Lone Hero

Lone Hero
Ujian Para Sage



Shin membuka matanya dan hamparan padang rumput dan segala pemandangan yang ada di alam masuk dalam bidang pandangannya. Tidak ada manusia atau hewan disini, hanya ada tumbuhan dan sebuah tangga spiral yang menjulang tinggi menembus awan. Tangga ini berwarna emas dan ujungnya bahkan tidak bisa diketahui.


'Apa aku harus mendaki ke puncak tangga itu?' Shin menebak ujian apa yang akan dia jalani sekarang, jika melihat tangga yang sangat panjang itu bukan tidak mungkin dia harus mendakinya, ini juga merupakan hal yang paling logis yang bisa dia pikirkan sekaligus yang dia takuti.


"Apa kau kesini untuk menerima ujian dariku? Ujian yang sama dengan yang para sage lalui, apa kau yakin akan menerimanya?" Sesosok manusia berumur 30-an muncul di samping Shin secara tiba-tiba dan bicara, Shin yang sedang fokus menatap tangga terkejut dengan kehadirannya.


"S-siapa kau? Dan bagaimana kau mengetahui hal ini?"


"Aku adalah roh dari buku Great Sage Art. Kutanya sekali lagi, apa kau ingin menerima ujian dariku?" Roh buku bertanya kembali pada Shin.


Setelah mencapai tempat ini Shin pastinya tidak akan mundur, bahkan jika dia harus naik sampai ke bintang dia akan tetap melakukannya. Untuk meraih tujuannya yang terlampau tinggi, kesulitan semacam ini tidak perlu disebutkan.


"Ujian para sage, aku datang untuk itu!"


"Kau adalah manusia ketiga yang datang setelah kematian mereka, apa gurumu pernah datang kesini sebelumnya?"


"Ya, master dan grandmaster pernah datang kesini, tapi dia bilang dia gagal dalam ujian ini." Shin kembali teringat kalimat Feng Li ketika ditanya seperti ini. Dan karena ini Shin mengambil sebuah kesimpulan bahwa Yan Shen adalah seorang sage! Mengaitkan fakta bahwa Yan Shen berhasil melewati ujian ini, kesimpulan ini pastinya sebuah kebenaran.


"Jadi dia, baguslah, pewaris para sage tidak terputus di tangannya." Sebagai sebuah roh item yang menjadi penentu kelangsungan para sage, wajar bila dia ingin agar warisannya selalu dilanjutkan dari generasi ke generasi.


"Lalu apa ujiannya?" Meski Shin sudah menerka apa yang harus dia lalui, Shin tetap harus memverifikasi kebenaran.


"Gampang sekali, kau lihat tangga disana? Itu disebut Tangga Menuju Nirvana. Kau harus menaikinya dan sampai ke ujung dari tangga itu, setelah kau sampai kau akan lulus dari ujian ini. Jika kau turun tangga atau menyerah aku akan mendatangimu dan mengirimmu kembali."


"Apa yang terjadi kalau aku jatuh?"


"Kau langsung gagal!"


Glek! Shin meneguk air liurnya sendiri, tangga berwarna emas ini bahkan tidak kelihatan ujungnya, entah berapa tahun waktu yang harus dia lalui untuk bisa sampai ke atas sana. Pantas saja Feng Li bilang makan waktu lama. Mungkin butuh beberapa tahun untuk bisa sampai ke puncak.


"Tunggu, aku tidak punya banyak waktu. Satu tahun pasti tidak cukup untuk menaikinya, lebih baik aku pergi saja. Percuma saja jika aku terlambat ke Wilayah Selatan nanti." Setelah berpikir sejenak, Shin menyesali keputusannya untuk datang kesini. Saat Feng Li bilang butuh waktu lama dulu, Shin pikir butuh satu dua bulan, dia tak menyangka kalau butuh satu dua tahun!


