
Lantai tiga Paviliun Mental...
Waktu untuk Shin menyelesaikan wilayah api merah dan lautan lava telah berkurang banyak, tadinya dia butuh waktu tiga tahun sekarang hanya butuh waktu dua tahun lebih, panas disana sudah tidak mempan terhadapnya jadi Shin berlari untuk sampai lebih cepat.
Mau bagaimanapun wilayah api biru jauh lebih kuat dan ganas, jangan bicara tentang berlari, berjalan saja dia sudah sangat kesusahan. Dalam percobaan pertama dia hanya bisa bertahan lima puluh langkah dan yang kedua hanya bertambah sedikit dari sebelumnya. Setiap satu langkah yang dibuatnya, panas yang dia rasakan setidaknya akan naik sepuluh persen, bukan angka yang cukup banyak tapi jika dikalikan dengan ribuan langkah yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya, satu persen juga terlalu banyak.
Waktu Shin tersisa 35 bulan lagi, menaklukan wilayah api biru juga dia masih baru di bagian awalnya saja, hambatan kedua masih terlalu jauh untuknya, apalagi hambatan ketiga.
Lima bulan......
Shin terus mencoba bagian api biru namun masih saja belum berhasil. Dia sempat bertanya sejauh mana wilayah api biru itu pada Zhu Long, dan jawabannya adalah setiap wilayah api disana adalah sepertiga dari purgatory dan yang ketiga adalah api ungu. Ini berarti Shin harus bertahan tiga tahun lebih untuk bisa menyelesaikannya, dan ini juga belum termasuk hambatan kedua yang dibicarakan.
Semakin lama Shin mencoba menaklukkan wilayah ini, dia membutuhkan lebih sedikit waktu untuk bisa pulih, dengan begini dia bisa lebih cepat menyelesaikannya.
Sedikit harapan muncul di wajah Shin, dalam lima bulan ini setidaknya dia telah melakukan perjalanan satu tahun didalam sana dan dia yakin dalam lima bulan berikutnya bukan tidak mungkin baginya untuk mencapai batas dari wilayah api biru ini.
Seperti kata Shen dulu, ada sembilan lantai di Paviliun Mental ini dan tempat ini hanya menyediakan persiapan bagi tiga lapis pertama dari Nine Purgatory Body, ini karena hanya tiga lantai pertama yang merupakan ujian fisik sehingga bisa menyediakan pelatihan yang cocok untuknya. Setelah api akan ada es, setelah es akan ada petir.
Tiga siksaan yang berbeda memiliki kesulitan dan persyaratan untuk berhasil yang berbeda pula. Yang api hanya untuk mencapai ujung dengan kesulitan dan hambatan yang bertambah sulit setiap langkahnya, yang es hanya untuk menjaga diri agar tidak membeku dibawah rasa dingin ekstrim dan berbagai bencana es lainnya, yang petir hanya butuh disambar sebanyak ribuan kali, terlihat lebih mudah tapi sebenarnya yang paling sulit untuk dilakukan.
Tiga lantai berikutnya adalah ujian mental, bahkan dengan sumber daya yang kaya dari seluruh dunia, para ahli era primordial tidak sanggup untuk membangun tempat yang bisa meniru siksaan dari purgatory ini. Tiga lapis berikutnya bukanlah sebuah siksaan tapi sebuah tes atau ujian yang berhubungan dengan jiwa, karena pada dasarnya teknik ini adalah untuk mengolah jiwa seseorang dan memanfaatkan kekuatan didalamnya, jiwa seseorang harus mempunyai kualifikasi yang memadai untuk bisa mengolahnya. Tidak ada rasa sakit ekstrim saat menjalani tiga ujian ini, namun banyak ahli yang memilih untuk berhenti di enam lapis pertama, konsekuensi dari kegagalan adalah hancurnya jiwa seseorang, jika itu terjadi maka ahli itu akan "mati" dalam artian. Tubuh fisiknya masih sehat walafiat, dia masih bernapas dan kultivasinya masih ada seperti semula, namun dia tidak lagi memiliki semangat, tidak ada keinginan untuk melakukan apapun dan tidak pernah ada obat yang bisa menyembuhkan ini. Hampir sama dengan kondisi Feng Li pada masa lalunya, bedanya pada saat itu jiwa Feng Li hanya meredup dan masih bisa disembuhkan.
