Lone Hero

Lone Hero
Feng Li



Trank!


Suara khas metal yang membosankan kembali terdengar, tumbukan antara dua buah serangan yang masing-masing darinya bisa mengantar Shin kepada Raja Yama, menghasilkan suara dan efek yang juga keras, lebih keras dari musik metal manapun. Menjadi sebuah musik yang harus dimainkan tanpa henti, karena kalau berhenti sfx yang dihasilkan akan jadi "sleb"atau "dhuak".


Trank! Trank! Trank! Trank!


"Hahaha... keluarkan semua kemampuanmu Feng Li!!" Iblis berbicara keras sembari melayangkan beberapa serangan pedang, pedangnya menari dan meliuk-liuk bagaikan ular, bisa menancapkan taringnya dari mana saja, menjadikannya sangat sulit untuk ditangkis atau dihindari.


Feng Li dilain sisi masih bisa menerima semua sapuan dan ayunan dari iblis dengan sempurna, baik itu ditepis atau ditangkis, dia melakukan semuanya seperti sedang menari, tanpa beban dan sangat lepas, seolah itu adalah gerakan seni yang teratur. Sebuah seni berdarah lebih tepatnya, yang bahkan dengan lima lubang di tubuhnya dia masih bisa bergerak leluasa.


Srasssh!


Tebasan iblis secara diagonal mengenai Feng Li, tidak terlalu dalam memang. Namun tetap saja bahwa itu telah menambah daftar luka yang terukir di permukaan kulitnya.


Dhuak!


Feng Li balas menempelkan tinjunya ke wajah sang iblis, wajahnya penyok dan terbenam ke dalam beberapa cm. Dampak pukulan dia rasakan seutuhnya, meski begini dia masih bisa tegap berdiri dan dengan cekatan menusuk Feng Li sekali.


Sleb!


Kini sebuah luka tusukan mendaftar pada panitia luka Feng Li, menambah jumlah anggota sekali lagi.


Tangan kiri Feng Li melayang ganas menuju wajah yang masih basah oleh darah, dia tak peduli apapun lagi soal masalah luka atau kerusakan yang diterimanya. Dia bagaikan orang yang sudah hilang akal dan sepenuhnya berfokus pada serangannya. Karena nyatanya, luka yang diderita mereka berdua saat ini sudah cukup untuk membunuh ahli atau iblis manapun, karena tekad yang kuatlah mereka masih bisa bertarung.


Bug!


Tinju menghantam pipi iblis dengan ganas, melontarkan beberapa buah gigi layaknya peluru. Menghancurkan tanggul pembatas yang menyebabkan beberapa tetes darah merembes keluar dari mulutnya.


Iblis mengacak-acak badan Feng Li dengan pedangnya, beberapa tebasan pendek namun cepat dia lancarkan segera. Mencabik-cabik Aura Armor untuk memuluskan serangan terakhirnya. Dia mengayunkan pedangnya dari bawah--dari titik buta Feng Li--yang mana akan menyebabkan Feng Li tidak akan bisa menangkisnya.


Srashh!


Benar saja, Feng Li tidak siap dengan serangan ini dan dengan mulus pedang iblis menebas Feng Li, menghancurkan Aura Armor yang memang sudah rusak dan menambahkan sebuah luka vertikal yang dalam.


Feng Li tidak menunjukkan perubahan apapun dalam ekspresinya, dia masih tetap ganas dan kejam seperti sebelumnya, dengan kakinya yang jenjang dia ayunkan dari bawah ke atas, menyentuh dagu sang iblis dengan sempurna, menyebabkan yang terakhir tercungkil ke atas belasan meter jauhnya.


Feng Li segera melonjak lebih cepat dari iblis, dia menunggu kedatangan iblis itu dengan kedua tangannya disatukan menjadi satu. Ketika sudah masuk dalam jarak serangnya, dia membantingkan tangannya selayaknya sebuah gada besar.


Tubuh Dou Huang yang diterbangkan ke atas harus segera dibalikkan, dia melesat kembali ke bawah tanah secepat kilat tanpa ampun, tubuhnya melengkung ketika diserang oleh Feng Li, menciptakan efek rebound yang cukup untuk memusnahkan tiga puluh persen organ dalamnya.


Ledakan!


