah berpengalaman dengan darah yang mendidih dan panas gila di sekujur tubuh, dia menjadi sangat haus akan Aura Bumi yang panas ini, tubuhnya dipenuhi aura berwarna hijau kemerahan dengan dominan kuning.


Sudah cukup lama Shin tidak menggunakan teknik bela dirinya hingga dia lupa beberapa, namun paling tidak ini masih cukup untuk bertarung seimbang dengan beast level 7 ini, ditambah dengan Battle Nirvana dia akan memenangkan pertarungan ini meski probabilitasnya kecil, sekecil lubang jarum yang diperkecil lagi.


Shin merasa bahwa dia sudah menyerap banyak Aura Bumi dan sudah berjarak cukup jauh dari sang istri, dia berhenti lalu berbalik dan melesat ke depan kembali dengan Earth Step, seluruh tenaga dari Aura asli, Aura Bumi dan hukum ipa, dia kumpulkan dalam tangan kanannya, urat merah dan biru menegang karena aliran tenaga yang sangat kuat mengalir ke dalamnya, tangannya bak gunung berapi yang siap untuk meletus dan mengandung kekuatan eksplosif yang tinggi.


Bang!


Satu tinju menghantam kepala Beast ini, dia yang berlari kencang harus rela mundur beberapa langkah lagi. Bagaimanapun, serangan Shin tidaklah terlalu kuat dan juga pertahanan tengkorak Blazing Tail Salamander sangat kuat, Shin tidak bisa melakukan one hit kill seperti biasanya. Namun, dia juga sudah menduga hasil ini jadi tidak terlalu kecewa dengannya, dengan cepat ia melesat lagi dan menyerangnya dari atas dengan sebuah telapak tangan yang ditambah dengan skill Mountain Weight Pressure.


BRUK!


Beast dipukul dari atas dengan tekanan kuat menyertai seluruh tubuhnya, kekuatan yang terkandung dalam dua serangan ini sudah cukup untuk menyebabkan darah mengalir di kepalanya yang keras, tekanan tiga ton tidak cukup untuk menahan gerakannya, dia mengibaskan ekornya dan menyerang Shin di depannya dan dengan mudah dihindari oleh Shin. Shin lalu meluncurkan beberapa serangan beruntun lagi pada tubuhnya.


Waktu berlalu denyan cepat dan sekarang sudah tengah malam, sebelum-sebelumnya Shin menghabiskan waktu dengan memukul dan dipukul oleh pejantan di depannya. Sayangnya, setelah semalaman bertarung dengan dua Beast tingkat tinggi sekaligus, kekuatan mentalnya sudah terkuras habis, dia tidak bisa menggunakan Battle Nirvana atau Floating Staff Control lebih lama lagi, resiko selanjutnya terlalu tinggi. Dengan kekuatan mental yang tersisa sedikit, Shin mengambil kembali senjatanya ke genggamannya.


Bukan berarti semua perjuangannya sia-sia, buktinya jantan di depannya ini sudah berdarah dan penyok di banyak tempat, dia tampak sangat mengerikan dan menjadi lebih ganas lagi. Shin, dia sebenarnya tidak jauh berbeda juga, kedua tinjunya berdarah-darah, kakinya yang sering digunakan untuk menendang besi kokoh ini menunjukkan tanda akan menyerah. Dia paling banyak hanya akan mampu bertahan setengah jam lagi sebelum mati. Di sisi lain, si betina juga dalam kondisi yang lebih parah, bagian sisi tubuhnya berlubang, ekornya penyok dan tergores, namun Arhat Staff masih belum menerima goresan sedikit pun, terbuat dari Paramita Divine Wood akan memalukan jika dia tergores oleh Beast level 8 belaka.


Kondisi 2 vs 2 sekarang harus berubah lagi menjadi 1 vs 2, Shin bisa masuk ke dalam Devouring Dragon Vessel namun dia hanya akan melakukannya saat darurat mengancam nyawa saja, jalan menuju puncak dunia ini penuh duri dan berliku, tidak ada jalan mudah untuk menjadi satu, dan dua Beast di depannya hanyalah sebuah batu kecil di dalam jalanan luas kehidupan.


Pertarungan mereka sengit dan keras, banyak swrangan kuat dilancarkan masing-masing yang dampaknya tidak bisa diremehkan, tentunya banyak ahli lain yang tertarik untuk melihat pertempuran dahsyat ini, namun mereka paling tertarik dengan harta terbang milik Shin ini, mata gila harta tak peduli nyawa mulai muncul pada mereka. Bagaimana tidak, ada bocah tahap Pembentukan tengah berani melawan dua Beast tingkat tinggi, ini hanyalah acara cari mati dan bocah super nekat lainnya, tertawaan dan hinaan mereka keluarkan saat menonton pertarungan ini. Dan juga ada yang memanfaatkan peluang mengambil harta hebat dari tangan bocah ini, jadi selain melawan dua pasutri ini Shin juga harus melawan para ahli lainnya, banyak yang dibunuh olehnya dan ada juga yang  tidak sengaja terbunuh oleh dua Beast lawannya ini. Setelah itu tak ada yang berani meremehkan dan mencoba mengambilnya, setidaknya untuk saat ini, tak ada yang tahu apa yang mereka rencanakan setelah hasil pertempuran keluar.