"Tenang saja, aliran waktu disini jauh lebih lambat daripada diluar sana. Kau tidak perlu khawatir, ini tidak akan makan waktu satu tahun diluar sana." Roh buku berkata meluruskan hal yang dikhawatirkan oleh Shin. Dan Shin lekas menghela napas lega, dia masih bisa mendapatkan divine flame. Shin mengarahkan tubuhnya ke tangga emas ini seraya melangkahkan kakinya.


"Nirvana, aku datang!"


Shin melangkahkan kakinya menuju tangga emas pertama dan dengan cepat memulai langkahnya, Shin tidak terburu-buru menaikinya karena untuk menghemat tenaga miliknya. Di tangga emas ini Shin perlahan tapi pasti menembus awan, seluruh pemandangan dibawahnya tampak semakin kecil dan kecil.


Karena ini adalah tubuh mental Shin, meski memiliki penampilan yang serupa tapi ini tidak akan merasa lapar tapi masih bisa merasa lelah dan letih. Terkadang Shin melambat untuk memulihkan tenaganya toh tidak ada yang melarangnya.


"Aku sudah menaikinya seharian tapi ujungnya masih belum kelihatan... haah... haah...." Shin terengah-engah karena kelelahan, dia berhenti dan menyelonjorkan kakinya. Tidak ada siang atau malam disini, setelah seharian berjalan hari masih sama seperti sebelumnya. Tangga emas ini lumayan luas hingga cukup untuk Shin beristirahat. Dia tidak bisa tidur karena cahaya yang menyilaukan ini.


"Kau tidak boleh berhenti melangkah! Jika dalam hitungan ketiga kau masih berhenti disana aku akan langsung mengusirmu! Kau sudah menghina usaha dan tekad para sage!"


Shin langsung bangkit dan takut akan kemarahannya, apalagi peringatannya kali ini sangatlah keras. Tak tanggung-tanggung, hukumannya adalah langsung diusir dari ujian.


"Jika begini terus kapan aku bisa sampai kesana?" Shin melangkahkan kakinya dengan biasa, setelah beberapa jam menaiki tangga rasa lelah mulai menumpuk didalam tubuh dan mentalnya. Shin tidak makan atau tidur selama ini, melihat sesuatu yang sama selama beberapa hari akan menyebabkan mentalnya tersiksa.


"Tidak, tujuanku masih jauh, rintangan semacam ini tidak akan pernah bisa menghentikanku!" Shin menyemangati dirinya sendiri.


Dua hari...


Tiga hari...


Empat hari...


Langkah Shin semakin melambat setiap harinya dan tubuhnya serasa semakin berat, pemandangan yang itu-itu saja dan keheningan total ini membuat fisik dan mentalnya kelelahan. Shin tidak menghitung hari lagi setelah hari keempat, dia tidak memiliki fokus dan tenaga yang cukup untuk itu.


"Sebenarnya butuh berapa langkah agar bisa sampai!? Tubuhku serasa semakin sulit digerakkan setiap harinya. Tidak.... Jangan berpikir seperti itu! Tekadku tidak akan pernah gentar dengan ujian ini, aku akan mulai menghitung setiap langkahku mulai sekarang!" Shin melakukan ini untuk menjaga kesadaran dan akalnya agar tidak gila. menambahkan sebuah kegiatan setidaknya rasa bosan akan berkurang.


"10..."


"63..."


"427..."


Tiap kali Shin menyebut angka suaranya semakin tersendat, wajahnya tidak memiliki ekspresi atau harapan seperti sebelumnya. Shin kehabisan penyemangat untuk dirinya sendiri, dia memaksakan diri untuk terus melangkah dan menghitungnya.


"192831"


"724613"


"928482"


Saat Shin mencapai angka satu juta dia berhenti berhitung, langkahnya kini sudah seberat gunung, jarak antara dua tangga kini sudah sejauh dua dunia, ekspresinya kini kosong seperti jurang yang dalam. Setelah satu juta langkah langit masih tetap sama tanpa perubahan, mungkin sudah satu tahun, mungkin sepuluh tahun Shin berada di tangga emas yang membosankan ini. Konsep waktu sudah sangat tidak jelas bagi Shin, dia tidak bisa membedakan hari dan hanya menaiki tangga seperti orang gila.