Tubuh Dou Huang selayaknya bom, menghancurkan tanah pendaratannya membentuk sebuah cekungan dalam. Darah segar dimuntahkan dari mulutnya dan dia terkapar lemah namun rona dan raut perjuangan masih sangat kaya dalam wajahnya. Kedua orang ini mungkin sudah terluka banyak sekali tapi tidak ada yang mau mengakui kekalahannya, sebelum napas terakhir dihembuskan, sebelum darah terakhir diteteskan, sebelum setiap tulang dalam tubuh mereka hancur, sebelum musuh mereka mati... mereka tidak akan mengijinkan diri mereka mati!!!


"Fierce Tiger Seal!!" Feng Li menukik tajam sembari mengeluarkan citra harimau yang rahangnya terbuka, dia turun dan jatuh dengan cepat menyerang iblis dengan ganasnya.


Iblis segera bangkit dan mendongak ke atas, pedangnya dia tancapkan ke tanah; tangannya membentuk sebuah segel. Segera aura merah darah berfluktuasi ganas dan didepannya sebuah lubang merah berdiameter puluhan meter tercipta di tanah.


Iblis berlutut dan menempelkan kedua tangannya ke tanah, auranya menyentuh lubang merah ini dan membentuk gambar dan tulisan yang sangat rumit, membentuk sebuah lingkaran bertingkat jika dilihat dari atas.


"Blood Python!!"


Hhssshh!


Sebuah ular merah darah besar menyeruak keluar dari lingkaran ini, ukurannya yang sangat besar mengisi seluruh lingkaran tanpa terkecuali, ruang bergetar dan udara meledak akibat konsentrasi kekuatan yang terkandung didalamnya. Sebuah serangan hebat yang keluar dari ahli grandmaster.


Kepala harimau turun dan jatuh dari langit; piton darah menyeruak dan naik ke langit, keduanya saling membuka rahang mereka yang ukuran keduanya sama. Piton dengan taring tajamnya dimunculkan melonjak tinggi sekali.


RROOOAAAARRRR~


HHHHHSSSSSHHHH~~~~


Citra harimau dan citra ular piton saling bertumbuk dengan ganasnya. Serangan yang sangat dahsyat saling bertumbukan di tengah langit, merubah langit dalam jarak satu km menjadi merah darah akibat fluktuasi aura mereka berdua.


Break!!


Tanpa ada suara ledakan atau desisan, piton langsung mencabik dan menghancurkan harimau dalam tumbukan pertama tanpa bisa melawannya sama sekali. Serangan kuat dari Feng Li tidak berkutik dihadapan piton darah ini, sebuah serangan antara ahli master dan grandmaster memang tidak bisa dibandingkan sama sekali.


Piton masih memiliki bentuknya dengan sempurna, dengan mata merahnya yang setajam silet, dia memandang Feng Li dan segera melesat ke arahnya dengan suara desisan yang memekakkan telinga.


WHOOOOSHH!!


Tanpa bisa bertahan atau melawan, piton langsung menerjang Feng Li secara utuh! Semua kekuatan efek destruktif yang terkandung didalamnya dibebankan dan dialihkan ke tubuh Feng Li sepenuhnya.


Crack!


Suara patah tulang terdengar kuat, tak mungkin hanya berasal dari sebuah tulang saja. Feng Li terlempar ratusan meter jauhnya ke udara tinggi tanpa ada yang bisa menghentikannya, dia menerima serangan terkuat ahli grandmaster, sebuah keajaiban dia masih bisa hidup setelah ini.


"MASTERRR!!!!" Shin yang sudah berjarak dekat dengan arena pertempuran merasa sangat ngeri ketika melihat piton besar melonjak ke langit, dia pun melihat juga Feng Li yang dilahap dengan kejam oleh ular raksasa ini.


Hasil pertempuran sudah bisa ditebak oleh Shin, dan itu adalah kekalahan di pihaknya. Dia berteriak marah dan segera melesetkan Arhat Staff setidaknya dua kali lebih cepat lagi, jika kondisi sudah diluar kendali dia masih punya Arhat yang belum pernah menampilkan dirinya lagi di muka bumi selama ribuan tahun.


Ledakan!