Dan alasan utama para ahli tidak mencobanya adalah tidak adanya opsi menyerah setelah memutuskan untuk menjalani ujian. Dengan bahaya dan hasil yang sama besarnya, apalagi hadiah kultivasi, meski belum tentu akan naik tingkat tapi itu menyelamatkan waktu ratusan tahun untuk meditasi, ada cukup banyak ahli yang berani menantang purgatory lantai tujuh namun hanya segelintir orang yang berhasil. Pada akhirnya hanya ada tiga orang yang menyelesaikan sempurna teknik ini, kekuatan yang dilepaskan dari jiwa mereka telah membuatnya menjadi sangat kuat, saat mereka mati roh aura mereka akan membawa sebagian kekuatan aslinya melalui jiwa mereka, roh aura mereka juga akan lebih cepat mereformasi tubuh baru yang sama persis seperti sebelumnya. Tapi sekuat apapun manusia, kematian pasti selalu datang, kultivasi hanya menambah umur menjadi ratusan hingga ribuan tahun, tak pernah ada orang yang melewati siklus reinkarnasi, menentang hukum surga dan menjadi seorang immortal.
Monarch of Aura, Elements Sovereign dan bahkan iblis terkuat yang menyerang pesawat ini juga tidak bisa lepas dari kematian, rahasia dari keabadian... tidak akan pernah bisa dipahami manusia biasa.
Lantai tiga Paviliun Mental....
"Jadi ini hambatan kedua.... bentuknya tidak terlalu menghancurkan harapan seperti sebelumnya, tapi pasti ada yang tidak beres dengan tempat ini."
Setelah lima bulan kerja keras lainnya, Shin sudah mencapai ujung dari wilayah api biru dan sekarang adalah saatnya menjalani hambatan kedua dalam purgatory !!
Seperti kata Shin, penampilan didepannya tidak terlalu mengerikan atau terlihat sangat sulit dilewati, hanya ada sebuah pegunungan yang menjulang tinggi dan menjalar panjang sekali, dengan gunung berwarna hitam yang berkobar dan seperti biasa, gunung itu terbakar oleh api.
Shin mulai melangkahkan kakinya kedalam kaki gunung pertama, setelah langkah pertama dibuatnya, dia akhirnya mengetahui teror sebenarnya dari tempat ini, suhu di tempat ini sama !
Shin biasanya tak pernah tersesat dan tak peduli dengan arah dia menuju dengan pemandangan selalu sama, ini semua karena dia memiliki petunjuk terbaik, jika dia melangkah dan ternyata lebih panas, berarti dia berada di arah yang benar. Dengan kontur pegunungan yang saling menghalangi jarak pandang, ditambah hilangnya "kompas" utama Shin, ada banyak kemungkinan bahwa dia akan terjebak didalam selamanya dan tak pernah menemukan jalan keluar ! Dia tidak akan gagal karena panas atau rasa sakit yang gila tapi karena kehilangan arah dan berputar-putar di tempat yang sama ! Ini bahkan lebih buruk dari lautan lava sebelumnya.
Tidak ada yang bisa Shin jadikan sebagai petunjuk disini, hanya ada gunung batu berkobar dan hanya itu saja, tidak ada pohon atau tempat unik yang bisa dijadikan penanda. Semua gunung disini kurang lebih bentuknya sama hanya ukurannya saja yang beda. Kekerasan dari pegunungan ini bukan kaleng-kaleng, pukulan terkuat Shin juga tidak mampu menggoresnya sedikit. Kalau seperti ini keadaannya, rencana Shin adalah memanjat gunung tertinggi lalu melihat ujung pegunungan dan mengingat lanskap pegunungan ini dari atas.
Shin sudah menentukan tujuannya kali ini, dia mendongak keatas dan mencari puncak tertinggi dan asalnya, setelah beberapa menit pencarian dia sudah menemukannya dan segera menuju kesana.
setelah melewati beberapa gunung kecil akhirnya gunung tujuannya menjadi semakin jelas, pandangannya seringkali terhalang oleh gunung lain jadi ini pertama kalinya dia melihat tujuannya secara langsung. Gunung yang menjulang tinggi menembus langit hitam gelap ini berdiri kokoh cukup jauh dari Shin. Puncaknya memiliki beberapa bagian datar yang cukup untuk ditempati Shin, untungnya juga tidak ada hambatan berarti lainnya yang menghalangi orang lain memanjat gunung ini.
