
Seiring dengan kepergian sang Great Sage, Shin juga kembali ke tubuh aslinya, karena waktu di sana dan di sini sama, satu minggu lebih Shin di dalam Great Sage Staff, segitulah banyaknya hari yang terlewati di sini. Karena hari sudah subuh saat di sana, dan dua dunia ini beda 12 jam karena pada saat Shin pertama berangkat dia meditasi saat malam dan di dalam sana masih pagi hari, jadi disini masihlah sore.
Ying Ai masih meditasi disampingnya, Shin merasa menyesal karena telah pergi meninggalkannya begitu saja, namun dia masih harus membentuk kontrak dengan item ini terlebih dahulu.
Clak.
Tidak ada sesuatu yang hebat terjadi karena jiwanya sudah menghilang namun Shin bisa tahu kalau kontrak telah dibentuk dengan berhasil. Dia bisa merasakan sebuah koneksi misterius telah terjalin antara dirinya dan Great Sage Staff ini, dia pun bisa sedikit mengeluarkan beberapa kemampuan yang tidak bisa digunakannya sebelumnya.
Meski Ning'er adalah keindahan surgawi yang sangat menawan dan bisa memikat setiap lelaki di dunia tapi Shin masih tetap merindukan wajah kecil manis ini, orang yang bisa mempertahankan ketenangan dan wibawanya dihadapan wanita tercantik hanya bisa patuh dan baik di hadapannya. Meski tidak berpisah selama bertahun-tahun seperti sebelumnya namun dia merasa telah pergi lama sekali. Pergi tanpa pemberitahuan seperti sebelumnya pasti telah menyakiti Ying Ai. Shin diliputi rasa bersalah yang kuat dan tak bisa berkata apapun.
Dia tidak berbicara karena tidak tahu kata apa yang harus diucapkannya, dia tidak memanggilnya karena tidak tahu ekspresi apa yang harus dipasangnya, apakah harus senang atau sedih seperti sebelumnya. Namun semua ini akan kalah oleh insting seorang wanita.
"Shin, kau ada disana kan? Kenapa kau masih diam saja di sana?" Tanpa menoleh atau membuka mata, Ying Ai bisa tahu apa yang terjadi dengannya.
"Ya, aku sudah kembali dari sana. Tidak ada alasan khusus, hanya beberapa kelelahan saja." Shin menjawab dengan suara rendah dan tidak berani menatapnya.
"Apa aku ini terlalu lemah hingga harus selalu dilindungimu Shin? Kenapa kau sampai sejauh itu hanya untuk semua ini. Apakah aku memang selemah itu di matamu!?" Ying Ai berbalik ke arahnya dan bertanya dengan keras, dirinya sedikit tidak terima dan marah dengan sikap Shin yang berlebihan dan tidak memikirkan perasaannya terlebih dahulu.
"Tidak, tapi..."
Ying Ai berdiri dan berjalan mendekati Shin, Shin yang masih menunduk merasakan ada sebuah sentuhan di kakinya, saat dia melihat kedepan wajah Ying Ai yang bersedih sudah ada di depannya. Jelas, dia kecewa dengan tindakannya kali ini.
Ying Ai duduk di pangkuan Shin lalu mulai merentangkan kedua tangannya, dia menyentuh punggung Shin dengan sangat kuat, sepertinya Shin akan pergi lagi jika dia melepaskannya. Ying Ai mengeluarkan air mata yang membasahi pundak Shin. "Apa aku terlalu lemah bagimu, hingga kau harus menderita sedemikian rupa hanya karenaku? Tidak bisakah kau...."
Suara kesedihan Ying Ai seolah terdengar hingga surga kesembilan dimana para malaikat dan bidadari juga ikut menangis karenanya, Shin tentu tidak ingin membuatnya menangis dan merasakan rasa penyesalan yang kuat. Ingin sekali dia hidup damai dan bersenang-senang dengannya setiap hari, namun dia tidak bisa melakukan itu, ancaman yang akan dihadapinya dan Ying Ai di masa depan memaksanya bersikap seperti ini.
Dia bisa memilih tinggal damai dan senang disini, namun orang tua dan pamannya telah menunggu di atas sana, mau tidak mau Shin harus menjalani ini semua. Biarpun ada berbagai rintangan menghadang dan juga Ying Ai yang seperti ini, dia masih akan tetap menjalaninya.
Ying Ai yang bersifat ceria berbanding terbalik dengannya yang saat ini, dia menangis dan bersedih. Shin hanya bisa menenangkannya sedikit dan menghiburnya. "Aku tidak akan pergi lagi, kau bisa melakukan apapun yang kau mau sekarang atau nanti." Dengan tangannya membelai kepala Ying Ai, Shin mencoba meredakan tangis dan kesedihannya ini.
"Shin bohong, Shin pembohong! Kau bahkan tidak bisa memegang ucapanmu!" Ying Ai masih belum mau melepaskan tangannya, ketakutannya tidak akan dia biarkan menjadi nyata sekali lagi.