Tubuh Feng Li terlempar jauh ke belakang, dengan suara ledakan keras menyertai tubuhnya yang terkapar tak berdaya, mengiringi hancurnya tubuhnya sendiri. Tapi sekali lagi, dia masih bisa bangkit tanpa masalah, sebelum musuhnya mati dia tidak akan pernah mati, layaknya seorang yang abadi.


Dia berdiri tegak dengan sangat gagah, seolah dia adalah sebuah pilar yang menopang dunia ini serta tidak akan pernah rubuh walau kiamat terjadi sekalipun. Tubuhnya sudah hancur dan tak bisa diperbaiki, meridian-nya sudah rusak jadi dia tidak mungkin menggunakan aura lagi setelah ini berakhir, semua kerja kerasnya seumur hidup telah menjadi sia-sia. Tetapi, dia memaksakan ons aura terakhir dalam tubuhnya untuk terus berfluktuasi ganas, sebelum meridian miliknya hancur total menjadi bubuk, aura miliknya masih akan tetap mengalir.


Iblis mendekati titik pendaratan Feng Li dengan cepat, dia berdiri didepan cekungan itu dan menatap Feng Li yang masih bertekad dengan dingin.


"Kau gigih sekali Feng Li, lebih hebat daripada para prajurit manusia ribuan tahun yang lalu. Sayangnya, seperti para pahlawan besar manusia lainnya, MEREKA MATI DI TANGAN IBLIS!!!" Dia tidak berniat menyerang dan ingin melihat reaksi Feng Li terlebih dahulu. Mau bagaimanapun, dia masih punya etika dalam bertempur.


"Namaku Feng Li, bukan seorang pahlawan besar bukan pula seorang prajurit hebat umat manusia. Aku selalu bertempur dengan mempertaruhkan hidupku, dan setiap darinya aku bisa keluar sebagai pemenang. Aku bisa kalah, bisa juga mati dan terbunuh." Feng Li melangkah pelan menaiki cekungan untuk mendekatinya, "DOU HUANG!! KELUAR DAN BERTARUNGLAH!! " Sebuah permintaan terakhir darinya, tujuannya yang menjadi penggerak utama dalam kehidupannya ingin dia bunuh secara utuh, sangat sederhana namun sangat penting.


"Feng Li, teriakanmu terlalu keras. Kau bahkan membangunkan kaisar ini dari tidurnya." Dou Huang secara mengejutkan mengambil kendali tubuhnya lagi, momen kritis seperti ini memang tidak boleh dia lewatkan, saat dimana perseteruan dan konflik selama puluhan tahun berakhir, mereka ingin itu berakhir dengan tangan mereka sendiri.


"Sudah sangat lama kita menunggu saat ini, puluhan tahun harus terlewati hanya agar momen ini muncul. Datanglah dan bertarunglah, biarkan langit menjadi saksi dari berakhirnya dendam lama ini!"


"Heh... harusnya aku yang berkata demikian."


Dou Huang terkekeh mendengar kalimat Feng Li, dia mundur beberapa langkah ke belakang, menciptakan ruang untuk Feng Li bisa berdiri dengan gagah.


Step!


Kaki Feng Li sudah beranjak dari dalam cekungan, dia berdiri didepan Dou Huang dan menatapnya lekat-lekat, musuh yang selalu dilawannya selama puluhan tahun itu. Kini, kisah antara mereka berdua akan segera berakhir.


Keduanya saling memandang serius sekali. Lalu, sebuah senyum samar muncul di wajah kedua orang ini, perasaan campur aduk muncul didalam hati mereka dan mereka tidak tahu harus bagaimana.


Segera, aura merah dan hitam meledak-ledak membumbung tinggi mengisi bidang cakrawala, fluktuasi terus bertahan selama beberapa saat sebelum akhirnya berhenti, karena aura mereka disuntikkan kedalam senjata masing-masing, Feng Li kedalam tangannya; Dou Huang kedalam pedangnya.


"Sword of the Azure Sky!"


Aura hitam berubah menjadi berwarna biru langit, kemudian itu berkobar hebat menjadikan pedang ini jauh lebih mematikan daripada sebelumnya, sebuah skill warisan dari sang kaisar pendiri. Pedang mungkin terlihat indah dan memukau, namun mereka berdua sadar bahwa pedang ini akan mengakhiri segalanya.