Mendekati dan menuju puncaknya adalah langkah pertama Shin menyelesaikan hambatan kedua ini. Shin tidak berani berpikir bahwa hambatan kedua ini hanya memiliki kesulitan sebatas ini saja, dia sudah mempersiapkan mentalnya sendiri untuk apa saja hasil yang akan dia dapat setelah mencapai puncak dari gunung ini, apakah itu gunung tidak berujung, apakah itu ada danau lava lain atau bahkan jalan berduri mengahalangi tujuannya.
Panas yang sama ini jelas hanya membingungkan Shin soal arah, namun ini juga keuntungan baginya karena dia sudah sangat terbiasa dengan intensitas panas segini, dengan begini dia bisa bergerak dengan lebih leluasa, atau seperti itulah harapannya.
Dalam beberapa jam, Shin sudah mencapai dasar dari gunung ini, dia mendongak ke atas dan semburat kebahagiaan muncul di wajahnya, hanya dengan sedikit usaha dia berhasil mencapai gunung ini, asalkan dia bisa memetakan dan mengetahui arah yang benar dari puncak gunung ini dia bisa melewati hambatan kedua dengan mudah. Tapi seperti biasa, jalan menuju keberhasilan Shin selalu dipenuhi duri dan lubang, tidak pernah ada jalan mulus mendaki ke puncak dunia.
Shin terus mendaki gunung selama beberapa menit sebelum mengetahui kebenaran kejam dari hambatan kedua ini, semakin tinggi dia mendaki, semakin panas permukaan gunungnya. Ketinggian gunung ini ada sekitar 1500+ mdpl, dan hanya dalam ketinggian 100 mdpl suhu disana sudah melebihi api biru terpanas disini, Shin hanya bisa mendaki sejauh beberapa puluh meter lagi sebelum takluk dan terjatuh, dia berguling-guling di tanah beberapa kali dan langsung terlempar.
"Hambatan kedua ini lebih sulit dari yang aku duga." Kata Shin saat baru saja ditendang keluar, dia membutuhkan satu jam untuk memulihkan diri dan langsung masuk kembali.
Setelah beberapa percobaan yang gagal disana, Shin sudah mulai berlari di wilayah api biru, dan tanpa dia sadari dia sudah mencapai ujung wilayah api biru, pegunungan kejam nan mengerikan ini sudah ia lalui berkali-kali namun satu gunung saja belum dia taklukkan, Shin sepertinya harus menyerah untuk menyelesaikan ini dalam waktu dekat.
Satu minggu.....
Puluhan percobaan dia lewati dan akhirnya dia mencapai puncaknya, perasaan lega dan jawara dia tampilkan dengan sangat jelas di wajahnya, dan hasil dari kerja kerasnya selama satu minggu ini ternyata melebihi apa yang perisai mental yang dia pasang bisa tahan, semua wajah jawara menghilang digantikan ekspresi gelap sama seperti dia pertama kali melihat lautan lava. Suara ketidak percayaan ia ucapkan di puncak gunung.
"Hahahahaha.... setelah puluhan kali percobaan menyakitkan aku hanya mendapatkan hasil seperti ini !! Sungguh lelucon !!! Apa ini pegunungan tanpa akhir !?" Berdiri di ketinggian 1500 mdpl berarti jangkauan matanya menjadi lebih luas lagi, benda besar dalam jarak puluhan hingga ratusan kilometer masih bisa dilihat dengan jelas, tapi didepan gunung tak berakhir didepannya dia masih saja tidak percaya. Dengan begini dia akhirnya dia tahu maksud dari penciptaan gunung tinggi di awal-awal pegunungan, ini hanya dimaksudkan untuk lebih menghancurkan mental dan membunuh harapan seseorang, seseorang akan merasa sangat kecil dihadapan pegunungan super luas ini, mungkin butuh waktu satu tahun untuk melewati pegunungan ini dengan syarat jalannya benar, ditambah pendakian gunung, salah arah, dan mencoba memetakan tempat ini, lima tahun masih terasa kurang.
Purgatory telah memenuhi reputasinya, setiap hambatan disini ditujukan untuk menghancurkan tubuh, mental, dan jiwa seseorang sehancur-hancurnya. Walau begini masih banyak orang yang tertarik menyelesaikannya. Ini berarti para ahli itu mempunyai satu pemikiran yang sama.
"Tidak ada yang bisa menghalangiku !!"