Karena mentalnya sudah sangat tersiksa selama beberapa waktu dia disini, Shin membayangkan kembali masa-masa damai dan indah seperti sebelumnya, wajah Ying Ai dan Feng Li kembali berada dalam ingatannya, ingin sekali dia melihat dan bertemu dengan kedua wajah itu, namun tanggung jawabnya ini tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Lagipula dia melakukan semua ini untuk mereka berdua, Shin tidak bisa dan tidak boleh mengecewakan mereka berdua dengan kegagalan.


Aliran waktu sedikit berbeda disini, sepuluh tahun disini mungkin hanya berlangsung beberapa hari atau minggu didunia luar. Hanya hal inilah yang menjadi penghibur Shin, dengan pemikiran bahwa dia akan bisa membawa pulang divine flame, setidaknya dia punya secercah harapan tersisa.


"Aku harus mencapai nirvana! Bahkan jika aku harus naik melewati langit dan bintang-bintang akan tetap aku lakukan, dia sudah menungguku disana, aku tidak boleh mengecewakannya!" Shin ingat tujuannya kali ini adalah untuk melindungi Ying Ai nanti di Wilayah Selatan, ini seperti sebuah mobil yang kehabisan bensin yang langsung diisi penuh, semangat Shin kembali dan langkahnya menjadi jauh lebih ringan, Shin terus melangkah dan melangkah tanpa henti. Semangat baru ini telah membawa sebuah cahaya harapan yang sangat terang.


Di Rumah.


Ying Ai khawatir karena Shin belum kunjung bangun juga, sudah satu bulan semenjak Shin memutuskan menerima ujian tersebut, Ying Ai dengan sabar merawat tubuh fisik Shin ini. Dia diberitahu bahwa tubuh Shin masih harus menerima asupan makanan, kultivasi Shin yang masih terlalu lemah belum sampai tahap tidak perlu makan sama sekali.


Ying Ai menemui Feng Li dan bertanya sesuatu, "Guru, kapan dia akan selesai?" Ying Ai tidak sabar menunggu Shin seperti ini terus karena batas waktu enam bulan semakin mendekat.


"Jangan khawatir, dulu aku perlu dua bulan penuh menjalani ujiannya. Dua bulan itu waktu disini, jika aku ingat-ingat lagi aku menghabiskan sekitar sepuluh tahun didalam sana! Ujian yang diberikan bahkan aku tidak ingin mengingatnya lagi, siksaan mental disana sangat mengerikan dan aku tidak bisa menanggungnya lebih lanjut lagi."


"Memang seperti apa ujiannya guru?"


"Ujiannya terlihat mudah tapi sangat sulit, kau hanya harus menaiki sebuah tangga tanpa akhir sampai keujung. Namun yang paling mengerikan adalah keheningan total dan pemandangan yang tidak pernah berubah itu, selama sepuluh tahun aku dipaksa harus melihat dan merasakannya terus-menerus tanpa henti." Feng Li, orang terkuat bahkan di seluruh Azure Sky Empire sampai bergidik ngeri saat menceritakan kembali pengalamannya. Dia yang membantai puluhan ribu nyawa dan masih menegakkan kepalanya bergetar saat mengingat ujian itu.


Kesulitan ujian ini hanya bisa Ying Ai bayangkan, sepuluh tahun seorang diri tanpa tidur memang bisa membuat siapapun jadi gila. Menambahkan perjalanan yang harus dilakukan nonstop, pemandangan yang tidak berubah. Ini bisa membunuh siapapun!