Feng Li mengarahkan semua auranya pada tangannya, raungan dan geraman harimau kembali terdengar disertai dengan kepalannya yang sepertinya, bagai dihuni puluhan harimau lapar. Menjadikannya sebagai benda paling mengerikan di dunia ini.


Shin hanya berjarak tiga ratus meter lagi dari mereka, ketika dia melihat gurunya yang sudah sangat terluka terus-menerus bangkit dan bertarung, dia menjadi sangat sedih sekaligus cemas. Dia yang mengetahui masa lalu serta pengalaman pahit yang telah dirasakan oleh gurunya tentu merasa iba dengan hal ini, sebagai muridnya dia ingin membantu gurunya ini, dia mengepalkan tangannya dan menyimpannya cukup dekat dengan dadanya, dia bermaksud untuk mengeluarkan esensi darah dan memanggil Arhat.


"JANGAN!! Kau menghina gurumu jika melakukan itu!!" Kalimat Shen yang keras bergema di kepala Shin.


"Apa kau gila?! Guruku sedang bertaruh nyawa dan aku, muridnya, tidak boleh membantunya!!? Lelucon macam apalagi ini SHEN!!!" Shin meraung marah tidak terima, dia memang tidak mengerti maksud dan niat dari gurunya.


Shin menjatuhkan tangannya kembali, dia menangis keras dan memukul-mukul Arhat Staff tak berdaya, disisi lain dia ingin membantu gurunya tapi disisi lain dia akan jadi murid durhaka jika melakukan itu, sebuah dilema yang dia tak mampu selesaikan. Dia hanya bisa menonton dengan pasrah... apapun yang akan terjadi selanjutnya.


Feng Li merendahkan lututnya dan menarik kepalannya ke dalam, menunggu Dou Huang menyerang terlebih dahulu.


"Feng Li, dengan inilah... dendam kita berakhir."


Dou Huang mengacungkan pedangnya ke depan dan dia melonjak sangat cepat ke arah Feng Li, mengirim sebuah tusukan keji ke arah dadanya.


"Howling Tiger Fist!"


Feng Li meninju ke depan ke arah dada Dou Huang yang sedang menerjang ke arahnya, pukulan yang merupakan pukulan terkuat dari jutaan pukulan yang telah dia lakukan, dengan warna merah darah disertai keganasan dan teriakan harimau, tinju ini melesat ke depan.


Sleb!


Bug!


Pedang secara sempurna menusuk dada Feng Li, tembus hingga ke belakang punggungnya. Walau sedikit melenceng beberapa cm dari jantung Feng Li berada.


Tinju besar Feng Li pun menghantam dada Dou Huang juga, segala dampak didalamnya dengan sempurna dialirkan ke tubuh bagian dalam Dou Huang, raungan harimau memporak-porandakan organ dalam Dou Huang dan sepenuhnya memusnahkan tiap organ yang dimilikinya. Semuanya hancur tak bersisa akibat kekuatan yang dihasilkan.


Seluruh lubang dalam tubuh Dou Huang mengalirkan darah, dia terhuyung dan jatuh ke belakang dengan suara "gedebuk" yang keras.


Disisi lain, Feng Li masih dapat berdiri tegak walau sebuah pedang menancap tegas di tubuhnya, dengan tekad super yang ditempa oleh jutaan penderitaan, dia berjalan terhuyung ke depan.


"Maafkan aku Dou Huang, mayatmu... tidak bisa kubiarkan utuh."


"Fierce Tiger Seal!"


Ledakan!


Citra harimau segera terbentuk di atas langit dan langsung menerkam tubuh Dou Huang secara utuh. Melenyapkannya serta roh iblis didalamnya tanpa terkecuali.


"KHUUAAAH...."


Feng Li menutup mulutnya karena darah segar terus merembes keluar dari sana, dia tak lagi bisa menutup luka yang diderita karena... meridian miliknya telah hancur dan musnah.


Langkahnya yang selalu kuat dan tegas kini gemetar tak berdaya, dia mundur beberapa langkah dan terjatuh ke tanah. Sosok yang dengan gagah berani bertarung dengan iblis, kini terkapar tak berdaya. Sangat kontras dengan dirinya beberapa menit lalu. Keganasan dalam dirinya memudar dan ekspresinya melunak, masih ada beberapa hal yang harus dia lakukan sebelum meninggalkan dunia ini.