Shin hanya bisa pasrah menerima keadaan ini toh dia juga yang menyebabkannya. Dalam momen ini sepertinya ada nyamuk dalam hubungan mereka.
"Shiin~ jangan tinggalkan aku lagi!!" Shen sang pakar cinta menggoda Shin sekarang. Dengan tranmisi suara dia langsung menganggu momen kebersamaan ini.
"Apabila ada dua orang berduaan maka yang ketiga adalah syaiton!" Shin menjawab dengan telak.
"Dan janganlah kalian mendekati zina! Kau masih terlalu cepat seratus tahun untuk bisa melawanku!" Shen menjawab dengan jawaban sempurna tanpa celah.
Suara Shen yang tertawa puas sekali telah memenuhi kepala Shin, dia tidak bisa membalas ucapan Shen kali ini yang adalah pertama kalinya dia kalah dalam berdebat.
"Sepertinya dia akan jadi nyonya besar sesungguhnya sebentar lagi. Dan Shin kecil tercinta akan melangkahkan kakinya ke tangga menuju kedewasaan." Shen semakin memancing emosi Shin.
"Bhangsat kau!" Dengan nada yang familiar di telinga seluruh warga Indonesia Shin membalas ucapan Shen. Walau tentu saja dia masih punya beberapa amunisi yang masih disimpan dengan baik.
"Heh, kau bahkan tidak tahu apa itu sastra yang sesungguhnya, biar orang paling bijak ini menunjukkannya padamu."
"Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bermesra-mesraan kemudian." Mendengar ucapan yang tidak sepantasnya didengar keluar dari mulut Shin, Shen membalasnya dengan cara yang sangat elegan dan berkelas. Sungguh berbeda daripada rakyat jelata yang hanya bisa toxic.
Shin juga tak ingin kalah beradu pantun dengan Shen. Di hadapan master sastra sejati Shin tidak gentar sedikit pun, dia memutar otaknya dengan keras dan akhirnya mendapat sebuah pencerahan.
"Jangan kira kalau aku tidak bisa membalasmu sama sekali!"
"Sepandai-pandai tupai melompat
Sepandai-pandai Shen berdebat
Pasti akan kalah juga!" Balas Shin dengan cara yang sama berkelasnya.
Sebagai Grand Sage pertama dengan pengetahuan seluas lautan dan pengalaman sebesar gunung, Shen merasa sangat terusik oleh bocah baru ini. Dia yang memiliki pengetahuan jutaan tahun tentang sastra memiliki keyakinan mutlak, Shen bagai orang tua berpengalaman sedangkan Shin hanyalah seorang bayi yang baru lahir.
"Jika ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ingin melanjutkan perang
Awas saja sakit hati!' Shen menunjukkan pengalaman serta pengetahuannya, dengan supremasinya yang sangat mengagumkan ini, dia tampak tidak terkalahkan.
Tanpa berpikir terlalu lama Shin segera membalas dengan isi yang sangat menohok.
"Ke hulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cuma buku kok kurang ajar
Awas aja jadi bungkus gorengan!" Shin pada dasarnya memang tidak mau kalah. Lebih jauh lagi karena dia sudah merasa terganggu akibat Shen yang ngajak perang ini.
Seketika Shin selesai berucap seketika juga Shen mengeluarkan balasannya. "Paling seger minum limau
Campur madu tambah nikmat
Ada ayam berani ama harimau
Itu ayam super nekat!"
Shin langsung membalas dengan cepat.
"Lebih baik jadi kuli
Daripada jadi pemukul batu
Lebih baik ayam tapi asli
Daripada harimau tapi palsu!"
Shin berencana mengakhiri pertarungan sengit dengan satu serangan telak. Jika pertarungan berlarut-larut dapat dipastikan jika Shin akan kalah!
"Bunga orkid indah warnanya
Penyeri taman dan juga hutan
Para Sage memang perkasa
Tapi yang pertama perusak hubungan!"
Seperti harapan Shin, Shen memeras pengalaman jutaan tahunnya dan masih tidak bisa membalas sedikit pun, perasaan mengalahkan lawan dalam bidang keahliannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Shen tidak punya muka lagi dan masuk kedalam buku dan tidak bicara lebih jauh lagi.
Akhirnya Shin bisa menikmati momennya ini dengan damai, Grand Sage jutaan tahun atau iblis dari neraka terdalam sekalipun tidak akan bisa mengganggunya saat ini.
Sebenarnya jika Shen masih bisa membalas, Shin dipastikan kalah, pantun terakhirnya adalah hasil dari pemerasan otak hingga tetes terakhir, mentalnya jadi sangat lelah sama seperti efek Battle Nirvana. Kata-kata yang dikeluarkan merupakan hasil pengalaman saat belajar bersama Hong Wei dan dia tidak mengira bisa mengalahkan master sejati. Setidaknya dalam pertaruhan tadi Shin telah memenangkannya.
Shin telah berhasil menang melawan Grand Sage!!