"Heaah!! Pertarungan kita belum selesai sama sekali!" Shin, dia paham dengan jelas tugasnya kali ini, dia harus bisa bertahan melawan keduanya sampai besok siang, biarpun itu mustahil, dia masih akan mencobanya!


Dengan teriakan tadi, dia langsung berlari dengan kaki yang gemetar intens, tanpa mengindahkan semua hal itu, dia menyerang jantan di dekatnya dengan hantaman tongkat dan pertarungan ronde kedua yang sungguh akan membuat Shin mati dalam setengah jam dimulai.


Di dalam Devouring Dragon Vessel, Zhu Long memperhatikan pertarungan Shin sepanjang hari, sifat pantang menyerah dan pekerja keras milik Shin bahkan membuat ratu kita tercinta sedikit tersentuh.


"Bocah, kau memang mirip dengan ayahmu." Zhu Long entah bagaimana dimiliki oleh orang tua Shin dan menjalin hubungan yang cukup baik dulu, bisa dimiliki oleh keturunan mereka juga salah satu kebahagiaannya namun dia tak menyangka bisa bertemu Shen di anak yang sama. Sifatnya yang dingin menyebabkan dia tak pernah bicara pada Shin selama beberapa tahun terakhir, jika dia mau dia bisa keluar dan bicara padanya, setidaknya dia masih bisa membiarkan pecahan jiwa ibunya tetap di dalam sana.


"Kalau begini terus dia hanya akan mati." Zhu Long berniat menyedot Shin ke dalam dunia ini saat kondisi bocah itu semakin menyedihkan, namun segera diperingati oleh Shen.


"Zhu'er, jangan lakukan itu. Ini bagus untuknya." Shen masih di dalam bukunya sendiri, karena dia berbagi pemilik yang sama dia bisa tahu keadaan di tempat lain.


"Apa mati bermanfaat untuknya?" Zhu Long tetap bersikeras membantu Shin.


"Apakah sang ratu ingin menolong bocah kecil ini?" Shen mengungkapkan celah besar dalam kalimat Zhu Long tadi.


"Hmph! Memangnya kenapa kalau begitu? Nyawanya terlalu penting untuk mati di tempat seperti ini." Zhu Long menyilangkan tangan di dadanya dan wajahnya dia palingkan, sosok ratu ini memang bisa memikat Grand Sage dengan pesonanya.


"Hahaha... tenang saja, kau tentu diperbolehkan membantunya hanya saat dia di sisi jurang kematian saja." Shen juga tak ingin kandidat Grand Sage selanjutnya mati begitu saja.


Dua puluh menit sudah berlalu dalam pertempuran berat sebelah ini, dan ya, Shin tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Auranya tinggal sepuluh persen; dia berdarah di mana-mana terutama kedua tangannya, kedua telapak tangannya juga lecet akibat memegang Arhat Staff dengan kuat; senjata miliknya basah oleh darah yang mengucur dari tangannya. Tatapannya menjadi sangat dalam dan penuh niat membunuh pada dua Beast di depannya, dia tidak bisa lagi menerbangkan tongkatnya maupun memasuki kondisi Battle Nirvana. Kepalanya sakit karena konsumsi energi mental berlebih dan akan lebih parah lagi jika memaksa menggunakan dua hal itu.


Saat ini, Shin sadar bahwa dia tidak punya harapan melawan dua Beast ini, dengan kekuatan Pembentukan menengah dan segala kartu miliknya dikeluarkan, kekuatan tarungnya memang akan setara dengan ahli Surgawi. Namun dia masih memiliki batasan mutlak dalam hal kapasitas Aura yang masih dangkal, oleh karena itu dia mengincar Volcano Essence dan Divine Flame untuk Purgatory.


Melawan Beast level 8 dan 7 Shin tidak memiliki kesempatan menang, jika hanya salah satu dia yakin bisa namun ini dua. Bisa bertahan selama ini juga prestasi yang mengejutkan, bahkan ahli Duniawi akhir akan kesulitan melawan keduanya selama ini.


Tak lama kemudian, dua Beast di depannya membuka mulutnya, Shin sangat akrab dengan gerakan ini; sebentar lagi akan ada pilar api mengarah ke dirinya, dia juga tahu bahwa pengisian kekuatannya tidak akan terlalu lama karena dia bisa mati dengan mudah, percikan api muncul dan segera membesar. Shin menggerakkan kakinya sebisanya dan berlari menjauh, api semakin membesar dan, BLAAAR!


Saat dia menoleh dua pilar api sedang menuju ke arahnya dengan ganas, dia tidak punya kekuatan untuk melawan apalagi berlari, Shin sepertinya sudah meratapi kematiannya. Saat api berada di depan matanya, tepat satu centimeter di depan wajahnya, ada sebuah lubang hitam yang menghalanginya, tubuh Shin yang lemah juga dihisap masuk kedalam tanpa daya.


"Ara ara... kenapa kau berjuang sebegitu kerasnya."