"MASTER!!!!" 


Shin segera turun dari Arhat Staff dan menemui Feng Li yang terbaring, Feng Li masih mempertahankan kesadarannya hanya untuk Shin.


Shin yang melihat sebuah pedang tertancap di tubuh masternya tak kuasa menahan tangis. Setelah menerima serangan seperti ini sangat tidak mungkin untuk bisa tetap hidup.


"Shin... akhirnya kau... uhukkk... datang...."


Feng Li dengan tenaga yang masih tersisa didalam tubuhnya, mencoba untuk bicara pada Shin. Walau semburan darah dari mulutnya harus memotong kalimat yang diucapkannya.


Shin duduk berlutut didekat tubuh Feng Li, matanya deras mengeluarkan air mata laksana mata air. Langit menjadi mendung, menghalangi cahaya matahari untuk menyinari dua orang insan ini. Perlahan-lahan bunyi rintik hujan terdengar disertai dengan jatuhnya jutaan tetes air ke muka bumi. Membasahi dua orang ini, membalut kesedihan dan menyembunyikan air mata Shin.


"Shin... waktuku sudah tidak lama lagi. Bersabarlah sebentar lagi." Feng Li menyeka wajah Shin dengan tangan yang sudah berdarah-darah akibat pertarungan, garis merah darah tercipta oleh darahnya dan segera terhapuskan oleh derasnya hujan. Tindakannya kali ini lembut dan damai, sangat berbeda dari dia yang sebelumnya. Ketika mencapai akhir kehidupan, dia mulai memikirkan berbagai hal yang tertinggal dalam hidupnya.


"Semua penderitaan kehidupan sudah kucoba satu persatu, semua kebahagiaan dalam kehidupan aku hanya bisa merasakan salah satunya. Membawa segudang penyesalan dalam setiap langkahnya, menghembuskan banyak kesedihan dalam setiap napasnya, dan menggerakkan segunung rasa bersalah dalam gerakannya. Aku Feng Li, orang yang menyandang gelar Martial Master, murid dari Sage Yan Shen. Hidupku telah mencapai batasnya, akhir dari perjalanan panjang kehidupan yang sangat menyedihkan, akhir dari kisah sedih dan memilukan yang harus kuhadapi selama ini, mati selalu jadi keinginanku dari dulu sekali, keinginan untuk bisa beristirahat dengan tenang, lepas dari segala kenangan pahit dan menyakitkan yang selalu menghantui. Namun, masih cukup banyak hal yang tertinggal didunia ini, dari Ying Ai hingga dirimu yang tiba-tiba muncul dalam hidupku. Untungnya Ying Ai sudah lepas dari sini, aku bisa bertenang tentang hal ini."


"Aku bukanlah pahlawan besar dan tak ingin juga menjadi itu, gelar pahlawan membawa beban berat, mereka harus jadi figur yang bisa membakar emosi dan semangat, gurumu ini... bukanlah orang yang seperti itu, hanyalah seorang petarung yang mendedikasikan dirinya pada balas dendam. Dan tujuan balas dendamku telah berhasil dilakukan, tak ada lagi tujuan bagiku untuk terus menyambung hidup, peranku dalam dunia ini telah berakhir dengan kematian Dou Huang. Sudah saatnya diriku, melepaskan dirimu ke dunia luar yang sangat luas...."


"Tidak... jangan katakan... apapun lagi... selamat, guru pasti selamat...." Shin berlutut dan merendahkan tubuhnya memeluk tubuh Feng Li sangat lemah, tetesan dan butiran air mengalir membasahi luka yang terbuka ini, Feng Li hanya tersenyum getir, dia menggerakkan tangannya mendekati punggung Shin. Namun, dia mengurungkan niatnya, tangannya melayang beberapa cm dari tubuh Shin. Feng Li merasa tidak layak sebagai gurunya sendiri.