"Ying Ai, sepuluh tahun disana adalah batasku, untuk bisa berhasil aku tidak tahu berapa banyak waktu yang dibutuhkan." Ying Ai menjadi semakin khawatir lagi, mungkin jika Shin ingin berhasil dia harus menjalaninya selama puluhan tahun lebih lama.


"Jangan khawatir tentang dia, kau fokus saja dengan latihanmu. Aku punya firasat bahwa dia akan keluar sebentar lagi." Ying Ai mengangguk dan kembali ke ruang latihan.


Kembali pada Shin.


Bahan bakar yang dimiliki Shin sudah mulai menipis, kepayahan yang hilang mulai kembali pada Shin sekali lagi. Jika dihitung Shin sudah menjalani ujian selama lima tahun dan melangkah sebanyak satu juta lima ratus ribu kali! Dia mulai berhalusinasi karena mental yang semakin tersiksa.


"Shin!" Sebuah suara ceria dan semangat yang tidak didengarnya selama bertahun-tahun kembali mengisi pendengarannya, Shin tanpa sadar mengeluarkan air matanya dan berbalik, sosok yang sudah sangat dikenalinya ini muncul dihadapannya dan tampak sangat nyata.


"Ying... Ai.... Tidak, itu bukan kau, ini hanyalah halusinasi sialan lainnya! Enyah kau dari sini!!" Shin masih tidak percaya dengan Ying Ai didepannya, berulang kali dia berhalusinasi tentang Ying Ai namun entah mengapa yang ini terasa sangat asli.


"Shin, apa kau sudah melupakan Ying'er mu ini?" Ying Ai mengulurkan tangannya pada Shin.


"Bagaimana bisa aku lupa tentangmu." Mendengar kalimat yang terlalu nyata ini, Shin berpikir bahwa Ying Ai didepannya adalah yang asli. Bahkan jika itu adalah yang palsu, Shin masih akan menjawab dengan sama. Mau itu ilusi atau asli, Ying Ai adalah Ying Ai.


"Genggam tanganku ini Shin, kita akan bersama seperti dulu lagi." Shin mengarahkan tangannya kedepan dan menggenggam tangannya. Kebahagiaan muncul di wajah Shin, kerinduan Shin padanya sudah mencapai titik puncak. Selama lima tahun tidak bertemu menyebabkan Shin tersiksa. Jika dia memegang tangan ini dia tidak akan pernah melepasnya lagi, namun.


"Maaf, tapi aku tidak bisa ikut denganmu, ada tugas yang harus aku selesaikan." Shin perlahan melepaskan tangan Ying Ai.


"Kenapa! Apa kau sudah membenciku sekarang?" Ying Ai menangis lembut seperti biasanya.


"Terima kasih, meski aku tahu kau bukanlah dia yang asli tapi sifatmu sangat sama dengannya, bisa bertemu dengannya sekali lagi telah memberiku tujuan baru. Aku hanya ingin memegang tangannya meski itu palsu dan hanya sebentar. Setidaknya kerinduanku padanya sudah berkurang." Shin tahu jika dia memegangnya lebih lama lagi dia akan dibawa menuruni tangga dan dia akan diusir dari sini.


Sosok Ying Ai semakin memudar dan akhirnya berubah menjadi ketiadaan, sosoknya yang hangat sudah tidak ada lagi meninggalkan sebuah tempat yang membosankan. Shin merasa sangat marah karena orang yang dicintainya dipermainkan seperti ini.


Shin tertegun dan tidak bergerak untuk waktu yang cukup lama, dia merenung lama sekali namun roh buku tidak menghiraukannya, dia pikir ini adalah sebuah hal yang menarik dan bagus. Dan setelah beberapa hari renungan dan pemikiran, akhirnya Shin mendapatkan sebuah pencerahan tentang semua hal ini, pemahaman baru tentang hal yang berarti dan yang terpenting, dia mendapat pencerahan tentang Nirvana!


"Sialan kau roh buku! Beraninya kau mempermainkan keluargaku!"


Dalam kemarahannya ini, Shin melangkah turun!