"Ingatlah ini Shin, semuanya masih mengalir seperti biasa apapun yang terjadi, dunia masih terus berputar meski aku mati sekalipun, dunia masih saja kejam dan tidak adil meski para iblis musnah dari dunia ini juga, dunia masih saja berjalan sebagaimana mestinya, tanpa ada yang bisa mengganggunya. Dunia ini telah memberiku jutaan rasa sakit dan penderitaan, tapi aku yakin bahwa dunia akan memberi hasil yang berbeda pada dirimu. Masih banyak harapan dan masa depan yang menunggu, kejarlah mereka dan buat itu jadi milikmu sendiri. Sampai, kau tidak perlu merasa bersedih kembali... dan bisa melupakan diriku ini."


"Sebuah kehormatan bisa mengajari dirimu. Selalu pegang teguh janji-janjimu dan temui Ying Ai lima tahun dari sekarang, tidak perlu kalian kembali lagi ke tempat ini, karena aku, selalu mengawasi kalian dari atas sana... buatlah diriku mendapat kehormatan, menjadi guru dari dua orang hebat didunia ini."


Shin tidak berkata apapun lagi dan menangis keras seraya mendengarkan kalimat terakhir Feng Li tanpa kesalahan. Saat ini adalah yang paling krusial dalam hidupnya, kematian dari pamannya dan ibunya dia tidak melihatnya secara langsung, menjadikan kesedihannya hanya sebagai perasaan saja. Tetapi kini dia harus melihat gurunya sendiri, Feng Li, berpulang dalam pelukannya sendiri, tak terbayang betapa besar kesedihannya kali ini.


Segera, meridian yang sudah hancur-lebur kembali aktif, semua kerusakan yang diderita seolah hilang ditelan bumi. Itu mengedarkan aura merah darah dalam tubuhnya dengan kecepatan dan intensitas yang tak terbilang tingginya, mengaliri seluruh tubuhnya dengan kekuatan dahsyat seorang ahli master. Mengingat kondisinya saat ini, nasib yang dia pilih adalah untuk menghilang... tanpa menyisakan mayat sedikitpun.


Dalam dunianya sendiri kedua item terhebat ini menyaksikan kepergian Feng Li dengan sedih dan hormat di wajah, tak terkecuali dengan Zhu Long.


"Menilai dari bakatnya, dia kalah jauh dari Ah Gou (Martial Saint), menilai dari kekuatannya, dia kalah jauh dari semua orang diluar sana, menilai dari pengalamannya, dia hanya menang di bagian penderitaan saja, menilai dari sikapnya... dia adalah yang terbaik yang pernah kulihat selama ini, bahkan Tian Chen sendiri tidak bisa dibandingkan denganmu. Dengan nama Zhu Long, roh dari Devouring Dragon Vessel, menempati urutan keempat dalam Primordial Divine Item List, mewakili seluruh suku naga didunia ini... untuk menaruh hormat padamu." Zhu Long membungkuk pada Feng Li didalam dunianya sendiri, momen kebersamaan terakhir Shin tidak ingin dia ganggu.


Zhu Long, nama yang bisa menggetarkan dunia ini dengan berbagai sikap dan kekuatannya, dia sungguh terkenal perihal sifat dingin dan kejam yang dimilikinya. Tak lebih dari sepuluh orang yang bisa membuatnya seperti ini, dan semua orang ini adalah yang terbaik dari yang terbaik di bidangnya masing-masing. Kini, dengan pilihan dan sikap Feng Li, dia tidak bisa tidak merasa tersentuh dan hormat.


Didunianya sendiri Shen juga melakukan hal yang sama, dia yang lebih lembut namun lebih berpengalaman sangat jelas tentang sikap Feng Li kali ini, namanya bukan Shen kalau tidak melakukan ini. "Atas nama Shen, Grand Sage pertama didunia ini, roh dari item terhebat nomor 3 dunia. Mewakili seluruh Klan Sage yang pernah hidup di dunia ini, memberi hormat kedapa Martial Master Feng Li." Shen membungkuk pada Feng Li didalam dunianya sendiri--melihat melalui proyeksi--dan memasang wajah yang sama ketika dia melihat kepergian pahlawan besar lainnya.


Feng Li menatap Shin yang jatuh tak berdaya di tubuhnya dengan sedih di wajah, meski dia terlihat sedih tidak ada dan tidak akan pernah ada air mata yang keluar dari sana, semua pengalaman pahit yang dirasakannya telah membunuh emosinya. Feng Li mengalihkan pandangannya ke atas langit yang terus menghujam bumi dengan airnya, seketika rasa sakit dan penyesalan menyerang hatinya bagai ribuan belati. Dia yang selama ini fokus pada latihannya tidak punya waktu untuk mengurus semua hal yang tertinggal ini, dan pada saat kematiannya yaitu saat ini, berbagai pikiran seperti ini mulai memasuki pikirannya dan menyebabkan dirinya sempat ragu menghancurkan dirinya sendiri. Tetapi, tujuan akhir dalam hidupnya tidak akan dia lewatkan, dia meneruskan tindakannya saat ini.


'Aahh... inikah yang namanya penyesalan? Sudah banyak kali aku merasakannya dan mulai terbiasa dengannya. Namun, ini jelas terlalu menyakitkan, Ying Ai, Lin Xuehai, Hong Wei, kenapa aku mengingat nama dan figur dari mereka? Mungkin ini karena aku sudah akan mati sebentar lagi, masih banyak urusan tertinggal dan aku hanya bisa merelakan itu ditinggalkan begitu saja. Benar kata Flame Empress dahulu, penyesalan selalu datang diakhir, tapi aku tidak pernah menyesalinya, walau sakit yang dahsyat melanda kalbu, seperti biasa aku akan memendamnya dalam-dalam, dan sekarang saatnya untuk pergi meninggalkan penyesalan ini... beserta aku didalamnya.'


Merasakan fluktuasi yang tidak normal dari tubuh Feng Li, Shin tidak bisa menjadi lebih khawatir lagi. "Master... apa yang kau lakukan...." Meski dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, dia tidak ingin mengakuinya apapun yang terjadi. Shin mengeratkan genggamannya pada Feng Li, tak terima melepas kepergiannya kali ini. Tapi percuma saja, tubuhnya mulai terurai menjadi partikel-partikel cahaya merah yang segera menghilang kedalam ketiadaan.


"Tidak apa-apa... jangan terlalu menangisi kepergianku Shin...." Feng Li hanya berucap tanpa menyentuh kepala Shin ataupun memeluknya, dia tidak ingin membawa penyesalan lebih jauh lagi.


"Akhirnya, setelah sekian lama menjalani kehidupan yang keras dan menyedihkan, dipenuhi kesedihan dan penyesalan, dendam dan pertarungan. Kini, perjuanganku telah berakhir, disertai dengan akhir dari kehidupanku, setelah sekian lama... akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang...."


Feng Li yang selalu datar dan tanpa ekspresi, kini memunculkan sebuah senyum hangat dari bibirnya, tanpa sedikitpun pemaksaan atau kesedihan didalamnya, sebuah senyuman yang sangat tulus dan berasal dari lubuk hati terdalamnya, sebuah senyuman... untuk yang pertama, serta untuk yang terakhir kalinya.


"Ahh... sudah sejak dulu sekali aku tidak bisa tersenyum... tapi biarlah, karena sebentar lagi... kita akan bersama kembali... guru...."


Tubuh Feng Li semakin terurai lebih cepat lagi, hinggalah sampai pada bagian badannya yang sedang dipeluk oleh Shin dengan erat, badan Shin terjatuh kehilangan penyangga dan menatap Feng Li yang sedang tersenyum hangat bahagia sekali. Semakin lama semakin menjadi partikel cahaya yang indah.


"MASTERR!!! TIDAK... ini tidak mungkin... terjadi...."


Shin masih menyangkal kepergian Feng Li yang dramatis ini, entah berapa kali dia berkata "tidak" hingga deras hujan juga kalah oleh suaranya. Sebuah suara yang adalah yang paling sedih yang pernah dia buat seumur hidupnya, suara yang seakan melepaskan kepergian sesosok paling penting menuju peristirahatan terakhir mereka. Tidak berdaya, lemah, hanya bisa pasrah duduk dan menonton.


"Jangan khawatir... aku selalu memperhatikan kalian dari atas sana.... Selamat tinggal, Shin...."


Ingin sekali Feng Li berucap lebih jauh lagi, tapi takdir tidak menghendaki demikian, seluruh tubuhnya keburu berubah menjadi partikel cahaya merah yang banyak, beterbangan menuju udara lepas dan menghilang seperti yang diinginkannya selama ini.


"MASSTEER!!!!"


Shin memukul-mukul tanah yang sekarang hanya bersisa dirinya dan sebuah pedang, dia menangis tak berdaya sama sekali, tak bisa menghentikan kepergian Feng Li, gurunya. Dalam lubuk hatinya dia sadar bahwa dia juga harus bahagia dengan ini, gurunya sudah menerima nasib yang terlalu kejam, mencoba menyelamatkan seseorang tapi keluarganya harus terbunuh karema tindakannya, hidup luntang-lantung tanpa tujuan dan akhirnya bertemu Yan Shen. Tapi lagi-lagi, takdir harus sangat kejam padanya, tanpa bisa bersana dalam saat terahirnya, Yan Shen harus berpulang pada sang pencipta. Lalu dia menempuh perjalanan yang bahkan, menyakitinya jauh lebih dari apa yang dia terima disini, namun dengan kobaran balas dendam yang kuat dia terus mempertahankan hidup dan tekadnya, memaksanya menjadi manusia tapi bukan manusia. Saat dia sudah mendapat semua informasi yang dia butuhkan, dia pulang dan berjuang seorang diri dalam bayang-bayang melawan kegelapan yang selalu melanda. Namun, bukan pujian dan penghargaan yang dia dapat, hinaan dan makianlah hasil dari perjuangannya. Dan akhirnya perjuangannya telah berakhir, dengan kematian dari dua belah pihak, dengan tujuan yang sudah selesai sepenuhnya. Perjuangannya mungkin sangat epik dan heroik, tapi tidak ada yang tahu hal itu selain Shin, dia masih akan tetap saja... dijuluki sang Crimson Martial Artist. Sebuah sikap yang sangat tidak pantas, bagi orang sehebat dirinya.


Hidup memang tidak pernah adil, dia sangat tahu hal itu. Dia juga tidak bisa merubah fakta itu, juga tidak menginginkan hal itu berubah, karena itulah bagaimana cara dunia bekerja. Dia hanya akan terus menjadi sebutir debu, di dalam gurun pasir kehidupan yang sangat luas, kehadirannya hanya diperhatikan segelintir orang, dan kepergiannya bahkan tidak diketahui satu orang pun. Kegunaannya seringkali terlupakan, dan dia tidak pernah peduli soal hal itu, hanya bermodalkan tekad di dalam dada dia terus berjuang. Kini, dia memilih untuk menghilang dalam ketiadaan, menjadi terlupakan tanpa meninggalkan sebuah legenda atau kisah yang akan dikenang seluruh generasi, tanpa menuliskan namanya sendiri dengan tinta emas dalam buku sejarah dunia ini.


Kisah dan kehidupannya terlalu menyedihkan untuk dikenang, dia sangat mengerti tentang hal ini. Dia tidak ingin ditangisi dan dipuja-puji sebagai orang besar, dia tidak ingin dikenal secara luas pun tidak ingin dikenang dan diingat dalam hati dan pikiran setiap orang.


Dia ingin dilupakan, dia tidak ingin dunia bersedih atas keberadaan ataupun kepergiannya, dia yang membawa lautan penyesalan didalam dirinya, memilih untuk menguapkan semua hal itu dengan dirinya sendiri, menjadi debu yang tidak penting, tidak signifikan, tidak pula berguna banyak pada kehidupan.


Inilah kisah Feng Li, orang yang menyandang gelar Martial Master namun dikenal secara luas sebagai Crimson Martial Artist, juga karena pilihannya sebagai martial artist yang tidak memegang senjata apapun, mereka tidak akan mendapatkan pose kematian terhormat para pengguna pedang, cara mereka meninggal selalu membawa cara dan kesan mereka sendiri.


Dibawah siraman air hujan, diatas tanah yang basah oleh darah, dalam pelukan dan dekapan muridnya sendiri, berhiaskan berbagai pikiran akan penyesalan yang tertinggal, dia memilih untuk berubah menjadi ketiadaan yang selalu jadi keinginan dan tujuan tertingginya.


Mengakhiri kisah kehidupan dari seorang manusia yang sarat akan kesedihan, menutup cerita yang serasa fantasi terkejam didunia ini, dengan senyuman di wajah... dia pergi menuju tempat dimana... dia akan bertemu dengan gurunya kembali.


Selamanya....


Beristirahat dalam ketenangan....